Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara dua dunia,aku percaya kamu.
Rencana awal Arjuna yang hanya satu hari berada di kampung gagal di realisasikan.Nyatanya rindu yang masih menggebu membuatnya mengurungkan niatnya untuk pulang ke kota esok harinya.
Dua hari sudah Arjuna berada di kampung,hari pertama di lewati dengan kebersamaannya bersama Jingga tanpa membahas tentang pekerjaan.Dan hari keduanya ia lewati dengan menemani Jingga menghadiri rapat pertamanya sebagai pemilik perkebunan dengan para staf dan pegawai perkebunan.
Dan malam ini Arjuna tidak langsung tidur.
Ia duduk di kursi kayu di teras rumah Kakek Arga.Menatap perkampungan yang tenggelam dalam gelap.Lampu-lampu kecil di kejauhan menyala satu per satu, seperti titik-titik penanda bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya di tempat ini.
Di tangannya, ponsel bergetar pelan.
Pesan dari Ibu Nadira.
✉️ Juna, rapat direksi dipercepat. Kamu harus ada di kota lusa.
Arjuna menghela napas panjang. Ia sudah menduga pesan itu akan datang. Sejak beberapa hari lalu, pekerjaannya di kota makin menumpuk. Ada keputusan besar yang menunggu tanda tangannya. Ada orang-orang yang menunggu kepastian.
Dan di sisi lain…
Ada Jingga.
Arjuna menoleh ke arah jendela kamar. Lampunya masih menyala. Jingga pasti masih mencatat atau membaca laporan. Sejak rapat tadi, ia hampir tidak berhenti.
“Aku harus gimana, ya?” gumam Arjuna pelan,
Di dalam kamar, Jingga menutup laptopnya pelan. Kepalanya pening.Data anggaran, laporan alat rusak, catatan distribusi semuanya bercampur jadi satu.
Ia berdiri, membuka jendela, menghirup udara malam. Dari kejauhan, ia melihat Arjuna duduk sendirian di teras.
Entah kenapa, hatinya terasa tidak enak.
Jingga keluar, melangkah pelan agar tidak mengganggu.
“Kok belum tidur?” tanyanya sambil duduk di sebelah Arjuna.
Arjuna terkejut kecil, lalu tersenyum. “Kamu juga.Kenapa belum tidur,sayang?” Tanya balik Arjuna sambil mengusap pelan kepala Jingga.
“Biasanya aku capek langsung tidur,” jawab Jingga jujur. “Tapi malam ini… kepalaku rame.”
Arjuna mengangguk. “Kepala aku juga.”
Mereka terdiam beberapa saat. Angin malam lewat, membawa suara serangga.
“Jingga,” kata Arjuna akhirnya, “aku harus balik ke kota.”
Jingga menegang. Ia tidak langsung menoleh. “Kapan?”
“Lusa.”
Sunyi.
Jingga mengangguk pelan. “Oh.”
Satu kata itu terdengar sederhana, tapi Arjuna tahu ada banyak hal di baliknya.
“Aku nggak mau ninggalin kamu pas lagi begini,” lanjut Arjuna cepat. “Tapi di kota juga lagi…”
“Genting,” potong Jingga pelan. Ia menoleh, tersenyum tipis. “Aku ngerti.”
Justru senyum itu yang membuat dada Arjuna makin sesak.
“Kamu beneran ngerti?” tanya Arjuna.
Jingga mengangguk. “Aku nggak mau jadi alasan kaka ninggalin tanggung jawab kamu di sana.”
Arjuna menatapnya lama. “Kamu juga tanggung jawab aku.”
Jingga terdiam. “Aku bukan beban kan, Ka Juna.”
“Aku nggak bilang kamu beban.”
“Tapi aku nggak mau kaka ngerasa terpaksa di sini,” lanjut Jingga. “Aku lagi belajar berdiri sendiri.”
Kalimat itu menusuk halus. Karena Arjuna tahu, Jingga benar.
