Tidak terbayang kehidupan Elina yang tadinya biasa-biasa saja berubah dalam sekejap mata. Hari dimana ia mendapatkan kabar dari sang kekasih berselingkuh dan berhubungan intim dengan kekasih gelapnya.
Detik itu juga Elina bersumpah perasaan dan juga cintanya ia akan kubur sedalam dalamnya. Baik itu mantan pacarnya atau pria lain semuanya sama brengsek dimata gadis itu.
Namun naasnya malam itu saat ia bertemu dengan pria bernama Damian Aditama Sanjaya janji itu ia ingkari sendiri. Karena insiden itu seorang anak lahir ke dunia.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Elina selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 Kepulangan Tuan Muda Kedua
Dua hari setelah Damian tinggal di kontrakan bersebelahan dengan kontrakan Elina. Sejak dua hari itu juga Elina selalu diganggu oleh pria itu. Kemanapun gadis itu pergi Damian mengikutinya sudah seperti perangko. Tapi sedikit berguna sebab Damian menjaganya dari para preman yang ingin merampoknya seperti sekarang ini Damian menghajar tiga pemuda yang berniat mencopet tas milik Elina.
Damian menarik kerah baju satu pria yang diyakini bos ke dua preman tersebut. Tangannya ia gumpal kan dan menghajar ke wajah pencopet itu, "Bruhg! Bruhg!"
preman tadi sempat melawan namun usahanya tidak pernah berhasil karena hanya Damian yang menguasai keadaan. Tidak hanya pukulan Damian juga menendang tetap ke alat vital pria bertubuh besar tersebut, alhasil pria itu menjerit kesakitan. Kedua anak buah preman yang menyaksikan sang bos dikalahkan buru-buru membantu bos mereka hanya saja dengan waktu yang singkat Damian sekali tendangan dan pukulan mereka semua tumbang dan lari terbirit-birit dari sana.
"Dasar pengecut hanya buang waktuku saja." Pria berkemeja kelabu itu menyeka debu yang menempel di kemejanya walau pakainya masih terlihat bersih dan rapi.
Setelahnya Damian memunguti tas jinjing yang tergeletak di jalan. Menghampiri Elina yang sejak tadi hanya terdiam mematung.
"Apa yang kamu lihat!?" Damian melambai-lambaikan tangannya ke wajah Elina.
Gadis itu pun terkesiap tiba-tiba terbatuk-batuk mencoba menghilangkan kekagumannya pada Damian.
"Makasih." Elina sengaja memelankan suaranya menyadari jika pipinya kepanasan saat ini ia segera menutupinya dengan tas karena ia takkan mau Damian berpikir bahwa ia mulai menyukai pria itu.
"Gawat kalau dia melihat ku seperti ini," batin Elina.
Damian tampak khawatir mengira kalau Elina sedang merasakan kesakitan. Pria itu melangkah dan hanya menyisakan satu senti saja. Pergelangan tangannya terulur melepaskan tas jinjing ditangan Elina lalu, meraup pipi Elina dan menatap gadis itu intens.
"Kamu sakit apa, Elina?" Pertanyaan yang dilontarkan Damian mengejutkan Elina sesaat pria itu hendak mengecek panas di tubuhnya dengan menggunakan kepalanya yang ditaruh ke jidat gadis itu.
Adu tatapan pun tak terelakkan. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga suara mangkuk dipukul dari si tukang bakso membuyarkan lamunan mereka.
"Bakso… bakso! Bakso mas, mbak monggo dibeli mumpung lagi anget-anget nih," tawar si penjual bakso dengan tenang tersenyum lebar, alhasil Damian mengubah ekspresinya emosi karena gara-gara bapak tua itu ia mengurungkan niatnya yang sempat ingin mengecup bibir Elina sebab gadis itu tadi bengong.
"Kami nggak lapar dan lain kali bapak jangan ganggu orang lagi berduaan!"
"Yaelah mas yang nggak baik entuh malah kalian nggak boleh berduaan karena yang satunya itu-"
"Setan, dan yang jadinya itu bapak sendiri."
"Lah kok jadi saya."
"Udah-udah berhenti, Damian hormati orang yang lebih tua dan kami minta maaf pak. Saya emang lagi nggak lapar, maaf."
Elina mengatupkan kedua tangannya ke bapak-bapak tukang bakso tersebut. Dan untungnya orang itu tidak mempermasalahkan lagi lalu, pergi dan tinggal Damian ia beri pelajaran. Memang dia bodoh mata pria itu tadi jelas-jelas menatapnya nafsu. Elina kemudian bertindak menjewer sebelah kuping Damian.
"El! Ada apa kenapa menjewer ku? Apa yang membuat mu marah begini!?"
Elina tak peduli Damian menjerit kesakitan jeweran nya malah kian diperkeras lagi.
"Kamu pikir aku tidak sadar kalau kamu tadi berpikiran kotor tentangku, iyakan mengaku lah," desak Elina geram tau isi pikiran Damian.
Pria itu justru tidak meminta maaf dan dengan pedenya membenarkan ucapan Elina.
"Bagus dong jadi nggak perlu sembunyi-sembunyi kalau kamu tahu ya kita lakuin aja sekarang," ujarnya tanpa merasa bersalah samasekali.
Justru Damian mendapat hantaman keras diperutnya, Elina si pelaku melarikan diri. Sungguh bodohnya dia masih tetap bersama lelaki itu. Lebih baik ia cepat-cepat menjauh dari predator berotak kotor. Lama kelamaan dia akan tertular juga. Ya ampun amit-amit Elina seperti Damian.
