Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Awal Takdir
Matahari pagi terbit di atas pemukiman Suku Serigala. Asap kayu bakar membumbung tipis dari perapian utama di tengah lapangan. Warga mulai berkumpul memadati area tersebut untuk melihat gadis asing yang dibawa Aron tadi malam.
Ayla berdiri di samping meja kayu besar tempat warga biasa mengolah hasil buruan. Pakaian merahnya yang ganjil sudah berganti dengan mantel kulit serigala tipis pemberian Bibi Nora.
Di atas meja, menumpuk beberapa lembar kulit rusa yang masih basah dan mengeluarkan bau anyir.
"Paman dan Bibi sekalian," panggil Ayla dengan suara nyaring namun lembut. Matanya menyapu wajah-warga suku yang menatapnya penasaran. "Kulit binatang ini tidak akan cepat membusuk atau berbau menyengat kalau ditaburi garam kasar dan abu kayu bakar sebelum dijemur."
Ayla merogoh wadah abu di dekat perapian, lalu meratakannya di atas permukaan kulit rusa basah. Tangannya bergerak lincah dan luwes.
"Setelah diregangkan seperti ini, air di dalam kulit akan terserap cepat. Kulitnya jadi lebih lentur dan tahan lama untuk dipakai saat puncak musim dingin nanti," lanjut Ayla.
Beberapa pemburu senior mendekat. Paman Bimo menunduk, memegang permukaan kulit rusa yang sudah diolah Ayla.
"Usul yang bagus," puji Paman Bimo, matanya berbinar. "Selama ini kita cuma mengeringkannya di atas batu, makanya kulitnya sering kaku dan gampang robek."
"Bukan cuma itu, Paman," sela Ayla cepat. Ia menunjuk ke arah tumpukan kayu bakar di sudut lapangan. "Kalau menyusun kayu di dalam gua, sisakan ruang kosong di bagian tengahnya. Asapnya tidak akan mengumpul di dalam ruangan dan membuat mata pedih."
Kasak-kusuk gembira mendadak memenuhi lapangan. Nenek Greta menepuk-nepuk pundak Ayla penuh rasa kagum, sementara Bibi Nora tersenyum lebar.
"Anak pintar," puji Nenek Greta. "Pengetahuanmu sangat berguna untuk persiapan musim dingin kami."
Ayla tersenyum tulus, lalu melangkah dua langkah ke tengah lapangan. Wajahnya berganti menjadi serius dan penuh rasa hormat. Ia menatap Aron dan Tetua Gordon yang berdiri berdampingan.
"Dewa Binatang mengirimku untuk menolong kalian," ucap Ayla lantang.
Suara keriuhan warga mendadak terhenti. Seluruh mata tertuju pada Ayla.
Ayla melanjutkan ucapannya tanpa ragu. "Aku tidak tahu bagaimana bisa terlempar ke Hutan Hitam. Tapi di dalam ketakutanku, ada bisikan hangat yang menuntun langkahku sampai menemukan kelompok pencari Paman Aron. Dewa melihat kesulitan suku kalian, dan Dia mengutusku untuk membagikan pengetahuan ini agar kita semua selamat."
Mendengar kata 'Dewa Binatang', beberapa warga tua langsung menundukkan kepala. Bagi Suku Serigala, klaim semacam itu bukanlah hal sepele.
Aron melangkah maju, menghampiri Ayla lalu menepuk bahunya pelan. "Jika Dewa Binatang memang menuntun langkahmu ke tanah kami, Suku Serigala tidak punya alasan untuk menolak keberadaanmu."
Aron berbalik menghadap warganya. "Mulai hari ini, Ayla diterima tinggal sebagai bagian dari Suku Serigala!"
Sorak-sorai gembira langsung meledak di lapangan. Warga menyambut keputusannya dengan gembira.
.
Yana memperhatikan keriuhan itu dari jarak sepuluh langkah, bersandar pada batang pohon cemara. Wajahnya datar, tidak tersenyum maupun cemberut.
Yana mengingat pesan Dewa Binatang yang hadir dalam mimpinya: Jangan mengubah terlalu banyak.
Ia tahu pengetahuan yang dibagikan Ayla memang berguna untuk warga. Selama hal itu tidak membahayakan keselamatan suku atau ayahnya, Yana memilih untuk tetap diam dan tidak membuat keributan yang tidak perlu.
Namun, di tengah sorak-sorai warga, Tetua Gordon tidak ikut bertepuk tangan.
Mata kelabu sang tetua yang tajam bergerak perlahan dari Ayla menuju ke sudut lapangan. Ia memperhatikan Yana yang berdiri menyendiri.
Tetua Gordon mengamati raut wajah Yana. Sejak Ayla pertama kali menginjakkan kaki di desa hingga saat gadis itu mengaku diutus oleh Dewa Binatang, Yana tidak menunjukkan reaksi terkejut atau heran sama sekali. Sikapnya terlalu tenang untuk seorang gadis remaja.
Lalu, Sang tetua teringat kejadian-kejadian sebelumnya.
Yana secara ajaib menemukan lokasi tanaman obat langka di Lembah Bintang. Yana juga yang mendorong aliansi senjata besi dengan Suku Elang. Dan kini, Yana menyikapi kedatangan orang asing ini seolah-olah ia sudah tahu segalanya dari awal.
Tetua Gordon mengelus janggut putihnya, batinnya mulai bertanya-tanya.
Anak itu... dia menyimpan sesuatu yang sangat besar dari kita semua, batin Tetua Gordon penuh kecurigaan.
.
Malam harinya, warga suku menggelar perapian besar untuk menyambut Ayla. Gelak tawa dan aroma daging panggang memenuhi udara malam.
Yana melangkah menjauh dari keramaian, berjalan menuju tebing batu di belakang desa. Angin dingin menusuk kulitnya, tetapi mantel serigala hitam yang dikenakannya cukup menjaga kehangatan tubuhnya.
Salju tipis mulai turun membasahi bebatuan. Yana mendongak, memandang langit malam yang gelap tanpa bintang.
Kedatangan Ayla, penerimaan warga, dan pujian yang diterima gadis itu—semua berjalan persis seperti cerita di kehidupan pertamanya.
Namun, Yana menarik napas dalam-dalam, meresapi udara dingin yang memenuhi dadanya.
Ia tidak merasa panik. Pengetahuan masa depan yang dimilikinya bukan dipakai untuk menanam dendam, melainkan untuk bersiap. Suku Serigala kini sudah memegang senjata besi dari Suku Elang, persediaan obat melimpah, dan ayahnya berdiri sehat di sisinya.
Yana memegang gagang belati besi di pinggangnya.
"Perjalanan yang sebenarnya baru dimulai," gumam Yana pelan pada dirinya sendiri.
Yana menatap bayangan perapian desa yang memantul di atas permukaan es, siap menghadapi apapun yang akan terjadi di depan.