NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 25

​Daichi yang berada di belakang Aiko langsung menegakkan tubuhnya, sementara Hana yang berdiri di samping Aiko langsung melongo lebar, menyenggol lengan sahabatnya dengan heboh. "Aiko... bukankah itu wali tampanmu yang waktu itu? Astaga, dia menjemputmu? Benar-benar seperti keluar dari film!"

​Aiko tidak merespons ucapan Hana. Langkah kakinya mendadak terasa berat saat ia berjalan mendekati mobil tersebut. Pikirannya mendadak overthinking. Mengapa Ren tiba-tiba datang ke kampusnya?

​Begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, Ren menegakkan tubuhnya. Dengan Pandangan matanya yang dingin mengabaikan semua orang di sekitar mereka, langsung tertuju sepenuhnya pada wajah Aiko.

​Tanpa sepatah kata pun, Ren mengulurkan tangannya, membuka pintu penumpang bagian depan untuk Aiko.

​"Masuk," ucap Ren.

​Aiko menelan ludah, melirik Hana sekilas untuk pamit, lalu segera melangkah masuk ke dalam mobil. Setelah pintu ditutup rapat oleh Ren, pria itu beralih menatap Daichi.

​"Bawa mobilmu kembali ke kediaman," perintah Ren datar.

​"Baik, Bos," jawab Daichi patuh, menundukkan kepalanya hormat.

​Ren kemudian memutari bagian depan mobil, membuka pintu kemudi, lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian, mobil tu bergerak menyusuri jalanan kota, meninggalkan area kampus yang masih dipenuhi kasak-kusuk mahasiswa yang penasaran.

​Di dalam mobil, Aiko meremas jemarinya di atas pangkuan, menatap wajah Ren dari samping yang terlihat tetap fokus pada jalanan di depan.

​Ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya. dan memberanikan diri untuk bersuara. ​"Ren... kenapa kau tiba-tiba menjemputku?" tanya Aiko pelan.

​Ren tidak langsung menjawab. Pria itu memutar kemudi dengan tenang melewati tikungan jalan yang mulai sepi. Setelah beberapa saat, barulah suaranya terdengar.

​"Situasi di luar belum sepenuhnya aman. Orang-orang Kaito bisa saja mengincarmu kapan saja untuk memancingku keluar," jawab Ren tanpa menoleh sedikit pun, mencengkeram kemudi mobil dengan satu tangan.

Aiko terdiam, mencerna kalimat pria itu. Namun sebelum ia sempat membalas, Ren kembali bersuara dengan nada yang lebih serius.

"Kita tidak langsung pulang ke kediaman," tambah Ren, matanya melirik sekilas ke arah Aiko. "Ayahmu... Dia ingin bertemu sore ini."

Jantung Aiko seketika mencelos. "Ayah... Apa yang ingin ayah lakukan lagi?" gumamnya lirih seraya meremas kedua jarinya yang bertautan di atas pangkuannya.

Begitu mereka tiba dan masuk ke dalam. Aiko bisa melihat sosok ayahnya yang duduk di sana. Fisik Hiroshi terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali Aiko melihatnya. dengan napasnya yang terdengar berat.

"Ayah... Bagaimana kabarmu?" tanya Aiko khawatir.

Hiroshi hanya mengayunkan telapak tangannya, seakan memberi isyarat untuk Aiko tidak perlu khawatir kepadanya.

Pertemuan itu berjalan tanpa basa-basi dari Hiroshi, ucapannya penuh dengan negosiasi politik yang mengejutkan untuk Ren.

Hiroshi menggeser sebuah dokumen bermaterai di atas meja. "Aku akan menyerahkan seluruh wilayah kekuasaan yang kumiliki kepadamu, Ren. Aku melepaskan semuanya," ucap Hiroshi dengan suara serak. "Fisikku sudah lemah, hidupku mungkin tidak akan lama lagi. Aku tidak bisa lagi mengelola wilayah-wilayah itu."

Ren menyipitkan matanya tajam, menatap dokumen itu lalu beralih pada pria tua di hadapannya. "Kekuasaan yang kau bangun dengan susah payah sejak muda? Apa syaratnya?"

Hiroshi melirik Aiko sekilas, sebelum kembali menatap Ren. "Apapun yang terjadi di masa depan... berjanjilah padaku satu hal. Tetap lindungi Aiko, dan biarkan dia tetap hidup di sisimu."

