NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9

Malam selalu menyembunyikan lebih banyak rahasia daripada yang sanggup diterangi cahaya. Dari balik rerimbunan pohon di lereng kecil kawasan industri, Arga mengamati sebuah bangunan abu-abu yang sekilas tampak seperti gudang biasa. Namun nalurinya terus berteriak bahwa tempat itu jauh lebih berbahaya daripada laboratorium yang telah ia datangi dua hari sebelumnya. Ingatan dari kehidupan lamanya memang mengatakan bahwa Sektor-9 hanyalah titik persinggahan, tetapi semakin lama ia mengamatinya, semakin kuat keyakinannya bahwa fasilitas itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pusat distribusi.

Angin malam bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan kering hingga menimbulkan gesekan lembut yang menyatu dengan sunyinya kawasan industri. Dari balik semak-semak, Arga mengangkat teropong ke depan mata dan membiarkan pandangannya menyusuri setiap sudut fasilitas tersebut. Gudang berlantai dua itu tidak memiliki papan nama ataupun penanda apa pun. Seluruh areanya dikelilingi pagar baja setinggi hampir empat meter yang dipasangi kawat berduri, sementara kamera-kamera pengawas terus berputar tanpa henti, mengawasi setiap sudut dalam pola yang tampak sangat teratur.

Hummm...

Dengung motor penggerak kamera terdengar samar ketika lensa-lensa hitam itu bergerak mengikuti jalur yang telah diprogram. Arga tidak sekadar memperhatikan arah putarannya. Ia menghitung jeda setiap rotasi, mencatat berapa detik kamera berhenti pada satu titik sebelum kembali bergerak. Kebiasaan itu telah berkali-kali menyelamatkan nyawanya selama sepuluh tahun bertahan hidup di dunia yang dipenuhi markas penyintas, kelompok pemburu, dan manusia-manusia yang lebih berbahaya daripada monster.

Tak jauh dari gerbang utama, dua pria bersenjata berjalan berlawanan arah sambil sesekali bertukar beberapa kalimat singkat. Senapan yang mereka bawa bukan perlengkapan satpam biasa, melainkan senjata laras pendek yang telah dipasangi perangkat optik modern. Sikap tubuh mereka pun terlalu disiplin untuk sekadar disebut penjaga gudang biasa.

"Empat orang di gerbang depan... dua di sisi timur... tiga lagi berpatroli mengelilingi pagar."

Arga mencatat semuanya di buku kecil yang selalu berada di saku bajunya. Setiap pergantian sif ia tandai dengan jam dan arah pergerakan para penjaga, lalu menggambar ulang pola patroli pada peta sederhana yang telah ia buat sendiri. Bagi kebanyakan orang, pekerjaan seperti itu mungkin terasa membosankan. Namun bagi Arga, informasi selalu memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada keberanian.

Waktu terus bergulir hingga langit yang semula gelap perlahan berubah kebiruan. Matahari mulai muncul di ufuk timur, tetapi Arga sama sekali tidak meninggalkan tempat persembunyiannya. Ia hanya mengubah posisi duduk agar otot-otot kakinya tidak kaku, lalu kembali mengangkat teropong ketika aktivitas di dalam fasilitas mulai meningkat.

Vruumm...

Sebuah truk putih tanpa logo memasuki gerbang utama. Kendaraan itu hanya diperiksa sekilas sebelum diizinkan masuk. Sepuluh menit kemudian, truk lain tiba membawa peti-peti logistik yang segera dipindahkan menggunakan forklift. Seluruh proses berlangsung cepat, efisien, dan tanpa kesalahan, seolah rutinitas tersebut telah dilakukan ratusan kali sebelumnya.

Arga terus mengamati hingga siang hari. Beberapa kendaraan datang dan pergi tanpa memperlihatkan sesuatu yang menarik perhatian. Namun menjelang pukul tiga sore, suara mesin yang jauh lebih berat terdengar dari arah jalan utama.

VROOOM...

Sebuah truk kontainer berwarna hitam muncul di tikungan dengan pengawalan dua kendaraan taktis di depan dan belakangnya. Iring-iringan itu bergerak jauh lebih lambat dibanding kendaraan sebelumnya. Seluruh penjaga di gerbang langsung berdiri tegak begitu konvoi tersebut mendekat.

Alis Arga terangkat tipis.

"Berbeda."

