Afsensa Faiha Azahra, perempuan cantik dengan paras ayu, biasa dipanggil Sensa. Dia gadis sederhana yang hanya hidup sebatang kara, orang tuanya meninggal 1 tahun yg lalu karena kecelakaan.
Arsel Dirga milard, CEO muda diperusahaan Milard Company. Kekayaan Arsel tidak akan habis tujuh turunan, apalagi dengan wajahnya yang nyaris sempurna selalu membuat wanita jatuh hati pada pandangan pertama 😊😊
Arsel pria dingin, sedikit kasar mudah terbakar emosi. Apalagi setelah ditinggal kekasihnya sikap Arsel semakin dingin tak tersentuh.
Kedua orang tua Arsel menjodohkan dengan Sensa, akankah keduanya bisa bahagia atau justru saling menyakiti?
Ayo ikuti kisahnya...
selamat mmbaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
Para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman, kini tinggal Arsel, Mama Eisha, dan Rengga yang masih berdiri disamping batu nisan Papa Abiyasa. Mama Eisha masih menangis, masih belum rela jika suami yang selama ini menemani perjalanan hidupnya harus pergi secepat ini.
Arsel menatapi batu nisan yang bertuliskan nama Papanya. Sedih, menyesal kehilangan sosok Ayah yang menjadi panutannya. Sosok ayah yang selalu membimbingnya.
Sekarang tangung jawab utama, harus menjaga Mamanya. Meneruskan bisnis perusahaan yang tersebar dimana-mana. Satu lagi, dia harus bertanggung jawab untuk kesembuhan psikis istrinya.
Rengga mengajak Mama Eisha untuk pulang dan beristirahat.
Arsel tak bergeming, berdiri menunduk didepan makam Papa Abiyasa.
Rengga menepuk bahu Arsel, mengajaknya pulang bersama.
"Sudah, Bos. Kita pulang sekarang, Om pasti sudah tenang dialamnya karna Om orang baik dan bijak." kata Rengga.
Arsel hanya mengangguk, namun kakinya tidak beranjak melangkah.
Rengga dan Mama Eisha meninggalkan Arsel sendiri, mungkin Arsel masih ingin disana.
Setelah mereka pergi, Arsel menjatuhkan kakinya diatas tanah makam Papa Abiyasa dan menangis terisak. Memang sedari tadi Arsel menahan diri untuk tidak menangis atau menunjukan kelemahannya, dia ingin terlihat tegar didepan semua orang. Namun ketika sendiri dia merasa rapuh karna sebuah penyesalan.
"Pa, maafin Arsel. Ini semua salah Arsel, maafin Arsel." Arsel menangis terisak, memeluk tanah kuburan milik Papa Abiyasa. Dia tak perduli baju putihnya yang kotor terkena tanah. Dia ingin menanggis sepuasnya dan meluapkan segala rasa yang dia pendam.
*******
Seminggu berlalu, hari ini jadwal Sensa bertemu seorang psikiater untuk yang kedua kali. Untuk yang pertama, masih belum ada tanda perubahan.
Pertemuan yang kedua, untuk mengenalkan Sensa agar bisa normal dan nyaman berinteraksi dengan orang lain.
Mama Eisha selalu setia mendampingi Sensa yang sudah seperti putrinya. Dia sangat berantusias supaya Sensa bisa segera sembuh.
Untuk sementara waktu ini, Sensa tinggal dirumah Mama Eisha karna Sensa masih belum bisa bertemu atau bertatap muka dengan Arsel.
Arsel sendiri sudah mulai bekerja kembali. Jadwalnya semakin sibuk karna dia juga harus menangani perusahaan yang ditinggalkan almarhum Papanya.
Bella? Arsel saat ini mulai menjauhi Bella. Arsel mempunyai niat saat Sensa sembuh nanti dia akan menjadi suami yang baik, dia akan menjalankan amanah terakhir dari Papanya.
***********
Saat jam makan siang selesai bertemu dengan rekan bisnis, Arsel pergi kesalah satu Restauran miliknya. Langsung menuju ruang VIP. Arsel sedikit kaget karna disana sudah ada wanita cantik yang duduk dengan anggun.
"Hallo, sayang. Aku kangen banget sama kamu." ucap Bella dengan nada manja.
Arsel tak berniat untuk menjawab dan memilih langsung duduk disalah satu kursi yang berseberangan dengan kursi Bella.
Sepatah katapun belum keluar dari mulut Arsel. Arsel tidak memperdulikan keberadaan Bella, dengan santainya dia langsung menyantap makanan yang berada diatas meja. Sebelum Arsel datang, Bella sudah memesan makanan terlebih dulu. Bella tentu sudah hafal dengan makanan kesukaan laki-laki mesin uangnya itu.
Selesai menghabiskan makanan, Arsel mengambil tissu untuk mengelap mulutnya.
"Ella, aku ingin bicara." kata Arsel serius.
Bella baru selesai meminum jus, dan kembali menaruh gelasnya diatas meja.
"Bicaralah, sayang. Aku pasti jadi pendengar yang baik." Bella tersenyum semanis mungkin, dia fikir Arsel akan melamarnya karna dia tau Sensa sekarang sudah gila tentu itu membuat dia sangat puas dan bahagia.
"Aku mau, mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Ku harap pertemuan ini menjadi yang terakhir." kata Arsel tanpa ragu.
