NovelToon NovelToon
Penjara Luka

Penjara Luka

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:232.1k
Nilai: 5
Nama Author: Devi21

Kehadiran buah hati adalah salah satu hal yang paling dinanti dalam sebuah pernikahan. Begitu pun yang diharapkan oleh Raditya dan Riena. Namun, apa jadinya jika kehamilan itu justru datang disaat kondisi psikologis Reina masih belum pulih benar dari traumanya? Alih-alih merayakan kabar kehamilan tersebut dengan pesta tasyakuran secara besar-besaran, diam-diam Riena malah berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Raditya. Bahkan dia memutuskan untuk pergi menjauh dari suaminya itu.

Apakah yang terjadi sebenarnya? Akankah Raditya masih sanggup berjuang demi mempertahankan mahligai rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part twenty nine

"Reyhan," gumam Raditya dengan suara yang teramat lirih.

"Siapa, Dit?" tanya Retno yang masih menunggu sang putra untuk mengatakan nama pria yang sudah berani menyentuh menantu kesayangannya.

Raditya mengatur napas dengan tangan mengepal. Jika yang disampaikan informan ini benar adanya, tentu dia tidak sanggup menahan dirinya untuk memberi pelajaran pada pria yang dimaksud. Namun, tanpa bukti nyata, Raditya juga tidak boleh bertindak gegabah.

"Dit? Siapa laki-laki bangsattt itu? Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal," kecam Retno.

"Mama tunggu di sini dulu. Radit akan memastikan sesuatu. Kalau Riena sudah bisa kita temui, mama harus segera menghubungi Radit." Pria tersebut bergeges melangkahkan kaki menuju lobby. Entah rencana apa yang ingin dijalankan.

Tidak lama setelah kepergian Radit, seorang dokter perempuan didampingi suster masuk ke dalam ruang pemeriksaan Riena. Meski penasaran dan ingin ikut masuk ke dalam sana, Retno memilih untuk tetap menunggu di luar. Dia tidak mau membuat Riena yang memang sedang tidak mengharapkan keberadaan banyak orang di sekitarnya semakin merasa tidak nyaman.

"Apa ibu masih pusing?" tanya dokter sembari menerima sebuah map hijau berisi berkas laporan pemeriksaan darah Riena.

"Tidak, dok. Saya sudah enakan. Saya ingin pulang," jawab Riena sembari berusaha bangkit dari posisi berbaring nya.

Dokter itu pun tersenyum mendengar jawaban Riena. "Alhamdulillah kalau begitu. Apa yang ibu alami, lumrah terjadi di awal kehamilan. Tidak jarang ada yang sampai harus mendapatkan ...."

Riena buru-buru turun dari brankar tempatnya berbaring. Dia sungguh tidak tertarik mendengarkan penjelasan dari dokter lebih lanjut. "Kita pulang, Ma. Rien sudah baik-baik saja."

"Tapi, Bu, kita masih harus melakukan pemeriksaan lagi. Akan lebih baik kalau kita melakukan USG untuk menentukan usia kehamilan Ibu. Di samping itu, kondisi ibu saat ini membutuhkan vitamin khusus agar perkembangan janin dan kesehatan ibu sendiri tidak terganggu," kata si dokter.

Namun Riena bersikukuh pada keinginannya. Bahkan rayuan Rosyani pun tidak diindahkan. Hanya satu hal yang terlintas dipikirannya saat ini, bahwa apa yang dikatakan oleh dokter adalah sebuah kesalahan semata.

Riena terus berjalan, membuka pintu ruangannya dengan cepat dan semakin mantap melangkahkan kaki meninggalkan dokter, Rosyani dan perawat yang mengejarnya sembari terus berupaya mengingatkan Riena akan kondisinya saat ini.

Retno yang masih setia menunggu di luar, tentu saja ikut terkejut sekaligus terheran-heran dengan sikap Riena. Dia yang tengah berdiri di tempat yang akan dilalui sang menantu, segera memasang badan dan bersiap untuk mencekal pergelangan tangan Riena.

