NovelToon NovelToon
Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Bocah Pintar Anak Pembuat Khamar

Status: tamat
Genre:Teen / Komedi / Spiritual / Anak Genius / Tamat
Popularitas:18.7k
Nilai: 5
Nama Author: beuna bardant

“Aku enggak bodoh, kok!” kata suara dari dalam bilik.
“Diam!” teriak Ali dan Zia hampir bersamaan, menimpali suara itu. Keduanya sama-sama marah. Ali tidak terima disalahkan. Zia kesal karena sahabatnya masih tidak sadar kalau dia salah.
“Perlu kesiapan mental dan kecerdasan untuk sebuah ilmu baru. Jika dilemparkan langsung pada orang awam, ada risiko penerapan ilmunya jadi berbahaya. Bukannya bulan kemarin kamu merasakan hukuman karena hal yang serupa?” kata Zia menegaskan maksudnya.
“Dan kali ini malah membahayakan kesehatan,” – sambung Zia dengan tercekat – “... bahkan mungkin membahayakan nyawa” Zia menuntaskan kalimatnya dengan sedikit panik.
Ali pun mulai sadar kepanikan Zia. Keadaannya memang bisa mengancam nyawa si bodoh ini, pikir Ali. Dia mulai pucat dan berkeringat. Zia merasa kasihan melihat sahabatnya baru menyadari masalah yang mereka hadapi.
Ali dan Zia
saat terjebak di toilet sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon beuna bardant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kata Aira

“Hai, Aira! Lovely as usual. Why you still hanging out with these two peasant?” sapa Javin saat melihat Aira sedang makan siang dengan Ali dan Zia di pelataran tangga. Ali dan Zia hanya senyum-senyum menanggapi Javin, karena memang mereka tidak begitu paham.

“Gaya bangeet… ngomong pake Bahasa Inggris. Makanya jangan main jauh-jauh, jadinya kesurupan setan Inggris, deh!” Ali dan Zia hanya cekikikan mendengar tanggapan Aira. Hanya Aira yang berani bicara seperti itu dengan Javin. Kalau Ali atau Zia yang bilang begitu, pasti lehernya sudah dipiting Javin sambil rambut kepalanya dirombak, kalau tidak dijitak.

“Astaghfirullah, Airaa… ternyata cewek cantik mulutnya pedes ya…” Sahut Javin terenyuh. “Aku ‘kan cuma mau latihan, Ra. Sebentar lagi ‘kan ada Lomba Antar Kelas. Aku ikut story telling, jadi biar lidahnya enggak kaget,” sambung Javin. “Kamu ikut lomba apa, Ra?” Tanyanya lagi.

“Pengennya ‘sih mewarnai, tapi malah disuruh ikut PILDACIL”sahut Aira kesal.

“Cocok lah. Kamu ‘kan cerewet” sahut Javin enteng. Aira sudah ingin melampiaskan kekesalannya pada komentar Javin, maka Javin buru-buru menyambung pertanyaannya, “Siapa aja yang ikut PILDACIL dari kelas kalian?”

“Sama anak ini!” sahut Aira riang sambil menepuk pelan bahu Ali. Wajahnya sudah ceria lagi. Seolah sudah lupa kalau baru saja dia dijuluki cerewet oleh Javin.

“Whidiih… punya nyali juga Anda! Atau sebenarnya Anda memutuskan ikut saat dalam keadaan mabuk,” sahut Javin berlagak sopan.

“Aku juga sebenarnya enggak mau, kalo enggak dipaksa…” Sahut Ali polos sambil melirik Aira. Javin cuma tertawa terbahak-bahak melihat Ali yang tak berdaya di hadapan Aira.

“Terus, kamu mau cerita soal pahlawan yang mana? Udah milih-milih?” tanya Javin pada Ali. Ali pura pura tidak mendengar dan menganggap pertanyaan itu buat Aira.

“Li, ditanyain tuh! Kamu mau cerita pahlawan siapa?” kata Aira.

