Erik, Sorang pemuda dari keluarga miskin sering di hina dan bully. dia tidak taku kalo dirinya adalah orang kaya.
hingga suatu hari ayah angkatnya sakit dan memberitahu Erik kalo dirinya bukanlah anaknya dan kedua orang tuanya memberitahukan dirinya salah orang berada.
sejak saat itu kehidupan Erik berubah, diapun membalas. semua orang yang sudah menghina dan membully nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taofik irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29 Mira yang sudah Tidak mencintai Erik
Berjalan pulang, ayah Erik dia tidak percaya dengan rencana keluarga Mira yang akan menceraikan Erik.
Sedih dalam hati nya mengingat Erik yang selalu menderita, di kota dia mencari uang buat kelahiran anaknya. Tapi di kampung istirnya sudah tidak mencintainya.
Ayah nya bingung dia harus ngasih tahu bagaimana pada Erik. Sudah tentu Erik akan begitu sedih mendengar kabar ini.
***
Hari-hari Erik di lalui dengan kerja, tidak ada kata lelah dalam hidupnya untuk membiayai istrinya di kampung. Meski dia hanya ngasih sedikit tiap bulannya tapi ia merasa senang bisa menafkahi istrinya dari keringatnya sendiri.
Namun dia tidak tahu Mira yang sekarang sudah beda dia hanya ingin uang nya saja. Siang itu Erik berencana minta izin pulang karena sudah lama dia tidak pulang,
"Bi, saya mau izin pulang dulu pada ibu. Apa bakal di izinin ya?" Tanya Erik yang sedang memperbaiki pagar di taman.
"Ya coba saja bilang, kalo gak bilang mana tahu kan."Sahut bibi pembantu di rumah majikannya.
Erik berfikir sore nanti dia akan minta izin pulang, ia ingin melihat kelahiran anaknya. Begitu senang dalam hatinya sebentar lagi akan jadi seorang ayah.
Saat sedang kerja, mobil Radit datang turun dari mobilnya dengan Eza.
"Erik, rajin banget Lo. Sini dulu. "Panggil Eza.
Erikpun beranjak menghampiri mereka, "iya ada apa?"tanya Erik.
"Gue mau pulang besok, kuliah sudah libur ini. Lo mau ikut gak"ucap Eza.
"Kebetulan, gue juga mau izin pulang nanti sore. Soalnya Mira dekat dengan lahiran. "Ujar Arik.
"Yang bener, kalo gitu bareng saja ya. " Sahut Eza.
Erik Kembali kerja, melihat Eza dan Radit masuk rumah nampak begitu akrab. Bersyukur Erik punya sahabat sebaik Eza yang selalu membantunya meski dalam hatinya ada rasa iri melihat Eza yang bisa kuliah.
Tiiiiiittttt
Suara klakson mobil mengagetkan nya, melihat majikannya sudah pulang. Ayah Radit begitu baik pada Erik sedangkan ibunya dia selalu memandang Erik sinis.
"Erik, sini sebantar" ucap ibunya Radit. Erik pun menghampiri nya. "Iya Bu,"jawab Erik.
"Bawakan belanjaan di mobil ke dapur."perintahnya. Begitu banyak belanjaan yang di beli majikannya Erik pun mengangkut nya ke dapur.
Saat Erik sudah selesai membawa belanjaan, tidak sengaja Erik melihat Eza sedang berciuman dengan Radit di ruang tamu. Begitu kaget dia "Eza, Kenapa dia begitu..."gumam nya sambil menohok kaget.
"Erik, sini sebantar "panggil bibi , berajalan sambil termenung tidak menyangka Eza sahabatnya begitu rupanya. "Sejak kapan Eza begitu?" Fikir Erik .
Kecewa yang ia rasakan, sahabatnya ternyata menyukai cowok juga rupanya mereka berhubungan.
"Kau mau pulang kan ,Erik..."ucap bibi. Melihat nya melamun. "Erik...."bibi menepuk pundaknya. "Kau memikirkan apa?,"tanya bibi. "Maaf Bi, apa bi..."sahut Erik. Dia memikirkan Eza begitu kaget dan tidak percaya apa yang dia lihat barusan.
