NovelToon NovelToon
Istri Balas Dendam CEO Winter

Istri Balas Dendam CEO Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Winter Alzona, CEO termuda dan tercantik Asia Tenggara, berdiri di puncak kejayaannya.
Namun di balik glamor itu, dia menyimpan satu tujuan: menghancurkan pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya—Darren Reigar, pengusaha muda ambisius yang dulu menginjak harga dirinya.

Saat perusahaan Darren terancam bangkrut akibat skandal internal, Winter menawarkan “bantuan”…
Dengan satu syarat: Darren harus menikah dengannya.

Pernikahan dingin itu seharusnya hanya alat balas dendam Winter. Dia ingin menunjukkan bahwa dialah yang sekarang memegang kuasa—bahwa Darren pernah meremehkan orang yang salah.

Tapi ada satu hal yang tidak dia prediksi:

Darren tidak lagi sama.
Pria itu misterius, lebih gelap, lebih menggoda… dan tampak menyimpan rahasia yang membuat Winter justru terjebak dalam permainan berbeda—permainan ketertarikan, obsesi, dan keintiman yang makin hari makin membakar batas mereka.

Apakah ini perang balas dendam…
Atau cinta yang dipaksakan takdir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — “Permainan yang Berbalik Arah”

​Jakarta diguyur hujan deras sore itu, seolah langit ingin mencuci sisa-sisa ketegangan dari konferensi pers yang menghebohkan. Namun di dalam kantor CEO Alzona Group, atmosfernya justru semakin pekat. Winter duduk di belakang meja besarnya, menatap layar televisi yang masih menyiarkan potongan video Darren yang menggenggam tangannya.

​"Analisis sentimen mencapai angka delapan puluh persen positif, Nona Winter," lapor seorang staf humas dengan wajah berseri-seri. "Tagar #AlzonaReigar menjadi tren nomor satu. Publik menyukai narasi 'kesempatan kedua' ini. Investor yang tadinya ingin menarik diri kini justru meminta pertemuan tambahan."

​Winter hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat agar staf tersebut keluar. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, merasa hampa.

​Semuanya berjalan sesuai rencana—bahkan lebih baik. Perusahaan selamat. Saham meroket. Namun, ada rasa pahit yang tertinggal di lidahnya. Selama sembilan tahun, ia telah melatih dirinya untuk menjadi satu-satunya nakhoda di kapal Alzona. Ia adalah wajah dari perusahaan ini, otoritas tunggal yang tak terbantahkan. Namun hari ini, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit di depan kamera, Darren Reigar telah mencuri sorotan itu.

​"Permainan ini sudah berbalik arah," gumam Winter pada dirinya sendiri.

​Dulu, ia yang memegang kendali atas Darren melalui kontrak. Ia yang menentukan kapan mereka tampil bersama, apa yang boleh dikatakan, dan seberapa lama Darren boleh berada di sekitarnya. Sekarang, Darren-lah yang menentukan narasi. Darren yang menyelamatkan reputasinya. Publik tidak lagi memuja Winter sebagai pemimpin wanita yang tangguh dan mandiri; mereka memujanya sebagai bagian dari pasangan Darren Reigar.

​Winter merasa seperti bidak catur yang tiba-tiba digerakkan oleh pemain lain.

​Perjalanan pulang ke penthouse dilakukan dalam keheningan yang menyesakkan. Darren duduk di sampingnya, sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan-pesan bisnis. Ia tampak sangat tenang, seolah-olah pengakuan cintanya di depan ratusan kamera tadi tidak membebaninya sama sekali.

​Sesampainya di rumah, Winter tidak bisa lagi menahan diri. Begitu mereka masuk ke ruang tamu yang luas, Winter berbalik dan menghadap Darren.

​"Kau merencanakannya, bukan?" tanya Winter, suaranya tajam seperti silet.

​Darren meletakkan tas kerjanya di sofa. "Merencanakan apa, Winter? Menyelamatkan perusahaanmu dari kehancuran?"

​"Merencanakan untuk menguasai opini publik! Kau tahu persis bahwa dengan menceritakan 'sejarah sembilan tahun' itu, kau akan membuat dirimu terlihat seperti pahlawan romantis dan aku terlihat seperti istri yang butuh perlindungan. Kau baru saja melucuti senjataku di depan seluruh dunia."

​Darren menatap Winter dengan pandangan datar, namun ada kilat kelelahan di matanya. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan agar Alzona tidak kolaps hari ini. Jika aku tetap menggunakan naskah kaku yang disiapkan Adrian, kau akan dianggap sebagai penipu. Aku memberikan mereka emosi karena emosi adalah satu-satunya hal yang tidak bisa digugat oleh fakta hukum."

​"Tapi kau melakukannya tanpa persetujuanku!" seru Winter. "Sekarang, setiap langkah yang kuambil akan selalu dikaitkan denganmu. Aku kehilangan dominasiku, Darren. Aku tidak bisa lagi menyingkirkanmu semudah yang aku rencanakan karena sekarang publik akan menganggapku sebagai monster jika aku menceraikan 'suami yang begitu mencintaiku' dalam enam bulan."

