SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: NAMA YANG TERTINGGAL DI BALIK TINTA
Pagi itu Ruyin menemukan bahwa tinta di meja tulisnya telah mengering menjadi kerak hitam di dasar batu tinta.
Ia mengetuknya dengan ujung kuas dan kerak itu tidak bergeming. Kertas persediaannya pun tinggal tiga lembar, dua di antaranya bernoda lembap. Selama delapan hari ia membiarkan meja itu begitu saja, dan baru sekarang menyadari bahwa ia hampir tidak menulis apa pun sejak pulang, kecuali surat pendek untuk tabib tua di Selatan yang masih tertahan di laci.
"Kertas di rumah ini terlalu tebal untuk surat," katanya kepada Bibi Qin, yang sedang melipat jubah luar. "Dan tinta ini sudah mati. Aku ingin membeli yang baru."
"Nona bisa menyuruh pengurus rumah."
"Aku ingin memilihnya sendiri. Tabib tua selalu bilang orang yang menulis harus menyentuh kertasnya lebih dulu."
Bibi Qin ragu sesaat, lalu mengangguk. Ia tidak bertanya apakah Nyonya Lin sudah memberi izin. Mungkin ia tahu Nyonya Lin tidak pernah melarang hal sekecil itu. Atau mungkin ia sudah belajar bahwa gadis yang dikirimnya pulang dari Selatan ini tidak meminta izin untuk hal-hal yang tidak ia rasa perlu.
———
Kereta kecil mereka melintasi Jalan Besar Zhuque menjelang tengah pagi, lalu membelok ke lorong-lorong sempit di dekat Distrik Barat, tempat para pedagang barang tulis berkumpul. Udara di sini berbeda dari pasar kain di timur. Tidak ada teriakan penjaja yang memekakkan telinga. Yang ada hanya bau getah pinus, lem kulit, dan kertas yang dijemur di tali-tali bambu sepanjang halaman belakang rumah-rumah toko, bergoyang pelan seperti bendera putih yang tidak menyerah kepada siapa pun.
Seorang bocah mengangkut seikat kuas dengan kedua tangan. Dua pelajar muda berdebat tentang harga batu tinta dari Duanzhou. Di ujung lorong, seorang perempuan menjual kue bunga osmanthus dari keranjang bambu, dan Ruyin menahan diri untuk tidak menoleh ke arahnya terlalu lama.
"Toko Mo, Nona," kata Bibi Qin sambil menunjuk papan kayu berhuruf pudar di atas sebuah pintu rendah. "Nyonya biasa memesan kertas surat dari sini."
Ruyin masuk, menunduk sedikit di bawah ambang.
———
Toko itu panjang dan sempit, dan cahaya hanya datang dari pintu depan serta satu lubang atap yang ditutup kertas minyak. Di kedua dinding, rak-rak kayu menjulang sampai ke langit-langit, penuh gulungan kertas dari berbagai tebal dan warna: putih gading, kuning teh, hijau sangat muda, abu-abu seperti kabut. Di lantai berjejer ember-ember kecil berisi kuas dalam berbagai ukuran, dan di bagian belakang, tumpukan kain pembungkus lusuh yang dilipat rapi menanti dipakai.
Bau kayu, tinta basah, dan sedikit dupa murah.
Dua pelanggan sudah berada di dalam. Seorang pelajar berbaju kelabu sedang menawar sebatang tinta, dan seorang perempuan paruh baya meneliti kertas ujian untuk anaknya. Di balik meja panjang di tengah, duduk seorang lelaki tua berambut putih yang diikat seadanya, mengenakan jubah cokelat bersih dengan lengan digulung. Ia sedang menggosok sebuah batu tinta dengan kain, matanya tidak terangkat.
"Kertas surat atau kertas lukis?" tanyanya setelah beberapa saat, masih tanpa menoleh.
"Kertas surat. Tipis, tapi tidak tembus."
"Hm." Ia meletakkan batu tinta dan baru sekarang memandang Ruyin, sebentar, seperti memandang sebuah benda yang belum ia pastikan nilainya. Kemudian pandangannya turun ke tangan Ruyin. "Sentuh yang ini."
Ia menarik sebuah gulungan kuning pucat dari rak tanpa mencari, tanda bahwa ia hafal letak setiap lembar. Ruyin menyentuhnya dengan ujung jari dan menggesernya. Serat kertas itu halus dan sedikit kasar di bawah ibu jari.
"Yang ini terlalu lembut. Tinta akan merembes."
"Benar." Tuan Mo tidak memuji, hanya mengangguk. "Coba yang ini."
Kertas kedua lebih kaku, berwarna lebih gelap. Ia menyodorkan kuas kecil dan sebuah batu tinta basah, lalu menggeser selembar sisa potongan ke depan Ruyin. "Tulis apa saja."
Ruyin menimbang kuas itu. Berat dan seimbangnya pas. Ia mencelupkan ujungnya, menekan pada tepi batu, dan menulis satu baris pendek di kertas: namanya sendiri, lalu dua karakter 'angin' dan 'embun' yang paling tidak ia pikirkan.
Tuan Mo memperhatikan goresannya, bukan wajahnya.
"Cara memegang kuasmu cukup mantap untuk seseorang yang lama tidak menyentuh tinta."
"Aku masih ingat sedikit," jawab Ruyin.
Lelaki tua itu tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menggeser potongan kertas itu kembali ke tumpukan dan berkata, "Kertas ini pas untukmu. Berapa lembar?"
"Lima puluh. Dan satu batang tinta."
