Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 ~ Dia Masih Mencintaiku
Meskipun orang yang menarik tangannya menggunakan topi dan masker, Kiran bisa mengenali orang itu. Indra. Segera dia hempaskan tangan Indra dan berbalik.
“Kiran, kamu kembali ke sana mereka akan melihatmu.”
“Lalu kenapa? Justru aku tidak ingin terlihat berdua dengan Kak Indra, membuat orang salah sangka. Ah, jangan-jangan Kak Indra cemburu karena Vira bersama Emran?”
Indra berdecak mendengar tuduhan Kiran. Kenyataan Vira memutuskan dirinya dan memilih pria yang lebih muda, cukup menyakitkan. Namun, Indra sadar kalau Vira bukan perempuan baik yang pantas dijadikan pendamping hidup.
“Aku tidak peduli dia jalan bersama siapa.”
“Lalu kenapa bersembunyi bahkan menyembunyikan identitas Kak Indra.”
Indra bergeming, Kiran mendengus kesal lalu berbalik dan pergi.
“Kiran, tunggu. Aku ingin bicara,” ujar Indra sudah bersisian dengan Kiran.
Alih-alih menjawab, Kiran mengacuhkan indra. Terasa ponselnya bergetar, sudah pasti supirnya mencari-cari dan yang lebih parah suaminya sudah tahu kalau dia terpisah dari orang kepercayaannya.
“Kiran, dengar ...."
“Nona Kiran, anda baik-baik saja? Ah, Anda lagi. Sepertinya tidak kapok juga ya.”
“Pak, saya mau pulang,” ujar Kiran tidak ingin ada keributan.
“Sebaiknya menjauh dari majikan saya, kecuali anda cari mati.”
“Kiran, jawab telponku,” titah Indra menjauh dari Kiran.
Benar saja, Brama sudah mendapat laporan insiden di mall. Tentu saja pria itu khawatir, karena Indra masih berusaha menemui Kiran. Mungkin harus diberi peringatan yang lebih ekstrim dari sebelumnya, agar kapok.
Sedangkan Kiran masih tidak percaya kalau Vira dekat dengan adiknya. Menghubungkan hal itu dengan nasihat ayahnya pada Emran, mungkin saja ayah mereka sudah mengetahui kedekatan Emran dengan asisten Narita.
“Ck, Emran kenapa cari masalah. Dia tidak berkaca dari masalahku. Apalagi Vira, dia itu mantannya Indra atau sebenarnya mereka masih berhubungan dan ini rencana Indra dan Vira untuk … tidak bisa dibiarkan. Aku harus yakinkan Emran kalau Vira bukan perempuan yang baik.”
***
“Hubungan ini tidak akan mudah. Ayah sudah warning aku agar fokus belajar bisnis,” ujar Emran. Pasangan itu masih berada di mobil yang berhenti tidak jauh dari butik milik Narita.
“Lalu, kita harus berakhir?” tanya Vira dengan wajah sendu. Padahal itu semua hanya akting.
“Tidak sayang, tidak begitu. Bagaimana mungkin kita berakhir, sedangkan hubungan ini baru kita mulai. Kamu tidak tahu bagaimana bahagianya aku ketika membuka mata dan membayangkan ada kamu di sisiku. Pesan cinta menjelang tidur bahkan menyemangatiku bekerja, aku sangat menikmati itu semua.”
“Tapi Ayahmu … belum lagi Ibu Narita. Kita tidak akan mendapat restu, baiknya kita akhiri saja. Semakin dalam perasaan akan semakin sulit melupakan,” ungkap Vira dengan suara bergetar bahkan kedua matanya berkaca-kaca.
“Tidak, kamu dengarkan aku!” Emran menangkup wajah Vira dengan kedua tangannya, menatap tajam untuk meyakinkan wanita yang sudah membuatnya tergila-gila. “Kita akan berusaha dan jalani semua ini.”
“Tapi Emran, aku tidak ingin nanti berakhir kecewa.”
“Tidak akan, aku janji akan tetap berusaha. Selama kamu tidak kecewakan aku,” seru Emran. “Pergilah, jangan sampai keduluan Bunda. Nanti kamu dalam masalah.”
“Aku pergi, kamu semangat,” ujar Vira.
