Bahagiana Bahtiar adalah wanita cantik, cerdas dan kaya raya dari keluarga terpandang. Sosok yang tak pernah percaya dengan namanya cinta, kekasih, suami. Karena sesuatu terjadi pada salah satu organ tubuhnya, dia dijodohkan oleh sang Papi dengan Balin Azura, pria dewasa dan tampan dari kalangan biasa.
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan hingga berhasil mencuci otak Papi?" bentak Bahagiana seraya berkacak pinggang, menatap tajam.
"Asal kau tahu bahwa salah satu dalam organ tubuhmu itu adalah alasan utamaku menerima PERJANJIAN PERNIKAHAN ini!" Batin Balin dengan perasaan murka karena kalimat yang dilontarkan Bahagiana.
"Tidak bisa menjawab? uang, harta dan kekayaan? selamat kau berhasil!" Teriak Bahagiana untuk kesekian kalinya.
Bagaimana kisah antara Bahagiana dengan Balin? dua sosok beda karakter, martabat yang akan hidup satu atap.
Ikuti kisahnya di karya author recehan ini yang masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 29. Khawatir
Jam pulang kantor tiba. Gia memberesi meja kerja dan memasukan dokumen penting kedalam brankas. Besok adalah hari libur.
Dengan hati senang ia keluar dari ruangan. Ingin tiba di rumah secepat mungkin. Entah karena apa ia juga tak mengerti.
Sepanjang jalan menuju rumah, ujung mata itu tak berhenti melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Huh.....
Ia menghela nafas panjang karena waktu masih menunjukan pukul 5 sore, itu dalam arti malam masih tinggal beberapa jam lagi.
Tak terasa ia tiba juga di rumah, memasuki halaman rumah. Memasukan mobil langsung di garasi.
Ia keluar dan pandangannya tak melihat mobil yang biasa dikendarai oleh Papinya tak terdapat didalam sana, itu artinya mereka sedang berpergian.
Gia pun tak ingin menghabiskan waktu berlama-lama di sana hingga membuatnya langsung masuk.
Tiba di ruang keluarga, ia berpapasan dengan Bibi. "Bi dimana Papi?" tanya Gia.
"Oya Non Gia. Bapak berpesan bahwa hari ini Bapak dan Ibu sedang keluar kota selama 3 hari," papar Bibi.
"Keluar kota? tiba-tiba begini?" ucap Gia dengan dahi mengerut.
"Katanya ada urusan tiba-tiba Non," ucap Bibi.
Hmm
Gia menghela nafas, tidak ingin bertanya lebih lanjut karena Bibi juga pasti tidak tahu banyak alasan tersebut.
***
Balin sedang dalam perjalanan menuju bandara. Tepatnya bandara Internasional Kualanamu, sumatera Utara.
Tiba di bandara ia langsung check-in, dengan perasaan senang. Entah kenapa mengingat pesan yang dikirimkan Gia tadi membuatnya sungguh bersemangat. Bahkan pesan itu begitu menyentuh hatinya.
"Kenapa lama sekali?" umpat Balin sungguh ia sudah tidak sabar lagi, padahal jam keberangkatan masih tinggal beberapa menit, seakan ia mengalahkan waktu.
Tiba-tiba ada peringatan bahwa keberangkatan dengan rute Jakarta di pending 1 jam lagi karena keburukan cuaca. Tiba-tiba hujan turun sangat lebat.
"Sungguh siall!" Gerutu Balin dengan perasaan kesal. Ia merongkoh ponsel dalam kantong celana ingin menghubungi Gia, memberitahukan bahwa ia akan telat datang karena keberangkatan dipending.
Sialnya ponselnya mati, kehabisan baterai. Sedangkan ia kelupaan charger.
*
*
Usai membersihkan diri Gia segera berpakaian. Tatapannya ke atas meja rias, dimana ponselnya tergeletak. Ia berharap jika dapat pesan dari Balin tapi keinginannya itu tak kunjung datang.
Gia keluar kamar, turun ke bawah. Ingin menunggu kedatangan Balin. Entah perlakuan apa itu karena selama hidup dengan Balin ia tak pernah melakukan hal sekecil ini.
Ia menunggu Balin di ruang keluarga, menyalakan televisi untuk mengusir kebosanan dan juga ingin waktu cepat berlalu.
"Non Gia, sudah saatnya makan malam," ucap Bibi yang tiba-tiba hingga membuat Gia tersadar dari keasikannya menonton drakor favoritnya.
"Memangnya sudah jam berapa ini Bi?" tanya Gia.
"Pukul 7 Non," sahut Bibi.
Hah.....
Gia kaget dan pikirannya pun lagsung melayang ke Balin. Seharusnya Balin sudah tiba di rumah tapi sosok itu belum juga kunjung datang.
"Iya Bi bentar lagi," sahut Gia dengan sedikit kecewa tanpa alasan yang jelas. Untung saja Bibi tak menyadarinya.
Menit demi menit terlewati tapi Balin belum juga kunjung datang. Gia mulai panik hingga membuatnya mondar-mandir tidak jelas di ruang tamu.
Ia melirik jam dinding, di sana sudah menunjukan pukul 9. Itu artinya sudah hampir 3 jam ia menunggu.
"Kemana dia? seharusnya sudah pulang sejak tadi," gumam Gia. Tidak tahan lagi ia berinisiatif menunggu Balin di teras. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. "Kok tiba-tiba hujan?" imbuhnya dengan perasaan heran.
Dingin malam mulai menusuk tulang-tulang tapi tak buat Gia menyerah begitu saja masuk kedalam. Ia menghubungi Balin tapi operator yang menjawab panggilannya.
"Kenapa ponselnya tak aktif?" kesal Gia tanpa sebab. Wajah itu menjadi dingin tanpa ekspresi.
Cahaya lampu mobil menyilaukan dari kejauhan, memasuki halaman rumah. Gia terhenyak, ia spontan bangkit. Ia yakin bahwa itu adalah sosok yang membuatnya seperti orang bodohh.
Katakan saat ini Gia belum sadar dengan apa yang ia lakukan. Katakanlah ia hilang kesadaran sesaat.
Mobil itu langsung masuk garasi, hingga Balin tak menyadari jika ia ditunggui atau disambut kedatangannya.
Dengan basah kuyup Balin dan juga supir keluar dari mobil. Sang supir langsung masuk dimana tempat ia menginap di rumah tersebut.
Balin berjalan dengan menunduk Hinga tak sadar dengan sosok Gia yang tengah berdiri dengan kedua tangan memeluk tubuhnya.
"Kenapa baru pulang?" suara ketus itu membuat Balin tersentak kaget. Ia pun mendongak, mulutnya menganga tak percaya dengan sosok Gia yang tengah berdiri di depannya.
Gia maju dua langkah. "Apa kamu tahu sejak tadi aku tak tenang!" Entah keberanian dari mana Gia memukul dada bidan itu berkali-kali dengan mata berkaca-kaca.
Bukannya sakit tapi Balin seakan membeku, tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Kamu jahat!" Gumam Gia tak menghentikan pukulannya.
BUG
Balin spontan memeluk tubuh itu.
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi
jangan lupa juga yaaa kak mampir vote dan likenya cmiww💐