Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Handphone Baru
Selepas menyantap makan siang di restoran favorit baru Adam, sekarang giliran Erica yang menagih janji untuk dibelikan handphone baru.
"Mau handphone kayak gimana, Ri?" tanya Adam yang tengah disibukkan menyetir. Berbeda dengan tadi pagi, kali ini leher Adam lebih fleksibel hingga beberapa kali menoleh ke arah Erica yang duduk disebelahnya. Sesekali Erica memeletkan lidah ke arah Adam. Sebal dengan sikapnya tadi pagi yang begitu kasar.
"Yang kameranya bagus aja."
"Spesifikasi lainnya?"
"Ram sama memorinya besar."
"Terus?"
"Kekinian."
"Hah?"
"Yang kekinian lho, Mas. Yang keluaran terbaru, kameranya bagus sama memorinya besar. Biar cakep kalo di foto."
Adam berdecak sembari menggeleng pelan. Memang ya, perempuan itu lebih memilih penampilan luarnya saja.
"Handphone itu juga kan kameranya bagus, Ri. Memorinya juga besar." Adam mengedikkan dagunya ke arah benda pipih di atas paha Erica.
"Iya sih.." Erica mengamati handphone keluaran beberapa tahun yang lalu itu. "Tapi ini ketinggalan zaman banget, Mas."
"Tidak akan ada habisnya Ri kalau mengikuti trend."
Erica menghela napas seraya tertunduk diam. "Setidaknya handphone yang setara dengan Mas yang lempar itu." Bibir Erica mengerucut.
***
Sebuah handphone berlogo apel tergigit dengan tiga lensa di sudut kiri bagian belakangnya berhasil Erica bawa pulang. Tak henti-hentinya Erica mengulum senyum. Senang mendapat handphone yang benar-benar keluaran terbaru.
"Senang?" tanya Adam.
Erica merapatkan tubuhnya ke lengan Adam, lalu bergelayut manja di lengannya. "Banget!"
Tangan Adam terangkat, mengelus pipi Erica yang semakin menyembul jika tersenyum.
"Terimakasih banyak, Mas."
"Sama-sama, sayang."
"Mas ada kelas lagi sehabis ini?"
Adam memasang safety belt miliknya, lalu dengan berbaik hati memasangkan punya Erica juga.
"Mas pasti ada maunya kalau tiba-tiba romantis kayak gini," ucap Erica, membuat Adam tertawa kecil.
"Benar kan?" tanya Erica dengan mata memicing penuh selidik.
"Curigaan terus nih Ibu Erica Renjanadi." Adam mengacak puncak kepala Erica, hingga membuat istrinya itu cemberut mendapati rambutnya dibuat berantakan.
Dengan menggunakan jari tangan, Erica menyisir kembali rambutnya. Lalu tangan Erica merogoh handphone baru, sementara sebelah tangan yang lain menarik leher Adam agar lebih dekat dengannya.
Erica memasang senyum lebar menghadap lensa kamera. Dan sebuah bidikan mengabadikan mereka berdua.
"Ih, bagus Mas!" ujar Erica seraya menunjukkan foto hasil bidikannya. Sebuah foto yang menampilkan Erica dengan senyum lebar yang nampak manis sementara Adam dengan wajah belum siap.
"Iyalah bagus, orang harganya juga mahal sayang."
"Bukan kameranya, tapi foto kita berdua ini."
Adam memeletkan lidah melihat foto yang Erica tunjukkan. "Mas nya jelek, belum siap itu."
"Mana ah, orang bagus."
"Kamu sih bagus, tapi Mas nya jelek."
Seolah tak mendengarkan komentar Adam, Erica asik sendiri mengedit foto tersebut. Tak henti-hentinya bibirnya menyunggingkan senyum. Pasalnya baru kali ini ia dapat berselfie dengan Adam. Dulu ia terlalu takut orang akan tahu rahasianya, jadi semuanya sangat kaku dan terbatas. Seolah hidup dalam dua dunia.
"Mas, punya Instagram?" tanya Erica tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.
"Punya."
"Kita belum follow-followan."
"Nggak usah lah, sayang. Mas jarang pake juga."
"Takut foto lamanya terbongkar ya?" Mata Erica menyipit menatap wajah Adam dari samping. Seolah sedang menyelidiki sesuatu.
"Foto lama apa sayaaang."
"Foto sama keluarga Mas yang dulu."