​Darren melangkah maju, membuat Winter mundur selangkah hingga terbentur meja marmer. "Jadi itu masalahnya? Kau takut kau tidak bisa menyelesaikan balas dendammu karena aku terlalu baik di mata orang lain?"

​"Aku takut karena aku tidak tahu siapa kau sebenarnya!" balas Winter, napasnya memburu. "Di depan kamera kau adalah suami yang setia. Di ruang rapat kau adalah mitra yang brilian. Tapi siapa kau di balik semua itu? Apakah kau benar-benar berpihak padaku, atau kau hanya sedang membangun panggung untuk mengambil alih Alzona sepenuhnya saat aku lengah?"

​Darren terdiam sejenak. Ia menatap Winter lama, sebuah tatapan yang membuat Winter merasa seolah-olah ia sedang diadili.

​"Jika aku ingin mengambil Alzona, Winter, aku sudah melakukannya saat kau di Tokyo," ujar Darren dengan nada yang sangat rendah dan dingin. "Aku tidak butuh konferensi pers untuk menghancurkanmu. Aku hanya butuh membiarkanmu bicara sendiri tadi pagi, dan kau akan hancur dengan sendirinya. Tapi aku memilih untuk berdiri di depanmu. Aku memilih untuk berbohong demi kebenaran yang lebih besar."

​"Kebohongan apa?"

​"Kebohongan bahwa aku tidak terluka saat kau memperlakukanku seperti musuh setelah semua yang kuberikan," sahut Darren. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. "Nikmati kemenangan sahammu hari ini, Winter. Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku melakukan ini untuk kekuasaan. Aku melakukan ini karena aku masih memegang janji yang kubuat sembilan tahun lalu, meski kau sudah melupakannya."

​Darren menutup pintu kamarnya dengan pelan, namun suaranya terdengar seperti dentuman keras di hati Winter.

​Winter berdiri sendirian di ruang tamu yang temaram. Ia melihat pantulannya di jendela kaca besar yang menghadap ke kerlap-kerlip Jakarta. Ia telah mendapatkan kembali hartanya, perusahaannya, dan reputasinya. Namun, keheningan di dalam rumah ini terasa lebih canggung dan menyakitkan daripada pertengkaran mana pun.

​Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah kecurigaannya adalah mekanisme pertahanan diri, ataukah ia memang sedang berada di tengah-tengah permainan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan? Darren mengendalikan segalanya dengan begitu halus hingga Winter merasa ia tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas sebagai dirinya sendiri.

​Malam itu, Winter duduk di meja makannya yang panjang, menatap piring yang kosong. Ia menyadari satu kenyataan pahit: dalam usahanya untuk membalas dendam dan mengendalikan Darren, ia justru berakhir menjadi orang yang paling tidak berdaya dalam hubungan mereka. Dominasinya telah runtuh, digantikan oleh ketergantungan yang tidak ia inginkan, dan oleh seorang pria yang keberpihakannya kini menjadi teka-teki terbesar dalam hidupnya.

​Jakarta diguyur hujan deras sore itu, seolah langit ingin mencuci sisa-sisa ketegangan dari konferensi pers yang menghebohkan. Namun di dalam kantor CEO Alzona Group, atmosfernya justru semakin pekat. Winter duduk di belakang meja besarnya, menatap layar televisi yang masih menyiarkan potongan video Darren yang menggenggam tangannya.

​"Analisis sentimen mencapai angka delapan puluh persen positif, Nona Winter," lapor seorang staf humas dengan wajah berseri-seri. "Tagar #AlzonaReigar menjadi tren nomor satu. Publik menyukai narasi 'kesempatan kedua' ini. Investor yang tadinya ingin menarik diri kini justru meminta pertemuan tambahan."

​Winter hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat agar staf tersebut keluar. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, merasa hampa.

​Semuanya berjalan sesuai rencana—bahkan lebih baik. Perusahaan selamat. Saham meroket. Namun, ada rasa pahit yang tertinggal di lidahnya. Selama sembilan tahun, ia telah melatih dirinya untuk menjadi satu-satunya nakhoda di kapal Alzona. Ia adalah wajah dari perusahaan ini, otoritas tunggal yang tak terbantahkan. Namun hari ini, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit di depan kamera, Darren Reigar telah mencuri sorotan itu.

​"Permainan ini sudah berbalik arah," gumam Winter pada dirinya sendiri.

​Dulu, ia yang memegang kendali atas Darren melalui kontrak. Ia yang menentukan kapan mereka tampil bersama, apa yang boleh dikatakan, dan seberapa lama Darren boleh berada di sekitarnya. Sekarang, Darren-lah yang menentukan narasi. Darren yang menyelamatkan reputasinya. Publik tidak lagi memuja Winter sebagai pemimpin wanita yang tangguh dan mandiri; mereka memujanya sebagai bagian dari pasangan Darren Reigar.

