NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tunduknya Keangkuhan dan Pengakuan Mutlak Keluarga Besar

Kabar tentang runtuhnya Kekaisaran Bisnis Keluarga Wang di pulau lelang internasional menyebar seperti api yang ditiup angin kencang. Belum genap dua puluh empat jam sejak kepulangan Chen dan Liu ke kota, atmosfer di kediaman utama Keluarga Liu telah berubah total—seratus delapan puluh derajat dari pertemuan menegangkan satu minggu yang lalu.

Hari itu, aula pertemuan yang sama kembali dipenuhi oleh para paman, bibi, dan sepupu Liu. Namun, kali ini tidak ada lagi wajah masam, tidak ada lagi tatapan sinis, dan tidak ada lagi sapaan meremehkan. Ruangan itu diselimuti keheningan yang sarat akan rasa sungkan dan kecemasan. Mereka semua berdiri dengan posisi membungkuk hormat saat Chen melangkah masuk, berjalan berdampingan dengan Liu.

Paman Kedua Liu, pria tambun yang tempo hari paling keras menghina Chen, kini maju beberapa langkah dengan tubuh yang agak bergetar. Wajahnya yang biasa angkuh sekarang dipenuhi senyuman canggung yang dipaksakan untuk mencari muka.

"Tuan... Tuan Chen, selamat atas kemenangan Anda di pulau lelang. Sungguh keahlian yang sangat luar biasa," ucap Paman Kedua dengan suara yang dikecilkan, sangat kontras dengan bentakannya minggu lalu.

Chen hanya mengangguk datar dengan ekspresi tenang tanpa riak, lalu mendudukkan dirinya di kursi utama. Sumpah dan taruhan yang ia ucapkan tempo hari tentang menyerahkan tiga puluh persen saham tambang emas jika gagal, kini otomatis gugur dengan cara yang paling elegan.

Pembalasan Lewat Penjelasan Teknis

Melihat keluarganya yang kini tampak seperti anak ayam kehilangan induk di hadapan sahabatnya, Liu tersenyum bangga. Ia melangkah ke depan aula, lalu menggebrak meja—bukan karena marah, melainkan karena rasa puas yang membuncah.

"Minggu lalu, kalian semua menuduh Chen sebagai mata-mata! Kalian mencaci makinya karena mengizinkanku menjual lahan tambang lama kepada Long Wang seharga seratus lima puluh juta yuan!" seru Liu dengan lantang, matanya menatap tajam satu per satu anggota keluarganya.

"Sekarang, buka mata dan telinga kalian lebar-lebar. Biar kujelaskan bagaimana strategi genius Chen telah menyelamatkan sekaligus menggandakan kekayaan keluarga kita!"

Liu kemudian menjabarkan segalanya dengan runtut dan penuh penekanan.

"Pertama, Chen sengaja menyuruhku melepaskan lahan tambang lama karena dia tahu cadangan giok di sana tertanam terlalu dalam dan membutuhkan biaya operasional sebesar seratus lima puluh juta yuan lagi, sesuatu yang membuat kas tunai Keluarga Wang sekarat seketika!" jelas Liu bangga.

"Lalu, uang seratus lima puluh juta yuan hasil penjualan itu, kami gunakan untuk membeli lahan 'sampah' milik keluarga Tang di tepi sungai dengan harga setengahnya saja karena kebaikan Chen yang menyembuhkan istri Tuan Tang!"

Mendengar fakta tentang isi lahan tepi sungai itu, para tetua keluarga mulai menahan napas mereka.

"Dan puncaknya adalah semalam di pulau lelang!" lanjut Liu, suaranya semakin menggelegar. "Keluarga Wang yang sudah kehabisan modal nekat mempertaruhkan sisa seluruh aset dan sertifikat tanah tambang lama kita di sesi kedua. Chen, dengan kemampuan matanya yang tiada tanding, sudah tahu bahwa batu raksasa di panggung itu adalah zonk total! Dia membiarkan Long Wang masuk perangkap hingga bajingan tua itu bangkrut seketika. Dan tebak apa yang terjadi sekarang?"

Liu mengeluarkan selembar dokumen resmi berseragam hukum dari tasnya dan membantingnya ke atas meja. "Tanah tambang lama kita telah kembali ke tangan kita secara mutlak sebagai jaminan sita utang, tanpa kita perlu mengeluarkan uang sepeser pun! Ditambah, kita sekarang memiliki tambang giok kaisar dan emas alluvial terbesar di tepi sungai!"

Pengakuan yang Tak Terbantahkan

Deg!

Aroma kemenangan yang begitu mutlak itu menyumbat tenggorokan seisi ruangan. Penjelasan Liu yang begitu detail dan penuh perhitungan gila membuat para tetua dan sepupu Liu terbelalak syok. Mereka menatap kertas sita aset tersebut, lalu perlahan mengalihkan pandangan mereka kepada Chen yang masih duduk tenang sembari meminum tehnya secara perlahan.

Rasa anggap remeh yang selama ini mereka pelihara langsung runtuh dan hancur tak berbekas. Di mata mereka sekarang, Chen bukan lagi seorang kuli beruntung atau pemuda miskin biasa. Chen adalah seorang monster strategi, seorang ahli giok tingkat dewa yang perhitungannya mampu menghancurkan satu keluarga besar hanya dalam waktu beberapa minggu tanpa perlu mengotori tangannya dengan darah.

Paman Kedua Liu langsung menjatuhkan lututnya sedikit, membungkuk sedalam-dalamnya di hadapan Chen.

"Tuan Chen... mata tua kami seminggu lalu benar-benar telah buta karena keserakan. Kami dengan tulus meminta maaf atas segala hinaan konyol kami. Mulai hari ini, seluruh Keluarga Besar Liu mengakui kehebatan Anda dan dengan penuh hormat menunjuk Anda sebagai Penasihat Agung tertinggi keluarga kami!"

"Benar, Tuan Chen! Mohon maafkan kelancangan kami Minggu lalu!" sahut anggota keluarga yang lain secara serentak, ikut membungkuk tunduk memberikan penghormatan tertinggi mereka.

Chen meletakkan cangkir tehnya, menatap kerumunan orang yang kini patuh di bawah kakinya. "Bangunlah. Selama kalian tidak mengganggu pergerakanku dan Liu di masa depan, aku tidak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini."

Melihat ketegasan dan kemurahan hati Chen, rasa kagum di hati keluarga besar Liu semakin membumbung tinggi. Kehormatan Chen di kota itu kini telah terkunci secara mutlak. Tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik namanya.

1
Markario Putra
ok siap bang
👍😁
indrawanto djiwanto
konflik kurang banyak min. kalopun lanjut, ceritanya terus jangan berubah jadi kultivator plus nanti lawan alien atau mkahluk dunia ata dst.
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!