Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam pertama?
Pesta pernikahan yang penuh tawa dan drama kocak itu akhirnya selesai menjelang tengah malam. Setelah seluruh tamu pulang—termasuk Leo yang terpaksa dipapah sopir karena kelelahan menangis—mansion megah keluarga Alister kembali diselimuti keheningan. Namun, keheningan di dalam kamar utama malam ini terasa jauh lebih berbeda. Ada ketegangan tak kasat mata yang membuat atmosfer ruangan terasa begitu pekat.
Nadia berdiri kaku di depan cermin besar, berusaha menjangkau ritsleting di bagian belakang gaun pengantinnya yang pas di tubuh. Karena potongan gaun yang rumit, jemarinya sama sekali tidak bisa menjangkau resleting itu. Ia mulai bergerak gelisah, memutar tubuhnya kesana kemari.
Melihat kepanikan kecil istrinya melalui pantulan cermin, Devan yang baru saja melepas jas tuksedonya langsung bangkit dari tepi ranjang. Melangkah dengan pelan sembari menarik dasinya yang terasa mencekik leher, langkah kakinya yang tegap terdengar mendekat, membuat jantung Nadia seketika berdegup dua kali lebih cepat.
"Sini, biar saya bantu" ucap Devan dengan suara bariton rendah tepat di belakang tengkuk Nadia.
Nadia menahan napas. la bisa merasakan kehangatan tubuh Devan yang begitu dekat di belakangnya. Perlahan, jemari kokoh Devan menyentuh ujung besi ritsleting. Kulit tangan Devan yang hangat tanpa sengaja menggeser helai rambut Nadia, menyentuh kulit lehernya yang sensitif.
Sentuhan halus itu memberikan sensasi seperti sengatan listrik ringan yang membuat Nadia merinding hebat, sementara Devan sempat menghentikan gerakannya selama tiga detik karena terpaku melihat punggung mulus Nadia yang seputih porselen.
Sreeek...
Ritsleting terbuka dengan perlahan, Devan berdehem canggung lalu langsung mundur dua langkah demi menjaga jarak. "Sudah selesai" kata Devan, lalu memalingkan muka ke arah lain.
"Terima kasih" bisik Nadia dengan wajah yang sudah memerah sempurna sampai ke telinga. la buru-buru memeluk bagian depan gaunnya agar tidak merosot, lalu bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian tidur.
Saat keduanya sudah mengenakan pakaian tidur yang longgar, kecanggungan babak baru pun dimulai. Di depan mereka terhampar sebuah ranjang besar yang sangat luas. Nadia mendudukkan dirinya di ujung ranjang dengan wajah tegang, kepalanya mendadak berputar karena dipenuhi bayangan skenario 'malam pertama' yang biasa ia baca di novel-novel.
Nadia menggigit bibirnya gugup. "U-um... a-aku tidur di mana, Devan?"
Devan yang sedang menghidupkan lampu tidur terdiam sejenak, melirik Nadia sekilas. "Kamu tidur di ranjang."
"Lalu kamu?" tanya Nadia ragu.
"Saya juga di ranjang, ranjang ini cukup luas untuk kita berdua tanpa harus berdempetan" jawab Devan, meskipun sebenarnya suaranya terdengar tidak se-relaks biasanya.
Nadia mengangguk mengerti. "O-oh iya"
Pipi Nadia kembali bersemu merah, ia merutuki dirinya sendiri di dalam hati karena sudah berpikiran yang aneh-aneh. "Mikir apa sih kamu, Nad? Devan saja belum tentu tertarik menyentuhmu!"
Dengan gerakan pelan Nadia akhirnya merebahkan tubuhnya ke sisi kiri ranjang, sementara Devan mengambil posisi di sisi kanan. Di antara mereka, terdapat jarak sekitar setengah meter yang terasa seperti jurang tak kasat mata. Kamar sengaja dibuat temaram, hanya menyisakan lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan yang romantis.
