NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##17

Sinar matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai sutra di kamar utama Cotswolds Estate, membiaskan pendar keemasan di atas sprei yang kusut. Udara dingin khas pedesaan Inggris masih menusuk kulit, namun kehangatan di dalam ruangan itu mendadak terganggu oleh gerak-gerik terburu-buru dari Pangeran Alistair.

Alistair dengan Tubuh tegapnya yang terlatih secara militer bergerak cepat mengenakan kemeja putih dan celana bahan kelam. Kancing kemejanya dipasang satu per satu dengan ketangkasan luar biasa, seolah sedang bersiap menghadapi panggilan darurat di markas besar.

"Amore... Sayang, bangun, ya..." Alistair membungkuk di tepi kasur, mengusap lembut pipi Baxeena yang masih merona. Suaranya mengalun hangat, sarat akan rasa sayang yang meluap. "Kau harus mandi sekarang. Mau aku mandikan?"

Baxeena mengerjapkan matanya yang berat, memprotes perlahan sembari menarik selimut tebalnya hingga ke batas dada untuk menutupi tubuhnya. Dengan rambut acak-acakan yang berantakan di atas bantal, ia menatap suaminya dengan dahi berkerut heran. Baxeena memperhatikan bagaimana pria itu berpakaian dengan kecepatan yang sangat tidak wajar untuk ukuran seorang pangeran di pagi hari.

Mendapati tatapan penuh selidik dan kebingungan dari sang istri, Alistair menghentikan jemarinya di kancing kerah, lalu menyunggingkan senyum tipis yang menyesal.

"Kita harus segera kembali pagi ini, Xeena," ujar Alistair menjelaskan situasinya. "Aku punya rapat mendadak bersama beberapa petinggi militer dan dewan dinasti di istana. Kau mau ikut pulang bersamaku sekarang, atau kau mau beristirahat lebih lama di sini dan pulang bersama anakku nanti?"

Mendengar frasa terakhir yang diucapkan Alistair, kantuk Baxeena seketika sirnah sepenuhnya. Wanita Los Angeles itu mendudukkan tubuhnya di atas kasur, mengabaikan rasa pegal di persendiannya, lalu mengayunkan tangannya memukul bahu tegap Alistair cukup keras.

PLAK!

"Violet itu putrimu, itu artinya dia putriku juga!" semprot Baxeena galak dengan nada menegas yang tak terinterupsi. "Berhenti mengatakan 'anakku', Alistair! Karena dia adalah anak kita. Violet itu anak kita, ingat itu baik-baik!"

Alistair tertegun sejenak.

Pukulan di bahunya sama sekali tidak terasa sakit, namun ketegasan dan kepedulian yang terpancar dari mata Baxeena meremas dadanya oleh rasa haru yang amat dalam. Setelah segala penolakan dan sikap dingin Violet, Baxeena sama sekali tidak membuang atau membedakan bocah itu dari hatinya.

Senyuman manis dan tulus mengembang luas di wajah tampan sang Pangeran. Alistair menunduk, mengusap tengkuk Baxeena dan mengecup pipinya dengan sangat lembut dan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Sayang..." bisik Alistair serak, matanya berkilat hangat. "Kau sungguh mommy yang hebat."

Baxeena mengibaskan rambut panjangnya ke belakang bahu dengan gaya centil dan percaya diri yang khas, seakan membenarkan ucapan suaminya tanpa keraguan sedikit pun. "Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku?"

Tingkah centil dan menggemaskan itu membuat Alistair makin gemas. Pria tinggi itu tertawa rendah, menyusupkan jemarinya ke pipi Baxeena lalu mencubitnya pelan. "Kalau nanti kita punya anak lagi... aku sangat berharap dia perempuan yang menggemaskan juga seperti dirimu."

"Jangan konyol," potong Baxeena cepat, walau rona merah di pipinya makin memadat. Ia mendorong dada Alistair pelan. "Cepat pakai pakaianmu dengan benar, dan aku mau mandi sekarang."

