Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.
Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.
Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.
Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?
"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Kak, tolong rahasiakan keberadaanku, aku tidak ingin ada yang tau aku dimana." Pinta Amy, sesaat akan memasuki bis travel yang akan membawa dirinya ke tempat baru.
"Iya, kakak janji. Jaga diri disana, kalau ada apa-apa jangan segan telepon kakak," ucap Arya saat mengantar keberangkatan Amy keluar kota. Kedua orang tua Amy, juga hadir disana.
"Hati-hati disana ya, nak. Jaga diri baik-baik," ucap bu Nani seraya memeluk putrinya. Rasanya berat melepas putrinya keluar kota, untuk bekerja disana jauh dari mereka.
"Bapak," Amy cuma bisa mengucap sepatah kata itu, karena terharu. Dipeluknya tubuh lelaki separuh baya yang selalu mampu menenangkan hatinya.
"Jangan lupa, selalu telepon Bapak dan Ibu. Agar kami tidak merasa khawatir."
"Iya, Pak. Bapak harus jaga pola makan bapak, biar asam lambungnya tidak suka kambuh."
Suasana haru begitu kental dan menular kesetiap pribadi yang hadir di stasiun itu. Mengantar sanak saudara yang hendak melakukan perjalanan.
Amy, memeluk kedua orang tuanya bergantian. Ketika tiba giliran, Arya, Amy malah tidak bisa menahan bening kaca dikelopak matanya.
"Kak, titip Bapak dan Ibu. Makasih atas semua kebaikan Kakak, Amy pasti merindukan kakak." Peluk Amy penuh haru.
"Jangan khawatir, kakak pasti akan sering datang membezuk om dan tante, asal kamu juga janji baik-baik jaga diri disana." Arya membalas pelukan Amy, baginya Amy bukan lagi orang lain. Dia sudah seperti adik sendiri.
"Sudah ah, jangan cemen. Kalau gak batalin aja rencananya." Arya, mengacaukan rambut Amy, saat emosinya tidak bisa dia tahan.
"Jangan, kak. Amy belum juga pergi kok udah dibatalin." Amy mengusap air matanya dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Ih, kakak nakal, rambut Amy 'kan jadi berantakan."
"Sini kakak rapikan." Spontan tangan Arya terulur, menyisir rambut Amy dengan jemarinya. Eh, Amynya malah manut dan manja. Kedua orang tua Amy hanya bisa tersenyum melihat keakraban putrinya dengan, Arya.
"Udah deh, kak. Bukannya rapi, malah ancur." Protes Amy membuat tawa semuanya meledak. Tawa itu baru terhenti ketika supir memberi kode kalau bis sudah siap berangkat.
"Amy, pergi Pak, Bu." Amy menjabat tangan mereka dan terakhir Arya.
Didalam mobil, beberapa meter dari stasiun. Sepasang mata milik, Pram, mengamati dengan perasaan haru juga. Dia tidak berani mendekat, karena tidak ingin merusak suasana perpisahan itu.
"Ayo, Rif, kita pergi. Aku tidak ingin Amy, menyadari kehadiran kita disini."
"Tapi, bis-nya belum berangkat."
"Tidak apa-apa, toh Amy juga sudah masuk ke dalam. Nanti kita ketahuan lagi nguntit."
Arif, menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan stasiun.
"Pram, jika kamu ingin melihat kepergian, Amy, dari jauh. Datanglah besok ke stasiun," ucap Arya kemarin.
"Hanya dari jauh?"
"Iya, kecuali kamu ingin merusak suasana hatinya."
Yah, percuma bersikeras, posisi Pram, saat ini ibarat buah simalakama. Dia terpaksa menuruti perintah, Arya. Masih syukur, Arya mau memberitahu kepergian, Amy, sehingga dirinya masih bisa melihat kepergiannya meski dari jauh.
Arya juga tidak mau menyebut kemana, Amy, pergi. Pram tidak bisa memaksa. Dia hanya bisa pasrah, dan berharap suatu nanti Amy mau memaafkan dirinya.
