NovelToon NovelToon
Bye, Love!

Bye, Love!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Iin Ajid

Kupikir telah memiliki segalanya. Karir yang cemerlang dengan boss yang baik, kekasih yang mencintaiku setelah berbulan-bulan hanya bisa menyembunyikan perasaanku padanya, sahabat baik yang menyayangiku bagai saudari sendiri dan rekan-rekan kerja yang menghargaiku selayaknya orang dewasa.
Tapi takdir membawaku pada titik terendah dalam hidupku.
Lalu seorang pria yang berbeda segalanya hadir dalam hidupku. Ia menawarkan bantuan, menjagaku bahkan sebelum kami saling mengenal, melindungiku dan mengajariku cara terbaik mengucapkan perpisahan pada semua yang meninggalkanku. Sampai akhirnya ia memilihku menjadi istri.
Dalam kekalutan, kuterima lamarannya. Tak ada cinta di antara kami, tapi cintanya pada sesuatu yang lebih besar dari kami membuat aku menerimanya. Bersamanya, aku belajar mengucapkan perpisahan dengan senyum, memaknai perjalanan penuh ujian sebagai universitas kehidupan.
The Road of Love, kisah perjalanan Inka terdiri dari dua seri Bye, Love! dan Welcome, Love!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Ajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 - Untuk Cinta Sejati

Semua anggota keluargaku menatapku. Menanti penjelasan. Tapi belum lagi aku menjawab, ganti Paman yang bicara.

"Andra ke rumah Paman, In. Dia bilang dapat alamat dari temanmu di kantor. Paman tidak tahu siapa temanmu itu, dan menurut Andra, kamu dan dia sudah pacaran."

Aku meneguk liur. Astaga, apa yang terjadi dalam semalam? Kukira hanya aku yang mengambil keputusan. Kini aku tak lagi bisa menyembunyikan apapun.

"Itu memang benar, Paman. Tapi... orangtua... orangtua Andra itu... " Aku ragu mengungkapnya, kuatir Mama terkenang masa-masa menyakitkan keluarga kami itu lagi, jadi aku menatapnya sambil meneruskan kalimat, "Bapaknya adalah Haji Yahya Badang."

Mama menutup mulutnya. Papa menghembuskan napas kuat-kuat dan Pamanku menggeleng-geleng tak percaya. Kenangan masa lalu itu masih sangat membekas dalam ingatan keluarga kami.

Aku menjadi saksi kehancuran yang kemudian menjadi efek domino. Aku gagal kuliah, hanyalah salah satu akibat dari kehancuran keluarga saat itu. Makanya, satu nama yang kusebutkan itu cukup untuk menjelaskan penolakanku pada Andra.

"Jadi kamu terima Arzi karena ingin lari dari Andra itu?" tanya Papa setengah menyimpulkan. Wajahnya berubah muram.

Aku menggeleng. "Inka juga gak ngerti, Pa. Yang jelas Inka membutuhkan Mas Arzi. Dia itu pembimbing dan pengurus di Mesjid. Selama Inka kenal dia, Mas Arzi baik banget sama Inka. Tiap Inka ada masalah selama di Sangatta, Mas Arzi selalu bantuin."

"Hanya itu, Prins? Kamu gak lihat rombongannya tadi? Kamu gak takut dipoligami? Orang-orang seperti mereka biasanya suka berpoligami," tanya Papa lagi. Papa akan selalu seperti ini. Sebagai penegak hukum, Papa sangat tegas, termasuk memastikan kalau keputusanku tidak akan salah.

Aku tertawa. "Bukannya selama ini Mr. Capt udah ngajarin Inka? Ya kan, Ma?" sindirku. Mama tergelak, mengangguk setuju. Suasana kini lebih santai. Ketegangan di wajah Paman dan Papa mulai hilang.

"Paman liat tadi kamu sama dia akrab banget. Sudah lama kenalnya, In?" tanya Paman.