———
Sementara ia menunggu kertasnya dihitung dan diikat, Ruyin berjalan pelan di antara rak. Bibi Qin berdiri di dekat pintu, memperhatikan seorang pengemis kecil di seberang jalan. Dari belakang rak, terdengar tawar-menawar si pelajar kelabu yang akhirnya menyerah dan membayar tanpa diskon.
Di bagian belakang toko, di atas meja rendah, ada tumpukan kertas pembungkus bekas yang dilipat bertingkat. Kertas tua, berwarna cokelat kekuningan, sebagian sobek di tepi. Seorang pembantu muda sedang memilahnya, membuang yang rusak dan menyimpan yang masih layak untuk membungkus barang pelanggan.
Satu lembar yang sudah diletakkan di tumpukan "buang" menarik pandangan Ruyin. Bukan karena tampilannya. Hanya karena di salah satu sudutnya, ada bekas tinta pudar, nyaris hilang, dan sebuah pola garis halus yang melengkung berulang, seperti gelombang yang ditarik dengan kuas kering.
Ia berhenti.
Ia tidak tahu mengapa. Hanya garis-garis tipis yang melengkung ke arah yang sama, begitu samar sehingga mungkin hanya noda air. Tetapi ia teringat kain biru keabuan di ruang simpan, dan jarinya bergerak sedikit seolah hendak menyusuri garis itu.
"Itu kertas bekas, Nona," kata pembantu muda itu sopan. "Sudah tidak layak."
"Boleh kulihat?"
Si pembantu menyerahkannya. Ruyin mengangkat kertas itu ke arah cahaya pintu. Di sudut kanan bawah, di antara garis-garis pudar itu, terdapat beberapa goresan tinta yang setengah terhapus, sebagian terkena air. Dua karakter. Yang pertama hanya terlihat separuh. Yang kedua mungkin 'Qiao', mungkin juga bukan.
"Kertas itu dulu bagian dari alas sebuah lukisan," ujar Tuan Mo dari mejanya. Ia sudah mengikat bungkusan kertas Ruyin dan sekarang mengencangkan tali dengan gerakan terlatih. "Aku menyimpan alas-alas lama. Kertas yang baik tidak dibuang hanya karena pemiliknya sudah tiada."
"Lukisan siapa?"
"Seorang pelukis lama. Gu Wenqiao, begitu tulisan di salah satu sudutnya waktu itu. Sudah lama sekali. Tidak banyak orang mengingat namanya sekarang." Ia mengangkat bahu. "Karyanya bagus, tetapi tidak laku. Tinta pelukis seperti itu selalu lebih tahan lama daripada ketenarannya."
Ruyin mengembalikan lembaran itu kepada pembantu muda. "Lukisan itu masih ada di sini?"
"Tidak. Beberapa tahun lalu ada seseorang dari kediaman bangsawan yang membawanya untuk diperbaiki. Aku hanya membersihkan dan mengganti alasnya." Tuan Mo mengelap tangannya. "Ia mengambilnya kembali dan tidak pernah datang lagi. Aku tidak tahu siapa dia, dan aku tidak bertanya. Orang yang membawa lukisan ke tokoku jarang ingin ditanya."
"Apakah lukisannya rusak?"
"Salah satu sisinya terpotong. Rapi, dengan pisau tajam, bukan sobek. Bukan kerusakan karena umur." Ia berhenti sebentar, seperti baru menyadari bahwa ia berbicara lebih panjang daripada biasanya. "Tapi itu urusan pemiliknya. Kertasmu sudah siap, Nona."
Ruyin mengambil bungkusan itu dan membayar. Kata 'potong', 'kediaman bangsawan', dan 'lukisan' meluncur lewat benaknya sebentar, seperti ikan yang tidak sempat ia tangkap. Ia tidak mengaitkannya dengan apa pun. Chang'an adalah kota tua, dan kota tua penuh lukisan yang terpotong.
———
Di bawah rak dekat pintu, ketika ia membungkuk memungut batang tinta yang sempat jatuh dari meja, ia melihat sebuah cap kecil dari lilin merah yang menempel di sudut sebuah gulungan kain pembungkus. Lingkaran sebesar kuku, dengan pola di tengahnya yang terlalu kecil untuk dibedakan: mungkin bunga, mungkin awan. Ia memandangnya sekejap lalu berdiri. Ia tidak tahu mengapa matanya berhenti di sana.
Ia mengira itu hanya noda.
———
Di luar, siang mulai condong. Bibi Qin membukakan pintu kereta dan membantunya naik, lalu duduk di seberang sambil memeluk bungkusan kertas di pangkuannya.
Kereta bergoyang melewati lorong-lorong sempit. Ruyin menatap kertas-kertas yang bergoyang di tali jemuran melalui celah tirai.
"Nona sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak banyak." Ia tersenyum tipis. "Hanya merasa Chang'an menyimpan terlalu banyak barang lama. Seolah tidak ada yang rela membuang apa pun."
Bibi Qin tidak menjawab. Ia memandang keluar jendela, dan Ruyin melihat jari-jarinya mengencang di atas ikatan tali bungkusan.
Ruyin menyentuh batang tinta di sakunya. Dingin dan licin, dengan sebuah ukiran bambu kecil di salah satu sisinya. Benda yang biasa, yang akan ia pakai malam ini untuk menulis surat kepada orang yang jauh.
Ia belum tahu bahwa tinta itu akan lama ia simpan, jauh setelah batangnya menyusut menjadi sebatas ruas jari.