NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boom pertengkaran

FLASHBACK - RUMAH JAYDEN, DUA HARI LALU.

Kamar itu terlihat sangat gelap. Hanya lampu meja kecil yang menyala, membuat bayangan di dinding ikut bergetar.

Jayden terbaring di atas tempat tidur. Selimut menutupi tubuhnya sampai dada. Suhu tubuhnya naik turun sejak sore tadi. Napasnya berat. Kaosnya basah oleh keringat.

Pintu kamar terbuka pelan. Klekk.

Evan masuk lalu menekan cetekan lampu. Wajahnya terlihat lelah. Dia baru saja pulang dari kantor. Ia langsung duduk di tepi ranjang dan meletakkan punggung tangannya di dahi Jayden untuk mengecek suhu.

Sentuhan itu membuat Jayden terbangun. Matanya langsung terbuka dan menatap Evan.

Evan mengambilkan segelas air dari meja. Di sampingnya ia meletakkan kantung plastik berisi obat.

"Minum obatnya dulu," katanya pelan.

Jayden menerima gelas itu, tapi matanya tidak lepas dari wajah Evan. Setelah meneguk obat, ia bertanya dengan suara serak.

"Lo tadi nganter Cheyrin?"

Evan menghela napas. Untuk kesekian kalinya.

"Nggak. Dia pulang sama temennya kayaknya."

Mendengar itu, Jayden langsung mengerutkan dahinya.

"Siapa? Lo liat gak?"

Evan menatap adiknya lama. Ia tahu nada itu.

"Naik ninja biru."

Hening.

Jayden terdiam. Rahangnya mengeras.

"Steven," gumamnya pelan.

Flashback berakhir.

.

.

.

Keesokan harinya, kuliah berjalan seperti biasa.

Suasana kelas pagi itu ramai dengan suara kertas dibalik dan diskusi pelan antarmahasiswa.

Cheyrin duduk bersama Lisa dan beberapa teman nya di bangku belakang, mereka sedang mengerjakan tugas kelompok yang tenggatnya besok.

Pensil Cheyrin berhenti bergerak saat bayangan seseorang berdiri di samping mejanya.

“Ini dari Jay,” kata Juno sambil meletakkan sekantong roti dan sebotol air di atas meja Cheyrin.

“Dia nitip. Gue cuma disuruh ngasih.”

Cheyrin mengerutkan keningnya.

Ia menatap kantong plastik itu, lalu menatap Juno. “kenapa dia nggak kasih langsung?”

Juno hanya mengangkat bahu.

“Ngerti sendiri lah dia gimana. Tapi gue saranin sih, makan. Dari tadi lo nggak sarapan.”

Teman-teman Cheyrin saling memandang sambil tersenyum. "Ada yang lagi berantem ni kayak nya," sindir salah satu teman nya sambil bercanda.

Sementara Dara melirik tanpa ekspresi pada Cheyrin.

Lisa menahan tawa kecil di sebelahnya, lalu menyikut lengan Cheyrin pelan.

“Udah, terima aja. Sayang kalau di buang.”

Cheyrin diam beberapa detik.

Akhirnya ia mengangguk kecil dan menerima pemberian itu.

Dia mengingat pagi tadi saat Jayden menjemput walaupun kedua nya masih diam, tapi Jayden masih sempat bertanya apakah Cheyrin sudah sarapan.

Lisa menutup buku tugasnya dengan napas berat.

“Gue nggak bisa fokus kalau di dalam kelas,” katanya sambil mengucek pelipis.

Ia menoleh ke Cheyrin.

“Yuk, kita kerjain di luar aja. Di gazebo dekat lapangan basket. Udara di sana lebih enak.”

Cheyrin mengangguk pelan.

Mereka semua beranjak keluar termasuk dara, membawa buku dan laptop menuju gazebo taman.

Begitu sampai, suara pantulan bola dan teriakan kecil langsung terdengar dari lapangan basket.

Di sana, beberapa anak cowok sedang berlatih untuk pertandingan dua minggu lagi.

Termasuk Jayden, Juno, dan Steven.

Cheyrin sengaja menunduk.

Ia membuka laptop dan memaksa dirinya fokus pada kode yang ada di layar.

Setiap kali telinganya menangkap suara teriakan instruksi Jayden ke teman-teman nya, ia menggigit bibir dan menatap layar lebih tajam.

Di sampingnya, Lisa malah semakin tidak fokus.

Matanya sesekali melirik ke lapangan, lalu berhenti lama pada Steven yang sedang berlatih layup.

“Guys,” bisik Lisa pelan, tanpa mengalihkan pandangan.

“Kayaknya gue nggak bakal bisa nyelesaiin tugas ini hari ini.”

Dari ujung lapangan, Jayden sempat melihatnya.