Arya menghela napas lega, saat melihat mobil Arya, pergi meninggalkan area stasiun. Arya, sungguh cemas, kalau saja Amy memergoki Pram disekitaran stasiun.
Amy, terlalu fokus pada mereka sehingga tidak menyadari kehadiran, Pram, yang turut mengantarnya secara diam-diam.
Mobil yang yang membawa Amy, sudah menghilang di kelokan. Kedua orang tua, Amy, menghela napas dan mengalihkan pandangan mereka.
"Kita pulang sekarang, Bu." Pak Dedy menuntun istrinya.
"Kita bareng saja, Om, Tante. Sekalian aku ke kantor, jalannya searah kok."
"Apa gak merepotkan, Nak Arya?"
"Wes, jangan gitulah, Om. Ayo, Tante." Arya membukakan pintu mobil untuk keduanya.
"Oh, ya. Nak Arya kerja dimana," ucap Pak Dedy setelah mereka menyusuri jalanan. Arya, menyebut nama kantornya. Pak Dedy, mengangguk dan melihat jalan raya.
"Trimakasih ya, nak Arya, karena selama ini banyak membantu, Amy," ucap bu Nani.
"Sama-sama Tante. Amy itu sudah seperti saudara bagiku. Jadi, Om dan Tante gak usah segan-segan kalau butuh bantuanku."
"Terimakasih sekali lagi, Nak Arya." Arya
mengangguk. Lalu, berhenti di depan gang. Arya, hanya bisa mengantar sampai ujung gang saja. Karena mobil tidak muat di jalan itu.
Arya keluar dan membukakan pintu mobil.
"Maaf Om, cuma sampai sini bisa ngatar."
"Tidak apa-apa, rumahnya juga udah dekat. Hati-hati, Nak Arya." Pak Dedy melambaikan tangannya saat Arya berlalu. "Ayo, bu!"
Arya, bersiul kecil, menyanyikan sebuah lagu lama yang sangat disukainya. Lagu yang selalu mengingatkannya tentang alam.
Deringan ponsel di kantongnya, menghentikan siulannya. Arya menepikan mobilnya. Lalu menarik ponselnya dan melihat panggilan dari, Pram.
"Halo?" Arya menunggu sebentar karena teleponnya terjeda.
"Kamu dimana, Arya?"
"Masih dijalan, menuju kantor. Ada apa?"
"Aku mau bicara sebentar, kamu ada waktu, gak?"
"Oke, kita jumpa dimana, biar aku langsung kesana." Pram menyebut sebuah tempat. Arya belok kanan menuju tempat yang disebut, Pram. Sepuluh menit, Arya sudah tiba dan melihat Pram, tengah duduk sendiri di bangku taman.
"Sendirian? Arif mana?"
"Dikantor, aku gak ada mood masuk."
"Sesekali jadi bad boy, gak bakalan merusak citramu."
"Bukannya, sudah? Hidupku jadi berantakan setahun terakhir ini. Di lilit penyesalan yang tiada akhir." Ungkap Pram. Hampir saja, Arya terbahak mendengar ucapan Pram, yang seperti orang lagi patah hati.
"Cemen banget kau, lebay tau!" sergah Aryo.
"Kamu mau minum apa?"
"Ada yang agak keras gak?"
"Kepagian kalau kamu mau mabuk, dasar kampret lo!" maki Pram bercanda.
"Bukannya untuk itu kamu mengajakku? Kalau cuma mau nyicip secangkir teh, udah telat, bro. Keliatan kali, pelitmu."
"Ya, udah kalau gitu, kita pindah tempat saja." Pram langsung berdiri diikuti langkah, Aryo. Biarlah mereka mabuk kepagian dulu hari ini. Hati Pram, benar- benar suntuk dan kacau.
Hanya hitungan menit, mereka telah sampai di sebuah tempat karoke. Pram langsung memboking sebuah ruangan. Juga beberapa botol minuman, membuat beberapa karyawan heran melihat tingkah mereka.*****
lanjut terus thor
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️