Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21. Wati bersedia pergi ke Balai desa. Permainan Bola Kasti.
Wati akhirnya menerima ajakan Slamet, setelah mendengar penjelasan dari Sari, pagi tadi.
Slamet merasa lega, ketika bertemu Wati dan meminta Wati pergi bersama-sama dengannya bertemu kepala kampung, seperti hari-hari sebelumnya, namun kali ini berbeda sebab Wati mau menerima ajakannya.
"Baiklah, sepulang sekolah Mereka kini telah tiba di rumah makan tepi sungai, masing-masing orang memilih pesanannya sesuai selera mereka.
"Kamu duduk juga dong, Kita kan datang bersama, maka harus makan bersama juga!" Pinta Jhon kepada Tiara.
"Ti.. Tidak perlu. Nanti saya makan di belakang saja. Saya adalah pekerja di rumah makan ini!" Tutur Tiara.
"Walaupun demikian, Kita sudah bersama-sama datang ke tempat ini, maka sudah sewajarnya Kamu juga makan bersama-sama dengan Kami." Bujuk Sari.
"Kalau perlu Aku akan memintakan izin kepada bos Kamu, pemilik Rumah makan ini?" Tanya Jhon segera ingin memaksa Tiara ikut makan bersama dengan mereka.
"Aku rasa ada benarnya Nona Tiara. Tidak elok rasanya kalau Kamu tidak ikut makan bersama dengan Kami, karena Kamu juga bagian dari Kami." Widuri memberikan pendapatnya disertai anggukan kepala Jhon, Sari juga Junaedi. Sedang Harjo karena merasa ini adalah undangan makan dari Jhon, bukan dari dirinya dan Dia hanya mengikuti keinginan yang mengundang makan saja, Dia juga tak ingin Tiara mendapatkan masalah karena ikut makan bersama.
Tiara berfikir sejenak, lalu segera mengiyakan ajakan mereka, karena semua orang sudah mengajaknya untuk ikut makan bersama.
Mitha yang saat ini berada di meja tempat para pelanggan memesan makanan, samar-samar mendengarkan pembicaraan mereka.
Tiara segera berjalan menuju, tempat Mitha berada, seraya meminta izin.
"Aku diajak makan bersama-sama dengan mereka, bagaimana pendapat Kakak?" Tutur Tiara.
"Pergi makan saja bersama-sama dengan mereka, tidak ada aturan yang melarang kamu atau pekerja lainnya untuk makan di tempat ini, selama mereka membayar." Jawab Mitha memberikan izin kepada Tiara.
"Baiklah, terima kasih atas izinnya." Jawab Tiara sambil tersenyum dan melangkah menuju meja tempat Jhon, dan kawan-kawannya duduk.
Jhon tersenyum semringah,
"Begitu dong. Kalau Kita datang bersama-sama ke suatu tempat dan ada seorang dari teman Kita yang tidak ikut menikmati apa yang ada, tentu rasanya kurang nikmat dan ada perasaan ganjil. Kita harus bersama-sama menikmati apa pun itu." Ungkap Jhon kepada Tiara yang sudah duduk di kursinya.
"Ya, mari kita segera makan. Aku sudah sangat lapar." Pinta Sari.
"Ya mari makan!" Ajak Jhon, setelah setiap orang mendapatkan pesanannya.
Mereka pun makan dengan lahap, sebab perut mereka sudah sangat lapar.
Sebenarnya pada saat di Balai Kampung perut mereka sudah beberapa kali berbunyi, yang menandakan mereka sedang merasa kelaparan. Sehingga wajar saja kalau mereka makan dengan lahap saat ini.
Senyum tipis terlihat di wajah Tiara, yang sedikit mencuri pandang kepada seorang Pria yang turut makan di tempat itu, tanpa ada yang tahu.
Sari dan Widuri juga melakukan hal yang sama, sedangkan Jhon semakin merasa nyaman dengan hatinya yang mulai terisi wajah seseorang dihatinya.