Cheyrin duduk di gazebo taman sana, kepalanya menunduk, fokus pada laptopnya.

Tatapan Jayden menyipit seperti elang yang menangkap mangsa, tapi ia tidak berhenti.

“Formasi ulang! Dari awal!” suara Jayden tegas, memotong latihan.

Mereka baru saja menyelesaikan drill passing tiga orang.

Juno menghela napas, tapi langsung kembali ke posisi. Steven juga mengangguk, walau matanya sesekali melirik ke arah taman.

“Juno, lo terlalu lambat narik bola. Ulang.”

“Steven, posisi kaki lo salah. Ulang lagi.”

“Semua, fokus! Kita nggak main-main di sini. Dua minggu lagi pertandingan.”

Di ujung sana. Lisa menegakkan badan nya. Ia melirik ke lapangan, lalu berbisik ke kelompoknya. "Jayden kenapa dah. Emosian banget kayak nya."

"Bener. Biasanya dia becandain Jake juga." sahut salah satu teman nya.

Semua mata otomatis ngelirik ke lapangan. Kecuali satu.

Cheyrin.

Ia tetap menunduk. Memutar-mutar pulpen yang ada di tangan nya.

Walau sebenarnya dia tidak terlalu fokus pada buku.

Di sisi lain Jayden terus mendorong tim nya.

Setiap kali ada yang meleset, ia minta diulang. Sekali, dua kali, tiga kali.

Suara pantulan bola dan derit sepatu memenuhi lapangan. Keringat sudah membasahi kaos mereka, tapi Jayden masih belum puas.

“Sekali lagi! Kalau nggak rapi, kita ngulang dari awal!”

Juno mulai kelelahan. “Bro, kita udah tiga kali ngulang drill yang sama—”

“Masih belum bener!” potong Jayden dingin.

Beberapa kali ia mendapati Steven menoleh ke arah yang sama.

Beberapa kali juga lemparan Steven meleset, konsentrasinya buyar.

“Fokus, Steven fokus!” suara Jayden naik setengah nada.

Ia sudah memberikan instruksi dengan jelas, tapi sorot mata Steven tetap liar—selalu kembali ke arah taman itu.

Juno mencoba mencairkan suasana.

“Santai bro, kita lagi latihan basket bukan perang—”

Tapi Jayden tidak mendengar. Matanya mengikuti arah pandang Steven, lagi dan lagi.

Dadanya panas.

Rahang Jayden mengeras. Tangan kanannya mengepal sampai buku jarinya memutih.

Pandangan tajamnya berhenti di wajah Steven.

Kesabarannya habis.

Dalam satu tarikan, Jayden mencengkeram kerah baju Steven dan membentaknya tepat di depan wajahnya.

“Lo suka sama Cheyrin, hah?. Anjing lo!”

Pukulan itu melayang sebelum Steven sempat bereaksi.

Dentumannya keras, membuat kepala Steven tersentak ke samping.

Steven yang terkejut langsung membalas.

“Bangsat!”

Tinju kedua menghantam, membuat sudut bibir Jayden robek dan darah mulai mengalir pelan.

“Woi! Udah, udah. Gila kalian!”

Juno panik, langsung masuk ke tengah dan berusaha menarik mereka berdua sebelum keadaan semakin hancur.

Dari ujung taman, fokus Cheyrin teralihkan ke lapangan.

"Eh kenapa tu anjir!" Ucap salah satu teman Cheyrin, membuat semua yang ada di gazebo itu menoleh.

"Jayden berantem sama Steven kayak nya."

Napasnya Cheyrin tercekat. Matanya membulat. Tanpa berpikir panjang, kakinya langsung bergerak. Di susul oleh teman-temannya di belakang.

“Jay! Stop!”

Cheyrin berlari menerobos pagar pembatas lapangan, masuk ke tengah-tengah mereka tanpa ragu.

Suara teriakan Jake dan desing napas dua orang yang saling beradu itu memenuhi telinganya, tetapi ia tidak peduli.

Dengan cepat ia menyelipkan tubuhnya di antara Jayden dan Steven, lalu mendorong dada mereka menjauh.

Tangan kecilnya tidak cukup kuat untuk menahan tenaga Jayden, jadi ia langsung memeluk Jayden dan mendorongnya kebelakang.

“Udah! Cukup!” suara Cheyrin bergetar, nyaris pecah.

Nafasnya cepat, dadanya naik turun karena panik.

Jayden masih menegang, dadanya naik turun keras. Tapi pelukan itu membuatnya berhenti sejenak.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, tatapannya lepas dari Steven dan jatuh ke Cheyrin yang ada di pelukannya.

Juno akhirnya berhasil menarik Steven ke sisi lain, masih menahan bahunya agar tidak menyerang lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!