"Kau mau pulang besok? "Tanya bibi. "iya bi, sepertinya begitu..."jawab Erik.
"Ini, bawa ini bibi punya banyak untuk keluargamu di kampung." Memberikan belanjaan dan buah pada Erik. "tapi, bi saya belum izin sama ibu. "ucapku. "Sudah, bibi sudah bilang Sama ibu kau mau pulang besok, tapi katanya jangan lama."ujarnya. Erik tersenyum "terimakasih ya bi.."ia begitu senang kembali beranjak ke luar.
Orang yang di sangka Erik judes dari awal bertemu Ternyata bibi begitu baik padanya setelah kenal lama. Mungkin benar kata orang \_jangan menilai seseorang dari luarnya\_.
Erik pun tidak menyangka Eza sahabatnya ternyata begitu dengan temannya. Saat Erik kerja mereka keluar. Radit terlihat merokok duduk bersama Eza.
Erik terus menatap Eza," kenapa di berbuat hal menjijikan begitu. Eza yang ku kenal tidak begitu ? Sejak kapan dia menyukai cowok juga?" Gumam Erik dalam hati ya.
Hari beranjak sore, Erikpun sudah selesai kejar dia berajak ke kamarnya dan pergi mandi. Ia senang besok pulang bisa melihat istrinya lagi tidak sabar melihat anaknya lahir.
Seslesai mandi iapun kembali ke kamarnya.
Tok-tok-tok, "Erik..."panggil Eza , iapun membuka pintu. Sambil berdiri di hadapannya Erik merasa ini bukan Eza temannya. "Ada apa?" tanya erik. "Gue mau pulang sekarang, Lo mau bareng gak."ucapnya. "Gak, silahkan duluan saja."sahut Erik. "Oh iya, ya sudah.."ezapun pergi.
Eza merasa ada yang berubah dari Erik, dia tidak seperti dulu suka berbicara banyak hal, bercanda tapi dia bicara dengannya hanya seperlunya sekarang. Sambil bejalan keluar di temani Radit Eza berfikir ada apa dengan Erik?
Malam hari, Eza sudah pulang duluan Erik duduk sendiri menatap bulan yang tidak terlihat jelas. "Lo, kenapa kata Eza Lo sekarang seperti sudah bosan dengan nya."ucap Radit mendekati Erik sambil merokok di luar.
"Eh, perasaan dia saja gue gak apa-apa."ucap Erik, saat Radit duduk di samping nya Erik sedikit menjauh hal itu membuat Radit heran.
"Lo kenapa sih, gak biasanya begini. "ucap Erik. Dia merasa jijik dengan apa yang di lakukan Eza dan Radit tadi. "Tidak apa-apa, gue masuk dulu ya besok mau berangkat pagi. "Ujar nya beranjak ke kamarnya.
Radit mengernyitkan dahinya dia begitu heran dengan sikap Erik, Radit belum sadar juga kalo dirinya sudah ketahuan berciuman dengan sahabatnya.
Malam hari Erik langsung berkemas, tidak sabar menunggu besok datang. Dret... Dret...ponselnya bergetar dan itu dari Eza. Erik merasa malas mengangkatnya hanya dibiarkan saja.
Terlihat Eza mengerim pesan , diapun membacanya, [ Lo kenapa sih, kok gue merasa Lo jadi berubah. Ada apa ? Apa gue punya salah sama Lo apa?,]pesan dari Eza.
\[ Za, gue tidak menyangka Lo teryat begitu. Sejak kapan Lo begitu \] balas Erik , langsung tidur malam itu terdengar ponselnya bergetar namun ia tidak membalas pesan dari Eza.
\*\*\*
Alarm bunyi, Erik bangun mempersiapkan diri iapun beranjak mandi. Selama mandi ia berfikir tidak punya siapapun lagi.
Hari terlihat sudah terang matahari sudah bersinar, iapun bersiap membawa tas. Dan belanjaan yang di bungkus Kardus.
