Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di ujung pantai
Di belahan bumi yang lain, jauh dari pasir putih dan deburan ombak Bali, di ruangan kantor yang sejuk namun menyesakkan, seorang wanita meremas kuat surat di tangan, surat skorsing selama satu minggu yang baru saja diterima dari HRD.
Di sebelahnya, beberapa rekan yang ikut terlibat hari itu juga menerima surat yang sama. Mereka saling pandang, dalam diam. Hening, kesal, dan sedikit rasa menyesal.
Hingga tiba-tiba salah satu dari mereka memekik heboh, matanya terpaku pada layar ponsel miliknya yang menyala.
"Gila... si jalang ini berulah lagi! Sekarang dia menjerat Satria!" serunya lantang, seketika menarik perhatian.
Sebuah lingkaran terbentuk. Saling berkerumun, kembali membicarakan sosok yang sama, potret mesra Vivian yang diunggah diam-diam oleh Satria.
Renika ikut mendekat. Menatap foto itu dengan mata terbelalak. Darahnya mendidih seketika. Napasnya memburu, dengan hati yang kembali bergemuruh.
Tak tahan lagi, perasaan benci kini menguasai. Ia berbalik arah, mengambil langkah cepat, tapi sepasang tangan kecil mencengkeramnya erat.
"Kakak mau ke mana?" suara Bila berbisik pelan di dekat telinga. Sorot matanya tajam seakan bisa membaca setiap emosi yang menguasai.
Renika berhenti, menoleh perlahan, senyuman miring terukir pada wajahnya yang dingin. "Bersenang-senang dengan si jalang kampungan itu," jawabnya tegas.
Bila melepaskan cengkeramannya, lalu melangkah mengekori Renika. Senyuman serupa terlukis samar di wajahnya. "Saatnya menjalankan misi selanjutnya."
...****************...
"Kak Raynor bilang, bakal sibuk sampai sore," ucap Vivian lesu.
Satria yang mendengar itu langsung sumringah, senyumnya mengembang seketika. Artinya, mereka punya waktu lebih lama untuk berduaan, tanpa pengganggu.
"Tak apa, ada aku di sini," nadanya terdengar seperti orang yang siap diandalkan. Fokusnya terus tertuju pada Vivian, menatapnya dalam. "Mau main ombak?"
Vivian menatap balik, binar cahaya mulai menyala, lebih tenang, lebih damai dari sebelumnya.
Kepalanya mengangguk pelan. Ini liburan, tak apa sesekali bersenang-senang, untuk meringankan beban pikiran. Walau yang bersamanya, orang yang membuat pikirannya ruwet.
Mereka berjalan beriringan mengejar ombak. Kaki telanjang menyentuh air yang membasahi pasir. Kerang-kerang terinjak, terbenam. Tak peduli jika sisi tajamnya bisa melukai.
Persis seperti tombak yang melaju cepat dari kejauhan, membawa dua wanita yang tak akan membiarkan mereka damai lebih lama.
Tawanya terdengar lepas. Untuk sesaat Vivian lupa betapa dalam lukanya, lupa tentang pengkhianatan yang menghancurkan dunianya, dan lupa jika pelakunya adalah orang yang saat ini bersamanya.
"Mas, nggak mau! Aku nggak mau basah..." gadis itu meronta-ronta. Kakinya menendang udara ketika Satria tiba-tiba mengangkat tubuhnya, berlari menerjang air yang semakin dalam.
"Aaaah..." teriakan riang melengkung di udara. Keduanya jatuh bersama, air laut memeluknya erat sampai sebatas dada.
Satria tetap mendekap, tak membiarkan gadis itu jauh darinya. Butiran air asin terciprat mengenai pipi, menetes ke bibir hingga tertelan sedikit.
Vivian segera meloloskan diri, berlari melesat menjauh sambil tertawa, namun Satria tak butuh waktu lama untuk menyusulnya. Langkahnya panjang dan cepat, tak lama kemudian ia kembali menangkap gadis itu dalam dekapan erat.
"Mau ke mana kamu..." tawa mereka bersatu, hangat dan penuh kebebasan.
Hingga akhirnya rasa lelah mendera. Mereka duduk bersisian di atas pasir putih, napasnya masih terengah pelan.