Nadia berbaring memunggungi Devan, tangannya meremas ujung selimut dengan erat. la bisa mendengar suara napas berat Devan di belakangnya. Di sisi lain, Devan justru tengah menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar. Wangi aroma terapi berpadu dengan keharuman sampo mawar dari rambut Nadia terus-menerus mengusik indra penciumannya, membuat sang CEO yang biasanya berotak dingin itu mendadak kehilangan fokus.
Setengah jam berlalu, Devan mendengar helaan napas halus Nadia yang menandakan wanita itu sudah tertidur lelap. Perlahan, Devan membalikkan tubuhnya menghadap Nadia. la menatap wajah tidur Nadia yang tampak begitu damai dalam remangan cahaya. Tanpa sadar, sudut bibir Devan terangkat tipis. la mengulurkan tangannya, dengan sangat pelan dan hati-hati menarik ujung selimut Nadia hingga sebatas dada agar wanita itu tidak kedinginan.
"Selamat malam, Nadia" bisik Devan super lirih, lalu ia ikut terjun ke alam mimpi.
....
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar mewah tersebut. Nadia perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Namun, hal pertama yang ia rasakan justru sebuah kehangatan yang luar biasa nyaman mendekap tubuhnya.
Bukan hanya hangat, tapi ada sesuatu yang terasa berat dan kokoh melingkar erat di pinggangnya.
Nadia menunduk kecil, dan seketika matanya langsung melotot sempurna. Sebuah lengan kekar yang dipenuhi urat-urat jantan milik Devan sedang memeluk pinggangnya dengan sangat posesif dari belakang. Tidak hanya itu, wajah Devan bahkan terkubur nyaman di ceruk leher belakang Nadia, menyalurkan napas hangatnya yang teratur langsung ke kulit Nadia.
Rupanya, Devan yang terbiasa tidur memeluk guling besar sejak kecil, tanpa sadar telah berbalik arah di tengah malam dan menarik tubuh Nadia ke dalam dekapannya, mengira sang istri adalah guling kesayangannya.
Nadia membeku, tidak berani bergerak seinci pun. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam dada sampai ia takut Devan bisa mendengarnya.
Tiba-tiba, Devan menggeliat kecil. Alih-alih melepaskan pelukannya, pria itu justru semakin mempererat rengkuhannya dan memajukan wajahnya, mengendus pelan wangi mawar di leher Nadia sambil bergumam tidak jelas khas orang yang setengah sadar. "Gulingnya... kok wangi..." gumam Devan serak.
Nadia menahan tawa sekaligus salah tingkah karena mendengar suara seksi pria di belakangnya ini. "Devan..." Nadia berbisik dengan suara bergetar.
Mendengar suara lembut yang sangat dekat, kesadaran Devan langsung terkumpul dalam sekejap. la membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah helai rambut hitam Nadia dan jarak wajah mereka yang hanya terhalang beberapa sentimeter.
Devan mengerjab pelan, bukannya menjauh Devan malah semakin merapatkan tubuhnya ke Nadia sembari mendusel di potongan leher Nadia yang wangi.
Nadia yang merasa geli dengan tingkah Devan mencoba mendorong kepala pria itu untuk menjauh.
"Sudah pagi, Devan. Bangun" kata Nadia.
"Emhh... Bentar. Lima menit lagi" racau Devan sambil tetap menutup mata, malah semakin mengeratkan pelukannya.
Nadia menggeleng kecil melihat tingkah manja Devan yang sangat langka. Namun, karena naluri rutinitas paginya sudah melekat bagai daging, Nadia tidak bisa berlama-lama malas di kasur. la mengumpulkan tenaga, lalu menoyor kepala Devan hingga tubuh pria itu sedikit kejengkang ke belakang.
"Bangun! Ini udah pagi!" kesal Nadia saat sudah berhasil duduk dengan benar.
Devan yang merasa 'guling' hangatnya hilang akhirnya terpaksa membuka mata. la mengucek matanya pelan. "Hoam... selamat pagi, Nadia" sapa Devan dengan suara serak yang terdengar begitu jantan.
Nadia menggigit bibir, mendadak salah tingkah melihat ketampanan Devan yang naik berkali-kali lipat saat bangun tidur. Pipinya otomatis bersemu merah saat matanya tak sengaja melihat perut keras milik Devan di balik kaos yang tersingkap hingga ke atas dada.
