Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Martabak Manis
"Singapura? Jangan bercanda, walaupun ada paket perjalanan murah, tapi uangnya sayang. Ini adalah tabunganmu selama bertahun-tahun. Bahkan untuk dua tiket pulang-pergi, setengah uangnya sudah habis. Lebih baik kita menabung untuk membeli rumah kecil, suatu hari nanti." Kata-kata penuh semangat darinya mengira isi di kartu ATM yang diberikan Raka sekitar 20 juta.
Raka hanya dapat menghela napas berkali-kali. Ini adalah pacarnya, seharusnya mendapatkan perlakuan lebih istimewa dari pada tunangan Imanuel.
Handphone android second, dengan menggunakan WIFI super lemot, akibat masih banyak penghuni kost yang belum berangkat digunakannya. Pemuda yang membuka akun media sosial Imanuel. Hanya foto kekasihnya yang ada di sana, memamerkan tas bermerek, serta makanan mahal, bahkan ada diantaranya desert yang terbuat dari emas. Perawatan kulit di luar negeri, operasi plastik, sulam alis, hewan peliharaan dengan biaya perawatan mahal. Cinta adalah hal yang mahal, itulah yang diyakininya untuk membahagiakan pasangannya nanti.
Tapi wanita ini.
"Raka, aku mau mandi dulu." Ucap Fujiko mencuci piringnya sendiri, kemudian menggaruk-garuk p*ntatnya berjalan menuju kamar mandi.
Inilah pacarnya, ternyata tetangga kost yang sering dimintai makanan dan sabun olehnya. Wajahnya tersenyum-senyum sendiri, benar-benar gemas rasanya. Persahabatan yang menjadi hubungan kasih, tidak mengubah apapun, namun sukses membuat hidupnya dari TV analog hitam putih menjadi TV digital dengan warna yang benar-benar cerah.
*
Hari semakin sore, hal yang Fujiko lakukan hanya tidur dan minum obat mengingat kondisi kesehatannya yang tidak baik. Sedangkan Raka masih duduk di kursi meja belajar, entah mengerjakan apa. Kacamata baca dikenakannya, benar-benar terlihat serius, dengan kaos bergambarkan calon kepala desa.
Jemari tangannya bergerak cepat, berkonsentrasi membaca sesuatu di laptopnya satu persatu. Mata yang begitu fokus, benar-benar terlihat berbeda dari Raka yang biasanya.
"Kamu sedang apa? Menjadi ghost writer?" tanya Fujiko dengan kondisi kesehatan lebih baik, setelah kembali tidur beberapa jam.
"Tidak menjalankan pekerjaanku yang lain. Kenapa? Kamu mau cemilan? Biar aku belikan." tanya Raka membuka kacamata bacanya.
"Ti... tidak," ucap Fujiko gugup, nada bicara yang berbeda kali ini. Tidak terkekeh seperti biasanya, pemuda yang selalu menumpang mandi padanya kini bersikap lebih dingin. Apa Raka memang seperti ini jika sedang bekerja?
Sang pemuda meraih phonecellnya sambil memakan sisa sandwich tadi pagi dan roti yang hampir kadaluarsa.
"Kamu sedang apa?" tanya Fujiko masih duduk di tempat tidur.
"Memesan makanan," jawaban dari Raka.
Fujiko melangkah, menyambar phonecell Raka. Membatalkan order makanan."Sudah aku bilang, kita harus hemat," tegas gadis itu, mengambil roti yang hampir kadaluarsa milik kekasihnya, kemudian memakannya.
"Jangan! Nanti perutmu sakit dan---" Kata-kata Raka terpotong. Tiba-tiba Fujiko yang ada di hadapannya mencium bibirnya, hanya kecupan singkat.
"Aku mencintaimu," Kata-kata yang membuat Raka terdiam sesaat, me-restart otaknya.
Pemuda itu terdiam bibirnya terasa kelu. Tidak ada yang diucapkannya. Mengapa harus seperti ini? Padahal dalam imajinasinya, memiliki kekasih berarti harus memanjakannya.
Ingin rasanya menerkam Fujiko saat ini juga, tapi tetap saja tidak bisa. Jemari tangannya menarik Fujiko dalam pangkuannya. Kembali mengenakan kacamata bacanya."Diam di pangkuanku dan jangan bicara." Kata suruhan darinya, tidak ingin kehilangan waktu untuk bersama sedikitpun.
Gadis itu menelan ludahnya, terasa aneh saat ini, menatap wajah serius itu lebih dekat. Matanya sedikit melirik sesuatu yang dikerjakan kekasihnya. Seperti dokumen berbahasa asing, Raka terlihat fokus membacanya satu persatu.
Hingga melihat dokumen tersebut, dirinya dapat menebak profesi lain kekasihnya. Ini sudah pasti, kekasihnya bukan orang biasa.
