NovelToon NovelToon
The Book

The Book

Status: tamat
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis / Tamat
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Ziudith Clementine, seorang pelajar di sekolah internasional Lavante Internasional High School yang baru berusia 17 tahun meregang nyawa secara mengenaskan.
Bukan dibunuh, melainkan bunuh diri. Dia ditemukan tak bernyawa di dalam kamar asramanya.
Namun kisah Ziudith tak selesai sampai di sini.

Sebuah buku usang yang tak sengaja ditemukan Megan Alexa, teman satu kamar Ziudith berubah menjadi teror yang mengerikan dan mengungkap kenapa Ziudith memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kutukan yang menyala kembali

Bel sekolah berbunyi pelan, menandakan jam pelajaran kedua akan dimulai. Arkana duduk di barisan paling belakang kelasnya. Matanya kosong menatap papan tulis, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Guru fisika di depan bicara panjang lebar tentang hukum Newton, namun tak satu pun kata masuk ke kepalanya.

‎Semenjak Megan pergi, dunia seperti kehilangan warna. Arkana datang ke sekolah setiap hari hanya karena kewajiban. Tidak ada semangat, tidak ada tawa, hanya rutinitas yang membuatnya terus bernafas. Beberapa teman sekelas masih sesekali menatapnya dengan rasa iba, tapi Arkana tak peduli. Semua yang ia lakukan sekarang hanyalah menjalani hari demi hari, tanpa arah.

‎‎"Kapan ini akan berakhir.." Arkana mengeluh lesu.

‎‎Dari balik jendela kaca kelasnya, dia bisa melihat dedaunan menari oleh terpaan angin. Ia mencoba fokus ke laptop. Ada rangkuman yang sudah di bagikan guru di sana. Tapi sebelum dia mencerna pelajaran yang gurunya berikan, sesuatu bergerak di ujung matanya. Kabut tipis masuk dari celah jendela, menyelinap di antara meja dan bangku, mengitari kakinya, lalu naik perlahan ke kaca jendela. Kabut tipis itu berhenti di papan tulis. Arkana memperhatikan apa yang akan terjadi setelah kabut itu berdiam diri di sana beberapa detik saja.

‎‎Perpustakaan lama.

‎‎"Sekarang!"

‎‎Arkana menoleh cepat. Suara itu seperti berbisik di telinganya. Itu adalah suara Megan. Ia tahu betul. Namun, seperti biasa, tak ada siapa-siapa di sekitarnya.

‎Hanya suara bisikan yang terdengar lembut di telinganya, diiringi hembusan angin dingin yang menembus jendela.

‎Tanpa berpikir panjang, Arkana berdiri dan meminta izin ke toilet.

‎‎Tentu saja itu hanya alasan. Yang sebenarnya adalah dia akan menuju perpustakaan lama di sekolahnya. Langkahnya terasa berat, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk mengikuti bisikan itu.

‎‎Perpustakaan lama Lavente jauh berbeda dari kelas modern mereka. Ruangannya besar, tapi terasa usang. Rak-rak tinggi berjajar rapat, aroma buku tua dan debu bercampur menjadi satu. Lampu gantung bergoyang pelan, membuat cahaya di ruangan itu tampak bergetar. Lavente memang sekolah bertaraf internasional, tapi gedung utamanya dulunya adalah biara peninggalan kolonial yang kemudian direnovasi. Di bawahnya masih tersisa ruang-ruang tua yang jarang dipakai, seperti perpustakaan lama itu.

‎Arkana menyusuri lorong rak satu per satu, hingga tiba di rak ketiga dari kiri.

‎Ia menunduk, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa. Di ujung lorong, seorang siswa tampak tersungkur di lantai. Dua anak lain berdiri di depannya, menahan tawa sambil menunjuk-nunjuk.

‎Salah satunya mendorong kepala siswa itu dengan kasar.

‎"Gerry, kau ini memang pecundang. Mau ngadu ke guru lagi? Kau harus tahu apa tugas mu di sini, sampah! Kau hanya pelayan kami! Maka berperilaku lah layaknya seorang pelayan!" ejek salah satu dari mereka.

‎‎"Ya! Aku heran dengan orang-orang macam Gerry dan Ziudith, kenapa sekolah memberikan beasiswa pada sampah seperti mereka?! Jijik banget lihatnya hahaha!" tawa mengejek itu menggema.

‎‎"Tapi aku sudah melakukan apa yang kalian suruh.. Kenapa kalian masih memperlakukan dengan buruk seperti ini?!" Seperti sedang membela diri, lelaki berkacamata itu tidak menyerah meski terlihat begitu payah.

‎‎"Sialan! Kau berani membentak kami? Dasar sampah!!" salah satu dari mereka sudah akan melayangkan pukulan.

‎‎"Cukup!" Suara Arkana muncul dari arah belakang. Dua anak itu menoleh, kaget.

‎Tapi keterkejutan itu tak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian mereka malah tertawa kecil, lebih terdengar seperti ejekan.  "Wah, pahlawan kesiangan datang. Mau nolongin pecundang ini atau mau ikut bergabung dengan kita, ngasih dia pelajaran?"