“Hm.” Emran mengusap kepala Vira sebelum wanita itu membuka pintu lalu keluar dari mobil dan berlalu.
Mobil Emran pun perlahan berlalu, Vira sempat tersenyum dan melambaikan tangan ketika Emran melewatinya.
“Dasar bocah, dikasih kepuasan aja udah klepek-klepek. Aku harus segera hamil anak Emran, tidak mungkin Yudis dan Narita membuang cucu mereka. Mau tidak mau, aku pasti diterima di keluarga Dhananjaya.”
***
“Dimana dia?”
“Sebelah sana Tuan.”
Brama menghela nafas sebelum melangkah menuju tempat yang ditunjuk orang kepercayaannya. Bertempat di gedung kosong yang pembangunannya belum selesai, sudah ada Indra di sana. dengan tubuh terikat di kursi dan dikelilingi beberapa orang.
“Lepas penutupnya!”
Seseorang melepaskan penutup wajah dan kain lakban yang menutup mulutnya.
“Aaa,” teriak Indra saat lakban ditarik paksa. “Cuih, sudah kuduga ini ulahmu.” Brama yang yang sudah melepas jas serta dasi dan ditinggalkan di mobil, menggulung lengan kemejanya.
“Aku akan melaporkan kejadian ini, kalian terutama kamu akan berakhir di penjara,” teriak Indra mengancam Brama.
Brama tidak gentar malah tersenyum sinis lalu duduk di kursi tepat di depan Indra.
“Kamu pikir aku takut?”
“Seharusnya kamu yang takut. Bukti kejahatanmu masih aku simpan rapi atau ingin berpindah di meja kepolisian?”
Bugh.
Brama menendang pelan kursi yang Indra duduki, membuat tubuh itu ikut berguncang.
“Aku sudah bilang menjauh dari keluarga Dhananjaya, termasuk Kiran. Rupanya kamu tidak jera, sudah kami buat babak belur atau perlu aku patahkan saja kakimu ini, hah!” Brama kembali menendang, tapi kali ini kaki Indra menjadi sasarannya.
“Menjadi menantu Yudis, membuatmu semakin sombong.”
“Aku bukan sombong, tapi berusaha melindungi milikku dan kamu mengganggu milikku,” ungkap Brama lalu berdiri.
“Hajar dia!”
Indra menjerit menerima pukulan, bahkan kedua tangannya masih terikat. Wajahnya sudah kembali babak belur, tulang iganya mungkin retak karena tendangan. Brama mendekat dan mencengkram rahang pria yang merengek kesakitan.
“Kiran adalah istriku, dia milikku. Jangan berani mendekat apalagi mengganggunya. Jika bertemu dengannya, anggaplah kalian tidak salah kenal dan lupakan urusan kalian di masa lalu.”
“Tapi Kiran mencintaiku bahkan aku sudah ... kau tahu sendiri. Bukankah kau sudah melihat video kami.” Ucapan Indra memprovokasi Brama dan langsung emosi.
Membayangkan Indra yang menyentuh tubuh Kiran yang tidak sadarkan diri membuat Brama berang. Padahal saat kejadian itu, belum ada hubungan apapun antara dirinya dan Kiran.
Bugh.
“Aaa.” Indra kembali mengeraang karena mendapatkan pukulan telak di perutnya. Tali yang mengikat tangannya telah dilepas, Brama meraih tubuh Indra dan dihempaskan.
“Jangan memancing emosiku. Aku sendiri yang membuktikan Kiran masih suci. Sekali lagi kamu ungkit masalah skandal foto-foto itu, aku pastikan jenazahmu tidak akan bisa dikenali.”
“Tuan, jangan kotori tangan anda. Sebaiknya anda pergi, biar dia kamu yang urus.”
“Lepaskan dia, kita lihat apa yang bisa dia lakukan setelah ini. Ancamanku tidak main-main, Indra.”
Brama sudah melangkah menjauh, tapi terhenti karena teriakan Indra.
“Kiran masih mencintaiku.”
Kedua tangan Brama mengepal mendengar ocehan Indra.
“Dia masih mencintaiku. Tanyakan saja padanya. Kalian menikah karena terpaksa, hatinya masih untukku.”
dari awal bab, dah trasa beda aja👍