Di cintai dengan tulus oleh pasangan merupakan impian bagi seseorang yang menjalin hubungan.
Mengisahkan perjuangan cinta anak sekolah antara Nasya dan Aditya. Aditya beberapa kali menyatakan perasaannya, namun di buat menunggu oleh keputusan Nasya untuk tidak menjalin hubungan dekat sampai mereka lulus SMA. Walau begitu, Aditya setia menunggu jawaban Nasya setelah nantinya lulus SMA.
Mereka berdua menjalin persahabatan sejak pertama kali mereka bertemu. Selama bersekolah mereka sangat bahagia dan nyaman satu sama lain sebelum datang wanita yang mengaku kekasih Aditya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Bagaimana kisahnya? Apakah hubungan mereka berjalan dengan mulus atau tidak?
Selamat Membaca 💫
Dukung karya ini dengan ➡️ Like, Subscribe, vote, dan komentar terbaikmu. Terima kasih.
Salam hangat dari Author💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vincar:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 29 Pulang Ke Jakarta
Lalu Aditya berjalan menuju kamar Nasya. Niat hati Aditya membahagiakan Nasya, ternyata gagal karena kehadiran Intan.
"Tok ... tok ... tok"
"Cya, Nasya ..." panggil Aditya dari luar kamar Nasya.
Namun tidak ada yang menyahut panggilan dari Aditya. Aditya terus mengetok pintu dan memanggil Nasya, namun tidak ada yang membukakan pintu.
"Apakah Nasya sudah tidur?" tanya Aditya dalam hati.
"Kasihan Nasya, dia pasti sangat sedih atas perkataan Intan tadi."
Lalu Aditya pergi meninggalkan kamar Nasya dan besok pagi Aditya akan kembali menemui Nasya.
****
Pagi hari.
Mentari pagi menyinari bumi, menghangatkan hari di suguhi kicauan burung yang menyapa. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Lalu dengan buru-buru, Aditya pergi ke kamar Nasya untuk mengatakan sesuatu hal yang penting pada Nasya.
"Tok ... tok ... tok"
"Permisi. Cya ... Nasya," panggil Aditya dari luar kamar.
"Eh ... Aditya, apakah kamu nyari Nasya?" tanya Mira yang membukakan pintu.
"Iya Mira, Nasya ada?" balik Aditya bertanya.
"Bukannya Nasya tadi pergi menemui mu. Tadi Nasya bilang dia pergi menemuimu untuk membicarakan hal penting," ungkap Mira.
"Iya Adi, Agnes juga bilang gitu. Mereka berdua tadi buru-buru pergi ke luar," sahut Priskila di samping Mira.
"Apakah barang-barang mereka ada di kamar?" tanya Aditya.
"Bentar ya ... saya cek dulu."
Lalu Mira tidak melihat barang-barang Nasya dan Agnes. Mira pun memberitahu Aditya tentang hal ini.
Tanpa banyak berpikir, Aditya langsung bergegas mencari Nasya. Aditya pergi menemui dan bertanya kepada pak Sarman selaku sopir Aditya.
"Permisi Paman," ucap Aditya.
"Eh, Aditya. Ada apa Den?" tanya Pak Sarman yang sedang mencuci mobil.
"Apakah tadi Paman melihat Nasya ke luar?" tanya Aditya.
"Oh ... tadi pagi sekitar pukul 08:30 pagi, Paman mengantar Nasya ke bandara. Dia terburu-buru bersama temannya, katanya pagi ini dia harus pergi ke Jakarta," ungkap Pak Sarman.
"Apa?" Aditya terkejut mendengar penuturan dari pak Sarman. Aditya tidak menyangka bahwa Nasya pergi tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.
Lalu Aditya mengambil ponselnya dalam kantong celananya dan mencoba menghubungi Nasya, namun tidak di jawab.
Aditya pun meminta pak Sarman untuk segera mengantarnya ke bandara. Lalu Aditya kembali ke kamar untuk mengganti baju.
Dengan buru-buru, Aditya menaiki anak tangga satu-persatu. Setelah selesai, Aditya langsung pergi keluar untuk pergi ke bandara.
"Adi, Adi ...." Panggil Rafael yang melihat Aditya terburu-buru ke luar. Tetapi, Aditya mengacuhkan panggilan dari Rafael.
"Adi kenapa? Kenapa dia sangat terburu-buru," ucap Rafael yang penasaran.
"Dia ingin menemui Nasya," sahut Mira dari belakang Rafael.
Lalu Rafael menoleh ke belakang dan melihat ada Mira dan Priskila. "Menemui Nasya? Emangnya Nasya di mana?" tanya Rafael.
"Pagi tadi Nasya dan Agnes buru-buru pergi ke bandara untuk pulang ke Jakarta," ungkap Mira.
"Pulang? Kenapa Nasya harus pulang sekarang," ucap Rafael.
"Mungkin karena kejadian kemarin malam."
Di sisi lain, Aditya pun segera meminta pak Sarman untuk mengantarnya ke bandara. Aditya berharap dia dapat menemui Nasya.
