Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh
"Apa mas tidak sayang mengeluarkan uang sebanyak itu? " tanya bu Soraya meyakinkan sang suami, saat mereka berada di dalam kamar pribadi mereka.
"Tidak sayang, seharusnya dari dulu mas melakukannya, maafkan mas sudah membuat kalian menderita." ucap pak Galih dengan wajah sendu, terlihat banyak penyesalan di wajah laki laki 40 tahunan itu.
"Bagaiman kalau ibu dan adik mu tau, apa mas tidak takut? " tanya bu Soraya lagi.
Pak Galih menggeleng cepat. "Tidak, selama ini ibu sudah menikmati kerja keras mas, yang seharusnya kamu dan anak anak kita yang menikmatinya, biar lah ibu jadi urusan mas, kalau mereka berani usik kamu dan anak anak, bilang kepada mas." ucap pak Galih sungguh sungguh.
Bu Soraya mengangguk saja, toh klau mertuanya mencak mencak kepadanya, bu Soraya tidak peduli, karena bukan dirinya yang menyuruh suaminya memberikan motor untuk Ares, semua inisiatif sang suami.
"Ya sudah, ayo tidur. Besok kerjaan ku masih banyak." ajak bu Soraya.
"Tidak tidur sayang, sudah seminggu loh mas puasa, sekarang kamu sudah bersihkan, jadi mas mau minta jatah." ucap pak Galih membopong tubuh sang istri, sampai bu Soraya terpekik pelan karena ulah suaminya itu.
Pagi pun tiba, semua orang berseri seri, Ares, Laras dan Gibran tentu saja hari ini sangat bahagia, karena bisa berangkat sekolah menaiki motor baru mereka, pak Galih pun sangat sangat bahagia, yang tidak bisa di bohongi dari wajahnya, dari pagi selalu mengulas senyum manis di bibirnya, hanya bu Soraya yang kelihatan kesal, karena ulang sang suami mengerjainya hampir dini hari, semua badannya terasa kaku dan nyeri.
"Wahhh... Anak papa kelihatannya sangat bersemangat hari ini." seru pak Galih melihat ke tiga anaknya masuk ke ruang makan, sementara dirinya sudah dari pagi duduk di sana, menemani sang istri yang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Iya dong, kita kan mau naik motor barunya abang ke sekolah." seru Gibran dengan girangnya.
"Baiklah, klau gitu kalian sarapan lah." ucap pak Galih dengan nada lembut.
"Mama mana pa? " heran Gibran tidak melihat sang ibu.
"Ada, lagi di kamar, lagi ganti pakaian." sebenarnya bukan hanya ganti pakaian, tapi juga menutupi lukisan dari sang suami di lehernya.
"Dasar tua tua keladi." kesal bu Soraya menutup tanda cinta sang suami memakai foundation dengan bibir tetap komat kamit mengatai suaminya itu.
"Jangan marah marah sayang, nanti makin cantik loh." goda pak Galih ikut masuk ke dalam kamar, setelah anak anak mereka berangkat sekolah.
"Lihat deh kerjaan mas, bikin kesal aja." cemberut bu Soraya, pak Galih terkekeh melihat banyak jejak cinta di leher sang istri.
"Bagus itu sayang, biar semua orang tau, klau kamu milik ku." kekeh pak Galih tidak tau malu, dia justru bangga dengan karya
Bu Soraya hanya bisa mendengus kesal.
"Sudah, sana berangkat kerja." usir bu Soraya, pak Galih seolah malas menjauh darinya, berbaikan kali ini sungguh membuat cinta pak Galih kepada sang istri seperti saat awal dia jatuh cinta pada istrinya itu.
"Rasanya mas malas sekali berangkat kerja, sayang." keluh pak Galih dengan batu yang jatuh.
"Jangan macam macam mas, kau masih punya janji sama Gibran." omel Sang istri memperingati suaminya itu.
"Hmmm... Baiklah, klau gitu mas berangkat kerja dulu." lemah pak Galih tak bersemangat.
"Apa....! jadi Galih membelikan anak sialan itu motor! " pekik bu Hindun tidak terima, bagaimana bisa anaknya itu membelikan Area motor, tanpa persetujuannya.
"Iya, bu. Aku tadi melihatnya sendiri saat mengantar anak anak sekolah, Ares mengantarkan adik adiknya dengan motor keluaran terbaru." Adu Tia kepada sang ibu.
"Kurang ajar! awas saja anak itu nanti." maki bu Hindun tidak terima.
"Dek." seru Rian memanggil sang istri.
"Iya, bang." sahut Tia lansung menghampiri sang suami dengan senyum mengembang di bibirnya.
Tiba tiba senyum Tia lansung hilang berganti dengan dahinya yang berkerut, saat melihat wajah tegas sang suami yang jarang sekali dia lihat.
"Ada apa bang? kenapa wajah abang begitu? " heran Tia.
"Sudah berapa kali abang bilang, jangan suka mengadu apa pun tentang bang Galih kepada ibu, apa lagi masalah istri dan anak anaknya, kenapa sih susah sekali ngasih tau kamu." kesal Rian.
"Apaan sih bang, memang ada yang salah." kesal Tia tidak terima.
"Salah, apa yang kamu lakukan itu salah." sela Rian dengan tegas.
"Bang, Sebelum bang Galih membelikan motor kepada anaknya, harusnya dia izin dulu sama ibu, bukan lansung beli saja, apa lagi motor yang di belikan bang Galih bukan motor murah." ucap Tia tidak terima.
"Tidak ada aturannya, bang Galih harus minta izin dulu sama ibu, apa pun yang bang Galih berikan kepada anak istrinya adalah kewajiban Bang Galih, dia membelinya memakai hasil kerja kerasnya sendiri, bukan uang dari ibu, jadi ibu tidak berhak untuk mengatur atur uang bang Galih." tegas pak Rian.
"Ck, kenapa sekarang abang membela si Soraya dan anak anaknya, apa abang juga sudah kena pelet darinya." tuduh Tia tidak berperasaan.
Rian hanya menghela nafas berat, sungguh frustasi dia mendidik istrinya yang sudah termakan dengan ucapan ibunya sangat susah di rubah.
"Baiklah, klau gitu, mulai bulan depan gaji abang biar mama yang ngatur." ucap Rian santai lalu pergi tanpa menoleh walau suara istrinya semakin kencang memanggil namanya.
"Awas saja klau kamu berani bang, aku nggak akan tinggal diam." kesal Tia menghentak hentakan kakinya dengan kasar.
Pak Galih menghela nafas lemah setelah membaca pesan dari sang ibu.
"Kenapa? " tanya pak Sandi menepuk pundak temannya itu.
"Sepertinya ibu ku sudah tau tentang motor Ares." ucap Pak Galih lemah.
Pak Sandi ikut menghela nafas, dia kasihan melihat temannya itu, selalu di kendalikan oleh orang tuanya.
"Apa.yang akan kamu lakukan? " tanya pak Sandi.
"Melakukan yang semestinya lah, sudah cukup selama ini aku menelantarkan anak istriku, membuat mereka jauh dari ku, dan sekarang kami baru kembali dekat dan sedang hangat hangatnya, aku nggak ingin mereka kembali jauh dari ku." ujar pak Galih mantap.
Pak Sandi mengangguk dan berdo'a dalam hati, agar Galih tidak berubah fikiran, dan kembali menyakiti hati anak istrinya.
Bersambung.....
tenang jangan kawatir duwitmu di minta, bu soraya lebih dari mampu untuk mengobati pak galih😏
sana beli sendiri🤣