‎‎Arkana mengepalkan tangan. Rasa marahnya nyaris tak terbendung, tapi di detik berikutnya, suara Megan terdengar lagi.

‎‎"Jangan, Ar. Amarah hanya akan memperkeruh masalah."

‎‎Mendadak Arkana membeku. Di saat itu juga udara di perpustakaan berubah.

‎Kursi di pojok ruangan bergeser sendiri.

‎Salah satu rak bergetar ringan, lalu sebuah buku jatuh dari atas, terbuka di halaman kosong.

‎Kedua siswa yang tadi merundung Gerry sontak terkejut.

‎‎"Gila… apaan tuh?!" salah satu berteriak.

‎‎Tak sampai di situ, lampu-lampu mendadak padam satu demi satu. Aura gelap dan dingin seketika bercampur dengan ketakutan. Dan yang paling mengejutkan. Dari atas rak buku tinggi, muncul sosok yang menakutkan. Seorang pria berseragam staf Lavente ada di atas sana tanpa kepala. Darah mengalir dari leher yang kehilangan kepalanya.

‎‎"Kembalikan kepala ku!" ucap tubuh tanpa kepala itu seperti mencekik mereka dengan kengerian.

‎Dua orang pembully itu berteriak ketakutan, sungguh rasanya ingin pingsan saja, lalu tiba-tiba sebuah kepala  menggelinding di bawah kaki mereka. Wajah dari kepala itu menghadap ke arah  dua orang yang nyaris kencing di celana. Mata merahnya melotot, dari mulutnya keluar belatung kecil menjijikkan, belum lagi daging yang terkoyak tak beraturan di lehernya itu sungguh membuat bulu kuduk berdiri.

‎‎"Taruh aku kembali ke badan ku!" perintah mengerikan dari kepala yang terpisah dari tubuhnya.

‎Tanpa menunggu apa-apa lagi, mereka kabur meninggalkan ruangan. Mereka lari tunggang langgang, yang satu berteriak seperti orang kerasukan, satunya lagi sampai meraung menangis ketakutan. Yang tersisa di sana hanya Arkana, Gerry, dan suara napas mereka berdua. Gerry ikut syok melihat pemandangan tadi. Tapi, setelah dua orang yang menindasnya itu pergi, sosok mengerikan itu juga hilang bagai ditelan bumi.

‎‎Gerry perlahan bangkit, memungut kacamatanya yang jatuh. Luka di bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Sudut bibirnya pecah. Kacamatanya retak. Jelas jika yang mereka lakukan pada Gerry bukan sebuah candaan. Keduanya menetralkan dulu degup jantung mereka bersama dengan keheningan.

‎‎"Astaga.. A-apa kau tadi juga melihatnya? Bukan kah mahkluk menyeramkan tadi adalah staf di sekolah kita?" tanya Gerry setelah memakai kembali kacamatanya.

‎‎Arkana tidak langsung menjawab. Dia menghela nafas, "Lain kali kalau mereka mengganggumu lagi, jangan segan meminta bantuan ku."

‎‎"Terima kasih, tapi kau tidak perlu ikut campur. Kau akan terkena masalah jika dekat-dekat dengan ku." Hatinya tersentuh karena perhatian dari Arkana.

‎‎"Aku tidak tahan lihat orang diperlakukan begitu," jawab Arkana pendek. "Apalagi mereka juga membawa nama orang yang sudah tiada." lanjut Arkana.

‎‎Gerry terdiam sejenak. Matanya tampak menerawang jauh.

‎‎"Kau kenal Ziudith?" tanyanya ragu.

‎‎Arkana menatapnya, lalu mengangguk. "Ya."

‎Senyum getir muncul di wajah Gerry.

‎‎"Aku sering ke makamnya. Aku merasa punya nasib yang sama seperti Ziudith. Dikucilkan, dibenci, tidak diinginkan semua orang. Dia sendirian, bahkan tak ada seorangpun yang mengunjungi makamnya setelah dia meninggal dunia. Aku mau kasihan padanya tapi sekarang aku ada di posisi yang sama seperti dirinya." Gerry bicara dengan suara bergetar.

‎‎Arkana mendengarkan dalam diam. Ia tahu perasaan itu, rasa ditinggalkan, rasa tak punya siapa pun untuk mendengar.

‎Gerry melanjutkan, suaranya serak,

‎‎"Kemarin aku ke sana lagi, waktu hujan deras. Aku bilang aku sudah lelah, aku lelah dengan semua perlakuan orang kepada ku. Dan kau tahu, ketika aku ingin pulang, aku menemukan buku di dekat makamnya. Sebelumnya tidak ada. Aku sempat mengira jika buku itu milik seseorang yang tertinggal di sana karena mengunjungi Ziudith, tapi.. Selama ini tidak ada siapapun yang datang ke sana."

‎‎Arkana menatapnya tajam. "Buku?"

‎‎Gerry mengangguk pelan. "Ya. Sampulnya hitam, tanpa judul. Saat aku buka.. halamannya kosong. Tidak ada apapun di sana. Tapi anehnya, ada namaku di sana. Seolah buku itu memang milik ku yang sudah lama hilang."