"Cya, apa kamu gak ngerasain seberapa besar cintaku ke kamu selama ini?" tanya Aditya dalam hati seraya melihat ke luar dari arah kaca jendela mobil.
"Apa kamu masih ragu?" batin Aditya sambil mengacak-acak rambutnya.
****
Bandara.
"Cya, apa kamu sudah pikirkan matang-matang tentang kepulangan kita ke Jakarta?" tanya Agnes yang mencoba menenangkan Nasya.
"Nes, aku sudah memikirkannya dengan matang," sahut Nasya.
"Kenapa kita harus menyembunyikan kepulangan kita ke Jakarta pada Aditya dan teman-teman."
"Apakah kamu tidak melihat keseriusan di mata Aditya. Aditya sangat menyayangimu," kata Agnes.
"Nes, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Tekad ku sudah bulat, hanya ingin fokus sekolah. Saya tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti itu. Apalagi saya bertengkar dengan orang lain hanya karena cinta," ungkap Nasya seraya menghapus air mata yang terus berjatuhan di pipinya.
"Tapi kan Intan bukan kekasih-" belum selesai Agnes berbicara, Nasya langsung menyergah ucapannya.
"Sudah, sudah Nes. Sudah saya bilang saya tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti itu!"
"Baiklah Cya, jika itu menurutmu nyaman aku akan selalu mendukungmu," ucap Agnes seraya memeluk erat Nasya.
****
Aditya pun meminta pak Sarman melanjutkan mobilnya ke arah bandara I Gusti Ngurah Rai. Aditya sangat kecewa semua di luar rencananya. Rencana yang tersusun dengan rapi berantakan, karna kehadiran Intan.
Aditya sudah memperingatkan Intan untuk tidak membuat masalah di acara makan malam yang di selenggarakan di taman.
Sesampainya di bandara, Aditya langsung bergegas mencari Nasya. Aditya pun bertanya kepada para petugas di bandara tentang keberangkatan pesawat tujuan Jakarta.
Ternyata keberangkatan pesawat tujuan Jakarta yang di tanyakan Aditya sudah berangkat sekitar 15 menit yang lalu.
Mendengar informasi tersebut, Aditya langsung menjatuhkan bobotnya di kursi. Aditya merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi.
Nasya adalah wanita pertama yang ia suka. Aditya langsung jatuh hati saat pertama kali bertemu dengan Nasya. Di saat Nasya tidak sengaja menabraknya dengan sepeda di tepi jalan.
Selang beberapa menit, Aditya pun pergi meninggalkan bandara menuju hotel.
"Den, kamu sudah ketemu dengan temanmu Nasya?" tanya pak Sarman.
"Tidak Paman, dia sudah berangkat ke Jakarta," sahut Aditya dengan lesu.
Lalu Aditya pun masuk ke dalam mobil. Kemudian pak Sarman pun melajukan mobil menuju hotel. Sepanjang perjalanan, Aditya hanya termenung seraya melihat ke luar lewat jendela kaca mobil.
****
Aditya pun sampai di hotel miliknya. Di hotel, Rafael, Mira, dan Priskila sudah menunggu.
"Rafael, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku suka pada Nasya apa adanya, tanpa memikirkan apa yang Intan katakan," ungkap Aditya.
Rafael pun semakin bingung dengan sikap Aditya yang seperti putus asa. Baru kali ini Rafael melihat Aditya sangat terpuruk. Rafael pun mengajak Aditya untuk pulang ke Jakarta.
Rafael tidak ingin melihat Aditya terus sedih dan termenung di hotel selama beberapa hari ke depan. Rafael pun tidak ingin bahagia di atas penderitaan temannya yang sedang bersedih.
"Yang sabar Adi, emang yang paling susah itu ngertiin perasaan perempuan," ucap Mira.
"Em ... Pris, bisakah kamu bilang ke Nasya bahwa Aditya sangat mencintainya," bisik Rafael pada Priskila.
"Maaf Rafael, aku tidak bisa ikut campur dengan masalah mereka. Walau Nasya itu orangnya sabar, namun sepertinya ia sulit untuk menerima omongan Intan kemarin malam," ungkap Priskila.
"Aku pun tahu alasan Nasya yang langsung pulang ke Jakarta tanpa mengabari kita. Semalam dia hanya menangis dan tidak berbicara pada siapa pun. Agnes saja tidak di beri kesempatan untuk berbicara padanya."
"Pagi hari tadi, dia dan Agnes langsung berkemas dan mengatakan bahwa mereka hanya keluar sebentar menemui Aditya. Ternyata mereka langsung pulang ke Jakarta tanpa mengabari," tutur Priskila.
Tiba-tiba Aditya berdiri dari tempat duduknya dan mengatakan sesuatu.
Bersambung.
Semoga harimu menyenangkan 💫
Aku masih pegang Adit Nasya nih. Tapi kalau Arman lebih gentle keknya bisa kali 😏😏😏
Coba Rafa jadi alim dikit
Berasa nyewa di sini