"Kamu menjadi penerjemah artikel online ya?" tanya Fujiko. Membuat Raka lagi-lagi menghela napasnya.
"Tidak, aku---" Kalimatnya terpotong lagi-lagi sahabatnya yang telah menjadi kekasih, mencium pipinya.
"Hebat! Walaupun lulusan SMU ternyata kamu pintar," pujian yang membuat Raka menurunkan tubuh Fujiko. Tidak ingin dirinya terpengaruh sama sekali, benar-benar sial! Mengapa Fujiko lebih agresif ketika menjadi kekasihnya.
Laptop segera ditutupnya, berjalan meninggalkan kamar dengan langkah cepat.
"Mau kemana?" tanya Fujiko.
"Keluar sebentar!" jawaban dari Raka terkesan acuh.
Fujiko mengenyitkan keningnya, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Apa Raka marah? Entahlah, dirinya hanya ingin istirahat. Mengingat nanti sore harus kembali ke rumah ayahnya.
*
Pemuda itu berjalan cepat setelah turun dari sepedanya membawa tas belanja berlabel C*rcle K. Melangkah menuju kamarnya.
"C*rcle K? Biasanya jajanan yang hampir kadaluarsa di warung atau promosi beli dua gratis satu di Indom*ret. Kamu habis menang togel ya?" tanya Ragil tiba-tiba muncul entah darimana.
"Baru dapat jatah habis-habisan kemarin. Leher Raka mengenaskan, Fujiko yang ada di atas, bergerak seperti coboy." Celetuk Cahaya yang baru saja memarkirkan motornya.
Evi yang memang duduk di teras menyela."Tidak, jangan begitu, mereka hanya teman. Iya kan Raka?"
"Kami adalah pacar. Aku punya pacar sekarang." Jawaban datar tanpa ekspresi darinya membuat semua orang terdiam.
Prang!
Gelas di tangan Evi pecah berhamburan terjatuh ke lantai."Ka... kalian mengaku? Kalian pacaran? Tidak kumpul kebo berkedok teman lagi? Tapi sudah resmi kumpul kebo?"
"Kami pasangan kumpul kebo. Sttt... jangan beritahu siapa-siapa," Raka tersenyum, mengacungkan jari telunjuk di depan mulutnya, kemudian memasuki kamar kost.
Dengan cepat Evi bergerak menggedor-gedor pintu."Woi! Traktir! Ada restaurant Eropa di ujung jalan! Traktir!" teriak gadis itu.
"Restauran Eropa? Traktir bakso di depan rumah saja Raka tidak mungkin mampu," Ragil menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan tingkah Evi.
"Kamu tidak mengenal Raka, jika dia mau kampus kita bisa dibelinya..." Kata-kata serius dari Evi, disambut dengan gelak tawa kedua sahabatnya.
Dengan cepat Raka menyembunyikan tas dengan tulisan C*rcle K. Mengeluarkan semua isinya. Kemudian kembali membangunkan Fujiko.
"Ini cemilan untukmu, aku membelinya di warung depan," dusta sang pemuda penuh senyuman.
"Sudah aku bilang kita harus berhemat!" tegas Fujiko, membuka salah satu cemilan, kemudian menyuapi kekasihnya.
Raka tertawa kecil dengan mulut penuh. Inilah wanita yang akan menjadi istrinya.
*
Hari sudah mulai sore, Raka mengenakan sweater berwarna putih serta celana jeans hitam. Membonceng Fujiko hendak bertemu calon mertuanya. Hingga sang pemuda menghentikan motornya di depan sebuah toko kue.
"Kita beli oleh-oleh dulu," ucap Raka.
"Jangan disini! Di seberang jalan saja! Kita beli martabak manis!" Fujiko menunjuk penjual martabak pinggir jalan.
"Ta...tapi..." Sang pemuda terlihat ragu, kesan pertama untuk calon mertua harus naik bukan?
"Ingat kita harus berhemat untuk masa depan. Ayah juga akan mengerti jika aku menjelaskan. Ayolah sayang..." pinta Fujiko, tidak ingin merepotkan kekasihnya, mengingat Raka untuk makan saja susah.
Mungkin Raka juga sudah berusaha mati-matian untuk membahagiakannya. Menguras semua uangnya untuk belanja bulan ini hanya untuk membeli di toko kue? Tidak martabak manis sudah cukup, ayahnya akan mengerti.
*
Motor terhenti di halaman depan, sebuah mobil lain juga terparkir di bahu jalan, depan rumah. Pasangan itu turun perlahan, kemudian berjalan masuk. Mata mereka menelisik menatap Sean yang terlihat akrab dengan Firman, bahkan Rosita dan Tari tertawa bersama. Seakan Sean sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Paperbag terlihat, berisikan coklat mahal dan kue kering, serta brownies.
Raka menelan ludahnya sendiri, memegang sebungkus martabak manis. Apa pacarnya akan direbut?