Gerbang baja terbuka lebih lebar dari biasanya. Salah seorang petugas memindai kartu identitas pengemudi, sementara dua pria lain memeriksa bagian bawah truk menggunakan alat pemindai portabel. Bahkan setelah pemeriksaan selesai, kendaraan itu masih dikawal hingga memasuki gudang bagian dalam.

Brumm...

Forklift segera mendekat untuk mengangkut beberapa peti logam berukuran sedang. Berbeda dengan peti logistik biasa, seluruh permukaan peti tersebut dilapisi baja mengilap dan diselimuti embun tipis pada setiap sisinya, menandakan bahwa suhu di dalamnya dijaga sangat rendah.

Arga segera mengarahkan teropong ke salah satu kode yang tercetak kecil di sudut peti.

SX-09-117.

Ia membuka kembali salinan catatan milik Dr. Adrian yang telah beberapa kali dilipat. Pada bagian bawah halaman, terdapat kode distribusi yang nyaris sama.

SX-09.

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

"Itu dia."

Jika catatan Dr. Adrian benar, peti-peti tersebut bukan sekadar membawa bahan penelitian biasa. Sangat mungkin di dalamnya tersimpan sampel Necrovirus aktif, atau bahkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Meski demikian, Arga tidak membiarkan rasa penasarannya mengalahkan akal sehat.

"Aku masuk malam ini."

Ia menutup buku catatan lalu perlahan meninggalkan titik pengamatannya. Menyerbu fasilitas itu pada siang hari sama saja dengan bunuh diri. Bahkan ketika masih menjadi Awakener Tier 5 di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memilih bertempur saat musuh sepenuhnya menguasai medan.

Matahari akhirnya tenggelam di balik deretan pabrik. Lampu-lampu sorot menyala mengelilingi pagar Sektor-9, membentuk lingkaran cahaya yang membelah kegelapan malam. Dari kejauhan, fasilitas itu kini lebih menyerupai benteng militer daripada sekadar gudang logistik.

Arga mengenakan pakaian serba hitam yang tidak memantulkan cahaya. Helm proyek dan perlengkapan berat yang biasa digunakannya sengaja ditinggalkan. Sebagai gantinya, ia memilih pakaian yang jauh lebih ringan agar setiap gerakannya tetap leluasa ketika harus menyusup melalui lorong-lorong sempit.

Ia memutari kawasan industri hingga mencapai saluran drainase tua yang telah ditandai pada peta utilitas. Penutup saluran itu hampir sepenuhnya tertutup lumut tebal dan rumput liar sehingga tampak seperti bagian tanah yang telah lama ditinggalkan.

Kriiit...

Arga menyelipkan linggis kecil ke celah penutup besi, lalu mengangkatnya perlahan. Penutup itu cukup berat untuk menimbulkan bunyi nyaring apabila terjatuh. Namun sebelum gravitasi sempat menariknya ke bawah, benda tersebut menghilang dari kedua tangannya.

Wussh...

Ruang Dimensi menelan penutup besi itu tanpa meninggalkan suara sedikit pun. Sudut bibir Arga kembali terangkat tipis. Semakin sering ia menggunakan kemampuan tersebut, semakin ia menyadari bahwa Ruang Dimensi jauh lebih berguna daripada sekadar tempat penyimpanan logistik. Dalam operasi penyusupan seperti ini, kemampuan itu nyaris sempurna untuk menghapus setiap jejak keberadaannya.

Dengan hati-hati ia turun ke dalam saluran drainase. Bau air menggenang bercampur karat memenuhi rongga hidung, sementara suara tetesan air terus bergema di sepanjang lorong sempit.

Tik...

Tik...

Tik...

Senter kecil di tangannya hanya dinyalakan sesekali ketika jalur di depan terlalu gelap untuk dilalui. Berdasarkan peta lama yang berhasil ia peroleh, saluran tersebut terhubung langsung ke bawah gudang utama, meski beberapa bagian lorong telah runtuh dimakan usia.

Setelah berjalan hampir lima belas menit, Arga menemukan jeruji besi yang menutup jalur di depannya. Baut-bautnya memang telah dipenuhi karat, tetapi tetap membutuhkan tenaga dan waktu jika harus dilepas secara manual.

Arga memilih cara yang jauh lebih sederhana.

Tangannya menyentuh jeruji itu.

Wussh...

Jeruji besi langsung menghilang ke dalam Ruang Dimensi. Beberapa detik kemudian ia melangkah melewati celah yang terbuka, lalu mengeluarkan kembali jeruji tersebut tepat pada posisi semula.

Klik...

Jeruji itu kembali terpasang sempurna, seolah tidak pernah dipindahkan.

