NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Keputusan Di Ujung Senja

Pagi itu, mentari terbit menyapu langit kota dengan warna keemasan yang lembut. Embun tipis masih menggantung gemetaran di ujung daun-daun mawar di halaman rumah, membiaskan cahaya jingga sebelum perlahan meluruh diserap bumi.

Udara dingin sisa hujan semalam menyisakan aroma tanah yang basah—sebuah aroma yang selalu membawa ketenangan, seolah menjanjikan bahwa setiap badai yang berlalu akan selalu disusul oleh kesegaran yang baru.

Namun, ketenangan pagi itu tak sepenuhnya meresap ke dalam dada Kaynara. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berdiri di tepi jendela kamarnya, membiarkan angin pagi berembus tipis menerpa wajahnya.

Di usianya yang masih sangat muda, usianya yang seharusnya diisi dengan kepakan sayap kebebasan dan mimpi-mimpi indah tentang masa depan, Nara justru merasa sedang berdiri di persimpangan jalan paling krusial dalam hidupnya.

Layar ponsel di mejanya sesekali menyala. Puluhan pesan dari Devino menumpuk tanpa satu pun yang dibaca.

Keberanian Devino yang luntur di depan pagar rumahnya dua malam lalu telah membuka mata Nara lebar-lebar.

Dua tahun cinta rahasia yang ia agungkan ternyata runtuh begitu saja ketika diuji oleh sebuah tembok ketegasan. Devino menginginkannya, tapi tidak cukup berani mempertaruhkannya.

Suara ketukan pintu yang teratur meruntuhkan lamunan Nara.

"Nara, Boleh Bunda masuk, Nak?" suara lembut itu terdengar dari balik pintu.

"Masuk saja, Bunda," sahut Nara pelan.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Bunda Mayang yang mengenakan gamis berwarna pastel.

Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, melangkah mendekati putri tunggalnya.

Bunda Mayang menyapu rambut Nara yang terurai dengan jemarinya yang halus, penuh kasih sayang seorang ibu yang diam-diam memahami gejolak batin anaknya.

"Bunda lihat kamu kurang tidur beberapa hari ini," kata Bunda Mayang lembut, menuntun Nara untuk duduk di tepi ranjang bersama. "Pikirkan tentang rencana pernikahanmu dengan Zaid?"

Nara menunduk, mengamati jemarinya yang saling bertaut di pangkuan.

"Nara... masih bingung, Bunda. Semuanya terasa begitu cepat. Nara merasa seperti tidak punya kendali atas hidup Nara sendiri."

Bunda Mayang menghela napas pendek, lalu menggenggam kedua tangan Nara dengan erat.

"Nara, dengarkan Bunda. Ayahmu memang keras, dan mungkin cara kami terkesan memaksakan kehendak. Tapi tidak ada satu pun orang tua yang ingin melihat anaknya jatuh ke tangan pria yang salah."

"Tapi Zaid itu dingin sekali, Bunda. Dia kaku, bicaranya selalu tajam," bisik Nara, meluapkan ganjalan di dadanya.

Bunda Mayang terkekeh pelan, sebuah kekehan penuh kehangatan yang sedikit meredakan ketegangan di antara mereka.

"Zaid itu pria mapan dengan pengalaman hidup yang ia jalani selama ini, Nara. Di usia matang seperti itu, ditambah lagi dengan tanggung jawab besar memimpin perusahaan familinya dan masa lalunya yang tumbuh tanpa orang tua penuh, dia dibentuk menjadi pria yang mandiri dan tidak terbiasa bermanis-manis bibir."

Bunda Mayang menatap mata Nara dalam-dalam.

"Laki-laki seperti Zaid itu, tidak akan mengumbar janji manis atau membuang-buang waktu untuk permainan perasaan.... Sikapnya dingin bukan karena dia jahat, Nara.... Tapi karena dia hanya menyampaikan apa yang perlu disampaikan ... Dan kamu tahu?... Kemarin malam, setelah dia menghubungi Ayahmu untuk memajukan pernikahan, Zaid menelpon Bunda secara pribadi."

Nara mendongak, terkejut. "Menghubungi Bunda?"

Bunda Mayang mengangguk pelan.

"Dia bilang pada Bunda,

"Tante, saya ingin memajukan pernikahan ini agar Nara tidak terus-menerus merasa digantung oleh keadaan. Tapi kalau Nara secara tegas mengatakan tidak mau dan memohon pembatalan, saya sendiri yang akan menghadap om Rahardja untuk pasang badan membatalkannya, agar Nara tidak dimarahi."

Menurutmu, apakah itu sikap pria yang jahat, Nak?"