Junaedi yang merasa beruntung mendapatkan kesempatan memakan makanan yang enak bersama-sama dengan beberapa orang saat ini, merasa kebahagiaan tertentu sebab selama ini dirinya tidak pernah makan bersama-sama dengan beberapa teman. Dirinya hanya makan sendiri atau teman sesama petugas Linmas dan paling tidak hanya bersama Jhon yang sering mengajaknya, sekaligus menjadi pengawal Jhon dalam berbagai urusannya.
Masing-masing tenggelam dalam perasaan nikmat menyantap makanan dan perasaan lainnya, hanya Harjo yang menikmati makanan tanpa memikirkan apapun.
Selesai makan mereka masih duduk-duduk di rumah makan itu sambil meminum kopi atau teh dan bercengkerama, mengobrol ringan hingga sore hari.
Hanya Tiara yang terkadang kembali ke meja Kasir untuk melayani pelanggan yang datang.
Hari bahagia, setelah menyelesaikan permasalahan, bersama teman dan sahabat adalah hal terbaik yang kita lakukan. Kesendirian menimbulkan kesedihan dan perasaan (takut, sedih, gamang dan perasaan negatif lainnya). Usahakanlah bersama seseorang adalah siasat yang tepat ketika galau melanda agar permasalahan menjadi lebih ringan.***
Beberapa hari kemudian Slamet datang ke ruangan Kepala Kampung bersama-sama dengan Wati.
Wati awalnya menolak beberapa kali, sebab dirinya tidak ingin tertipu oleh perkataan Slamet, namun pagi ini saat berangkat ke Sekolah tempatnya bekerja, Wati bertemu dengan Sari dijalan.
"Pagi Wati, apa kabar?" Sapa Sari kepada Wati.
Wati yang awalnya masih sedikit enggan berhubungan dengan Slamet, Jhon dan Sari tentunya, dikarenakan perihal kejadian di Rumah Makan tempo hari, awalnya tidak ingin menyapa, namun karena dirinya sudah di sapa Sari terlebih dahulu, maka dirinya mau tidak mau harus menjawab sapaan dari Sari. Sebab Sari bukanlah orang yang bersalah pada kejadian tersebut.
"Pagi juga Sari. Kabarku baik, Bagaimana dengan Kamu?" jawab Wati sekaligus balik bertanya kepada Sari.
"Oh, baguslah. Kabarku juga baik." Jawab Sari kemudian melanjutkan perkataannya sambil mereka berjalan.
"Oh ya maaf nih! Apakah Slamet sudah meminta maaf kepadamu mengenai masalah di Rumah makan tempo hari?" Tanya Sari tanpa basa-basi.
"Em.. Belum sih. Namun Dia beberapa kali memintaku untuk ikut bersamanya ke kantor Kepala Kampung. Agak aneh, sih. Namun Aku masih menolak ajakannya, sebab Aku takut Dia akan menipuku seperti waktu itu di rumah makan." Ungkap Wati sambil berjalan.
Sari faham tujuan dari Slamet meminta Wati menemui Kepala Kampung. Lalu Sari berkata,
"Slamet itu, sudah diperintahkan oleh Pak Kepala Kampung untuk meminta maaf kepadamu, serta melakukan kegiatan sosial penyuluhan kesehatan dan memperbaiki saluran air, bersama Arif dan Udin." Sari menjelaskan singkat.
"Ha? Apa yang telah terjadi sebenarnya? Aku belum mengetahui kabar ini." Ungkap Wati sedikit terkejut mendengar penjelasan dari Sari.
Sari pun menjelaskan cerita awal dari berpisahnya mereka dari rumah makan hingga pertemuan di Balai Kampung
Slamet juga telah diwajibkan untuk meminta maaf kepada Wati di hadapan Kepala Kampung dan berbagai hukuman lainnya, akibat perkelahiannya dengan Harjo dan seterusnya.
