Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Surat Tanpa Nama
Bab 8 – Surat Tanpa Nama
Pagi itu, Aluna terbangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bayangan tentang ucapan Nenek Ratih semalam terus memenuhi pikirannya.
"Bukan Pak Arsen yang membuat semuanya rumit, tetapi masa lalu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
"Nek," panggil Aluna saat membantu menyiapkan dagangan.
"Iya, Nak?"
"Apa sebenarnya yang Nenek sembunyikan dariku?"
Tangan Ratih yang sedang mengikat sayuran langsung terhenti.
"Nenek tidak menyembunyikan apa pun."
"Tapi kemarin Nenek bilang..."
Ratih tersenyum tipis, meski matanya tampak menyimpan kesedihan.
"Nanti kalau waktunya sudah tepat, Nenek akan bercerita."
Aluna mengangguk pelan. Ia tidak ingin memaksa wanita yang telah merawatnya sejak kecil itu.
Di sekolah, suasana mulai sedikit tenang. Gosip tentang Aluna memang masih terdengar, tetapi tidak seramai beberapa hari sebelumnya.
Saat jam istirahat, seorang petugas sekolah masuk ke kelas.
"Aluna Kirana?"
"Saya, Pak."
"Ini ada surat untukmu."
Aluna tampak bingung.
"Surat?"
"Iya. Tadi ada seseorang yang menitipkannya di pos satpam."
Begitu petugas itu pergi, seluruh isi kelas kembali penasaran.
Siska mendekat.
"Coba buka."
Perlahan, Aluna membuka amplop berwarna cokelat itu.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
"Kalau ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya, datanglah ke taman kota hari Sabtu pukul empat sore. Datang sendiri."
Tidak ada nama pengirim.
Aluna langsung membeku.
"Ada apa?" tanya Siska.
Aluna memperlihatkan isi surat itu.
Siska mengernyit.
"Jangan datang."
"Tapi bagaimana kalau orang itu benar-benar tahu tentang keluargaku?"
"Justru itu yang membuatku takut."
Aluna menggenggam surat tersebut erat-erat.
Selama ini ia tidak pernah memikirkan siapa orang tua kandungnya. Namun, setelah banyak orang memperhatikan kalung di lehernya, rasa penasaran itu mulai tumbuh.
Di kantor Mahardika Group, Arsen menerima laporan baru dari Rangga.
"Pak, kami masih belum menemukan identitas orang yang mengirim foto kepada Pak Damar Prasetya."
Arsen mengangguk.
"Lalu?"
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Seseorang terlihat beberapa kali mengawasi rumah Aluna pada malam hari."
Tatapan Arsen langsung berubah serius.
"Kenapa baru sekarang kamu memberitahuku?"
"Saya baru mendapat laporannya pagi ini."
Arsen berdiri.
"Perketat pengawasan."
"Baik, Pak."
Entah mengapa, firasat Arsen mengatakan bahwa sesuatu akan segera terjadi.
Sore harinya, Aluna pulang ke rumah dengan wajah murung.
Ratih segera menyadarinya.
"Kamu kenapa?"
Aluna menyerahkan surat tanpa nama itu.
Ratih membacanya perlahan.
Wajahnya langsung pucat.
"Nek?"
Ratih buru-buru melipat kembali surat tersebut.
"Jangan datang."
"Kenapa?"
"Tolong dengarkan Nenek."
"Memangnya siapa yang mengirim surat itu?"
Ratih menggeleng pelan.
"Nenek tidak tahu."
Namun, dari sorot matanya, Aluna merasa Ratih sebenarnya menyembunyikan sesuatu.
Malam itu, Ratih tidak bisa tidur.
Ia terus memikirkan isi surat tersebut.
"Apakah mereka sudah mulai mencarinya?" bisiknya pelan.
Di sisi lain, seorang pria berjaket hitam sedang duduk di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah Aluna.
Di tangannya terdapat beberapa lembar foto lama.
Salah satunya memperlihatkan seorang bayi perempuan yang sedang menangis di dalam selimut putih.
Pria itu tersenyum tipis.
"Sebentar lagi semua akan terungkap."
Ia kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Gadis itu sudah menerima suratnya."
Suara di seberang terdengar pelan.
"Pastikan dia datang."
"Kalau dia tidak datang?"
"Buat dia datang."
Sambungan telepon pun terputus.
Tanpa diketahui siapa pun, sebuah rencana besar mulai dijalankan.
Sementara itu, Aluna berdiri di dekat jendela kamarnya sambil memandangi langit malam.
Tangannya menggenggam erat surat tanpa nama itu.
Di dalam hatinya muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani ia ucapkan.
"Siapa sebenarnya aku?"
Pertanyaan itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya. Di balik surat tanpa nama tersebut, tersembunyi sebuah rahasia yang selama delapan belas tahun berhasil dikubur, tetapi kini perlahan mulai muncul ke permukaan.