“Rahasia, Vin! Biar kejutan,” Sahut Ali.

“Aku juga pengen tahu, Li” kata Aira lagi.

“Ha ha ha, Mampus!” kata Zia yang tiba-tiba bunyi, padahal sejak tadi mengikuti pembicaraan dan diam saja. Ali mencoba untuk tidak menjawab. Tetapi tidak ada yang terpikirkan olehnya untuk mengalihkan pembicaraan.

“Siapa pahlawan yang mau kamu ceritakan, Li” tanya Aira lagi.

Setelah tertegun sejenak, Ali akhirnya menjawab “Mahatma Gandhi,” suaranya sayup-sayup, nyaris tak terdengar.

“ Hah! Siapa? Orang India itu” tanya Aira.

“ Ha ha ha… memang mabok melulu temenmu ini, Ra” tanggap Javin di antara derai tawanya.

“Kenapa Gandhi, Li?” tanya Aira lagi.

“Kenapa enggak” jawab Ali singkat. Dia sudah pernah menjalani perdebatan seperti ini sebelumnya. Jadi tinggal meniru jawaban Ayah.

“Gandhi ‘Kan bukan pahlawan Indonesia, Li,” gugat Javin

“Memangnya ada aturannya harus pahlawan Indonesia” jawab Ali datar.

“Kenapa harus Gandhi, kenapa tidak pahlawan yang dari negara sendiri saja” tanya Aira, setuju dengan Javin.

“Karena catatan sejarah pahlawan kita kurang lengkap. Jarak kita dengan mereka terlalu jauh. Teladan dan nasehat Gandhi tercatat lebih rapi dan terpercaya. Lagian kalau kita cuma mau belajar dari bangsa sendiri, kita menghambat diri kita sendiri untuk berkembang.” Sahut Ali.

“Beneran mabok ni anak” tanggap Javin sambil menggeleng.

“Sekali lagi kamu bilang Ali pemabuk, aku laporin ke Mama kamu.” Javin hanya tersenyum mendengar ancaman Aira itu. “Memangnya kamu bisa”sahut Javin menantang.

“Aku bilang sama Bunda, biar Bunda yang bilang sama Mama kamu”

“Waah.. jangan bilang sama Tante Ratna donk…” rengek Javin pada Aira. Hilang semua keberanian Javin. “Iya.. aku enggak bilang Ali pemabuk lagi,” sambungnya. Namun melihat Aira masih melotot menatapnya, Javin segera mengalihkan pembicaraan. “Apa istimewanya Gandhi ‘sih, Li?”

“Oh, Banyak!” Kata Ali bangga. “Salah satunya aja nie ya.. Jadi suatu saat ada seorang istri yang mengadu kepada Gandhi. Dia kesulitan melarang suaminya untuk berhenti mabuk-mabukan…”

“Ha.. ha.. ha.. ha..” Javin langsung terpingkal-pingkal.

“Hey!” Bentak Aira pada Javin.

“Sorry, Ra! Bukannya mau ngeledek, tapi kalo sama Ali ceritanya enggak jauh-jauh dari mabok.”

“Iya sih, bener.” Zia ikut berkomentar. Ali hanya melotot ke arah Zia, tidak percaya sahabatnya berubah haluan. Zia lalu cengengesan sambil menghindari tatapan Ali.

“Dengerin dulu!” teriak Aira pada Javin dan Zia. “Terus gimana, Li” tanya Aira dengan suara yang mendadak jadi ramah.

“Nah iya, begitu lah ceritanya. Saat ditanyai oleh ibu itu, Gandhi tidak langsung menjawab. Gandhi bilang padanya untuk kembali lagi kesini minggu depan bersama suaminya.”

