"Selamanya masa lalu adalah pemenang, siapapun pengisi hati hari ini, akan kalah dengan masa lalu yang datang kembali."
Untuk Sheila, itu tidak berlaku, karna masa lalu yang dicintai suaminya setengah mati itu sudah tiada hampir sepuluh tahun yang lalu karna jatuh ke jurang.
Karna itu, suaminya hanya bisa mencintai dirinya yang masih hidup di dunia ini.
Lantas, bagaimana jika masa lalu yang dikatakan telah meninggal dunia, datang kembali seperti keajaiban dengan anak perempuan berusia sepuluh tahun?
Lantas, apakah benar masa lalu akan tetap menjadi pemenang setelah kembali?
Apakah Sheila hanya menjadi istri pengganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itu mantan suami kamu ya?
"Wah, pantas saja kemarin-kemarin kamu ngga nangis waktu tanda tangani surat resmi itu, ternyata udah sedia pengganti ya, cepat juga." Ujar pria itu yang saat ini berdiri kokoh di depan pintu dengan wajah yang datar tanpa senyum.
Astaga, yang Arthur takutkan benar-benar terjadi. Haren benar-benar datang untuk menjemputnya, padahal dalam hati Arthur sudah berharap bahwa Haren tidak akan menjemputnya Minggu ini.
Dari ekspresi terkejut Shei, tampaknya ia baru sadar sudah melupakan hal penting di Sabtu sore yang cerah ini. Tapi bedanya, hari ini Haren hanya datang sendiri, tidak dengan Kayna ataupun Ayren. Baguslah, itu meminimalisir keributan yang akan terjadi.
"Oh iyaa, kamu mau jemput Arthur ya? Tolong jangan buat keributan, kamu bisa nunggu 10 menit, aku bakal siapin baju-baju Arthur." Shei bersiap ke kamar sang anak untuk menyiapkan barang bawaannya.
"Ngga perlu, baju dia bisa aku beli sendiri. Ayo Nak, liat kelakuan mama mu, baru ketemu pria baru udah lupa sama kamu, me--"
"Jaga mulut lu ya!" Avi meninggikan suaranya, geram sekali melihat pria itu bertingkah sok hebat di depannya. "Sadar diri, bukannya lu duluan bawa perempuan lain, gegara dia kan rumah tangga Ka--"
"Cukup Vi!" Shei memotong ucapan Avi, dia tidak mau Arthur mendengar kalimat-kalimat dari para orang dewasa yang harusnya sudah bisa membedakan yang baik dan buruk.
"Ayo Pa, kita pergi." Arthur sudah datang kembali dengan membawa tas nya, walau tidak bisa membawa bajunya, setidaknya Arthur tetap ingin membawa ponsel, foto, dan sebuah buku kecil, dia butuh ponsel untuk menelpon Shei. Entah bagaimana dia menjalani harinya jika tidak ada ponsel untuk bertelepon dengan Shei.
"Mama, Arthur pergi dulu yaa, Tante api jangan marah-marah, Tante keliatan galak, Oma, Opa, Arthur pergi yaa. Om, makasih ya." Arthur berpamitan dengan satu persatu orang dewasa itu, ia menyalami dan mencium tangan masing-masing mereka, bahkan termasuk juga Khal yang hanya duduk diam disana.
Tampaknya Haren merasa tidak nyaman melihat Arthur berpamitan dengan Khal, terlihat dari raut wajahnya yang kesal, dan sorot matanya yang tajam, tapi dia tetap diam karna itu inisiatif Khal sendiri.
Sementara untuk Shei, Arthur sudah memeluk dan mencium kedua pipi sang mama, menghangatkan diri karna dia tau malam ini dia akan tidur sendiri berselimutkan kesepian, jadi dia ingin mengambil kehangatan Shei sekarang.
"Ayo kita pergi sekarang Nak." Haren langsung menggandeng tangan Arthur cepat, sedangkan sang anak hanya bisa melambaikan tangannya berpura-pura baik-baik saja, padahal dia sudah takut dan tidak ingin pergi.
Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah keputusan Arthur, dia tidak ingin memperpanjang keributan jika menolak keinginan Haren, dia tau Shei sudah lelah.
Haren dan Arthur sudah keluar dari pintu dengan cepat, sementara Shei terus mengikuti langkah mereka, Shei terus melihatnya sampai keduanya benar-benar masuk mobil dan menghilang.
"Mantan suami kamu Shei?" Tanya Khal yang sudah berdiri di sebelah Shei, mereka bersama-sama melihat mobil yang Haren kendarai keluar dari pagar.
"Iyaaa, aku tau kayaknya aku salah pilih suami, tapi gimanapun juga dia tetep ayah dari anak aku, makanya kamu tolong jangan ledekin aku." Jawab Shei cepat.