‎‎Arkana merasakan jantungnya berdetak keras. Ia tahu buku apa yang dimaksud Gerry. The Book, buku yang sedang dia cari.

‎‎"Lalu di mana buku itu sekarang?" Arkana bertanya sambil memegang kedua bahu Gerry agak kuat. Gerry jadi ketakutan. Dia merasa Arkana sama saja seperti orang-orang yang sering menindasnya.

‎‎"A-aku mau kembali ke kelas." Gerry mengelak. Cepat-cepat dia meninggalkan Arkana tanpa menoleh ke belakang.

‎‎"Aaah, sial!" lelaki itu tampak kesal sampai meninju udara.

‎‎‎Keesokan harinya di Lavente, Arkana berusaha mencari Gerry. Tapi anak itu tidak masuk sekolah. Perasaan tidak enak merayapi dadanya. Dia menanyakan keberadaan Gerry pada siapapun di kelas itu, tapi tak ada yang mengetahui dimana Gerry berada.

‎‎Masih pagi, bahkan pelajaran juga belum dimulai, demi menghilangkan kepenatan yang hinggap di kepalanya, Arkana memutuskan pergi ke toilet, berharap guyuran membasuh wajah bisa sedikit menenangkan dirinya.

‎‎Tapi begitu masuk ke toilet, langkahnya terhenti. Ada suara tangisan lirih dari salah satu bilik. Tangisan itu terdengar pilu namun Arkana yakin sekali jika itu bukan tangisan hantu, melainkan seseorang yang benar-benar terluka.

‎Arkana berdiri di depan bilik itu. Dari dalam, terdengar suara bergetar, penuh putus asa.

‎‎‎"Jika dengan menukar jiwaku bisa membalas semua sakit hati dan rasa sakit ku selama ini pada mereka... maka aku bersedia menyerahkan jiwaku! Bantu aku membalas semua perbuatan mereka!"

‎Dunia seakan berhenti.

‎‎Arkana terpaku, wajahnya memucat. Jantungnya seolah ingin melompat dari tempatnya. Suara itu ia mengenalinya. Itu milik Gerry.

‎‎"Tidak!!" Arkana mengetuk keras pintu bilik.

‎‎"Gerry! Jangan lakukan apa pun yang ada di pikiran mu! Buka pintunya, Gerry!" gedor Arkana keras. Tapi tak ada jawaban.

‎Kabut putih tipis mulai turun dari langit-langit atap, bergerak perlahan menyelimuti lantai toilet. Cermin di depan wastafel berembun, dan perlahan muncul tulisan samar seperti digoreskan oleh jari tak terlihat..

‎‎'Hentikan dia... sebelum terlambat.'

‎‎Arkana menatap tulisan itu, napasnya memburu. Ia tahu, The Book mungkin berusaha bangkit kembali, membuat luka yang belum sepenuhnya kering jadi terbuka kembali. Arkana harus menghadapi ini sendirian tanpa Megan!

1
☠🌻ѕнαqυєєηα🌻
kasian kau arkana cintamu dibawa mati megan sebelum terucap😭🤣
☠🌻ѕнαqυєєηα🌻
gara gara si ziudith ini megan bunuh diri karna tertekan😏
☠🌻ѕнαqυєєηα🌻
setan ko kasih kejutaan,eh tapi kejutannya jangan sampai megan mati yaa masa aktor utama nya modarr🤣🤣🤣🤣
☠🌻ѕнαqυєєηα🌻
duh duh ini pasti si zudith😏,mau apa lagi sih dia kan semua yg bully udah mati😏
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
tamat 😨
terimakasih Thor sudah bikin kami dag-dig-dug bacanya..
sukses trs utk karya lainnya✊
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
huaaaaa...
apa ini 😨
Arkana selamat apa ikut menyusul Meghan juga??
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
jangan ada lagi korban😖
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
temukan, dan hancurkan buku sialan itu Ar✊
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
mangat Ar, kamu pasti bisa✊
Rita Ariani
seruuuu kak ceritanya
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤ𒈒⃟ʟʙᴄ
ini benaran udah tamat thor😳😳🚶🏿‍♀️
Hnɐſnɐu🎐ᵇᵃˢᵉ
akankah adaa ziudith lainnya yang menyerahkan dirinya kepada kegelapan???☺️
atmaranii
ayo thorr bkin season 2 nya..jgn lupa KSH bumbu2 romance nya😁
atmaranii
lanjut thorr,,
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
Dimana mana bulliying emang slalu ada. Dan semua itu tergantung dgn hati stiap manusiaitu sendiri...
Never end to The Book yaa
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
the end donk semuanya ya
𝐉𝐄𝐃𝐀𝐆 𝐉𝐄𝐃𝐔𝐆
ehhhh tamat Thor tamat😳
𝐙⃝🦜eRo
akhirnya yang meninggal bisa tenang gak gentayangan lagi
𝐙⃝🦜eRo
bodo amat,,, selama yang dibully dilindungi dan pembully ditindak semua akan aman
Hnɐſnɐu🎐ᵇᵃˢᵉ
apakah perjalanan the book sudah benar² berakhir??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!