Dada Nara bergemuruh hebat. Penjelasan Bunda Mayang menghantam kesadarannya. Zaid pria berwajah tampan, keturunan indo Pakistan yang ia anggap kaku dan tidak berperasaan—ternyata secara diam-diam sedang menyiapkan jaring pengaman untuknya.

Zaid memberikan pilihan utuh di tangan Nara, bahkan rela pasang badan menjadi "Pihak yang disalahkan" di hadapan Ayah jika Nara memang ingin mundur.

Bandingkan dengan Devino, yang justru memintanya mengulur waktu dan bersembunyi karena takut reputasinya jatuh di mata Pak Rahardja.

.

.

Sore harinya, langit berubah warna menjadi jingga keunguan. Nara meminta izin kepada Bunda Mayang untuk keluar sebentar. Ada satu hal yang harus ia selesaikan sebelum mengambil langkah terbesar dalam hidupnya.

Nara memilih sebuah kedai kopi kecil di sudut kota yang sepi. Di salah satu meja dekat sudut ruangan, Devino sudah menunggu dengan wajah cemas dan kemeja yang sedikit kusut. Begitu melihat Nara melangkah masuk, pria itu langsung berdiri.

"Nara!"

Panggil Devino, melangkah cepat dan langsung menggenggam tangan Nara.

"Akhirnya kamu mau menemui aku. Pesanku tidak ada yang kamu balas. Aku panik setengah mati, Nara."

Nara menarik tangannya secara perlahan namun tegas dari genggaman Devino, lalu duduk di kursi yang berhadapan.

"Duduklah, Dev. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."

Devino duduk dengan gelisah, matanya menatap Nara dengan pandangan penuh mohon. Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu akhirnya angkat bicara atas penyesalannya malam itu.

"Nara, soal malam itu... aku minta maaf. Aku sudah berpikir ulang. Kalau kamu mau, minggu depan aku akan coba keberanianku untuk bicara pada ayahmu. Aku akan—"

"Tidak perlu, Dev," potong Nara pelan.

Suaranya tidak lagi menyiratkan nada panik atau marah seperti hari-hari sebelumnya. Suara Nara kini terdengar sangat tenang, ketenangan yang justru membuat Devino semakin gentar.

"Maksudmu... tidak perlu?" tanya Devino bingung.

"Kita selesai, Dev," ucap Nara tegas.

Kata-kata itu meluncur lurus, membuat suasana di meja mereka mendadak membeku.

Devino melotot, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut gadis dua puluh tiga tahun yang selama dua tahun ini selalu menuruti dan mengaguminya.

"Nara, kamu bercanda kan? Cuma karena masalah kemarin kamu mau membuang hubungan dua tahun kita?" suara Devino meninggi, menahan emosi yang mulai membuncah.

"Dua tahun ini bukan dibuang, Dev. Tapi dijadikan pelajaran," jawab Nara tenang, menatap mata Devino tanpa keraguan.

"Selama dua tahun, aku pikir kamu adalah tempat perlindunganku dari aturan Ayah yang mengekang. Tapi saat pintu itu benar-benar terbuka dan aku sangat membutuhkanmu untuk berdiri di sampingku, kamu justru memilih mundur dan memikirkan bisnismu sendiri."

"Aku melakukan itu demi masa depan kita, Nara! Aku ingin siap!" bela Devino, wajahnya memerah.

"Tidak, Dev. Kamu melakukan itu demi kenyamanan dirimu sendiri," sanggah Nara cepat. "Kamu tidak pernah siap untuk benar-benar memperjuangkanku. Kamu hanya suka mencintaiku selama itu mudah dan tidak berisiko bagi posisi finansialmu."

Nara berdiri dari kursinya, merapikan tas selempang yang melingkar di bahunya. "Terima kasih untuk dua tahun ini, Devino. Tapi aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada pria yang ketakutan saat ditarik ke dalam terang."

Tanpa menunggu luapan emosi Devino lebih lanjut, Nara membalikkan badan dan melangkah keluar dari kedai kopi tersebut. Ada rasa sesak yang sempat singgah di dadanya, namun seiring langkah kakinya menembus udara sore yang sejuk, rasa sesak itu berganti menjadi sebuah kebebasan yang luar biasa.

Ia baru saja melepaskan ikatan yang selama ini membelenggunya dalam kepura-puraan.

"Yaa Tuhan, semoga keputusan ini bukan langkah yang salah dan tak kan menjadi penyesalan dalam hidupku kedepannya." lirih Nara berbicara pada dirinya sendiri.

Ada luka yang tak berdarah di dalam hatinya, ada sedih yang tak bisa di luapkan dengan air mata. Hatinya telah mantap memutuskan semua, walau ia tidak tahu kehidupan baru yang akan ia lalui bersama laki-laki yang belum pernah ia kenal.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!