Aku menggeleng. "Baru sekitar 3 bulan, Man. Itu juga jarang ketemu. Kan Inka dan Mas Arzi sama-sama sibuk."

"Dia kayaknya orang penting ya, In. Kenal di mana?" tanya Paman lagi.

"Kalo aku ceritain jangan ketawa ya, Man," Aku memperbaiki cara dudukku. Lalu mulai bercerita bagaimana Arzi saat memberiku bawahan mukena, mendengar suara ia mengaji, hingga bagaimana saat ia melamarku. Tetapi aku tak cerita soal kunjungan kami ke Balikpapan. Hanya tetap kujelaskan mengapa begitu banyak orang yang ikut mengantar Arzi.

“Inka, kamu yakin?” tanya Papa setelah kami bertukar informasi tentang Arzi.

Aku mengangguk. Papa masih ingin bicara tapi terdengar ketukan di pintu. Haris masuk. Dia memberikan sebuah catatan pada Papa. Tulisan tangan. Aku langsung tahu apa itu. Pasti itu informasi yang dikumpulkan Haris dari kepolisian Sangatta. Sangat mudah.

Tapi aku tetap santai. Dengan basic Arzi yang kuketahui saja, Papa pasti akan menyukainya. Itu adalah tipe menantu yang selama ini berulangkali ia maksudkan.

Papa mengangguk-angguk. Wajah muramnya berubah cerah. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menatapku. "Papa setuju kalau kamu setuju."

"Makasih, Kap!" Aku berdiri memeluk leher Papa.

"Paman juga. Paman setuju banget asal kamu bahagia, Nak!" kata Paman Hakim penuh semangat. Aku tertawa lebar.

Mama dan kedua adikku juga ikut tertawa melihat tingkahku. Bergelayut manja di antara dua pria kesayanganku ini. Sebentar lagi akan ada tiga orang yang menjadi kesayanganku. Adikku hanyalah setengah kesayangan. Ia adik yang usil soalnya.

Malam itu, telponku berbunyi. Karena kamarku terletak paling dekat dengan telepon rumah, aku yang menjawabnya.

"Assalamualaikum." Suara Arzi! Dia tahu nomor telepon rumah dari mana?

"Waalaikumsalam, Pak... Bapak di mana sekarang?" tanyaku cepat. Tak lagi peduli dari mana Arzi tahu nomor telepon kami. Siapa tahu ia masih di Balikpapan. Mungkin ia tahu dari telepon rumah Bayu yang tadi siang kupakai.

"Mmm... Masih di rumah Mas Bayu."

"Ketemuan yuk, Pak. Sekarang!" ajakku penuh semangat. Tak sabar ingin memberitahunya kabar gembira.

"Sekarang? Kamu gak capek? Dari kemarin kan istirahatmu sebentar-sebentar aja."

"Bapak gak pengen tahu jawabanku?" pancingku.

"Sudah tahu, pasti sudah disetujui kan?" 100% tepat!

"Iiih, kok pede banget?" Aku mencoba mengelak.

"Ya kalau kamu gak setuju, kenapa semangat banget mau ketemu saya coba?"

Aku tergelak. Iya ya benar juga.

"Saya harus mengurus beberapa hal, In. Untuk pernikahan kita. Saya pengen ngajak kamu secepatnya ke Jakarta. Ingat kan kalo kamu itu lagi sakit?" kata Arzi di ujung telepon.

Pria ini bahkan mengingat sesuatu yang kulupakan. "Kan masih bisa nunggu, Pak. Aku masih sehat ini."

"Inka, kamu itu sekarang tanggung jawab saya. Saya harus memikirkan kamu sebagai prioritas saya. Menjadikanmu istri itu satu hal, tapi menjagamu sebelum sakit itu itu jauh lebih penting."

