Krystal dinikahkan dengan seorang pengacara muda oleh kakeknya sendiri tanpa sepengetahuannya. Ketika pernikahannya sudah sah dan terdaftar secara legal, suaminya datang dan membawanya pergi dari kediaman pamannya. Tidak ada pilihan lain bagi Krystal selain menerima pernikahan ini. Lalu apa jadinya jika sang suami menuntut Krystal untuk memberinya keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellestinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Buruk
Hufh...
Lagi-lagi gue mendengus.
Begitu dapat kabar dari Galvin, gue langsung terbang ke Macau. Proyek gue bener-bener di ujung tanduk. Sempat ada clash mengenai masalah perizinan lahan yang gue pakai untuk pembangunan supermall di kawasan pusat kota. Belum lagi adanya kendala pengiriman barang-barang interior design yang menghambat proses pembangunan. Dan tadi siang tiba-tiba beberapa client mendesak agar penyediaan properti-properti untuk menjalankan bisnis mereka harus sudah tersedia dalam waktu satu minggu. Padahal dengan berbagai kendala yang ada, paling cepat permintaan mereka baru bisa diproses bulan depan.
Gue bener-bener bingung ngadepin semua ini. Ternyata kerja itu susah banget ya. Kita harus siap dengan segala macam skenario yang mungkin terjadi, bahkan skenario terburuk sekalipun. Selain itu kita harus tahan banting dan mampu berpikir cepat. Mengambil tindakan dengan sigap, cermat dan tepat.
Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan proyek gue adalah dengan penggembungan dana. Mempercepat kinerja melalui penambahan pekerja dan barang-barang mentah untuk diolah. Namun untuk menutup kekurangan, dana yang dibutuhkan tidak hanya sekedar seratus dua ratus milyar, tapi triliunan. Dari mana gue bisa dapet dana sebesar itu dalam waktu yang sangat singkat.
Akhirnya gue dan Galvin begadang semalaman untuk mencari investor-investor yang kemungkinan bisa kita rekrut. Tapi kebanyakan investor menolak proposal kerjasama kita. Segala upaya telah dicoba namun hasilnya nihil. Nggak mungkin gue nyerah di sini. Gimanapun caranya gue harus dapet jalan keluar.
Akhirnya, di sinilah gue sekarang. Di depan pintu kantor Tuan Jonathan Nakamura. Karir gue akan sangat bergantung pada keputusan pria paruh baya ini. Sebenarnya gue tahu, bekerjasama dengan pak Nakamura bukanlah ide yang baik. Ada beberapa catatan hitam tentang kehidupannya. Dia memiliki kekayaan yang berlimpah dan juga kekuasaan yang tak terbantahkan. Ayahnya bekerja pada jajaran perdana menteri di Jepang. Sementara kakek dari pihak ibunya adalah tokoh parlemen dari Taiwan. Rumor mengatakan bahwa mereka menjalankan beberapa bisnis illegal di kawasan Asia Timur. Namun belum ada satupun yang pernah mencoba menguaknya.
Gue nggak punya pilihan lain. Apa jadinya kalau gue gagal dalam proyek ini. Bisa-bisa, Om Yudha makin besar kepala dan gue kehilangan kepercayaan dewan direksi. Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, akhirnya pak Nakamura bersedia bertemu gue. Pebisnis sukses yang berulang kali menghias sampul majalah Forbes ini bukanlah orang sembarangan yang bisa ditemui begitu saja. Berulang kali gue hubungi sekretarisnya tapi ditolak. Jadwalnya sangat padat. Bahkan sempat gue nunggu berjam-jam di depan rumahnya namun begitu dia keluar rumah, dia sama sekali tidak menyisakan lima menit pun untuk membiarkan gue berbicara. Dia langsung masuk mobil dan melesat pergi. Setelah tiga hari gue buntutin, dia akhirnya bersedia menemui gue.
"It's an honour to meet you, Sir. I am Krystal from JSJ Corporation (Sungguh suatu kehormatan bertemu dengan Anda, pak. Nama saya Krystal dari JSJ Corporation)" dengan gugup gue memulai pembicaraan.
"Ten minutes. You only have ten minutes Ma'am. Convince me why I should cooperate with you (Sepuluh menit. Kau hanya punya waktu sepuluh menit nona. Yakinkan saya untuk bekerjasama dengan Anda)."
Gilak... gue cuma dikasih sepuluh menit. Sepuluh menit yang menentukan masa depan gue. Oke Klee, relax... don't ruin this. You can do it.
" Sir, I assure you that this project will bring great fortune in the near future. Soon, this place will not only be a tourist attraction but also a business center of East Asia. This.. (Pak, saya jamin proyek ini akan membawa keuntungan yang besar nantinya. Sebentar lagi, tempat ini tidak hanya menjadi kunjungan wisata tapi juga pusat perbisnisan di Asia Timur. Ini...)".
"Stop..."belum selesai gue ngomong, pak Nakamura menginterupsi. "I dont need your long explanation Ma'am. Just say it, can you give back my money in one or two years? (Saya tidak butuh penjelasan panjang lebar, Nona. Katakan saja, apakah saya bisa mendapatkan uang saya kembali dalam satu atau dua tahun?)"
Gue terdiam.
"Hmm, may be three years? (Hmm, mungkin tiga tahun?)"
Gue masih bungkam.
"Four years? (Empat tahun?)"
Gue makin gelagapan karena gue sendiri nggak yakin dengan jangka waktu sependek itu.
"Look.. you are't sure of yourself. How can I trust my money in you? (Lihat, Anda sendiri tidak yakin pada diri Anda. Bagaimana saya bisa mempercayakan uang saya pada Anda?)"
"Please, Sir. Consider it one more time. I can do anything as the requirement. (Tolong Pak, pikirkan sekali lagi. Saya bisa terima apapun syaratnya)"
"I don't do charity Ma'am (Saya bukan lembaga amal Nona)."
Gue menggigit bibir bagian bawah gue. Bener-bener hopeless.
"Your time is up (Waktu Anda habis)" lanjutnya, "You know where the exit door, right Ma'am? (Anda tahu pintu keluarnya kan Nona?)"
Gue berpikir sebentar. Nggak, gue nggak bisa pulang dengan tangan kosong. Untung gue sempat riset latar belakang pak Jonathan sebelum berhadapan dengan beliau. Oke, gue keluarin jurus terakhir gue.