NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang dan Perang di Rumah Orang

Mobil Aditia parkir pelan depan rumah Andira. Jam 9 pagi. Matahari udah naik.

Andira turun, megang bunga mawar putih sisa di makam tadi. "Makasih ya, Dit. Udah nemenin aku ziarah."

Aditia senyum. "Udah bilang jagain ya, Ind. Tugas aku." Dia salim ke tangan Andira. "Aku pulang dulu. Istirahat ya."

Andira angguk. Masuk rumah, dia sujud syukur di sajadah. Dadanya lega banget. Kayak ada beban yang diangkat.

HP bunyi. Notif story dari Aditia: foto makam dari jauh, caption "Minta izin yang punya."

3 menit kemudian, story Imel muncul. Screenshot postingan Aditia + stiker api. Caption: "Janda sama duda tua, cocok."

Andira liat sekali. Senyum kecut. Jari langsung pencet "Blokir" di IG, WA, FB. "Mas, aku jaga nama Mas baik-baik,"

bisiknya ke foto Renaldi di meja.

Andira ke dapur, nyeduh teh anget. HP-nya dia taruh. Tenang. Gak mau ribut.

...****************...

Sore jam 6, rumah Imel dan Ikbal.

Ikbal baru pulang kerja. Jas dilempar ke sofa, dasi dilepas asal. Kemeja basah keringat. Mukanya capek banget.

Imel nyamperin dari dapur bawa air putih anget. Lipstik merah, dandan menor. "Mas, udah pulang? Capek ya?

Nih minum dulu. Aku udah siapin."

Ikbal nerima gelasnya. Duduk di sofa tanpa senyum. "Makasih, Mel."

Imel duduk nempel. Nyender ke bahu Ikbal. Manja banget. "Mas, besok transfer ya. Udah tanggal 25 nih.

Jatah bulanan aku 15 juta kayak biasa."

Ikbal narik napas panjang. Gelas diletak ke meja pelan. Bunyi "tek". "Mel, kita ngobrol dulu ya. Serius."

"Ngobrol apa sih, Mas? Transfer aja dulu. Aku mau bayar arisan, mau beli tas pink yang kemarin aku posting di IG.

Lucu banget, Mas. Limited edition," celetuk Imel sambil nunjukin HP ke muka Ikbal.

Ikbal malah minggir dikit. Jaga jarak. "Jatah kamu... mulai bulan ini aku potong."

Imel langsung duduk tegak. Alisnya nyatu. "Hah? Potong? Potong berapa maksudnya, Mas?"

"Jadi 7,5 juta aja," jawab Ikbal pelan. Matanya nunduk ke lantai. Gak berani natap Imel.

"APA?! 7,5 JUTA?! Dari 15 juta dipotong setengah?! Mas waras gak sih?!" teriak Imel. Suaranya melengking.

Sampe anak di kamar langsung intip dari balik pintu.

Ikbal tetep kalem. Gak balik teriak. "Aku waras, Mel. Malah karena waras aku mutusin gini. Gaji aku sebulan 30 juta.

Setengahnya aku kasih kamu tiap bulan. Kamu habisin buat tas, skincare, arisan, nongkrong sama temen.

Anak kita SPP nunggak dua bulan. Listrik token abis tiap minggu. Aku malu, Mel. Ditagih terus sama TU sekolah."

Imel berdiri. menongka pinggang. Dada naik-turun. "Lah terus salah aku di mana?! Kan Mas yang bilang dulu

'kamu gak usah kerja, Mel. Aku yang nafkahi'. Sekarang Mas pelit ya?! Kikir?!"

"Bukan pelit, Mel. Ini namanya ngatur keuangan rumah tangga. Aku udah ngomong sama finance kantor. Mulai bulan ini,

7,5 juta transfer ke rekening kamu tanggal 25. 7,5 juta lagi aku pegang. Buat bayar sekolah anak, bayar listrik,

cicilan mobil, sama tabungan darurat," jelas Ikbal panjang lebar. Nadanya tetap rendah.

Imel ngamuk. Remote TV dibanting ke sofa. "Prak!" "Mas belain siapa sih?! Itu Andira janda aja bisa ngasih 10 juta!

Mas gak berani nagih lebih ke adik Mas?! Aku ini istri Mas! Kak kandungnya Renaldi! Masa kalah sama janda mandul?!"

Ikbal ikutan berdiri. Nadanya naik dikit tapi masih nahan. "Justru karena kamu istri aku, aku negur kamu, Mel.

Andira ngasih 10 juta itu dari uang Jasa Raharja. Itu hak dia. Itu ganti duka dia. Kamu? Kamu minta 15 juta tiap bulan

tapi gak pernah nanya aku capek apa enggak cari duitnya di kantor dari pagi sampe malam."

Imel nunjuk dada Ikbal pake telunjuk. Kukunya panjang. "Mas berubah ya? Sejak Andira janda, Mas jadi belain dia terus!

Dulu Mas bilang aku ratu di rumah ini! Sekarang aku kayak pembantu disuruh irit!"

"Aku gak belain siapa-siapa. Aku belain anak-anak kita. Mereka butuh pendidikan, Mel. Bukan tas branded tiap bulan,"

tegas Ikbal. Matanya mulai merah. Nahan marah.

Imel masuk kamar. Pintu dibanting kenceng banget. "Brak!" Kedengeran suara lemari dibuka-buka, baju dilempar-lempar ke lantai.

Ikbal duduk lagi di sofa. Pijit kening. "Ya Allah, kasih aku sabar ya Allah. Kasih aku jalan keluar."

Lima menit kemudian Imel keluar. Bawa koper kecil warna pink. Mukanya merah padam, lipstik belepotan, bulu mata rontok satu.

"Kalau Mas cuma kasih 7,5 juta, aku pulang ke rumah orang tua! Di sana aku ratu! Gak disuruh irit-irit kayak pembantu!"

ancam Imel sambil nyeret koper ke pintu.

Ikbal diem. Terus dia buka dompet. Ngeluarin uang 500 ribu. Dilipet rapi. "Ini buat ongkos ke rumah orang tua.

Tapi Mel, inget ya. Rumah ini rumah kamu juga. Kalo kamu pergi, anak-anak gimana? Mereka butuh Mama, bukan duit doang."

Imel nyambar uang itu tanpa salim. "Gak usah ngajarin aku jadi ibu! Aku pergi dulu! Biar Mas tau rasa hidup tanpa aku!"

Pintu dibanting. "Brak!" Imel pergi malam itu juga naik taksi online. Gak nunggu jawaban.

Di dalam rumah, anak-anak intip dari balik pintu kamar. Si sulung umur 8 tahun, si bungsu 5 tahun.

"Pa, Mama kenapa?" tanya si sulung. Matanya berkaca mau nangis.

Ikbal jongkok, peluk anaknya erat. Cium keningnya. "Mama lagi marah, Nak. Tapi Mama sayang kalian kok.

Papa juga sayang banget. Yuk kita makan, Papa masak indomie pake telur ya."

Malam itu Ikbal gak tidur. Dia duduk di ruang tamu, buka laptop, ngitung pengeluaran bulan depan pake kalkulator.

Muka kusut.

Jam 2 pagi, HP Ikbal bunyi "tit". Dia buka WA. Status Imel baru:

"Suami gaji 30 juta tapi istri dikasih 7,5 juta doang. Mending janda kayak Andira, bebas nerima transferan cowok mana aja. #HidupJanda"

Ikbal baca sekali. Terus matiin HP. Ditaruh di meja. Dia pijit pelipis. Capek.

Di sisi lain, Andira bangun subuh. Liat screenshot status Imel yang dikirim Lia.

Andira cuma senyum, terus hapus chat. Gak dibales. Gak diblokir lagi. Udah.

Dia sujud lagi. "Ya Allah, jaga hati aku. Jangan sampe aku balas dendam."

Siang harinya, Ikbal nelpon Andira. Suaranya lemes banget. "Halo, Ndir. Maaf ganggu istirahat."

"Iya, Mas. Ada apa?" jawab Andira hati-hati.

"Maaf ya, gara-gara aku potong jatah Mel, dia jadi nyindir kamu lagi di status. Aku cuma mau bilang makasih ya

udah bagi uang Jasa Raharja kemarin. Itu nolongin aku banget buat bayar SPP anak," ucap Ikbal tulus. Suaranya serak.

Andira diem sebentar. "Iya, Mas. Sama-sama. Mas Ikbal bapak yang tanggung jawab kok. Saya doain ya

biar Mbak Imel ngerti pelan-pelan. Kasihan anak-anaknya."

Ikbal ketawa kecil kecut. "Amin. Kamu kuat ya, Ndir. Jangan dengerin omongan Mel. Dia lagi kalap.

Aku yang salah didik dia dulu."

Matiin telpon, Andira liat ke jendela. Aditia lagi nyapu halaman depan rumahnya. Sengaja lewat.

Senyum ke arah Andira. Andira bales senyum, terus nutup gorden pelan.

Malamnya, jam 10, Imel balik lagi ke rumah. Bawa koper, muka jutek, mata sembab.

Ikbal bukain pintu, tapi gak nyapa. Cuma minggir kasih jalan.

Imel langsung ke kamar. Koper dibanting. Dia cek HP, transferan 7,5 juta udah masuk dari Ikbal. Dia senyum sinis.

"7,5 juta juga duit, Mas. Aku masih bisa beli tas KW dulu. Tunggu arisan cair," gumamnya.

Tapi pas buka kulkas, kosong melompong. Beras tinggal sejumput di toples. Anak-anak makan indomie rebus di meja makan.

Dia diem di depan kulkas. Dadanya sesek.

Baru kali ini Imel ngerasain: Dipangkas jatah itu sakit. Disindir orang itu sakit.

Tapi paling sakit... ngeliat anak sendiri makan seadanya sementara dia habisin duit buat smoothing rambut.

Dia ke ruang tamu. Liat Ikbal lagi nyuapin anak bungsu pelan-pelan. Sabar banget. Disuapin, diseka mulutnya pake tisu.

Imel batin: "Kenapa baru sekarang aku ngerti, Mas? Kenapa aku baru sadar kalo ini rumah?"

Tapi mulutnya tetep keras. Dia duduk di ujung sofa paling jauh dari Ikbal.

"Mas, besok tambahin ya 2 juta. Buat aku beli bedak. Bedak aku abis."

Ikbal noleh. Senyum tipis kecut. "Oke. Dari jatah aku. Jatah kamu tetep 7,5 juta. Deal ya? Kita atur bareng."

Imel diem. Gak jadi ngamuk. Dia mainin ujung jilbabnya. Jari gemetar.

Hari itu, Imel belajar hal baru: Uang gak bisa beli tenang. Tapi ngerti suami, bisa bikin rumah adem.

Sayangnya... ego dia masih setinggi langit. Belum mau mengakui itu ke Ikbal. Malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!