Keesokan paginya, Arjuna ikut Jingga ke kantor kebun lagi. Ia memperhatikan cara Jingga berbicara dengan staf, cara ia mendengar, cara ia mencatat.
Jingga masih sering ragu, tapi tidak mundur.
Di ruang arsip, Pak Damar menjelaskan masalah distribusi lebih detail.
“Ada satu perusahaan pengangkutan yang sejak dulu pegang jalur kita,” kata Pak Damar. “Belakangan ini mereka sering telat. Tapi kontraknya masih panjang.”
Jingga mengerutkan kening. “Kalau kita ganti?”
“Bisa,” jawab Pak Damar, “tapi bakal ribet. Dan mahal.”
Arjuna menyela pelan, “Kadang mahal di awal, tapi murah ke depannya.”
Jingga menoleh. “Menurut kaka?”
“Menurut aku,” jawab Arjuna hati-hati, “kamu perlu audit kecil. Biar jelas, ini murni kelalaian atau ada permainan.”
Pak Damar mengangguk setuju.
Jingga mencatat cepat. “Oke.”
Arjuna melihat itu dan berpikir, dia bisa.Dan justru karena itu, kebimbangannya makin besar.
Siang hari, Arjuna mendapat telepon dari asistennya di kota.
“Pak, beberapa investor minta ketemu langsung. Mereka nanya kenapa Bapak belum tanda tangan kesepakatan baru.”
Arjuna menutup mata sebentar. “Tunda dua hari.”
“Baik, Pak. Tapi… ini mepet.”
Telepon ditutup.
Arjuna menatap layar ponselnya lama. Dua dunia. Dua tanggung jawab. Dan ia berdiri tepat di tengahnya.
Sore menjelang, Jingga mengajak Arjuna berjalan ke pinggir kebun. Mereka duduk di tanah, memandangi barisan pohon sawit yang seolah tak ada ujungnya.
“Aku tahu kaka lagi bingung,” kata Jingga tiba-tiba.
Arjuna menoleh. “Kok tahu?”
“Ka Juna jadi lebih sering diam,” jawab Jingga. “Biasanya kaka cerewet.”
Arjuna tertawa kecil. “Iya juga.”
Jingga memainkan rumput di tangannya. “Aku takut ka Juna ngerasa harus milih.”
Arjuna menghela napas. “Jujur? Iya.”
Jingga menatapnya. “Terus?”
“Aku pengen ada di sini,” jawab Arjuna jujur. “Ngebantu kamu. Ngelewatin masa ini bareng.”
Jingga tersenyum kecil. “Dan di kota?”
“Ada orang-orang yang nunggu keputusan aku.”
Jingga mengangguk. “Berat ya.”
“Banget.”
Mereka terdiam lama.
“Ka,” kata Jingga pelan, “aku nggak mau ka Juna tinggal cuma karena aku kelihatan butuh.”
Arjuna menoleh. “Tapi kamu memang butuh.”
“Iya,” Jingga mengangguk, “tapi bukan berarti ka Juna harus ninggalin hidup kaka.”
Arjuna menatap Jingga, mencoba membaca wajahnya. “Kamu kuat?.”
“Aku belajar,” jawab Jingga. “Karena kaka juga ngajarin aku buat nggak bergantung sepenuhnya.”
Arjuna tersenyum getir. “Aku malah kebalikannya.Rasanya hidup aku bergantung sama kamu,sayang.”
Jingga tertawa kecil. “Ka Juna lagi belajar juga.”
Langit mulai berubah warna,senja yang tadi datang kini berganti malam. Arjuna sudah memegang hp nya untu menelepon Ibu Nadira.
“Bu,” katanya pelan, “kalau aku minta waktu sedikit lagi…”
Ibu Nadira terdiam sejenak. “Kamu masih ingin di desa itu, ya?”
“Iya.”
“Karena Jingga?”
“Iya.”