Semenit kemudian saat langkahnya kian perlahan, Elina secara tiba-tiba berpapasan dengan sebuah mobil Avanza dan si pemilik mobil tersebut membukakan pintu untuk Elina. Gadis itu pun langsung masuk setelah tahu orang didalam sana ia kenal.
Sementara itu selepas Elina meninggalkan Damian entah kemana. Pria itu langsung kembali ke mobilnya. Ditengah-tengah jalan, Damian melotot tajam ketika seseorang membantu Elina kabur. Dia tak sempat melihat wajah orang tersebut. Makanya ia belum bisa memastikan jika orang itu punya maksud baik atau punya niat buruk.
BMW pria itu melesat begitu cepat mengejar Avanza yang cukup jauh dari jangkauannya. Damian naik pitam setelahnya menginjak pedal gas hingga diatas rata-rata. Mungkinkah orang itu sedang menguji kehebatannya kalau begitu Damian akan menunjukkan siapa penguasa jalannya. Benar saja seketika BMW miliknya memutar kearah berlawanan sesudahnya tepat dihadapan mobil Avanza hitam, tersebut. Si pengendara itu tak mampu berkutik setelah petugas kepolisian juga ada disana.
"Maaf anda saya tilang karena sudah melanggar aturan dan mobil anda ngebut-ngebutan dijalan, sekarang bapak harus ikut saya ke kantor polisi," ujar pak polisi tersebut seraya mengetuk kaca mobil.
"Masa cuma saya pak kan orang itu juga sama, mobilnya malah berhenti dadakan didepan mobil saya!" protes Vanno setelah turun dari kendaraannya disusul Elina yang turun di sebelahnya.
"Kamu jangan banyak alesan jelas banget kalau kamu itu yang ngebut tadi," tuduh pak polisi yang sudah bisa ditebak telah diberi bayaran tutup mulut oleh Damian agar hanya Vanno saja yang ditilang. Cerdik kan pria itu.
"Nggak adil kalo bapak cuma tilang saya!?" protesnya lagi berbalik menatap pria tinggi yang sedang terkekeh kecil. "Ini karna mu kan bilang saja berapa uang kamu beri kepada polisi ini untuk menilang ku!"
"Cik. Kesalahan itu harus dipertanggung jawabkan itulah lelaki sejati!" Damian tersenyum miring meremehkan Vanno.
"Pak, yang teman saya katakan betul saya bisa jadi saksi kalau yang bersalah itu adalah dia!" seru Elina yang tak lain mengarah pada Damian.
Pak polisi itu tampak bingung dia beralih menanyakan pada Damian.
"Tuan, gadis itu mau jadi saksi saya harus gimana?" bisik pak polisi diam-diam.
"Pak saya serahkan pelanggar itu dan soal pernyataan istri saya tidak perlu dianggap serius. Saya akan bawa dia pulang," kata Damian seraya meraih pergelangan tangan Elina. "Ikutlah kamu mau di penjara bersama mantan bos mu ini."
Vanno sigap mencengkram tangan Damian yang ingin membawa Elina ke mobil. Tatapan tak bersahabat itu terpancar jelas. Dia berujar.
"Elina belum bilang ingin ikut denganmu!"
Lalu, Vanno teralih pada Elina dan menggenggam sebelah tangan Elina dia menunggu jawaban gadis itu.
"Aku tidak-"
Damian malah memotong ucapan Elina dan berkata tegas.
"Aku adalah suaminya dan kamu bukan siapa-siapanya sudah jelas kan kalau dia akan ikut denganku," jelasnya sembari melepaskan genggaman tangan Vanno. "Kamu lupa dengan ancaman ku yang dulu hampir membangkrutkan perusahaan mu, itu hanya teguran saja buatmu, kalau sekali lagi aku melihatmu mendekati milikku jangan kaget dengan apa yang selanjutnya akan terjadi padamu."
Damian menegaskan keseriusannya kalau suatu saat Vanno melanggar perjanjian maka bukan hanya perusahaannya yang akan hancur, tetapi hidup pria itu akan menderita.
***
Lain halnya di Australia tepatnya di bandara Sydney Airport. Disana tampak wanita berumur dan seorang pemuda tampan duduk di kursi tunggu bandara.
"Auntie, why don't you go tomorrow?" keluh Bian Aditama Sanjaya anak bungsu Rosalina.
"It sucks," suntuk Bian dengan penampilan ala-ala anak rock serba hitam serta rambut yang diwarnai blonde walaupun gayanya ugal-ugalan tetapi, pemuda berusia genap 24 tahun itu hampir setara ketampanannya dengan sang kakak yakni Damian.
.
Dia baru saja menyelesaikan kelulusannya di universitas Sydney yang terkenal di kota Sydney Australia merupakan universitas tertua dan menempati urutan terbaik di negara yang dijuluki sebagai negara kanguru tersebut. Satu fakta yang mengejutkan lagi ternyata Bian juga merupakan lulusan terbaik disana. Hanya saja anak kedua dari Rosalina itu tidak mencerminkan seperti seorang pria terhormat. Pria itu memiliki watak yang beda jauh dengan sang kakak. Ingat sangat-sangat jauh berbeda.
"Aunty udah kirim pesan ke mama kamu tunggu sampai dia datang baru deh kalian berangkat bersama," jelas Sintia adik perempuan dari ibunya.
Bian hanya membalas dengan mendengus kesal. Kalau tahu begini lebih baik tiduran dulu sebelum ibunya datang.
BERSAMBUNG…
ninggalin jejak dulu ❤️