NovelToon NovelToon
Garis Darah Naga Purba

Garis Darah Naga Purba

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Ye Chenlong adalah aib terbesar Klan Ye.

Di hari ujian bakat, ia dinyatakan memiliki bakat kultivasi terburuk sepanjang sejarah. Tunangannya memutuskan pertunangan di depan semua orang, keluarganya mengusirnya tanpa belas kasihan, bahkan nyawanya hampir berakhir di hutan terlarang.

Namun, di ambang kematian...

Darah yang telah tertidur selama ribuan tahun akhirnya terbangun.

Bukan kekuatan yang langsung membuatnya tak terkalahkan, melainkan serpihan ingatan dari leluhur Naga Purba yang menuntunnya menuju teknik kuno, warisan yang hilang, dan rahasia yang sengaja dikubur oleh dunia.

Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak kebenaran yang terungkap.

Mengapa Klan Naga Purba dimusnahkan?

Siapa yang memburu seluruh pewaris garis darah naga?

Dan mengapa namanya telah tercatat dalam takdir jauh sebelum ia dilahirkan?

Ketika seluruh dunia menganggapnya sampah...

Tak seorang pun menyadari bahwa naga yang mampu mengguncang langit telah membuka matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4:SUARA GARIS DARAH

ye Chenlong menarik napas sedikit dalam, menatap pepohonan rimbun di depannya.

setelah kepergian ayahnya, ye chenlong benar benar di antar ke hutan terlarang.

dia hanya di antar oleh beberapa prajurit klan ye, tanpa anggota inti satupun.

sebelum ia pergi tadi dia sempat bertemu dengan ayahnya lagi, tapi sang ayah hanya meninggalkan sebuah surat untuknya.

ye Chenlong menyandarkan diri ke pohon besar, merogoh tas.

ia menatap surat di tangannya, tangannya gemetar.

namun ia hanya menatap surat itu tanpa berani membukanya.

srek....

Telinganya sedikit bergerak, dengan reflek ia menoleh ke semak semak di sana.

namun sejauh mata memandang, tak ada satupun hal aneh yang terlihat.

ia mundur perlahan, menyebarkan kekuatan jiwa.

namun kali ini pandangan lewat kekuatan jiwa ini kabur, ia tak sempat mengisi energi jiwanya.

"sial" batinnya.

walau begitu, ye Chenlong tak menarik kekuatannya ini.

Samar Samar, ia bisa merasakan pergerakan di dekatnya.

ye Chenlong mengeluarkan pedang usang pemberian ayahnya dan langsung menoleh.

"hanya kelinci"

ia menurunkan pedang, hanya menatap kepergian kelinci itu.

tanpa ye Chenlong sadari sekelebat bayangan melewatinya.

Karena hari sudah hampir gelap, ia memutuskan untuk mencari gua.

walau tak menemukan hal aneh, tapi mata ye Chenlong tak pernah lepas dari sekeliling.

bahkan pedang tak pernah lepas dari tangan.

Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya dia menemukan sebuah gua.

ye Chenlong masuk, namun ia langsung mengerutkan keningnya saat tetapannya menelusuri tempat ini.

"permisi, apa ada orang" teriaknya.

setelah beberapa kali memanggil, tak ada sautan sama sekali.

dia melakukan itu bukan karena asal menebak.

ini semua karena, gua ini tak seperti gua pada umumnya.

walau tetap gelap dan lembab, tapi di sini ada bekas tempat tidur dan arang.

ye Chenlong mendekati arang, dia mendekatkan tangannya.

"aneh, arang ini masih hangat."

"seharusnya beberapa jam yang lalu ada yang menghidupkannya"

ye Chenlong kembali melangkah.

uhuk....

ia menatap tangannya yang di gunakan menutup mulut saat batuk.

di sana tampak darah segarnya.

namun ia hanya menggeleng, dan kembali melangkah.

"cih, tak usah memaksa..."

"lebih baik terik kekuatan jiwamu dan isi kembali"

"jika tidak kau hanya akan mati sia sia" suara terdengar dari benaknya sendiri.

ye Chenlong menatap ke sekitar.

"siapa..."

"keluarlah"

"bocah, tak usah mencari..."

"aku ada di tubuhmu... "

"tubuhku?..."

ye chenlong terdiam, mencoba mencerna maksudnya.

"tak usah banyak berfikir...."

"cepat isi kekuatan jiwamu....."

"jangan mengajak kaisar ini mati konyol..."

mendengar ini ye Chenlong tersentak.

"senior, apa kau garis darahku..."

"apa kau akhirnya bangkit..." hanya itu yang terpikir di kepala ye Chenlong sekarang.

