Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3. antara Harapan dan pengorbanan
Riana akhirnya bangkit dari tempat tidur Noa dengan tubuh yang masih gemetaran. Wajahnya pucat, namun ada sedikit ketenangan setelah mengungkapkan semuanya. Noa mengantar Riana keluar kamar, lalu turun bersamanya menuju pintu depan, Noa memapahnya dengan hati-hati.
Udara desa yang dingin menyentuh kulit mereka saat pintu terbuka, Mobil mewah Riana masih terparkir di halaman, kontras dengan rumah Noa yang sederhana. Riana menoleh sebelum ia masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak sendu saat melihat Noa yang masih berdiri mematung melihatnya.
Sebelum sopir sempat membuka pintu, Riana memeluk Noa lagi. Lebih erat dari pelukan pertama. “Noa.” ujar Riana lirih, “aku mohon, pertimbangkan permintaan terakhirku ini. Hidupmu, dan hidup keluargamu akan terjamin bersamanya. Kau tidak perlu lagi takut apa pun.”
Noa terdiam. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Matanya hanya menatap lurus ke bahu Riana, namun pikirannya kosong dan berisik pada waktu yang sama.
Riana melepaskan pelukannya perlahan, menatap Noa seolah itu untuk terakhir kalinya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup. Mobil pun melaju pergi, meninggalkan aroma kabut pagi dan sebuah permintaan yang terlalu besar untuk diterima oleh siapa pun.
...♡...
Begitu mobil itu menghilang di tikungan, Noa berbalik berjalan masuk ke rumah. Tetapi sebelum ia sempat melangkah jauh, kedua orang tuanya keluar dan langsung menariknya masuk ke ruang tamu.
“Noa! Cepat duduk!” suara ibunya penuh semangat yang tidak pantas untuk situasi seperti ini.
Ayahnya menatapnya dengan mata membesar, bukan karena khawatir, tetapi karena antusiasme. “Noa, apa yang dia katakan padamu? Kenapa dia menangis begitu? Katakan. ” tanya ayahnya.
Noa duduk perlahan, ia nampak kebingungan harus darimana ia menceritakannya. sebuah kalimat keluar dari bibirnya dengan lemah. “Riana, dia sakit. Kanker otak sudah hampir tiga tahun.”
Ibunya menutup mulutnya, bukan terkejut karena kasihan, tapi karena melihat ada peluang kesempatan. Ayahnya hanya mengangguk cepat, seolah penyakit itu adalah informasi pendukung, bukan tragedi.
“Apa lagi?” desak ibunya.
Noa menelan salivanya, lalu berkata lirih, “Dia ingin aku menikah dengan suaminya.” Hening sejenak, lalu bersamaan, ekspresi kedua orang tuanya berubah drastis.
Mereka saling menatap, mata mereka berbinar-binar bukan sedih, bukan empati, tapi seperti menemukan harta karun yang terpendam. Ibu Noa menggenggam tangan anaknya kuat-kuat.
“Noa! Ini kesempatan emas bagi kita! Hidup kita bisa berubah! Kau akan tinggal di Paris, hidup kaya, dan kita juga akan terbantu, sayang. kita akan jadi orang kaya juga.” Ayahnya mencondongkan tubuh. “Tentu saja kau harus menerimanya! Ini adalah cara Tuhan membuka jalan untuk kita!”
“Noa, kau harus setuju,” sambung ibunya tanpa memberi napas. “Riana itu sudah memilihmu, suaminya pasti pria baik dan kaya. Ini adalah keberuntungan terbesar keluarga kita!” Noa hanya duduk diam. Tatapannya kosong, napasnya tidak teratur.
Mereka berbicara seakan keputusan itu begitu mudah. Seakan hidupnya hanya alat tawar-menawar. Seakan ia hanya benda yang bisa diberikan demi materi. Ia merasa ingin menangis, tetapi air matanya tidak keluar. Dalam kepalanya, wajah Nolan muncul sekilas, mata biru hangatnya, senyum kecilnya, suara lembutnya saat berkata “Besok pagi kiita duduk di sini bersama.”