Arsel tak ingin bertemu Bella lagi supaya dia bisa melupakan Bella, karna sebenarnya Arsel sendiri masih punya perasaan untuk Bella. Bagaimanapun, Bella adalah cinta pertama Arsel tentu itu sangat sulit bagi Arsel untuk melupakannya. Arsel berharap dengan kebersamaannya bersama Sensa nanti bisa membuatnya melupakan Bella.
Bella terpaku ditempat, tak sesuai fikirannya dia berharap Arsel salah bicara atau telinganya salah dengar atau sebuah prank.
Dengan pemikiran itu Bella malah tertawa.
"hahahaaaaaa,, nggak usah bercanda, Sel. Candaanmu nggak lucu tau." Bella menggelangkan kepala.
"Aku tidak bercanda dan aku serius dengan ucapanku!" Arsel mempertegas ucapannya.
"Nggak, Sel. Kamu pasti hanya bercanda 'kan? nggak mungkin kamu tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan kita. Kamu mencintaiku dan aku juga mencintaimu Sel, harusnya istri kamu yang gila itu yang mundur bukan aku!" Bella berbicara dengan emosi.
"Ella mengertilah. Aku ingin menjalankan amanah dari almarhum Papa, ku. Papa berpesan agar aku tidak berpisah dengan Sensa. Jadi aku tidak bisa terus bersamamu. Aku akan memulai hubungan yang baru dengan istriku. Aku mengakhiri hubungan kita karna tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian."
"Nggak,,, kamu nggak bisa giniin aku, Sel! aku masih sayang banget sama kamu. Aku nggak mau kamu akhiri hubungan kita. Aku mohon, Sel jangan akhiri semuanya." Bella memohon dan menangis, dengan memegang kedua tangan Arsel.
Dalam hati Arsel tidak tega melihat Bella memohon dan menangis seperti itu, tetapi dia sudah bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Bella.
Arsel menarik tangannya dari genggaman Bella, dia berdiri dan akan meninggalkan tempat itu. Arsel tak ingin berlama-lama melihat Bella menangis yang akan semakin menggoyahkan keputusannya.
Pantang menyerah, Bella pun ikut berdiri dan memegangi lengan Arsel sambil menangis.
Arsel melepas tangan Bella dan pergi dengan begitu saja tanpa berkata lagi.
Bella mengacak rambutnya frustasi dan menangis sejadi-jadinya.
"Aaakhh,,sial!! harusnya wanita sialan itu yang pergi dari hidup Arsel, bukan aku!!"
"Nggak!! aku nggak boleh menyerah begitu saja! Aku harus bisa memiliki Arsel bagaimanapun caranya. Aku harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka!!"
**********
Arsel sudah berada dihalaman rumah Mamanya. Dia ingin melihat perkembangan Sensa, apakah keadaannya sudah mengalami perubahan atau masih sama.
Arsel membuka pintu itu dengan pelan. Dan kebetulan saat itu Mama Eisha sedang menuruni tangga.
"Ma,," Arsel memanggil Mamanya.
Mendengar Arsel memangil, Mama Eisha berjalan kearahnya.
"Ngapain kamu kesini, Sel? kalau sampai Sensa tau kamu berada disini dia bisa kambuh lagi. Psikiater yang menangani Sensa berpesan kalau Sensa jangan bertemu kamu dulu sebelum dia benar-benar sembuh!"
"Iya Ma aku tau, Arsel hanya ingin melihat Sensa sebentar saja."
"Dia ada dihalaman belakang. Awas, jangan sampai dia melihatmu."
Arsel mengangguk tanda setuju. Dia mulai berjalan kepintu belakang.
Disana dia melihat Sensa sedang duduk dibawah pohon dan ditangannya memegang sebuah gitar. Sensa bernyanyi dengan suara yang terdengar merdu.
Mengapa kuterus memikirkanmu
Mengapa aku menangis untukmu
Mengapa ku s'lalu tersakiti
Mengapa aku berharap padamu
Jelas-jelas, kau tak memikirkan aku
Jelas-jelas, kau tak menginginkanku
Jelas-jelas, kau tak pernah menganggap ku ada
Mungkinkah, ini memang jalan takdirku
Oh... mungkinkah, ini memang yang terbaik untukku
Namun, tak kuasa aku bila terus-terus begini
Aku tak sanggup, sungguh aku tak sanggup...
Sensa begitu menghayati lirik lagu dari Dadali yang sedang dinyanyikan, sampai air matanya menetes.
Arsel masih mengintip dibalik pintu, dia mendengar lagu itu seperti sindiran untuknya.
Mama Eisha menyentuh bahu anaknya memberi kode agar Arsel mengikutinya. Arsel menoleh dan mengikuti Mamanya.
"Biarkan dia disini, Sensa sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan orang lain. Kemarin, Mama ajak dia ke Mall dia terlihat sangat senang dan dia meminta gitar itu."
Arsel mengangguk mendengar kata Mama Eisha.
"Lalu kapan, Arsel bisa menemuinya, Ma?"
"Entahlah, yang jelas Sensa butuh waktu. Dia harus benar-benar pulih dari trauma itu baru kamu bisa menemuinya.
Tapi apakah kamu bisa berjanji tidak akan menyakiti dia lagi? dia terlalu berharga untuk disakiti, Sel. Mama harap, kamu bisa menjaganya dia cuma hidup sebatang kara. Mama sangat menyayanginya seperti mama menyayangimu."
"Iya Ma, Arsel akan menjaga Sensa. Arsel tidak akan menyakitinya lagi."
"Buktikan ucapan mu itu, jangan sampai kamu menyesal sudah membuang malaikat seperti dia."
yang gubug itu
ini terlalu mengada " ceritanya
🤔🤔🤔🤔