“Minggu depannya, suami istri itu benar benar kembali ke rumah Gandhi untuk mendapatkan nasehat tentang bagaimana mengatasi masalah kecanduan khamar sang suami. Saat datang, yang pertama kali diminta Gandhi pada sang istri adalah tidak berkomentar dulu apabila tidak diminta. Lalu Gandhi mencoba menceritakan apa yang dirasakan sang suami saat tidak minum khamar. Kehausan yang berlebihan. Dorongan dari dalam hati untuk segera minum, memuaskan hawa nafsunya. Bagaimana dorongan itu mengganggu pikiran hingga jadi sulit berkonsentrasi dalam menuntaskan tugas tugas di kehidupan sehari hari. Sang suami dengan tegas membenarkan perkataan Gandhi, memang begitulah yagn dia rasakan setiap kali memutuskan untuk berhenti minum. Dahaga nafsunya dalam hatinya terlalu kuat hingga akhirnya dia menyerah dan minum lagi.”

“Sang suami terheran heran, bagaimana Gandhi bisa mengerti yang dia rasakan. Gandhi lalu mengakui bahwa selama seminggu ini Gandhi puasa gula. Dorongan nafsu Gandhi untuk mulai mengkonsumsi gula ini yang coba dipahami oleh Gandhi, dan disimpulkannya bahwa orang yang kecanduan alkohol pasti juga merasakan dorongan nafsu yang sama, bahkan lebih kuat.”

“Gandhi lalu menasehati sang istri bahwa melarang saja tidak cukup. Sang istri perlu belajar berempati, mencoba memahami seberapa berat menghindari larangan tersebut. Dengan demikian larangan terhadap kemungkaran bisa menjadi lebih efektif. Di depan Gandhi, akhirnya sepasang suami istri tersebut membuat kesepakatan, sang suami berjanji akan berusaha mengurangi kebiasaannya minum. Sang istri, yang memang agak gendut dibanding perempuan lain di lingkungannya, juga berjanji akan mengurangi konsumsi gula. Keduanya jadi bisa saling memahami beratnya perang dengan hawa nafsu masing-masing.”

“Gimana menurut kalian, Gandhi keren ‘kan. Padahal cuma untuk memberi nasehat, tapi dia mau repot-repot ikut puasa. Dia tidak hanya memberi nasehat tetapi juga menjalani nasehatnya. Memberi teladan. Makanya Gandhi dihormati,” kata Ali menutup ceritanya. Sebenarnya Ali Cuma mengulang cerita dari Ayah semalam.

“Iya ‘sih. Keren! Orang tua jaman sekarang seringnya cuma menyuruh dan melarang, tanpa mikir seberapa berat semua itu buat kita” kata Javin menanggapi. “Kalau mereka para orang tua bisa, ‘kan belum tentu kita sanggup,” sambungnya lagi.

“Bunda aku enggak pernah menyuruh dan melarang yang enggak bisa aku lakukan ‘sih. Tapi buat anak nakal kayak kamu, mungkin cerita ini jadi lebih relate ya,” kata Aira pada Javin. Ali dan Zia sekali lagi terkekeh-kekeh. Aira seperti punya kekuatan super pada Javin yang notabene mahsyur sebagai tukang bully. Kekuatan super yang bikin Aira bisa bilang apa saja pada Javin, tanpa harus kena pukul.

“Astaghfirullaah, Ra! Tega amat. Kapan aku pernah nakal” sahut Javin. Aira pura pura tidak mendengar.

“Terus, kamu bakal cerita itu di pildacil nanti?” tanya Aira.

“Enggak sih” jawab Ali.

“Ha? Kenapa? Bagus kok! Beda. Mungkin bisa menang”

“Ada cerita Gandhi lain yang lebih keren”

“Oh ya! Gimana?”

“Rahasia… nanti aja dengarnya waktu aku naik panggung”

1
Mitt²🍒⃞⃟🦅
Tetap semangat, jangan berhenti nulis yaaa 👋🙏
Mitt²🍒⃞⃟🦅
👍👍👍
Mitt²🍒⃞⃟🦅: kembali kasih kak 🙏🙏🙏
total 2 replies
ㅤㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
gemes sama perdebatan para bocah
beuna bardant: makasih kakak..
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!