Wati terkejut dengan apa yang telah diceritakan oleh Sari. Dirinya tidak mengetahui kejadian tersebut sebab pada saat itu dirinya sedang berduka dan mengurung diri di dalam kamarnya.
Pada hari itu, dirinya merasa putus asa, sakit hati dan terpuruk akibat perbuatan Slamet dan melihat kemesraan Widuri dan Harjo di persimpangan jalan menuju kerumahnya.
Hatinya perih hingga membuatnya mengurung diri dan tidak keluar dari rumahnya sampai keesokan harinya hingga beberapa hari kemudian.
Dirinya membolos kerja, selama 2 hari, Dia pun hadir kembali dikarenakan para siswanya yang mencari tahu keberadaan guru mereka.
Mereka mendatanginya pada hari selasa sepulang sekolah, tanpa aba-aba atau perintah dari siapapun. Mereka merasa khawatir dan kebingungan sebab guru wali kelas mereka belum hadir juga ke sekolah semenjak kemarin yakni hari senin.
Awalnya mereka menduga Wati guru wali kelas 5 sekolah dasar itu kelelahan akibat berdesakan di Balai Kampung, sehingga mereka merasa wajar kalau Ibu guru Wati tidak masuk sekolah, walaupun Wati termasuk guru teladan yang selalu hadir di setiap hari mengajarnya dan kalau pun tidak hadir pasti membuat surat pemberitahuan kepada sekolah, yang pada akhirnya pasti diberi tahukan kepada siswa tempatnya mengajar.
Wati pun menerima kehadiran siswanya dirumahnya dengan senang hati, mereka memperbincangkan segala sesuatunya dirumahnya itu, hingga sore menjelang.***
akan ikut bersama dengan kamu ke Balai Desa." jawab Wati setelah Slamet mengutarakan permintaannya.
"Te.. Terimakasih Bu Wati karena sudah bersedia. Sekali lagi terima kasih." ucap Slamet dengan wajah semringah, karena merasa bahagia, sebab akhirnya dirinya berhasil mengajak Wati untuk bertemu dengan Kepala Kampung.
Slamet beranjak pergi dari hadapan Wati menuju gudang sekolah, sebab hari ini dirinya akan mengajarkan siswanya untuk bermain bola kasti, sesuai dengan materi pelajaran yang menjadi jadwalnya.
Slamet terlihat lebih bersemangat. Dia mencari peralatan bermain bola kasti, yang terdiri dari: bola kasti dan pemukulnya beserta abu gosok cuci piring yang berwarna putih untuk membuat penanda berupa garis. Garis akan dibentuk menjadi persegi sebagai base1 dan seterusnya. Base tersebut berfungsi sebagai tempat aman bagi pemain yang bermain sebagai tim pemukul. Sedangkan tim lainnya sebagai tim jaga yang akan berusaha menangkap bola yang dipukul oleh tim pemukul lalu menembak pemain tim pemukul yang berada di luar kotak base (aman). Setiap tim pemukul wajib berpindah bass setiap kali teman setimnya berhasil memukul bola kasti. Mereka juga berkewajiban berpindah base ketika pemain yang bertugas sebagai pemukul gagal memukul bola kasti untuk yang ketiga kalinya.
Ketika bola yang dipukul, terlempar cukup jauh tim pemukul bisa saja berlari secepat mungkin melalui setiap base satu persatu hingga kembali ke home base dengan menghindar dari lemparan atau tembakan bola kasti dari tim jaga.
Tim pemukul bebas berlari lebih dari 1 base dari base 1 ke base lainnya secara berurutan selama dirinya mampu menghindari bola kasti.
Ketika pemain yang bertindak sebagai pemukul berhasil memukul dan meninggalkan pemukul di home base (kotak aman awal bermain) dan berlari ke base 1 dan seterusnya secara beruntun tanpa terkena bola kasti yang di lemparkan tim jaga hingga ke home base disebut home run.