Nadia langsung memukul kepalanya sendiri pelan. "Sadar, Nad! Mikir apa sih kamu?!" rutuknya dalam hati.
Devan mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Nadia. "Kamu kenapa?"
"Ga-gak ada. Gak mikir apa-apa kok!" sahut Nadia gelagapan. la dengan gesit mencoba turun dari tempat tidur untuk kabur, namun sialnya, kakinya justru tersangkut lilitan selimut tebal.
"Aduh!" pekik Nadia saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Melihat Nadia yang limbung dan hampir terjatuh ke lantai, kantuk Devan seketika lenyap tanpa sisa. Insting protektifnya sebagai seorang pria—dan calon ayah—langsung mengambil alih tubuhnya dalam hitungan detik.
Grep!
Sebelum tubuh Nadia sempat menghantam lantai kamar yang keras, lengan kekar Devan sudah lebih dulu melingkar di pinggang Nadia. Dengan satu tarikan kuat, Devan menarik tubuh wanita itu kembali ke atas ranjang. Namun karena momentum yang terlalu besar, tubuh Devan ikut tertarik hingga mereka berdua berguling di atas kasur yang empuk.
Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap merasakan sakit. Namun, yang ia rasakan justru embusan napas memburu dan dada bidang yang naik-turun dengan cepat. Begitu membuka mata, Nadia menyadari posisi mereka yang teramat sangat intim. la berada di bawah kungkungan Devan, dengan kedua tangan pria itu mengunci di sisi kiri dan kanan kepalanya.
Wajah mereka begitu dekat, bahkan ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Bau maskulin tubuh Devan yang bercampur aroma sabun maskulin langsung menyeruak memenuhi indra penciuman Nadia, membuat kepalanya semakin pening karena salah tingkah luar biasa.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit? Perut kamu bagaimana?" tanya Devan bertubi-tubi dengan nada panik, matanya menyapu seluruh tubuh Nadia dengan tatapan khawatir yang mendalam.
Nadia menelan ludahnya susah payah, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan intens Devan. "A-aku nggak papa. Cuma kaget sedikit, kandungan aku juga aman, kok."
Mendengar jawaban itu, Devan mengembuskan napas lega. Perlahan, kesadarannya kembali penuh dan ia baru menyadari posisi mereka saat ini. Tatapan mata Devan turun ke bibir Nadia yang sedikit terbuka, lalu beralih ke rona merah yang menjalar di seluruh wajah istrinya.
Keheningan mendadak terasa begitu pekat dan menegangkan.
Devan berdehem pelan, lalu segera bangkit berdiri dan merapikan kaosnya yang sempat tersingkap. la mengalihkan pandangannya ke arah selimut yang masih melilit kaki Nadia.
Devan menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena canggung dengan momen tadi. "Oh.. Bagus kalo kamu baik baik saja" Kata Devan.
Nadia masih tidur terlentang di atas kasur, tubuhnya serasa tidak ada jiwa karena insiden tadi membuat dia malu setengah mati di hadapan Devan.
"Em.. Ngomong ngomong, wajah kamu kenapa kok merah?"
Entah setan mana yang merasuki Nadia, dengan sentakan kuat dia langsung bangun dari tidur, lalu melepas lilitan selimut yang ada di kakinya hingga terlempar ke sembarangan arah.
Tanpa menjawab pertanyaan Devan, dia langsung berlari secepat kilat ke arah pintu sembari menutup setengah wajahnya yang memerah dengan telapak tangan.
BLAM!!
Devan terdiam seketika melihat Nadia kabur begitu saja tanpa menjawab pertanyaan nya. Dia menatap bergantian pintu dan kasur yang berantakan sembari berpikir apa yang salah dengan Nadia.
"Apa aku ada salah ngomong?" pikir Devan bingung.
Lalu dia mengedikan bahu acuh dan masuk kamar mandii untuk membersihkan tubuh.
★★★
Pak Devan ini kok gak peka banget yah jadi laki, bini nya lagi malu itu🤭