"Mau kemana, Rien? Kamu tidak pakai sendal, loh. Kembali ke ruangan, yuk! Mama temenin," ajak Retno dengan hati-hati mencoba merayu Riena.

Rupanya, Riena baru tersadar kalau dia datang ke rumah sakit tentunya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tidak hanya Retno, tentu suaminya pun sedang ada di sana. Menyadari hal itu, Riena memutuskan untuk menjaga emosinya. Dia memilih duduk di bangku besi panjang.

"Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lain kali, Dok, Sus. Terimakasih, maaf membuat kalian repot," ucap Riena pada dokter dan suster yang turut mengejarnya bersama Rosyani.

Membaca apa yang sedang ada di pikiran Riena, Rosyani mengajak dokter dan suster untuk berbincang sejenak sembari berjalan menjauhi posisi Riena. Perempuan tersebut sepertinya sedang menjelaskan sesuatu. Sementara itu, Retno dengan cekatan juga sudah mengirimkan pesan singkat pada Raditya perihal kondisi terkini Riena saat ini.

"Ada apa sebenarnya, Mbak? Riena harus periksa apa?" tanya Retno pada Rosyani begitu dokter dan suster meninggalkan mereka.

"Tidak ada, Mbak. Nanti kita bicarakan di rumah. Mana Radit? Biar selesaikan administrasinya dulu." Rosyani lalu menghampiri Riena dan ikut duduk di sana.

Belum sampai Retno menjawab, Radit sudah muncul dengan langkah tergesa dan napas terengah-engah. Dia langsung menghampiri Riena yang tampak duduk melamun.

"Mana yang sakit?" tanya Radit dengan lembut.

Riena hanya menggelengkan kepalanya. Sudah habis daya dan tenaga karena kekhawatiran yang nyata kini dirasakan. Bibirnya mengatup rapat. Seakan terkunci akan kabar kehamilan yang sesungguhnya sedang tidak ia harapkan.

"Aku mau pulang," pinta Riena dengan pandangan yang masih kosong.

Raditya lalu kembali berdiri untuk melakukan pembayaran biaya penanganan Riena. Namun, sesaat ketika dia berbalik badan, dia kembali melihat sosok Reyhan keluar dari ruangan sembari menuntun anak perempuan berusia sekitar tujuh tahunan. Garis wajah anak perempuan tersebut sangat tidak asing dengan penglihatan Raditya. Mendadak jantungnya berdegup sangat kencang.

Riena yang sudah tidak sabar untuk segera pulang. Dia ikut berdiri---tidak sengaja tatapan matanya tertuju pada sosok laki-laki yang tadinya juga menjadi objek perhatian Raditya. Tangan dan kakinya seketika gemetaran. Wajah Riena memucat. Keringat dingin bercucuran menjatuhi wajahnya. Ingin dia berteriak mencaci, meluapkan amarah dengan pukulan kaki atau pun tangan. Namun, entah mengapa? Riena malah tidak berdaya.

Semakin sosok yang di maksud itu mendekat untuk melewati jalan di mana Riena berada, barulah Raditya terpikir inilah saatnya untuk memastikan kebenaran dari informasi yang diberikan intelejen swasta yang dia sewa. Menyadari reaksi Riena yang tidak biasa, dia pun semakin yakin, jika sosok pria yang berani menyentuh istrinya memanglah Reyhan---kekasih dari Ramona---perempuan yang dengan suka rela menawarkan tubuhnya untuk ia tiduri pada perayaan ulang tahun kekasihnya sendiri.

Tanpa berpikir panjang, Raditya langsung menghampiri sosok itu. Tidak ada pertanyaan basa basi yang diberikan. Sebuah hantaman dari kepalan tangan kekar Raditya, tepat mengenai rahang kiri pria bernama Reyhan itu tanpa perlawanan. Bahkan, adanya sosok anak kecil di samping Reyhan, tidak menyurutkan sedikit pun niat Raditya untuk membuat sedikit perhitungan. Karena balasan yang lebih besar, tentunya juga akan diberikan.

