Pernikahan tanpa didasari dengan rasa cinta, vivi tidak pernah membayangkan akan menikah kontrak dengan BOSSnya yang super jutek dan galak itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri wahdania Wahda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
#Autor
Pagi pagi sekali Rendi bangun memasak bubur untuk Vivi, setelah masak ia membawanya ke kamar Vivi hanya saja Vivi belum bangun, Rendi menyimpan bubur di atas meja dan siap siap ke kantor karna hari ini ada pertemuan dengan para investor.
Jam sudah menunjukan pukul 07.00 Vivi bengun dan
mendapati ada bubur di atas meja, dia ambil bubur itu kemudian dia memakannya. Setelah selesai makan Vivi ke kamar mandi dan siap siap ke kantor dia merasa sudah lebih baik.
Vivi menuju kantor mengendarai mobil pemberian Rendi, setelah sampai Vivi memarkir mobilnya dan melangkah menuju ruangannya, beraktivitas seperti biasa, saat Vivi sudah sampai Rendi tidak ada di ruangannya karna sedang ada pertemuan dengan investor investor. Vivi hanya memeriksa data data kantor dan data data para clien.
Drrrrrrttttt! Drrrrrrtttt! Drrrrrttt!
Handpone Vivi berbunyi, diambilnya handpone tersebut kemudian menjawab panggilan masuk.
"Halo." Ujar Vivi.
"Halo kakak." Ujar Reva.
"Reva, bagaimana kabar kamu." Ujar Vivi bahagia mendapat telfon dari sang adik.
"Akuu baik kak, dan sekarang dokter sudah mengizinkan aku keluar. Aku kangen banget sama kakak." Ujar Reva dengan nada merengek manja.
"Kakak juga kangen banget sama Reva." Ujar Vivi.
"Setelah aku sembuh total, aku akan pulang ke indonesia. Sudah gak sabar ingin ketemu kakak." Ujar Reva.
"Kakak juga sudah gak sabar ingin ketemu kamu." Ujar Vivi.
Mereka ngobrol cukup lama dan kemudian memutuskan telfonnya karena Reva harus beristirahat
Jam sudah menunjulan pukul 15.00 Vivi membereskan meja kantornya dan bergegas pulang.
Hari hari Vivi lalui dengan aktivitas kantornya dan sesekali berlibur bersama Rendi, sebenarnya Vivi tidak ingin lagi berurusan denga Rendi karna takut membuat kenangan terlalu banyak, tapi tau sendirikan Rendi kalau sudah bilang pergi yah pergi gak boleh nolak.
***
Tidak terasa sudah satu tahun pernikahan mereka dan besok ada lah hari perceraian mereka. Rendi berencana akan melamar Vivi besok malam setelah perceraian, melamar tanpa ada kontrak lagi kini dia yakin kalau dia sudah mencintai Vivi.
Seperti hari hari biasa, hari ini Vivi masih melakukan aktifitas kantor bertemu dengan clien.
Vivi menuju parkiran mobil dan mengendarainya menuju salah satu restoran tempat mereka janjian.
"Sudah lama menunggu yah Bim." Ujar Vivi setelah sampai. yah hari ini cliennya adalah Bima yang pernah jadi tetangga apartemennya, dan setelah pertemuan tenpo hari mereka tidak pernah lagi bertemu karna Bima pindah apartemen di tambah lagi mereka sama sama sibuk, dan inilah pertemuan ke dua mereka.
"Tidak juga kok." Ujar Bima.
Mereka kemudian memesan makanan dan membicarakan proyek perusahaan.
Jam sudah menunkukan pukul 18.00.
"Setelah ke sini kamu ada acara lain gak ?" Tanya Bima.
"Setelah ini langsung pulang gak ada acara lagi, kenapa ?" Tanya Vivi.
"Teman SMA ku menikah dan aku di undang tapi aku gak punya pasangan, kamu mau temenin aku ke pesta sebentar doang, setelah stor muka kita langsung pulang aja kalau kamu gak nyaman. Pliss." Ujar Bima.
"Hhhhhmmmmm, Baik lah." Ujar Vivi setelah menimang nimang, dia memutuskan untuk menyetujui ajakan Bima karna mungkin besok dia akan pergi dari jakarta, dan Bima agak maksa juga.
"Thanks beby, sebentar jam 19.00 aku jemput kamu yah." Ujar Bima.
"Oke, aku pulang duluan yah." Ujar Vivi kemudian melangkah keluar menuju parkiran meninggalkan Bima yang masih duduk di restoran.
Jam sudah menunjukan 18.00 Vivi mulai siap siap buat ke acara pesta pernikahan temannya Bima, dia ingin meminta izin ke Rendi hanya saja Rendi belum pulang, Vivi hanya mengirim pesan singkat bahwa dia menemani temannya ke acara pernikahan namun Rendi tidak membalasnya dan Vivi menyimpulkan kalau Rendi menyetujuinya.
