Merasa menjadi tumbal kehidupan yang keras membuat Alina menjadi pekerja malam yang dikorbankan oleh tantenya sendiri.
Akankah hidup Alina berubah setelah bertemu dengan Tuan Muda bernama Leon Hansen Wijaya?
Kepoin kisahnya di novel ini yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28# Pesanan Mie Ayam
Maafkan author ya, tadinya mau up sebelum tidur. Tapi karena authornya capek habis bermalam jumat ria, hehe#Author senyum jahat 😆. Jadinya lupa dan baru keinget subuh-subuh gini deh 🙏
***
"Untunglah EK menelpon diwaktu yang tepat, jadi aku tidak merasa bersalah karena tidak menuruti kemauan Nona Muda." Gumam Lusy memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.
Leon menoleh sekilas pada AK setelah dia menelepon Lusy atas perintahnya.
"Ada apa?" tanya Leon penasaran.
"Nona Muda ingin makan mie aya Tuan, Nona tadi memaksa ingin keluar," ucap AK
"Mie ayam? Masih ada makanan seperti itu rupanya,"
"Iya Tuan, Nona ingin makan mie ayam yang dijual di pinggir jalan dengan gerobak berwarna biru," jelas AK membuat Leon mengernyitkan keningnya.
"Gerobak biru di pinggir jalan? Apa itu sehat? Apa seleranya murahan seperti itu?"
"Maaf Tuan saya tidak tahu, Lusy hanya mengatakannya seperti itu," Leon terdiam tidak menanggapi ucapan AK. Ketika melewati jalanan yang sering banyak menjajakan makanan, Leon melihat ada gerobak mie ayam berwarna biru.
Apa mungkin gerobak itu?
Sudah terlewat sekitar 100 meter dari tempat tadi, Leon ragu apakah harus membelinya atau tidak.
Apakah makanan itu sehat?
Penuh keraguan kakinya melangkah turun dari mobil menuju ke tempat yang menjual mie ayam yang dilewatinya tadi. Kalau harus putar arah akan memakan waktu lama apalagi jalanan sedang macet seperti sekarang ini.
Demi cinta? Ah tidak ini demi Alina? Aku harus terlihat biasa saja. AK akan muntah kalau melihatku menjadi budak cinta.
"Tuan, lebih baik Anda menunggu saja di mobil. Biar saya membelinya," pinta AK canggung dari pada harus melihat Tuannya turun tangan sendiri.
"Aku akan melakukannya sendiri, ini sebagai salah satu pengorbananku,"
"Apa Tuan? Maaf saya tidak jelas mendengarnya," AK beralasan.
"Tidak! Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku akan membelinya sendiri." Tolak Leon melangkahkan kakinya diantara kerumunan pejalan kaki, hampir tiap sore jalanan di sekitar ini sering dipadati orang-orang yang ingin memanjakan perut mereka. Di sana terdapat berbagai macam makanan, mulai dari harga recehan sampai yang mahal juga ada. Tergantung siapa yang ingin membelinya. Kebanyakan orang-orang bermobil tidak memilih-milih karena makanan di sana dijual dengan harga murah. Selain makanannya enak juga tentunya juga sehat.
"Pak, mau dibungkus atau makan di sini?" tanya penjual mie ayamnya.
"Dibungkus saja! Apa makanannya sehat?"
"Tentu saja Pak, makanan yang saya jual tentunya sehat. Anda bisa lihat tidak ada lalat satupun dan tempatnya juga bersih," jawab penjualnya kesal. Mungkin dalam pikirannya baru kali ini ada pelanggan kurang sopan sampai menanyakan kebersihan makanannya.
"Anda akan membeli untuk Nona Alina Tuan?" tanya AK yang berdiri di sampingnya.
"Alina? Tidak juga. Aku membelikan untuk semua orang yang ada di Blue House termasuk kamu EK," jawabnya asal, jangan sampai AK melihatnya ingin menuruti kemauan Alina. Walaupun di dalam hatinya, pria itu ingin sekali membuat Alina bahagia. Apapun akan Leon lakukan demi wanita yang ia cintai.
"Buat saya Tuan? Tapi saya-,"
"Sudah, jangan menolak!" Selanya saat AK ingin menolaknya. AK kurang menyukai makanan seperti itu.
"Mau buat berapa bungkus Pak?"
Leon melirik pada AK.
"Berapa orang yang ada di sana?"
"Semuanya 23 orang termasuk Nona Alina, Tuan,"
"Buatkan saja 25 bungkus," jawab Leon pada penjualnya.
"25 bungkus Pak? Baik saya akan buatkan, silahkan duduk dulu karena pasti lama menunggunya,"
Leon mengangguk, ia duduk di bangku kayu bersama AK. Sesekali AK melirik Tuan Mudanya sedang tersenyum tipis memandangi penjual mienya sedang membungkusnya dengan cekatan.
"Tolong sausnya dipisah!" ucap Leon kemudian.
"Baik Pak,"
Leon pun tersenyum kembali entah apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. Entah Alina atau mie ayam di depannya.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam akhirnya AK membawa jinjingan pesanan mie ayam ke dalam mobil. Wanginya tercium enak, bau rempah-rempahnya menusuk hidung. Pilihan Leon tepat, penjual yang ia pilih termasuk salah satu penjual mie ayam legendaris di Jakarta.
Mobil sedan mewah milik Leon memasuki halaman Blue House, di depan gerbang kiranya terdapat 7 orang pria berbadan besar sebagai bodyguard untuk berjaga-jaga dari kejaran para wartawan yang sedang berburu berita.
Leon mengatur nafas sejenak saat akan masuk.
Gila, baru kali ini aku merasakan jantungku berdebar kencang. Padahal sebelumnya aku tidak merasakan apa-apa.
Leon sesekali berdehem, mengatur pita suaranya.
"Iya Tuan?"merasa AK dipanggil dengan suara deheman Tuan Mudanya.
"Tidak! Aku tidak bertanya padamu,"
"Tuan, Anda datang?" Lusy menyambut kedatangan Leon dan juga AK. Dilihatnya AK sedang menjingjing beberapa kresek yang di duga pesanannya Alina tadi.
AK menyerahkannya pada Lusy, untuk disiapkan ke dalam mangkuk. Karena Leon ingin menikmatinya berdua bersama Alina.
Lusy bergegas pergi ke dapur, menyiapkan mangkuk sebanyak 25 buah dan menyajikan makanan yang dibawa majikannya.
"EK, semuanya dihidangkan di meja?" tanya Lusy keheranan.
"Tidak perlu! Berikan sisanya pada orang-orang di rumah ini. Pengawal dan security di depan dan juga semua yang bekerja di rumah ini," jelas AK.
"Semua orang di rumah ini? Sejak kapan Tuan Mu-,"
"Sudah segera lalukan!" potong AK menyela ucapan Lusy yang menurutnya terlalu banyak bicara.
Ada 4 buah mangkuk mie ayam tersaji di atas meja.
Leon, Alina, AK dan juga Lusy duduk bersama untuk menikmatinya bersama pula.
Leon memaksa AK dan juga Lusy agar mereka berdua menemani. Leon hanya takut ia tidak bisa berkata-kata dan malah terlihat konyol di hadapan Alina.
"Tapi Tuan, saya-,"
"Sudah makan saja EK dan kamu Lusy makan saja bersama kami!" seru Leon.
Alina sampai tidak percaya Leon sendirilah yang khusus membelikan pesanan untuknya.
"Makasih Tuan, Anda sudah membelikannya untuk saya," ucap Alina dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Aku membelikannya untuk semua orang!" jawaban Leon membuat Alina kecewa. Alina mengira kalau Leon membelikannya khusus umtuknya seorang walaupun orang lain juga kebagian jatahnya masing-masing.
Kenapa dia sedih? Apa aku salah bicara.
"Huh, ya Alina aku membelikannya khusus untukmu. Tapi karena tadi AK minta untuk dibelikan juga jadi aku membutuskan untuk membelikan semua orang yang ada di sini," ucap Leon asal sampai AK hampir dibuatnya tersedak.
"Uhuk, Uhuk,," wajah AK memerah seketika.
Lirikan Tuan Mudanya membuatnya tidak bisa berkutik sedikitpun.
"Tuan ini enak sekali, anda pintar memilihnya. Tidak salah kan dengan mie ayam gerobak biru. Walaupun dijual di pinggir jalan tapi rasanya rasa restauran," Alina begitu menikmatinya sampai ada sisa saus sedikit menempel di bawah bibirnya.
"Kamu makan belepotan Alina," Leon menyeka sisa saus di bawah bibir Alina dengan ibu jarinya sediri. Membuat Alina terpaku begitupun dengan AK dan juga Lusy tidak berkedip memandang adegan di depan mereka.
***
Tbc...