Dan kemudian wajah Riana yang Pucat, rapuh, memohon dengan mata penuh harapan kembali terbesit di ingatannya.
Hatinya terasa seperti ditarik ke dua arah yang berbeda, yang sama-sama menyakitkan. “Noa?” suara ibunya mengeras. “Kau dengar ibu? Kau akan menerimanya, kan?”
Noa menutup mata kebingungan. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Noa beranjak dari sofa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak memandang kedua orang tuanya, bahkan tidak menghiraukan suara mereka yang masih memanggil namanya dengan nada memaksa.
Langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga menuju kamarnya. Setiap langkahnya seperti menginjak sesuatu yang runtuh di dalam dirinya. Begitu pintu kamar tertutup, Noa bersandar pada dinding dan akhirnya membiarkan dirinya jatuh perlahan ke lantai. Dadanya begitu sesak. Matanya mulai memanas, namun air matanya masih ragu untuk keluar. Ia menarik napas panjang, tapi malah tersedak oleh emosinya sendiri. Di sisi lain, bayangan Nolan muncul kembali begitu jelas.
Senyumnya, Tatapannya. Cara lelaki itu memperhatikannya tanpa banyak bicara. Cara ia membuat hati Noa terasa tenang tanpa usaha apa pun. Noa memeluk lututnya dengan kebingungan antara rasa cinta yang baru tumbuh dan pengorbanan.
"Aku mulai mencintainya, tapi kenapa hal lain muncul agar aku merelakan cinta yang baru tumbuh ini." lirihnya.
Ia tidak pernah mengakuinya. Tidak pernah berani mengaku. Tapi saat ini, rasa itu semakin nyata, semakin menyakitkan, karena ia tahu ia berada dalam posisi yang mustahil. Lalu muncul bayangan lain—Riana, ia memintanya bukan untuk dirinya sendiri tapi demi suami yang sangat ia cintai. Permintaan terakhir seorang wanita yang sedang menunggu ajalnya.
“Bagaimana bisa aku menolaknya. Tapi bagaimana bisa aku menerimanya juga?” Noa memejamkan matanya erat-erat. Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri, seolah ingin menghentikan keributan di dalam pikirannya. Ia bahkan, tidak pernah bertemu dengan Landerik Van Bodden. Nama itu saja terasa asing bagi Noa.
Sebesar apa pun kekayaannya, sebesar apa pun kekuasaannya, Noa tidak punya bayangan wajahnya sama sekali, Sikapnya, bahkan suaranya. Apakah ia orang yang baik? Atau hanya suami yang pasrah pada keinginan Istrinya?
Yang Noa tahu, keluarganya bahkan tidak datang ke pernikahan Riana dulu. Alasannya sederhana mereka tidak mampu pergi jauh, dan tidak punya hubungan dekat dengan keluarga suami Riana. Dan sekarang Riana meminta Noa untuk menggantikan posisinya sebagai istri. Hanya karena Noa adalah “perempuan baik.” Sementara Noa sendiri, ia merasa tidak sehebat itu. Tidak sepantas itu juga.
“Noa,” gumamnya pada diri sendiri sambil menahan isak, “apa yang harus aku lakukan?”
Hening. Kamar kecil itu terasa semakin sempit.
Dunianya seakan berputar pelan, meremas dadanya sampai sulit bernapas. Di sudut kamar, teleponnya tergeletak di atas meja. Ada pesan dari Nolan dari beberapa jam lalu. hanya Pesan sederhana.
“Besok pagi, aku tunggu di kedai jam tujuh. Aku ingin bicara sesuatu.”
Noa menatap pesan itu lama.
Pikirannya semakinn kacau. Di satu sisi harapan dan di sisi lain pengorbanan. Ia merasa seperti seseorang yang dihadapkan dengan pilihan antara kebahagiaan dan takdir pahit yang bahkan bukan miliknya.
To Be Countinue...