"hemmmm... "

"cepatlah, tarik kekuatan jiwamu"

"isi kembali"

"untuk keselamatan aku yang akan menjaminnya"

"baik senior.. "

ye chenlong tak berani ragu, ia bahkan langsung duduk tanpa mencari tempat.

di luar gua, tampak siluet tadi melesat lagi, berhenti di pohon dekat gua.

menampilkan satu sosok berpakaian ranting dan daun untuk menutupi tubuhnya.

dan itu tak hanya satu, ada beberapa.

Salah satunya menatap sosok paling depan.

"kakak, apa kita akan mendapatkan makanan enak lagi"

"tentu, sudah lama kita tak makan daging orang dari luar hutan kan"

"benar kak" saut yang lain.

mereka mulai menjilati bibir sendiri sambil menatap ke dalam gua.

jauh di klan, ye hao berdiri di depan rak buku.

dia menoleh ke sekitar, saat ada sesorang ia memilih untuk memegang beberapa buku.

"tuan muda hao" sapa seseorang yang lewat.

ye hao menunduk, menyapa balik.

ye hao bahkan beberapa kali duduk untuk membaca buku.

setelah selesai ia kembali memilih.

"sial, kenapa hari ini ramai sekali" batinnya.

bahkan sampai matahari terbenam, dia masih di sana.

satu per satu murid meninggalkan perpustakaan, ye hao masih berada di sana.

sampai tetua penjaga menghampirinya.

"tuan muda, apa anda tidak ingin beristirahat dulu"

ye hao tersenyum.

"tidak tetua, saya ingin banyak belajar..."

"benar juga, apa lagi tuan muda akan menjadi penerus patriark...."

"kalo begitu silahkan tuan muda, saya akan menjaga di luar. jika memerlukan bantuan katakan saja"

ye Hai menunduk.

"Terima kasih atas pengertiannya tetua"

"tapi jika anda ingin kembali, maka kembali saja"

"aku tidak papa di sini sendiri, nanti aku yang akan menutup tempat ini."

tetua penjaga yang mendengar ini langsung bersemangat, mata kantuknya langsung cerah.

"benarkah tuan muda"

"tentu saja, kelihatannya tetua juga sudah lelah"

tetua itu menggaruk lehernya sedikit.

"baiklah, tuan muda"

"kalok begitu saya pamit dulu.."

"semangat, belajarnya"

tetua itu akhirnya benar benar berbalik pergi.

setelah tetua itu membelakanginya, ye hao langsung memutar bola matanya.

"pengganggu" batinnya.

saat memastikan tempat ini benar benar kosong, ye hao menggigit jari.

dari jempolnya tampak setetes darah.

sekali lagi ye hao menoleh ke sana kemari, sebelum ia menempelkan darahnya ke papan penyangga di sana.

saat darah itu menempel, tanpa menunggu lama, darah itu langsung terserap tanpa meninggalkan darah sebelumnya.

perlahan papan itu bergetar.

membuka secara perlahan, menampilkan tangga ke bawah.

ye hao memasuki tangga itu, setelah ia masuk tempat itu kembali seperti semula.

saat di bawah, ia melihat ibu dan leluhur klan ye, atau yang biasanya dia panggil dengan sebutan kakek sedang saling memangku.

setelah dekat, ia sedikit menunduk.

"maaf terlambat, ibu"

"maaf terlambat ayah"

"Tidak masalah, sini kau duduklah."

"kita rayakan kemenangan ini"

"benar kata ibumu, duduklah"

ye hao duduk di antara mereka, dia menatap mereka berdua.

"sekarang apa yang harus kita lakukan?"

leluhur klan ye, berdiri.

"untuk sekarang, lebih baik kita tetap bersandiwara."

"aku masih belum bisa mengangkatmu menjadi patriark sebelum ye wuchen di singkirkan"

"ye wuchen ya..."

ibu ye Hao menungkan anggur, dan memberikannya kepada leluhur klan ye.

"apa tidak apa apa, kamu menyingkirkannya"

"bukannya di juga anakmu"

leluhur klan ye menyeringai, mengambil gelas anggur dan meneguknya.

"hanya anak yang tak berguna."

"jika bukan karena dia, aku pasti sudah memegang pedang dari leluhur tertinggi"

"apa lagi cincin"

"hanya karena dia semua itu tak bisa ku dapatkan"

wajah leluhur klan ye terlihat jelas sangat memerah memendam amarah ke anaknya itu.

ibu ye hao kembali bergeser, semakin dekat ke arah leluhur klan ye.

"jika begitu, lalu apa yang harus kita rencanakan"

1
Ilham Yono
foto? udah ada kamera di jaman itu????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!