Adam terkekeh pelan. Lalu, ia merogoh saku celananya. "Kamu follow sendiri ya," ucap Adam seraya menyodorkan handphonenya kepada Erica.
Erica mengulum senyum sembari menerima uluran tangan Adam. Senang rasanya diberi kepercayaan oleh pasangan untuk mengecek sosial media miliknya. Seketika senyum Erica luntur ketika mendapati handphone Adam terkunci dan meminta kata sandi untuk dapat mengaksesnya.
"Password, Mas?"
"Hari jadian kita."
"Hah?" tanya Erica dengan bibir yang berkedut menahan tawa.
"Tanggal jadian kita, sayang." Adam mengulang kembali ucapannya.
"Memangnya kita pernah jadian?"
Adam menoleh ke arah Erica dengan wajah datar, membuat Erica tak kuasa menahan tawa.
"Aku serius nanya, Mas. Memangnya kita pernah jadian ya?" tanya Erica di sela-sela tawanya yang begitu membahana.
"Nyesel susah-susah buat ingat tanggal jadian kita, tahunya kamu nggak ingat. Jangankan ingat tanggalnya, ingat jadiannya pun nggak," gerutu Adam.
Tawa Erica semakin pecah. Bisa-bisanya ia tidak mengingat tanggal jadian yang menurut perempuan sangat penting.
"Memangnya kita jadian tanggal berapa, Mas?"
Adam mendelik kesal sebelum menyahut dengan ketus, "Satu bulan sebelum tunangan."
Erica nampak berpikir sejenak, mengingat tanggal lamarannya.
"Jangan bilang kamu lupa tanggal lamaran kita," ujar Adam tiba-tiba. "Awas aja kalau sampai nanya 'memang kita pernah tunangan?'," imbuh Adam dengan menirukan gaya bicara Erica.
Erica menampilkan deretan giginya yang rapi, dengan cepat ia mengetikan tanggal yang kata Adam mereka jadian setelah berhasil menghitungnya. Sejujurnya ia bukan tipe perempuan yang suka mengingat tanggal-tanggal penting seperti tanggal jadian. Ingat ya syukur, nggak ingat ya jangan jangan dibikin insecure.
Setelah berhasil mengakses ponsel Adam, Erica segera membuka aplikasi Instagram. Seketika ia dibuat tercengang ketika melihat jumlah followers Adam yang fantastis.
"Dua puluh lima ribu!"
Mata Erica membulat sempurna, sementara bibirnya terbuka lebar.
"Followers Mas dua puluh lima ribu!" Erica kembali mengulangi ucapannya. Terlihat jelas ekspresi terkejut di wajah Erica.
"Kok bisa?"
"Bisa apa?"
"Kok bisa followers Mas sampai dua puluh lima ribu dengan postingan cuma lima biji? Dan empat diantaranya bukan foto Mas."
"Masa? Padahal kemarin-kemarin baru dua puluh ribu," sahut Adam acuh tak acuh, seolah tidak ada yang istimewa mendengar followersnya begitu banyak.
"Mas bisa buka jasa endors nih, lumayan buat nambah penghasilan," celetuk Erica.
Jempol Erica terus menggulir following akun Instagram Adam. Lalu, ia beralih mengecek followers Adam. Seketika bibirnya mengerucut sempurna.
"Perempuan semua," ucap Erica, sedikit kecewa.
"Kalau perempuan semua harus endors apa ya?" gumam Erica yang langsung disahuti oleh Adam.
"Perempuan itu mikirnya duit, duit dan duit."
Seketika Erica tertawa mendengar jawaban suaminya. "Realistis Mas, semua butuh duit."
Adam hanya mengangguk pelan, kembali fokus menyetir.
"Mas, follow aku ya?"
"Iya, terserah kamu aja."
Erica tersenyum kecil. Ia menjadi orang yang beruntung karena di follow oleh Adam dan menjadi satu dari seratus following Adam. Dengan cepat ia mengetikan username Instagramnya, lalu menekan tombol follow. Tak berhenti disana, ia kembali bertanya.
"Kalau post foto boleh?"
"Foto apa?"
"Foto kita, yang barusan."
Adam nampak berpikir sejenak sebelum mengangguk mengiyakan.
Mendapat persetujuan dari Adam, Erica segera mengirim file foto mereka ke ponsel Adam yang sudah terlebih dahulu ia posting di akun Instagram miliknya.
Erica nampak berpikir beberapa saat sebelum mengetik beberapa kalimat lalu menekan tombol post.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