Setelah dandan Vivi menunggu Bima menjemputnya, tidam lama kemudian Bima datang mereka langsung menuju pesta pernikahan temannya Bima.
Saat mereka sampai Vivi kaget karna Rendi juga ada di sana dan dia menggandeng Rosa, Vivi melihat itu semua serasa hatinya hancur ternyata Rendi tidak membelas chatnya karna sedang bersama Rosa.
Rendi dan Rosa satu sekolah dengan yang mempelai dan dia juga di undang. Mereka berpapasan, wajah Rendi tampak marah menahan amarah melihat istrinya bergandengan tangan dengan pria lain tapi tidak mungkin juga dia marah di keramaian.
Acara berlangsung Rosa mengambil minuman dan mencampurnya dengan obat cinta dengan maksud Vivi bercinta dengam Bima dan membuat Rendi marah.. karna dia tau kalau Rendi dan Vivi hanya menikah kontrak dan besok adalah akhir perjanjiannya, dan Rendi berencana melamar Vivi di hari perceraian mereka, Rendi meminta Rosa menjauhinya. Rosa menyetujuinya dengan syarat Rendi ke pesta pernikahan teman SMAnya tidak membawa Vivi karna Rosa berasalan dia belum mendapatkan teman untunk di ajak ke acaraa pesta pernikahan temannya dan berjanji tidak akan mengganggu hubungannya lagi dengan Vivi. Bukan betul betul tidak ingin mengganggu hubungan Rendi dan Vivi tapi Rosa mempunyai rencana licik, dia menyuruh Bima yang juga teman SMA nya untuk mengajak Vivi ke pesta karna Bima juga menyukai Vivi jadi dia mengikuti rencana licik Rosa.
Rosa kemudian menyuruh Bima memberikan minuman hasil racikannya ke Vivi.
Vivi tidak curiga dan langsung meminum minuman yang di berikan Bima.
Setelah meminum Vivi merasa kepalanya pusing dan meminta Bima mengantarnya pulang. Bima membawa Vivi ke parkiran mobil untuk memulai rencana selanjutnya. Rendi yang melihat Vivi dan Bima keluar langsung mengikutinya tanpa menghiraukan Rosa, saat Bima membukakan Vivi pintu mobil belum saja Vivi benar benar duduk Rendi langsung datang dan menarik tangan Vivi kemudian memonjok Bima mengeluarkan kekesalannya dari tadi. setelah menonjoknyan dan merasa cukup puas Rendi meninggalkan Bima yang lagi merintih menahan sakit.
Rendi membawa Vivi ke mobilnya dan mengantarnya pulang. Vivi mulai gerah dan ingin membuka bajunya tapi di tahan oleh Rendi dan tangan Vivi di ikat oleh dasi Rendi, bukan Rendi sok suci yah hanya saja ini di jalan.
setelah sampai apartemen Rendi menggendong ViVi masuk ke aparteme dan membawanya ke kamar tidur, kemudian mereka bercinta sebenarnya Rendi tidak ingin mengambil kesempatan hanya saja Vivi terus mencumbunya yang membuat Rendi tidak tahan lagi.
Rosa sangat geram karena rencananya gagal, dia belum menyerah dan membuat rencana baru.
Pagi pagi Vivi sudah bangun dan mendapati Rendi di sampingnya tanpa sehelai benang begitupun dengan dirinya di lihatnya badan Rendi yang penuh dengan kissmark karna ulahnya dia hanya mengingat kalau dirinya meminum minuman yang di berikan Bima dan kepalaya pusing.
"Arrrrrgghg, ini pasti perbuatan Bima. Seharusnya aku tidak mempercayainya." Ujar Vivi di liriknya kembali badan Rendi yang penuh Kissmark betapa malunya Vivi.
"Pasti semalam aku agresif sampai sampai badan Rendi penuh dengan kissmark. arrrerggg." Ujar Vivi menutup wajahnya.
Dia kemudian turun dari tempat tidur dengan hati hati agar Rendi tidak terbangun dan ke kamar mandi membersihkan diri.
Setelah keluar kamar mandi Vivi mengecek Handponenya ternyata ada pesan masuk dan itu adalah pesan Rosa.
Vi ada yang mau aku omongin ke kamu, kita ketemu di Retoran. begitulah isi pesan singkat yang di terima Vivi.
Vivi kemudian berpakaian dan menuju Restoran yang di maksuk dalam google maps yang di kirim Rosa...
setelah sampai Rosa sudah ada di sana menunggu..
"Sudah lama menunggu yah." Ujar Vivi menghampiri Rosa.
"Tidak kok, baru saja sampai." Ujar Rosa ramah.
Mereka memesan makanan, kebetulan Vivi juga belum sarapan. Setelah makan Rosa kemudian menyodorkan undangan.