Ketika setiap pemain sudah berhasil memukul bola dan kembali ke home base seluruhnya maka tim pemukul memenangkan permainan. Sebaliknya jika salah seorang pemain tim pemukul terkena lemparan bola kasti dimuat base, maka tim pemukul berganti menjadi tim jaga.
Setiap pemain hanya boleh berpindah base ketika bola sudah berhasil dipukul, tetapi bisa saja pemain yang sudah berada di salah satu base tidak berpindah base jika dirasa tidak aman untuk berpindah base kecuali pemain yang bertugas sebagai pemukul wajib berpindah dari home base, minimalnya ke base 1.
Kini semua peralatan sudah lengkap, Slamet membawa semua perlengkapan bermain dengan dibantu seorang siswa yang terlihat melintas didekat area gudang sekolah.
"Adun bantu Bapak membawa ini." pinta Slamet kepada Adun yang sedang mendapatkan tugas mengutip sampah karena terlambat datang kesekolah.
"Ba... Baik Pak." jawab Adun sedikit terkejut, sebab dirinya tidak melihat keberadaan Slamet pada awalnya.
Adun mengambil pemukul, bola kasti dan abu cuci piring lalu mengikuti Slamet ke lapangan sekolah.
"Siswa kelas berapa Pak yang akan bermain bola kasti ini Pak?" tanya Adun sembari mengikuti Slamet dari belakang sambil membawa peralatan bermain bola kasti ditangannya.
"Kelas 4a, mereka pagi hari ini, belajar olah raga jam pertama, setelahnya Siswa kelas 4b." ujar Slamet.
"Saya boleh ikut bermain Pak?" tanya Adun kembali.
"Apa? Tidak dong. Jadwal belajar kamu kan bukan hari ini? Kamu harus kembali keruangan kelasmu setelah ini. Lain kali pada saat jadwal belajar olahraga di kelasmu, barulah kamu boleh ikut bermain." ujar Slamet menolak permintaan dari Adun yang berusaha membujuk Slamet untuk ikut bermain dan pastinya Si Adun berniat membolos dari pelajaran di kelasnya.
"Tetapi Pak! Sayakan sudah membantu Bapak membawakan semua peralatan ini?" Adun berupaya lebih keras lagi, membujuk Slamet agar mengizinkannya untuk bermain bola kasti bersama siswa kelas 4a.
"Sekali tidak, tetap tidak! Kamu harus segera kembali kedalaman kelasmu dan melapor kepada guru yang saat ini mengajar di ruangan kelasmu." Slamet dengan tegas menolak sebab dirinya tidak ingin terkena masalah karena mengizinkan siswa yang bukan siswa kelas yang sedang di ajarnya sesuai jadwal.
Slamet sudah beberapa kali terkena teguran dari kepala sekolah dan beberapa guru lainnya dikarenakan dirinya beberapa kali mengizinkan bahkan mengajak siswa kelas lain terutama siswa kelas 6, untuk ikut berolah raga saat dirinya mengajar.
Dirinya belum mau terkena masalah lainnya lagi, sebelum masalahnya kepada Harjo terselesaikan.***
Adun adalah salah satu siswa kelas 6 yang sering sekali diajak Slamet untuk bermain. Adun termasuk siswa yang pemalas dan sering terlambat masuk ke sekolah juga masuk kedalam kelasnya meskipun lonceng sekolah sudah berdentang karena sudah dipukul berulang kali oleh guru yang piket. Adun juga suka bolos, sehingga Adun cukup terkenal oleh para guru karena kenakalannya.
Para siswa juga merasa takut kepada Adun yang berbadan gempal, gemuk dan besar.
Adun juga memiliki beberapa teman yang memiliki sifat yang sama. Mereka sering sekali membuat masalah baik dengan teman sekelasnya maupun kepada siswa kelas lainnya.
Adun juga bukanlah siswa yang cerdas atau berprestasi, namun hal itu tidak pernah dihiraukan olehnya. Adun merasa belajar bukanlah hal yang penting. Dirinya hanya datang kesekolah hanyalah kebiasaan setiap pagi saja, serta paksaan dari orangtuanya yang awalnya memaksanya untuk pergi bersekolah.