Majikannya duduk dengan Radit. "Cepat sana pamitan."ucap bibi. Erik dia merasa malu tapi iapun memberanikan diri. "Erik, mau pulang sekarang "ucap ayah Radit
"iya pak, Bu, saya mau pamit dulu. "Ujar nya .
"Ya sudah, ini buat ongkos berapa lama pulang nya?"tanya ayah Radit Sambil memberikan uang.
"Gak lama pak, paling 5 hari, terimakasih ya pak."sahut nya.
Iapun beranjak dari rumah besar majikan nya , "bi, saya pulang dulu ya .."ucap Erik k ," iya hati-hati " sahut bibi.
Berjalan sendiri di pagi hari ke stasiun, Eza yang tadinya akan berangkat bareng namun melihat dia tenyata begitu kelakuannya buat Erik kecewa.
Erikpun menelpon Mira ingin memberi tahu kalo dirinya akan pulang, tapi seperti biasa dia tidak mengangkat nya. Iapun ingin tahu kenapa Mira susah di hubungi Sekarang.
\[ Erik, maksud Lo apa tidak menyangka gue begini. Jangan bikin geu marah ya. Dengar geu sudah lama kenal dengan Lo dan siapa yang bantu Lo saat di bully. Emang ada orang lain yang mau berteman dengan Lo.\] Pesan dari Eza semalam.
Erik tidak membalasnya lagi, dia sudah terlanjur kecewa dengan sahabatnya itu. Tapi ia berfikir kenapa harus benci Eza. Hanya saja Erik jijik dengan sikap Eza yang ternyata gay.
Sampai di stasiun, menunggu kereta. Mira tidak juga mengangkat telponnya.
Kereta pun datang, iapun langsung masuk. [ Mira, aku pulang. Sedang di kereta ] mengirim pesan pada Mira. Namun dia tidak membalas nya. Erikpun tertidur di dalam kereta.
***
Pukul 1 siang Erik sampai di stasiun dekat rumahnya. Dia begitu senang sudah lama tidak pulang. Sambil berjalan membawa oleh-oleh dari kota ia tidak sabar bertemu dengan istri nya.
"Si Erik pulang, mau ngapain Rik si Mira katanya mau nikah lagi"celetuk tetangga saat Erik berjalan menuju rumah Mira.
"Apa!!!"Erik kaget mendengar kalo Mira akan menikah lagi padahal dia gak bilang apa-apa lagian Erik tidak akan menceraikan nya. Cepat-cepat beranjak menuju rumah Mira.
Sampai di rumah nya , tok-tok-tok " ia...."suara mira . Saat membuka pintu Mira kaget melihat Erik sudah pulang dengan perut yang sudah begitu besar.
"Erik, kau pulang.."Ucapnya . Terlihat ibunya sedang ada tamu. Mira diam saat Erik masuk ibunya senyum sinis pada nya .
Saat Erik memegang tangan Mira dia seperti menjauh."kau kenapa?" Tanya Erik. "Erik maaf, aku tidak mau lagi dengan mu."sahut Mira.
"Tapi kenapa?" Kaget mendengar perkataan Mira ia hanya bisa duduk lemas. Tidak tahu lagi harus apa . Dia kerja semangat untuknya tapi saat pulang dia bicara tidak mencintai nya lagi.
"Dengar Erik, kebetulan Mira ini bulan kelahirannya dan kau haru bawa anak mu. Mira sudah ibu jodohkan dengan pria yang sudah mapan, kaya. Dia akan bersamanya bahagian. Selama ini kau ngasih apa Sama Mira hanya duit 500 ribu cukup buat apa. ?" Ucap ibu mertuanya.
"Sudah anakmu akhir ceraikan Mira, bawa anakmu pergi kau sudah tidak mau punya menantu sepertimu miskin" Ujar metua erik
Erik pun langsung masuk kamar, selama ini dia kerja untuk istrinya tapi istrinya rupanya ingin menikah lagi dengan cowok lain.
Berderai air mata Erik, mengingat apa yang dia lakukan selam ini untuk Mira.