​Winter merasa seperti bidak catur yang tiba-tiba digerakkan oleh pemain lain.

​Perjalanan pulang ke penthouse dilakukan dalam keheningan yang menyesakkan. Darren duduk di sampingnya, sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan-pesan bisnis. Ia tampak sangat tenang, seolah-olah pengakuan cintanya di depan ratusan kamera tadi tidak membebaninya sama sekali.

​Sesampainya di rumah, Winter tidak bisa lagi menahan diri. Begitu mereka masuk ke ruang tamu yang luas, Winter berbalik dan menghadap Darren.

​"Kau merencanakannya, bukan?" tanya Winter, suaranya tajam seperti silet.

​Darren meletakkan tas kerjanya di sofa. "Merencanakan apa, Winter? Menyelamatkan perusahaanmu dari kehancuran?"

​"Merencanakan untuk menguasai opini publik! Kau tahu persis bahwa dengan menceritakan 'sejarah sembilan tahun' itu, kau akan membuat dirimu terlihat seperti pahlawan romantis dan aku terlihat seperti istri yang butuh perlindungan. Kau baru saja melucuti senjataku di depan seluruh dunia."

​Darren menatap Winter dengan pandangan datar, namun ada kilat kelelahan di matanya. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan agar Alzona tidak kolaps hari ini. Jika aku tetap menggunakan naskah kaku yang disiapkan Adrian, kau akan dianggap sebagai penipu. Aku memberikan mereka emosi karena emosi adalah satu-satunya hal yang tidak bisa digugat oleh fakta hukum."

​"Tapi kau melakukannya tanpa persetujuanku!" seru Winter. "Sekarang, setiap langkah yang kuambil akan selalu dikaitkan denganmu. Aku kehilangan dominasiku, Darren. Aku tidak bisa lagi menyingkirkanmu semudah yang aku rencanakan karena sekarang publik akan menganggapku sebagai monster jika aku menceraikan 'suami yang begitu mencintaiku' dalam enam bulan."

​Darren melangkah maju, membuat Winter mundur selangkah hingga terbentur meja marmer. "Jadi itu masalahnya? Kau takut kau tidak bisa menyelesaikan balas dendammu karena aku terlalu baik di mata orang lain?"

​"Aku takut karena aku tidak tahu siapa kau sebenarnya!" balas Winter, napasnya memburu. "Di depan kamera kau adalah suami yang setia. Di ruang rapat kau adalah mitra yang brilian. Tapi siapa kau di balik semua itu? Apakah kau benar-benar berpihak padaku, atau kau hanya sedang membangun panggung untuk mengambil alih Alzona sepenuhnya saat aku lengah?"

​Darren terdiam sejenak. Ia menatap Winter lama, sebuah tatapan yang membuat Winter merasa seolah-olah ia sedang diadili.

​"Jika aku ingin mengambil Alzona, Winter, aku sudah melakukannya saat kau di Tokyo," ujar Darren dengan nada yang sangat rendah dan dingin. "Aku tidak butuh konferensi pers untuk menghancurkanmu. Aku hanya butuh membiarkanmu bicara sendiri tadi pagi, dan kau akan hancur dengan sendirinya. Tapi aku memilih untuk berdiri di depanmu. Aku memilih untuk berbohong demi kebenaran yang lebih besar."

​"Kebohongan apa?"

​"Kebohongan bahwa aku tidak terluka saat kau memperlakukanku seperti musuh setelah semua yang kuberikan," sahut Darren. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. "Nikmati kemenangan sahammu hari ini, Winter. Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku melakukan ini untuk kekuasaan. Aku melakukan ini karena aku masih memegang janji yang kubuat sembilan tahun lalu, meski kau sudah melupakannya."

​Darren menutup pintu kamarnya dengan pelan, namun suaranya terdengar seperti dentuman keras di hati Winter.

​Winter berdiri sendirian di ruang tamu yang temaram. Ia melihat pantulannya di jendela kaca besar yang menghadap ke kerlap-kerlip Jakarta. Ia telah mendapatkan kembali hartanya, perusahaannya, dan reputasinya. Namun, keheningan di dalam rumah ini terasa lebih canggung dan menyakitkan daripada pertengkaran mana pun.

​Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah kecurigaannya adalah mekanisme pertahanan diri, ataukah ia memang sedang berada di tengah-tengah permainan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan? Darren mengendalikan segalanya dengan begitu halus hingga Winter merasa ia tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas sebagai dirinya sendiri.

​Malam itu, Winter duduk di meja makannya yang panjang, menatap piring yang kosong. Ia menyadari satu kenyataan pahit: dalam usahanya untuk membalas dendam dan mengendalikan Darren, ia justru berakhir menjadi orang yang paling tidak berdaya dalam hubungan mereka. Dominasinya telah runtuh, digantikan oleh ketergantungan yang tidak ia inginkan, dan oleh seorang pria yang keberpihakannya kini menjadi teka-teki terbesar dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!