Kebiasaan terlambat Adun sudah sering terjadi, keributan dan pertikaian karena dirinya adalah kebiasaan yang membuat dirinya dikenali oleh para siswa dan guru.***
Para siswa mulai berlatih bermain bola kasti, awalnya Slamet masih menemani para siswa dilapangan, namun setelah selesai membuat garis atau tanda base dengan bubuk cuci piring yang terbuat dari sekam padi dan sedikit memberikan contoh dan arahan, Slamet meninggalkan para siswa berlatih.
Awalnya semua berjalan lancar, setiap siswa berlatih bergantian dengan grup satu timnya, sampai anggota dari tim yang bermain atau disebut pemukul gagal tiga kali harus segera berlari dan terkena lemparan bola, ketika keluar dari base atau terkena bola lemparan tim jaga ketika berlari dari satu base ke base lainnya, maka tim jaga menjadi tim pemukul, demikian seterusnya. Para siswa sangat senang bermain, walaupun terkadang merasa sedih ketika terkena lemparan bola, namun mereka tetap bermain.
Ketika Emil, menjadi siswa yang bertugas memukul bola bola, Emil memasuki base pemukul, mengambil pemukul bola kasti dan berdiri di area base pemukul. Emil yang berbadan lebih besar dari para siswa kelas 4a. Sikap berdiri yang tepat, Emil mempersiapkan dirinya untuk memukul dengan sedikit mengayun-ayunkan pemukul bola kasti, serta menyesuaikan kuda-kuda kakinya. Emil kelihatan sangat serius sekali. Matanya tampak serius memandang ke arah pemain yang bertugas melempar bola kasti.
Siswa penjaga juga tampak serius menjaga setiap posisi yang mungkin nantinya akan menjadi arah bola hasil lemparan Emil. Siswa bagian penangkap bola yang berada di belakang base pemukul tempat Emil berada juga kelihatan serius. Mereka merasa harus berhasil menangkap bola pukulan Emil dan menembak mengenai salah seorang yang akan berpindah base. Sebab hanya dengan cara itu mereka akan menjadi tim pemukul yang nantinya akan keluar jadi pemenang ketika seluruh anggotanya berhasil memukul bola dan kembali ke base akhir (aman).
Emil pun memberi kode agar pemain yang bertugas melempar bola segera melemparkan bola menandakan dirinya sudah siap.
Pemain yang bertugas sebagai pelempar bola pun melakukan tugasnya, dan tanpa terduga Emil yang sering sekali gagal memukul bola atau kalaupun terkena pasti sudah bola terakhir atau ketiga dan jarak pukulan bisanya hanya pelan dan dekat saja jatuhnya.
Kali ini pukulan bola Emil men akibatkan bola melambung jauh sekali.
Pemain satu tim Emil awalnya sudah yakin akan gagal berubah seketika dan bersorak serentak dan menyuruh para pemain setim mereka untuk segera berlari, menuju base berikutnya hingga ke home (base akhir) dengan semangat.
"Lari... Lari... " teriak mereka.
"Cepat... Ayo cepatan.. Cepat" teriak yang lainnya.
Emil yang terdiam sejenak karena tak menyangka pukulan yang dibuatnya sejauh itu, terkejut karena teriakan Naina yang keluar base halo pemukul.
"Sadar woy!!! jangan bengong aja woy, lari... Lari cepat. Mumpung bola belum bisa diambil" teriakkan Naina, terdengar begitu keras, menunjukkan emosi yang besar layaknya api yang membakar habis.
Semua pemain sudah kembali ke home. Emil segara ikut menyusul, melewati semua base dengan lari yang sangat kencang seperti Valentino Rossi ketika membalap di MotoGP. Namun bola tidak dapat ditemukan juga sebab melewati atap gedung sekolah mereka.***
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru