Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Persiapan Ujian
Hari-hari di sekolah terasa berbeda, papan pengumuman penuh dengan jadwal ujian, dan semua orang tiba-tiba jadi rajin.
Klub teater sementara diliburkan Juliet sendiri bilang, “Fokus dulu ke ujian akhir!”
Lyla menghela napas sambil menatap buku catatan yang menumpuk di mejanya.
Meski matanya menatap halaman, pikirannya malah melayang ke tempat lain.
Ke seseorang, tepatnya.
“Noah lagi ngapain ya sekarang…” gumamnya pelan sambil menggambar doodle kecil di pinggir buku.
Suasana perpustakaan sore itu terasa… chaotic tapi damai, tumpukan buku berserakan di meja mereka Lyla dan dua temannya sudah seperti pasukan yang kehilangan semangat hidup.
“Kalau rumus ini keluar di ujian, aku resmi pindah planet,” gumam Nomi sambil menatap kosong buku matematika.
Lyla menahan tawa, menepuk bahunya. “Tenang, kita masih punya waktu kok…” Lalu melihat jam. “Eh, setengah jam lagi tutup.”
Nomi langsung drama. “Hidup ini kejam!!”
Lyla gak bisa menahan tawa lagi, suasana serius belajar berubah jadi tawa kecil.
Setelah 2 jam penuh perjuangan, ketiganya masih berkutat di meja pojok perpustakaan.
“Kalau aku ngitung satu soal lagi, otakku bisa meledak,” keluh Wendy sambil menjatuhkan kepalanya ke meja.
Nomi mendesah. “Udah, Lyla aja yang lanjut. Otak dia masih berfungsi.”
Lyla menggeleng. “Enggak, otakku juga udah panas…”
Ia menatap halaman penuh coretan rumus, lalu tertawa kecil. “Kayaknya kita lebih cocok buka kafe daripada ngerjain soal.”
“Setuju!” sahut Wendy sambil mengangkat tangan. “Aku bagian kasir, Nomi bagian bikin kopi, Lyla bagian senyum ke pelanggan.”
Nomi langsung protes. “Kenapa aku yang kerja paling berat?!”
Lyla menahan tawa, sampai akhirnya mereka bertiga saling pandang dan tertawa bersamaan, tawa pelan yang malah bikin beberapa pengunjung lain menoleh dengan tatapan ssst... diam dong.
Wendy buru-buru menutup mulut. “Oke, oke… kita serius lagi,” katanya pelan—lalu tiga detik kemudian sudah ngakak lagi karena Nomi salah baca rumus.
Setelah belajar berjam-jam, ketiganya keluar dari perpustakaan dengan wajah lelah tapi lega.
“Kayaknya aku butuh makanan instan buat hidup lagi,” keluh Wendy sambil menepuk perutnya.
“Aku juga… ayo ke mini market depan sekolah,” ajak Nomi semangat.
Begitu sampai, aroma mie instan dari pojok meja makan kecil langsung menggoda. Mereka bertiga duduk di kursi baris sambil menunggu air panas dituangkan.
“Ini baru surga,” kata Wendy sambil meniup kuah mie yang mengepul.
Nomi menyendok pertama, lalu mendengus, “Panas banget—tapi enak banget!”
Lyla tertawa kecil, matanya ikut hangat melihat dua temannya yang ribut sendiri. Ia memutar sumpit pelan, tapi di ujung pikirannya… sosok Noah sempat terlintas.
Wendy menyadarinya duluan. “Hei, Lyla, kenapa bengong?”
Lyla tersenyum canggung. “Nggak apa-apa… cuma capek.”
“Capek atau kangen seseorang?” goda Nomi sambil menaikkan alisnya.
Lyla langsung tersedak kecil, membuat dua temannya tertawa keras sampai penjaga mini market menatap mereka heran.
*
Setelah berpisah di depan mini market, Lyla berjalan pelan menuju halte. Langit sudah mulai gelap, lampu jalan menyalakan cahaya lembut. Udara malam terasa dingin, membuatnya merapatkan jaket. Di tangannya, ponsel menyala layar menampilkan nama Noah.
Lyla menatapnya lama. Jempolnya sempat melayang di atas tombol pesan Tapi… akhirnya ia menurunkannya lagi.
“Mungkin dia juga lagi belajar,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.
Ia menatap langit. Ada rasa rindu yang kecil di dadanya seperti ingin segera berbagi cerita, tapi tahu belum waktunya. Lyla menarik napas dalam, lalu melangkah lagi. Suara langkah kakinya menyatu dengan malam yang tenang. Bus malam itu terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu jalan berkelebat di jendela, menciptakan bayangan lembut di wajah Lyla yang bersandar di kursi.
Ia menatap ponselnya layar masih kosong, tanpa notifikasi. “Dia pasti lagi sibuk,” bisiknya kecil, mencoba tersenyum. Tapi matanya tetap tak lepas dari layar.
Beberapa menit kemudian, ponsel Lyla bergetar pelan. Matanya langsung membesar saat melihat nama pengirimnya.
Noah.
“Udah pulang? Belajarnya jangan terlalu keras, nanti pusing.”
Senyum Lyla muncul tanpa bisa ditahan. Ia cepat-cepat mengetik balasan.
“Aku di bus. Baru pulang belajar ,bareng Nomi sama Wendy. Kamu juga jangan begadang, ya.”
Balasan datang cepat.
“Iya. Tapi kayaknya aku kangen deh.”
Lyla menunduk, wajahnya langsung merah sampai ke telinga. Ia menutupi pipinya dengan tangan, lalu membalas pelan:
“Heh... fokus belajar dulu ”
Bus terus melaju, tapi di hati Lyla, semuanya terasa hangat sekali. Sejujurnya Lyla juga rindu Noah.
**
Keesokan harinya, suara kursi berderit dan buku yang dibuka bergema di seluruh ruangan. Udara pagi masih terasa segar, tapi suasana kelas sudah jauh dari kata tenang. Guru berdiri di depan papan tulis sambil menepuk penggaris ke mejanya pelan.
“Baik, anak-anak. Saya ingin menyampaikan satu hal penting.”
Seluruh siswa otomatis menegakkan badan. Lyla dan teman-temannya saling melirik nada suara guru itu nggak pernah pertanda baik.
“Untuk ujian akhir kali ini,” lanjut guru, “tidak akan ada kelas tambahan atau ujian perbaikan. Jadi nilai kalian harus di atas rata-rata. Kalau tidak… ya, siap-siap saja.”
Dalam sekejap, kelas langsung heboh.
“Apa!? Nggak ada remedial!?”
“Bu, serius!? Saya baru berdamai sama matematika minggu lalu!”
“Kalau gitu saya pulang aja sekarang!”
Guru menatap semua muridnya dengan ekspresi datar tapi penuh makna."Kalian boleh protes, tapi yang menentukan nilai bukan saya... melainkan usaha kalian sendiri.”
Lyla menatap papan tulis dengan mata sedikit lelah.
Nomi berbisik di sebelahnya, “Mati aku…”
Wendy menjatuhkan wajah ke meja. “Baru pagi aja udah mau menyerah.”
Lyla tersenyum “Tenang aja, kita pasti bisa,” katanya pelan meski dalam hati, dia juga nggak sepenuhnya yakin.
Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi, tapi suasana kelas masih ramai. Hari baru dimulai, tapi rasanya semua orang sudah stres duluan. Beberapa jam kemudian, perpustakaan dipenuhi suara halaman buku yang dibolak-balik dan bisikan pelan siswa yang belajar kelompok.
Lyla duduk di meja pojok bersama Nomi dan Wendy. Di depannya terbuka tumpukan buku tebal tapi tatapan mereka bertiga sudah kosong.
Nomi menjatuhkan kepalanya ke meja.
“Aku baru baca dua halaman dan… otakku udah menyerah.”
Wendy menguap lebar sambil memainkan pensil. “Dua halaman? Aku baru ngelewatin judul bab.”
Lyla menahan tawa kecil. “Kalian tuh baru juga mulai.”
Nomi menatap Lyla dengan ekspresi putus asa. “Lylaaa… kenapa sih sejarah harus dihafalin semua? Nggak bisa cuma diingat perasaan aja, gitu?”
Wendy ikut menimpali, “Iya, kenapa matematika nggak bisa pakai feeling aja?”
Lyla akhirnya tertawa kecil, bahunya naik turun. “Kalau gitu nanti nilainya feeling juga dong.”
Mereka bertiga saling pandang dan tanpa aba-aba, sama-sama ngakak pelan, buru-buru menutup mulut karena ditegur penjaga perpustakaan.
“Anak-anak, tolong tenang ya…”
Tawa langsung berhenti. Tapi setelah dua detik… Wendy berbisik pelan, “Kayaknya kita butuh istirahatkan otak, deh.”
Nomi langsung mengangguk dramatis.
“Setuju. Mie instan di mini market udah memanggil namaku.”
Lyla akhirnya mengangguk juga sambil terkikik. “Baiklah, lima menit aja ya. Abis itu balik belajar.”
Dan mereka pun kabur dari meja belajar menuju mini market dengan wajah lega seperti baru bebas dari ujian hidup.
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka begitu masuk.
Mereka memilih mie masing-masing, lalu duduk di meja kecil dekat jendela meja yang biasa dipakai anak-anak sekolah buat makan cepat sebelum pulang.
Wendy meniup mie panasnya sambil mengerucutkan bibir ."Aku masih nggak percaya sama pengumuman guru tadi…”
Nomi mengangguk cepat, nyaris tersedak.
“Iya! Semua nilai harus di atas rata-rata, nggak ada remedial?! Kenapa nggak sekalian aja nyiksa kami di depan umum!”
Lyla menahan tawa, menutup mulutnya dengan sendok. “Jangan gitu, nanti malah jadi beneran disiksa di kelas.”
Wendy menatap langit-langit dengan ekspresi putus asa. “Aku curiga mereka semua udah bersekongkol. Nih, lihat aja… minggu depan pasti semua guru bagi tugas barengan.”
Nomi menghela napas panjang. “Ini bukan minggu ujian… ini minggu kehancuran.”
Lyla akhirnya tertawa kecil sambil mengaduk mienya. “Ya udah, yang penting kita belajar bareng. Kalau panik bareng, kan nggak sendirian.”
Wendy langsung menatapnya dramatis.
“Lyla, kamu terlalu baik. Dunia sekolah nggak pantas buat gadis sebaik kamu.”
Nomi menimpali cepat, “Setuju. Tapi kamu tetep harus bantu aku hafalin rumus besok.”
Mereka bertiga tertawa lagi, tawa ringan yang sedikit menyingkirkan stres menjelang ujian.