Ren terdiam sesaat, menilai ketulusan pria tua itu. Tanpa ragu, Ren mengangguk pelan. "Aku memegang kata-kataku. Selama dia bersamaku, akan ku pastikan dia tetap hidup."

Di samping Ren, tubuh Aiko mendadak gemetar. Dengan telapak tangannya yang terasa dingin.Ia mencoba mengatur napasnya yang mendadak terasa sesak.

Ren menyadari perubahan sikap gadis di sebelahnya. Pria itu baru saja akan bersuara saat Aiko tiba-tiba menoleh menatapnya dengan pandangan memohon yang samar.

"Ren," panggil Aiko, suaranya sedikit bergetar. "Bisakah kau menungguku di mobil sebentar? Ada... ada hal yang ingin kubicarakan dengan Ayah sebelum kami pulang."

Ren menatap Aiko selama beberapa detik, dengan matanya yang menyipit tajam, yang di susul oleh anggukan pelan. Pria itu bangkit dari posisinya duduk, lalu melangkah keluar.

Begitu pintu geser tertutup rapat dan langkah kaki Ren terdengar menjauh, Aiko langsung memutar tubuhnya menghadap Hiroshi.

"Ayah... Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan di masa lalu?" bisik Aiko parau, suaranya tertahan di tenggorokan. "Kenapa Ayah tega melakukan itu kepada Ren?"

"Apa maksudmu Aiko?" jawab Hiroshi dengan pandangan mata yang tajam.

"Aku tahu semuanya Ayah? Aku tahu mengapa Ayah menikahkanku dengan Ren? Dan aku juga tahu mengapa Ayah menyerahkan semua kekuasaan ayah dengan sukarela saat ini kepadanya."

Hiroshi tertegun sejenak. Pria tua itu terbatuk pelan, lalu menatap putrinya.

"Aiko..."

.

.

"Ayah sedang mencoba membeli nyawaku, kan?!" potong Aiko dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ayah mengikat Ren dengan sumpah dan memberikan semua wilayah itu secara cuma-cuma, agar suatu hari nanti... saat Ren tahu bahwa Ayah adalah dalang di balik pembantaian keluarganya, Ren tidak akan bisa menyentuhku! Ren tidak akan bisa membunuhku karena sumpah yang Ayah minta hari ini! Benar begitukan Ayah?!"

Hiroshi memejamkan matanya. Bahunya yang kurus tampak merosot. Ketika ia kembali membuka mata, tidak ada bantahan di sana.

"Jika aku tidak melakukannya... kau yang akan mati, Aiko," ucap Hiroshi dengan suara serak. "Ren adalah pria yang kejam. Jika rahasia itu terbongkar tanpa ada benteng yang melindungimu, dia akan menghabisi seluruh keturunanku tanpa sisa. Aku tidak peduli jika Ren membenciku atau membunuhku kelak, tapi kau... kau harus tetap hidup. Hanya Ren yang bisa melindungimu dan sumpah itu juga yang bisa melindungimu dari Ren sendiri."

Lidah Aiko mendadak kelu. Setetes air mata lolos melewati pipinya.

Tanpa sepatah kata pun lagi, Aiko bangkit berdiri. Ia berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan itu.

Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman suasana di antara Ren dan Aiko terasa jauh berbeda ketika saat berangkat tadi.

Aiko hanya memandang ke arah luar jendela. Pikirannya benar-benar kacau dan dipenuhi rasa bersalah. Di sampingnya, Ren menyetir dengan tenang, dengan matanya yang sesekali melirik ke arah Aiko.

"Kau bertengkar dengan ayahmu?" tanya Ren memecah kesunyian di antara mereka.

Aiko tersentak, lalu menoleh pelan. Ia meremas jemarinya di atas pangkuan. "Tidak... aku hanya menanyakan kondisinya yang terlihat semakin memburuk."

Ren tidak membalas lagi. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan.

Mobil itu akhirnya berbelok memasuki gerbang kediaman Tachibana saat malam hari. Begitu mesin mobil mati, Aiko melangkah cepat menyusuri koridor.

Sementara itu, di dalam mobil yang masih terparkir di pekarangan, Ren tidak langsung turun.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kemudi, menatap lurus ke arah koridor tempat Aiko baru saja menghilang. Dengan mata yang tajam, seraya mengetuk kemudi mobilnya. "Sudah ku katakan... kau tidak pandai berbohong Aiko..."

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!