"Siapa juga yang mau ledekin, aku juga salah pilih istri kok, jadi kita sama." Khal terkekeh pelan.
Shei melirik ke arah Khal, dia menatap kedua mata sahabatnya itu, membuat Khal yang terkekeh mendadak diam, tapi masih dengan bibir yang tersenyum tipis.
Shei tau, sepertinya Khal yang sekarang sudah berdamai dengan masa lalunya, Khal sudah menceritakan bahwa istrinya selingkuh pasca sudah melahirkan Daniel, membuat Khal langsung menceraikannya.
"Apa suatu hari nanti aku bisa kayak kamu ya?" Celetuk Shei begitu saja, kalimat itu terceplos dari mulutnya. Padahal Shei tidak berniat mengatakan hal itu, walau dia memang memikirkan itu ketika melihat wajah Khal yang tampak biasa saja.
"Kayak aku gimana? Jadi pengusaha sukses? Kayaknya enggak deh, bukan bidang kamu soalnya." Jawab Khal jujur dari sudut pandangnya.
"Bukan! bukan yang itu! Tapi yang barusan! Apa aku bisa bereaksi biasa aja waktu bahas masa lalu kayak gitu, walau ketawa kadang aku ngerasa sedih karna rumah tangga aku gagal." Shei menunduk sambil menatap kosong gerbang di depan sana.
"Gampang itu, nanti aku yang bantuin kamu buat biasa aja kalau mau inget kegagalan kamu di rumah tangga pertama mu ini."
"Iya, gimana caranya?"
"Sederhana. Cukup kamu nikah sama aku, kita bangun rumah tangga yang baru, berdua, sama anak-anak kita, dan anak kita yang bakal lahir, jadiin rumah tangga kedua ini rumah tangga sampai Jannah, lupain kegagalan kita di rumah tangga sebelumnya." Jawab Khal dengan bangganya, ia tersenyum manis dan hangat, lembut dan mempesona, matanya tidak bergetar, seolah sangat percaya diri dengan perkataannya.
"Jawaban kamu enggak lucu ih, pernikahan dan perasaan ga boleh dibercandain tau." Shei menyenggol perut Khal dengan sikunya. Untuk Shei jawaban Khal barusan terdengar seperti candaan saja untuknya. Rasanya tidak mungkin kalau Khal mengatakan itu serius, soalnya sejak dulu Khal memang suka bercanda soal menikah bersama saat sudah dewasa, tapi kan itu hanya sekedar candaan di masa lalu? Mereka masih kecil saat itu.
Khal hanya diam, tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, ia hanya tersenyum, lalu mengusap kepala Shei pelan, dan kembali ke belakang untuk bermain catur dengan Pak Gal.
Shei juga berjalan kembali, menganggap perkataan Khal hanya hiburan semata untuk keduanya.
......................
Arthur sendiri mengalami hari yang sama seperti Minggu lalu. Dia ada di mobil bersama dengan Kayna dan Ayren, mereka sejak awal ada di mobil, tapi tidak ikut masuk ke dalam rumah.
Arthur lagi-lagi hanya duduk diam dan menyimak pembicaraan keluarga Cemara ini, tidak sekalipun mereka menanyakan pendapat Arthur. Haren hanya fokus pada keinginan Ayren, tanpa memperhatikan isi hati Arthur sedikit pun.
Entah ke mall, bioskop, wahana, restoran, semua tempat yang mereka tuju adalah pilihan Ayren, tidak satupun pilihan Arthur.
Dan lagi!
Malam ini, setelah mandi, Arthur lagi-lagi hanya tidur sendirian di kamar Ayren, sementara mereka bertiga tidur di kamar yang sama dengan suara tawa yang keras, sepertinya mereka sedang bermain game.
Suara tawa yang keras itu membuat Arthur tidak bisa bertelepon dengan sang mama, karna Arthur takut mamanya tau Arthur dikucilkan di rumah ini, dan itu bisa memicu pertengkaran lagi antara Haren dan Shei.
Tapi, bukankah ini keterlaluan? Arthur masih anak kecil yang berusia hampir tujuh tahun, bukankah ini terlalu berat untuk ditanggung anak seusianya?
ada kami yg mendukungmu
dia bilang shei murahan tpi dia gak ngaca gitu saat dia ciuman & pelukan didepan istri sahnya dengn wanita lain... meski orang itu org zg prnah dicintainya tpi kn dia dah punya istri jdi dia hrusnya bs tahan kan nafsunya itu.... bahkan dia ceraikan shei krna jalang itu pula, skrg mlah berlagak sok benar dan sok suci ,cuiiihh... jijik liatnya 😤😤😤