Keheningan menyelimuti, hanya suara ombak yang terus berkejaran ke tepi lalu kembali menarik diri, persis seperti perasaan mereka saat ini.
Dan di tengah keheningan itu, suara hati Vivian berbisik jujur tanpa lagi menyembunyikan apapun.
"Aku masih mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi pengkhianatan itu sudah merusak segalanya. Aku tak mau rasa sakit yang sama terulang kembali. Biarkan perasaan ini mati perlahan. Dan hari ini, biarkan kita mengukir momen indah, sebagai kenangan berpisah. Sebelum hati kita terbelah, sebelum benar-benar menjadi orang asing satu sama lain."
Perlahan Vivian menyandarkan kepalanya di dada Satria, mendengar detak jantung pria itu yang berirama tenang. Ia memejamkan mata, menikmati kenyamanan untuk terakhir kalinya. Menyimpan rasa hangat di sudut paling dalam, sebagai kenangan yang akan ia peluk saat kesepian.
Kedamaian itu menghipnotisnya, Vivian mulai terpejam, napasnya teratur. Tubuhnya dipindahkan perlahan pada alas tipis yang terbentang di pasir.
Ia terlelap cukup lama, tak terhitung waktu. Hingga butiran air asin menyentuh pipinya, ombak yang menyapu sedikit lebih jauh dari biasanya.
Vivian tersentak bangun, langsung terduduk tegak. Sekelilingnya sunyi. Kosong. Satria tak ada lagi di sisi.
Pandangannya spontan menyapu sekitar. Fokusnya bertemu deretan jejak kaki yang tercetak jelas di pasir. melangkah lurus menuju bangunan toilet di ujung pantai.
Vivian menghela napas pelan. Kembali duduk menatap matahari yang kembali ke peraduan. Terlihat indah, berwarna kuning keemasan.
Ia mengusap perut ratanya. Rasa lapar menyerang di waktu yang tidak tepat.
Fokusnya pecah ketika terdengar suara tangisan pelan. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun melintas dengan mulut terisak.
Vivian berdiri mendekat, lalu berjongkok di hadapan bocah itu. Jemarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi gembilnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya lembut.
Bocah itu tak menjawab dengan kata, ia terus menangis, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah sisi pantai yang lebih sepi dan jauh.
"Kamu datang sama siapa di sini? Ibu atau ayahmu di mana?"
"Mama... mama di sana..." tunjuknya sambil terisak.
"Mama di sana? Baiklah, ayo Kakak antar," ucap Vivian lembut.
Bocah itu mengangguk di antara isaknya, tangan kecilnya menggenggam erat jari-jari Vivian, menariknya perlahan ke arah yang ditunjuk.
Vivian mengikuti tanpa curiga. Tanpa sadar, langkah demi langkah membawa mereka semakin jauh, semakin menjauh dari tempat mereka duduk tadi, masuk menuju sudut asing.
Hingga sampailah mereka pada bangunan yang entah apa. Pintu gapura yang terukir rumit menyambutnya. Bocah itu mendorong pelan, pintu terbuka. Ia menarik tangan Vivian masuk.
Di dalamnya terasa sejuk, kontras tajam dengan udara pantai. lantai marmer berkilau, dinding berhias lukisan mahal, pencahayaan terang namun mewah berlebihan.
Ruangan itu luas, terawat sempurna seolah tempat yang tak sembarang orang boleh masuk.
Namun di balik kemewahan yang memukau, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Vivian meremang. Keheningan yang terlalu pekat. Bau parfum yang terlalu menyengat. Dan pintu berat di belakang mereka, tertutup sendiri pelan, tanpa ada yang menyentuhnya. Tangan kecil yang sedari tadi menggenggam jemari Vivian, tiba-tiba terlepas.
Vivian menoleh cepat, bocah itu sudah menghilang dari pandangan.
Dari arah lorong yang remang, terdengar suara langkah sepatu berirama, mendekat membawa getar berbahaya.
"Selamat datang..." bisik suara wanita yang cukup familiar.
Vivian mundur perlahan, punggungnya menyentuh dinding dingin. Ia sendirian, terkurung di tempat yang tampak seperti istana, namun sesungguhnya adalah perangkap yang telah lama menanti kedatangannya.