Ibu Nadira menghela napas. “Juna, kamu tahu Ibu percaya sama kamu. Tapi kamu juga harus percaya sama orang-orang yang kamu bangun di kota.”
“Aku tahu, Bu.”
“Kalau kamu terus menunda, mereka bisa salah paham,” lanjut Ibu Nadira lembut. “Kepemimpinan itu bukan cuma soal hadir, tapi soal tanggung jawab.”
Kata-kata itu menghantam Arjuna pelan tapi tepat.
“Pikirkan baik-baik,” tutup Ibu Nadira. “Ibu dukung apa pun keputusan kamu. Tapi jangan setengah-setengah.”
Arjuna terdiam.
"Bukan masalah perusahaannya,tapi tentang tanggung jawab pada orang-orang yang bergantung padamu ,belajar memahami arti tanggung jawab karena kelak kamu juga akan bertanggung jawab terhadap satu nyawa yang akan menemanimu hingga nanti..yaitu Jingga."
Arjuna mengangguk seolah Ibu Nadira melihatnya.
Telepon ditutup.
Arjuna duduk lama di tepi ranjang.Kepalanya riuh,berisik.
°°°
Keesokannya, Jingga mengadakan pertemuan kecil dengan Pak Damar dan beberapa staf inti. Arjuna duduk di pojok ruangan, hanya mendengar.
“Aku mau kita bikin tim kecil buat audit distribusi,” kata Jingga. “Aku mau laporan jujur.”
Beberapa staf mengangguk.
“Dan soal alat panen,” lanjut Jingga, “aku setuju kita pakai dana darurat buat perbaikan dulu.”
Pak Damar tersenyum. “Keputusan yang berani.”
Jingga menatap Arjuna sekilas, lalu kembali ke staf. “Aku masih belajar. Tapi aku nggak mau nunda yang penting.”
Arjuna menatapnya dengan dada hangat.Rasa yang tumbuh di hatinya semakin besar.
Dia benar-benar tumbuh.Bukan lagi Jingga yang hilang arah dan semangat.
Waktu makan siang datang, Arjuna mengajak Jingga makan di warung kecil.
“Sayang,” kata Arjuna sambil menatap teh hangatnya. “Aku harus balik besok.”
Jingga terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Oke.”
“Aku bakal tetap bantu dari jauh,” lanjut Arjuna. “Telepon, data, apa pun yang kamu butuh.”
Jingga tersenyum. “Aku tahu.”
Arjuna menatapnya. “Kamu nggak marah?”
Jingga menggeleng. “Sedih, iya. Tapi marah? Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena kaka nggak kabur,” jawab Jingga. “Kaka cuma lagi jalan di jalur kaka.”
Arjuna menarik napas lega. “Aku takut kamu ngerasa ditinggal.”
Jingga menatapnya lembut. “Aku ditinggal dulu karena dibuang. Ini beda.”
Kalimat itu membuat mata Arjuna sedikit panas.
Dan malam terakhir sebelum Arjuna pulang, mereka duduk berdua di teras.
“Ka,” kata Jingga, “kalau nanti aku bikin keputusan yang salah…”
“Kamu telpon aku,” jawab Arjuna cepat. “Kita pikirin bareng.”
Jingga tersenyum. “Janji?”
“Janji.” Arjuna mencium puncak kepala Jingga,rasanya memang berat namun kini terasa sedikit ringan karena Jingga mampu mengerti akan situasinya.
Mereka saling pandang. Tidak ada drama. Tidak ada tangis berlebihan.Hanya kepercayaan yang pelan-pelan tumbuh.
Arjuna tahu, meninggalkan Jingga sekarang bukan berarti melepaskan.
Dan Jingga tahu, berdiri sendiri bukan berarti sendirian.
Dua dunia. Dua tanggung jawab.
Dan di antara itu semua, mereka belajar cinta yang dewasa tidak selalu soal memilih satu, tapi tentang menjaga keduanya tetap berjalan dalam satu arah.
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga