NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?

Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.

Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.

Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31

Kata-kata ayahnya sungguh tidak berperasaan bagi Aiko. Ia terdiam dengan sisa air matanya. Bahunya yang semula berguncang karena tangisan, perlahan-lahan menjadi tenang.

​Aiko menunduk melihat bercak darah di sweternya, lalu mendongak kembali menatap mata Ayahnya. "Jika Ren adalah racun untuk Ayah, darahnya kini sudah terlanjur meresap di baju dan kulitku. Dan sepertinya tidak akan mudah hilang begitu saja."

​Hiroshi mengernyitkan alisnya. "Sadarlah, Aiko! Jangan bilang kau menyukai pria itu. Apa menurutmu dia akan tetap membiarkanmu hidup jika tahu siapa keluargamu yang sebenarnya? Singkirkan perasaan tidak berguna itu. Ayah hanya ingin kau tetap hidup dengan aman. Ini semua demi kebaikanmu. Terlebih jangan lakukan apa pun yang membahayakan nyawamu."

​Aiko bangkit dari duduknya dan mundur satu langkah. "Ayah memintaku untuk tetap menjadi pion penurut dengan alasan kebahagiaanku, sementara Ayah sendiri menggunakan nyawa orang lain sebagai tumbal. Aku lebih baik mati di depan Ayah, jika semua kesalahan ini Ayah bebankan dengan dalih untuk melindungiku."

​"Aiko?! Kau berani menentang keputusan Ayah?!" suara Hiroshi meninggi, tongkat kayunya kembali diketukkan ke lantai dengan keras.

​Aiko tidak menjawab. Ia beranjak pergi. Saat tangannya memegang pintu geser, ia menoleh sedikit melalui bahunya. "Ayah, mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan permainanmu menyakitinya lagi."

​BAM!

​Pintu geser ruang kerja itu tertutup dengan dentuman keras.

​**

​Di ruang VIP rumah sakit, Ren Tachibana bersandar pada tumpukan bantal dengan tatapan mata yang tertuju pada berkas-berkas di pangkuannya.

​Sementara itu, Daichi berdiri di ujung ranjang dengan wajah penuh tanya. "Bos, apa kau mencurigai sesuatu? Kenapa kau memintaku mencari berkas-berkas itu?"

​Ren tidak langsung menjawab. Jemarinya yang terbalut perban bergerak perlahan, membuka lembar demi lembar dokumen usang berisi laporan aliran dana dan transaksi pengalihan hak milik wilayah belasan tahun lalu. Berkas rahasia yang berhasil ia dapatkan ini membawanya pada satu kesimpulan.

​"Ucapan Harada benar. Kaito tidak bergerak sendirian belasan tahun lalu, Daichi," ucap Ren dengan mata yang terus mengamati setiap detail berkas di pangkuannya. "Pamanku tidak akan punya modal sebesar itu untuk membayar anak buah Harada demi penyerangan sebesar itu belasan tahun lalu."

​Ren menatap stempel berwarna merah di bagian bawah kertas itu. "Lihat kode dewan ini. Transaksi ini membuktikan klan Kurogawa ternyata ikut andil mendanai seluruh pergerakan Kaito saat malam berdarah itu."

​Srett...

​Pintu geser ruang VIP terbuka perlahan, memutus pembicaraan itu.

​Aiko melangkah masuk ke dalam kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Rambut panjangnya tergerai indah, dan tangannya menjinjing sebuah wadah makanan yang sengaja ia bawa dari rumah untuk Ren.

​Dengan gerakan tenang, Ren menutup berkas tersebut lalu meletakkannya di bawah bantal. Matanya menatap Aiko yang kini berjalan semakin mendekati ranjangnya.

​Daichi yang peka akan situasi segera membungkuk hormat. "Saya permisi ke luar untuk memeriksa penjagaan di depan, Bos, Nyonya." Setelah mendapat anggukan dari Ren, Daichi melangkah keluar dan menutup pintu kembali.

​"Kau sudah kembali," ujar Ren datar. "Kupikir kau akan menginap di sana."

​"Aku tidak setega itu meninggalkanmu saat terluka seperti ini, Ren."

​Mendengar penuturan itu, Ren terdiam sesaat. Ia menatap mata Aiko, lalu mengembuskan napas pelan.

​"Duduklah," ucap Ren.

​Aiko menurut dan duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Ren. Dengan tangannya yang membuka wadah makanan yang ia bawa, ia berusaha menyibukkan diri agar tidak perlu menatap mata Ren terlalu lama. "Aku membawakanmu makanan. Kau harus makan agar lukamu cepat pulih."

​"Aku tidak perlu dikasihani olehmu, Aiko. Aku tidak akan mati semudah itu."

​Aiko tidak memedulikan ucapan pria di hadapannya. Tangannya terus sibuk merapikan beberapa makanan yang ia taruh di atas meja kecil di hadapan Ren. "Makanlah, Ren, simpan saja egomu itu. Dan tidak perlu berasumsi berlebihan."

​Aiko kembali mendudukkan dirinya. Sementara Ren akhirnya mulai menyantap hidangan walau mulutnya tetap mengoceh gusar.

​"Aku tidak butuh bantuanmu, Aiko. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri."

​"Ya... Aku percaya itu," jawab Aiko datar. Sementara pandangan matanya terus memperhatikan cara makan Ren yang terlihat kesulitan karena tangannya yang terluka.

​Beberapa kali sumpit di tangan kiri Ren tergelincir, membuat sepotong daging jatuh kembali ke atas mangkuknya. Ia mendengus dengan wajahnya yang memerah menahan kesal sekaligus malu.

​"SIAL...! Aku tidak jadi makan! Kau rapikan saja kembali makanan ini!" umpat Ren frustrasi seraya berniat melempar sumpitnya.

​Aiko menarik napas panjang dan membuangnya cepat. Detik berikutnya, ia bangkit dari kursi dan naik ke atas ranjang, duduk tepat di hadapan Ren. Tanpa memedulikan keterkejutan di wajah pria itu, Aiko mengambil alih sumpit dari tangan Ren.

​"Sini biar aku bantu. Dan ini bukan berarti aku meremehkanmu," ucap Aiko tenang, "Aku hanya tidak ingin makanan yang kubawa ini terbuang sia-sia."

​Ren terpaku di tempatnya. Jarak mereka kini terlampau dekat. Ia berniat melontarkan protes keras, namun saat matanya bertatapan dengan mata Aiko dengan jarak sedekat ini, kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokannya.

​Dengan gerakan lembut, Aiko menjepit sepotong daging dan nasi, lalu mengarahkannya ke depan bibir Ren. "Buka mulutmu."

​Ren memalingkan wajahnya sedikit, merasa harga dirinya agak tercoreng. Namun, perutnya yang lapar dan aroma masakan Aiko yang menggugah selera mengalahkan egonya. Dengan canggung, Ren kembali menatap Aiko lalu menerima suapan itu.

​Suasana di kamar VIP itu mendadak hening. Ren mengunyah makanannya dalam diam, sementara matanya tidak lepas memperhatikan wajah Aiko dari jarak sedekat ini.

​Bahkan setiap kali bibir Ren terkena sedikit noda saus, Aiko dengan natural menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sudut bibir pria itu. Sentuhan kulit yang mendadak itu membuat jantung mereka berdua berdegup dua kali lebih cepat.

​"Kenapa kau terus menatapku?" tanya Aiko lirih, berusaha menetralkan kecanggungan yang mulai terasa mendebarkan.

​Ren berdeham pelan, mengalihkan pandangannya ke arah lain.

​Aiko mendengus kecil, seulas senyum tipis sempat terukir di bibirnya.

​Setelah suapan terakhir habis, Aiko meletakkan kembali sumpit dan wadah makanan ke atas meja. Ia berniat turun dari ranjang, namun tangan Ren yang tidak terluka dengan cepat bergerak menahan pergelangan tangannya.

​"Aiko," panggil Ren, suaranya mendadak berubah menjadi serius.

​"Ada apa, Ren?"

​Ren menghela napas pendek. "Aku baru saja mendapatkan sebuah informasi."

​"Informasi...? Apa ini mengenai penyeranganmu?" tanya Aiko dengan ragu dan jantung yang mulai berdegup kencang.

​"Bukan. Ini mengenai kesimpulan yang baru aku temukan, mengenai klan Kurogawa yang ikut andil dalam penyerangan di kediamanku belasan tahun lalu."

1
PrettyDuck
malah jadi aiko yg diiencer 😮‍💨
PrettyDuck
ngerinya gess 😫
PrettyDuck
kira2 kalo yakuza berkhianat hukumannya apa yaa~ 🥴
PrettyDuck
dan salah mencari kawan juga 🤭

makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
PrettyDuck
iss iblis bener emang si kaito ini.
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
RahmaYesi
Jujur, aku suka cerita mafia mafia gini. Tapi, aku sangat amat lemah dan mengingat nama Karakter... 😂🙏

Semangat.....
PrettyDuck
kenapa mereka segitu pinginnya yumi mati sih? 😭😭
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
PrettyDuck
lah? mereka penjahatnyaa??
PrettyDuck
waduh. aiko punya nasib yang sama gak? gak bisa berumur panjang. dia kan punya kemampuan kayak ibunya tuh 😭
PrettyDuck
ooo berarti kalian tuh waktu kecil udah pernah ketemu 🥺
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
jujur aja aiko. drpd kamu dituduh mulu. lagian dia juga sdh jd suamimu dan terlihat peduli padamu juga
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
huaaa menegangkan sekali. dua duanya harus di buat selamat ya Thor. jangan bikin aku nangis
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
terngiang ngiang enggak tuh
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku galau gais. aku takut Aiko terluka tapi aku juga tidak rela Ren terluka juga😭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
haduuuh nih org ya. apa perlu diliatin penampakan di sekitar situ
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
susyaah ya kalo orang curigaan mulu.
Suhadhanie Nur Ezah
boleh ke minta lebih episod....jln cerita bagus....
PrettyDuck
berarti dulu tachibana sama kurogawa bestie ya? kenapa jadi musuh?
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏
🌺⃟ SasMaya: ada di bab selanjutnya kak 🤭
total 3 replies
PrettyDuck
kayak aiko suka muntah darah 🥺
PrettyDuck
ooo ternyata sengsaranya karena ke-indigo-an dia 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!