"Sebenarnya sebentar lagi aku dan Rendi bakalan menikah, dia menyuruhku memberitu kamu undangan pernikahan kami, dia merasa tidak enak bila memberitau kamu langsung karna kamu selama ini sudah baik." Ujar Rosa ke Vivi.
"Aku mengerti kok. Selamat yah." Ujar Vivi berusaha tersenyum, dia tau kalau ini bakalan terjadi.
"Ini surat perceraian kalian, Rendi menyuruh aku memberikannya ke kamu. Dia merasa tidak enak bila memberikan langsung." Ujar Rosa dan mereka berdua meninggalkan Restoran tersebut.
Rendi sudah bangun dan Vivi sudar tidak di sampinya Rendi berfikir mungkin Vivi sudah ke kantor. Dia kemudian mandi, setelah mandi dia mengendarai mobilnya menuju hotel tempat acara semalam dia ingin melihat CCTV yang ada di hotel, dia ingin mencari bukti untuk mencobloskan Bima ke jeruji besi karna berani bermain main dengan istrinya. Yah, maklum Bima juga orang berpengaruh tidak mudah memenjarakannya tanpa bukti yang kuat.
Setelah sampai di rumah Vivi tidak mendapati Rendi lagi, dia pasti tidak ingin melihatku lagi. Batin Vivi.
Vivi mengemas barang yang perlu dia bawa saja, dan menandatangani surat perceraian kemudia menyimpannya diatas meja kamar Vivi dengan gelang giok pemberian mertuanya. Vivi merasa sudah tidak pantas memakainya, gelang giok itu bukan miliknya dari awal karna dia bukan istri yang di inginkan Rendi.
Vivi menuju bandara untuk menjemput Reva adiknya di Amerika.Vivi memang sudah merencanakan jauh jauh hari. Setelah sampai Amerika, Vivi hanya bermalam satu hari dan kembali ke jakarta. Sesampainya di jakarta Vivi langsung ke bandung di kampung halaman neneknya, walaupun neneknya sudah meninggal tapi di desa masih memiliki rumah peninggalan neneknya. Reva dan Vivi memulai hari harinya di desa dan membuka usaha rumah makan dari hasil tabungannya selama ia bekerja.
Rendi baru mengetahui kalau yang memberi obat Vivi adalah Rosa. Rendi marah besar dan memperingati Rosa kalau dia tidak ingin melihatnya lagi muncul di hadapannya. Rosa masih untung karna Rendi tidak memenjarakannya mengingat orang tua Rosa sudah meninggal dan Rosa juga teman masa kecilnya.
Rendi kemudian menuju kantor tidak ingin menunda lagi dia ingin segera melamar Vivi, tapi Vivi tidak ada di kantor, dia kemudian pulang ke rumahnya.
Mungkin Vivi ada di rumah. Batin Rendi.
Sesampainya di rumah Rendi langsung mencari Vivi.
Rendi masuk ke kamar Vivi dan mendapati surat perceraian yang sudah di tandatangani oleh Vivi dan mendapati gelang giok pemberian mamahnya untuk Vivi, juga ada kertas kecil yang bertulis.
Terima kasih selama ini sudah membantu membiayai pengobatan Reva, dan selamat atas pernikahan kamu dengan Rosa. Maaf jika selama ini aku ada salah. salam Vivi. begitulah isi surat tersebut.
Rendi langsung mengambil paspor dan memesan tiket menuju Amerika dengan harapan Vivi di sana menemui Reva sesampainya di amerika Rendi tidak memdapati Reva dan ViVi dia kemudian kembali kejakarta dan menyuruh bawahannya memeriksa tempat asal Vivi.
*****
Setelah bermingu minggu Rendi mencari Vivi akhirnya ia di beri kabar oleh bawahannya bahwa sang istri kemungkinan berada di sebuah desa tempat asalnya dulu. Rendi yang mendengar kabar bahagia itu tidak menyia nyiakan waktu dan segera berangkat menemu sang pujaan hatinya, tak lupa ia menyiapkan kembali acara pelamaran yang tertunda akibat mengilangnya Vivi.
Di perjalanan Rendi terus tersenyum mengingat wajah sang istri yang sebentar lagi dirinya akan bertemu, betapa rindunya ia kepada Vivi. Jika ia benar benar tidak dapat menemukan Vivi, mungkin ia akan gila karena rasa rindu.
Butuh 5 jam perjalanan dari bandara menuju kampung Vivi tak membuat Rendi lelah, yang ia rasakan sekarang hanyalah perasaan bahagia. Ia tidak tau Vivi akan menerima dirinya lagi atau akan menolaknya, tetapi yang jelas ia cukup bertemu dengan Vivi dulu untuk sekedar melepas rindu. Untuk hal di terima atau tidak, nanti ia pikirkan lagi.