Sebelum Alistair sempat berbalik, Baxeena menarik kerah kemeja pria itu sedikit, lalu mencium bibir Alistair singkat namun penuh kehangatan.

Cup.

"Pergilah," bisik Baxeena menyunggingkan senyum tipis.

Alistair terkekeh bahagia, menepuk puncak kepala istrinya sebelum berbalik dan bergegas menyelesaikan simpul dasinya.

°°

Namun, tanpa sepengetahuan pasangan suami istri tersebut, di luar ruangan, sebuah takdir baru saja bergulir secara diam-diam.

Di balik daun pintu kamar utama yang megah itu, berdiri Violet.

Gadis remaja berusia tiga belas tahun itu berdiri membeku di atas karpet tebal koridor. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan kedua tangan kecilnya meremas ujung gaun tidurnya dengan sangat erat.

Tanpa disadari oleh Alistair maupun Baxeena, pintu kamar utama itu ternyata tidak tertutup dengan sempurna.

Beberapa menit yang lalu, Alistair menerima seragam dan dokumen resminya di ruang keluarga lantai bawah dari tangan kapten pengawalnya.

Karena terburu-buru dan pikirannya terfokus untuk segera membangunkan Baxeena, sang Pangeran berlari kembali ke kamar atas dan mendorong pintu tanpa memastikan selotnya terkunci rapat.

Pintu kayu tebal itu menyisakan celah tipis sebesar dua jari—cukup besar untuk mengalirkan setiap kata, nada suara, dan kehangatan dari dalam ruangan ke koridor luar.

Violet, yang berniat turun untuk meminta sarapan pada pelayan, tadinya terhenti saat mendengar suara langkah terburu-buru ayahnya. Rasa penasaran membuatnya mendekat secara perlahan. Dan di balik celah pintu itulah, ia menyaksikan serta mendengar seluruh percakapan yang baru saja terjadi.

Setetes air mata jernih menetes basah bergulir di atas pipi halus Violet, disusul oleh lelehan berikutnya yang tak sanggup lagi ia tahan.

Dada gadis remaja itu bergetar hebat oleh gejolak emosi yang saling bertabrakan.

Selama bertahun-tahun, ibunya—Katherine—dan sang Nenek–Ibu Ratu, selalu mencekokinya dengan narasi bahwa Baxeena adalah wanita asing yang jahat.

Mereka menanamkan ketakutan di kepala Violet kecil bahwa Baxeena datang dari Amerika semata-mata untuk merampas perhatian ayahnya, menghancurkan posisinya di istana, dan menggantikan posisi ibu kandungnya.

Namun... semua yang ia dengar pagi ini berbanding terbalik secara drastis.

Tidak ada rasa benci. Tidak ada niat jahat. Tidak ada kepura-puraan.

Di dalam sana, Baxeena justru memarahi ayahnya hanya karena sang ayah menyebut Violet sebagai "anakku" dan bukannya "anak kita". Baxeena—wanita yang selama beberapa hari ini selalu Violet perlakukan dengan dingin dan tatapan memusuhi—dengan begitu mantap, tulus, dan penuh keberanian mengakui Violet sebagai putrinya sendiri di hadapan Ayahnya–Pangeran Alistair.

Mommy Baxeena tidak datang untuk merampas ayahnya. Mommy Baxeena justru hadir dengan ketulusan yang selama ini tidak pernah Violet dapatkan dari ibu kandungnya sendiri yang selalu memanfaatkan dirinya sebagai alat politik.

Violet mengusap air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Bibirnya terkembang membentuk sunggingan senyum kecil di tengah isak tangisnya yang tanpa suara. Rasa bersalah atas perlakuan buruknya selama ini melebur menjadi kehangatan luar biasa yang memenuhi dadanya.

Terima kasih, Mommy... batin Violet menggemakan rasa syukur yang amat dalam dari dasar hatinya, sebelum gadis remaja itu melangkah mundur perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, membiarkan kedua orang tuanya menyelesaikan momen pribadi mereka di dalam kamar.

1
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!