"Masih sempurna."

Arga mengangguk puas sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Beberapa menit kemudian lorong drainase berakhir pada sebuah ruang bawah tanah yang remang-remang. Dari balik celah ventilasi, untuk pertama kalinya Arga dapat melihat bagian dalam gudang utama Sektor-9.

Napasnya tertahan.

Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Rak-rak logam menjulang hampir menyentuh langit-langit, dipenuhi peti pendingin, tabung penyimpanan biologis, dan kontainer bersegel yang tersusun rapi dalam barisan panjang. Namun bukan pemandangan itu yang membuat matanya membelalak.

Di sisi timur gudang berdiri beberapa peti berwarna hitam dengan tulisan merah besar yang langsung menyita seluruh perhatiannya.

KRISTAL EKSPERIMENTAL.

Arga membaca tulisan itu dua kali untuk memastikan dirinya tidak salah melihat.

Dadanya terasa sesak.

"Mustahil..."

Selama ini ia selalu mengira manusia baru memahami fungsi kristal beberapa bulan setelah kiamat dimulai. Namun tulisan yang kini berada tepat di depan matanya membuktikan hal yang sama sekali berbeda. Organisasi Hitam bukan hanya mengetahui keberadaan kristal, tetapi mereka bahkan telah melakukan penelitian terhadap benda itu jauh sebelum dunia hancur.

Setiap jawaban yang berhasil ia temukan justru melahirkan pertanyaan baru. Apa sebenarnya tujuan organisasi tersebut? Mengapa mereka mempersiapkan semua ini bahkan sebelum wabah dimulai? Dan yang paling mengganggu pikirannya, seberapa banyak rahasia dunia yang sama sekali tidak pernah diketahui umat manusia pada kehidupan sebelumnya?

Arga bergerak perlahan menyusuri lorong servis di balik deretan rak logam. Langkahnya begitu ringan hingga nyaris tidak menghasilkan suara sedikit pun. Tujuannya sederhana, yaitu mencapai ruang penyimpanan utama sebelum pergantian sif berikutnya dimulai.

Namun tepat ketika ia hendak berbelok ke lorong berikutnya, suara elektronik yang tajam mendadak memecah keheningan.

Bip...

Bip...

Bip...

Lampu merah di sepanjang koridor menyala serempak. Cahaya peringatan berkedip tanpa henti, memantul pada dinding baja dan menciptakan suasana yang mencekam. Arga langsung membeku di tempat sambil menyapu seluruh area di sekitarnya dengan pandangan tajam.

Ia memeriksa lantai, langit-langit, dan setiap sudut lorong. Tidak ada kabel yang terinjak, tidak ada sensor laser yang tersentuh, bahkan ia belum menyentuh satu benda pun sejak memasuki gudang.

"Bagaimana..."

Di ruang kontrol lantai atas, seorang operator mendadak mengangkat kepala ketika seluruh layar pemantau berubah merah.

"Aneh."

Tangannya bergerak cepat di atas papan kendali.

"Kamera sektor bawah bersih."

Operator lain segera menghampiri sambil mengernyit.

"Lalu kenapa sensornya aktif?"

"Ada pergerakan di sektor bawah..."

Pria pertama menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya.

"...tapi kamera tidak menangkap siapa pun."

Jauh di bagian terdalam fasilitas, melewati beberapa pintu baja yang bahkan tidak tercantum pada peta mana pun, seorang pria berjubah hitam perlahan membuka kedua matanya. Di hadapannya, sebuah kristal berwarna ungu yang melayang di dalam tabung kaca tiba-tiba memancarkan denyut cahaya samar.

Hum...

Pria itu mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya seolah mampu menembus lapisan baja dan beton, melihat sesuatu yang bahkan tidak dapat ditangkap oleh mata manusia biasa.

"Ada penyusup..."

Sementara itu, di balik rak logam yang diselimuti bayangan, Arga menggenggam gagang parangnya semakin erat. Untuk pertama kalinya sejak memperoleh Ruang Dimensi, ia menyadari bahwa alarm tersebut bukan dipicu oleh langkah ataupun keberadaannya, melainkan oleh sesuatu yang mampu merespons energi kristal yang tersimpan di dalam ruang dimensi miliknya. Pada saat itulah ia memahami bahwa musuh yang sedang dihadapinya memiliki pengetahuan tentang kristal yang jauh melampaui apa pun yang pernah diketahui umat manusia pada kehidupan sebelumnya.

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!