Retno dan Rosyani hendak melerai apa yang dilakukan Raditya. Melakukan tindakan seperti itu di area publik, jelas adalah tindakan gegabah. CCTV pastilah terpasang di segala arah. Namun, tidak demikian dengan Riena. Matanya berkaca-kaca disertai sorot kebencian yang terpancar nyata. Tangannya bahkan ikut mengepal menyaksikan Raditya kembali melayangkan bogem mentah pada lawan yang sudah tersungkur sekali lagi. Tangisan dan teriakan histeris si anak kecil tidak juga meluluhkan hati Raditya yang sudah diselimuti kemarahan yang membabi buta. Riena tanpa sadar menikmati apa yang dilakukan suaminya.

Hingga dua orang security yang dipanggil oleh pengunjung rumah sakit yang melihat kejadian itu datang mengamankan Raditya. Retno buru-buru mengikuti sang putra yang di bawa ke pos keamanan. Sementara Rosyani yang bingung harus berbuat apa, memilih merangkul Riena. Di sana dia baru menyadari betapa tubuh anaknya itu sedang bergetar hebat.

"Lepaskan, Rien, Ma, lepaskan!" Riena menjauhkan tangan Rosyani dari lengannya. Dengan langkah kaki gemetaran dia berjalan mendekati kerumunan orang yang sedang berusaha menopang tubuh sosok pria yang sudah merengut kehormatannya sebagai seorang istri. Suara tangisan mengiba dari anak kecil tadi masih terdengar, beberapa orang yang berusaha menenangkan, tidak berhasil melakukannya.

"Dia tidak berhak mendapatkan pertolongan kalian!" teriak Riena dengan suara bergetar menunjuk pada sosok Reyhan.

1
Surati
bagus
Diii
aahh...tissuku abis ...mas Raditya tolong beliin😭😭
Diii
bukan Rino atau Reno terus siapa lagi yang ada maksud jahat nih....yang benci Raditya atau Reina atau malah yang cinta sama reina sampe berbuat kayak gitu
Diii
Reno pasti
Diii
ada dendam apa ya? sepertinya tokoh Raditya nih orang Baek baek
Diii
Reno Rino terus yang dimakamkan siapa nya mereka....penarasan banget
Diii
aduh Thor....bawangnya kebanyakan ...ga kuat akuhhhhh
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: peluk kakak
total 1 replies
Diii
tiba2 netes sendiri ...hujan dipelupuk mata😭😭
Ummi Lestari
bagus
Shifa Burhan
salah seorang istri bukan dirinya sendiri dan Allah tapi seorang istri, suaminya juga berhak mengaturnya, pahami itu kalau mau pakai hukum Islam,
???
untung dah punya contact nya kalo gk, gk tau deh kecewa nya kaya apa😊😇
???: iya apalagi yg "sisa rasa" itu beeehh.. sedih bgt🤧
total 4 replies
???
haduh.. dari tadi ngelawak trs si Radit🙈🙈🤣🤣
???
pokoknya ngakak poll🤣🤣🤣🤣
???
ya ampun 🙈🙈🙈
???
yakin cuma satu Ren? gk enak, kasian nanti anaknya gk punya sodara buat berbagi
???
yah si ibuk ni ngomongnya kaya rem blong😐
???
minta apa Dit? jangan yg aneh2 loh ya😌
???
lndomart, indoapril, indomei apa pun indo-nya cuma indomie.... se le ra ku.. 🤭🤣
Ibelmizzel
nampakny riena hamil anakny Raditya soalny Raditya yg gidam.
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih sudah membaca kisah Riena Raditya.. temukan jawaban di bab selanjutnya
total 1 replies
Ibelmizzel
siapa lagi orang bermasker tu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!