Seseorang memegang bahuku. Sang Kapten, Papaku. Ia memberiku isyarat, ingin bicara dengan Arzi. Otomatis aku menyerahkan gagang telpon.

"Assalamualaikum, Zi. Ini Papa. Soal surat-suratmu, Papa minta kamu kirim segera supaya bisa Papa bantu urus ya.... mmm.... ya, ya betul... Baik. Tenang saja soal itu. Kebetulan teman baik Papa Kepala KUA di sini. Kamu tenang saja... Baiklah.... Mau bicara lagi sama Inka?" tanya Papa. Aku meraih kembali gagang telepon.

"Inka... istirahat ya. Kabari saya kalau kamu mau pulang."

"Okee,* I'll do. Assalamualaikum*!"

"Waalaikumsalam."

Telepon berakhir dan Papa memandangiku. "Princess, kamu bahagia? Kamu yakin dengan pilihanmu kan? Belum terlambat kalo kamu mau menolak," tanya Papa serius.

Aku berdiri, memberi salam hormat ala militer. "Siap, Kapten!* I do, I do now.* Princessnya Kapten akan selalu berusaha bahagia."

Papa memegang kepalaku dan berlalu. Membiarkan aku sendiri memandangi keindahan bulan dari balik jendela. Aku teringat Andra, dan mau tak mau dadaku kembali terasa sesak. Sulit melupakannya, sulit juga bagiku menyembunyikannya.

Tapi untunglah, kedatangan Arzi, lamarannya dan semua yang terjadi hari ini, tak membuat Papa dan Mama bertanya banyak tentang dirinya. Mungkin mereka mengira, Andra sama seperti pemuda-pemuda lain yang pernah berusaha dekat denganku. Hanya sekilas hadir dalam hidupku, dan setelah tahu siapa orangtuaku, terutama Papa, mereka akan menghindar.

Airmataku jatuh tanpa kusadari.

Keputusan telah diambil. Aku mencintai Papa, Mama dan seluruh keluargaku. Mereka segalanya bagiku dibandingkan satu Andra. Cintaku yang pertama ternyata bukan cinta terakhir untukku.

Aku hanya berharap, waktu akan mengganti Andra menjadi Arzi di hatiku. Sama seperti aku berharap, Andra akan mengerti saat nanti aku pulang dan memberitahunya, tanpa perlu menjelaskan luka lama di antara keluarga kami.

1
ifa chennel
baca lagi 2026😍
Suyudana Arta
1chapter panjang bener
Rya Wati
ya ampun baru nemu tulisan kakak author ini..bagus dan menjiwai bgt.semangat unk berkarya thor.
martina melati
pingsan krn krg mkn asupan gizi (lapar dan haus)
martina melati
jangan lupa pake sunblok
martina melati
pdhal sepatu kets ato sneaker lg nyaman dkaki ktimbang heels
martina melati
koq gt thor... lg nyamar y
Ika Decs LiaNdra
april 2024, dan saya masih menanti "welcome love" rilis.

semangat otor
vindya sudirman
ini ke 10 kalinya saya membacanya
Musdalifa Ifa
bagus sekali
Nona
sumpah ni cerita bikin gagal move on 😭 keren bangaat aku salut ama kesabaran dan kegigihan sih arzi 😭
aku harap cerita sesion berikut welcome love nya segera di rilis 😥 penasaran pake bangaaat. ini ceritaaaa jadi motivasi bangaaaat, jugaaa bnyak ilmu yg qt ambil dari cerita ini. thanks ya thor atas smua tulisan tulisanmu. 🙏🙏🙏🙏🙏
Liza Permasih
gemeeesss.... seruuuu....
Apri Ani
ceritanya bagus sekali, banyak pembelajaran dalam ceritanya.
TDK sabar tunggu cerita selanjutnya
Apri Ani
suka dengan ceritanya, seperti kenyataan
gaby
Kalo menurut pandangan gw, si Arzi ini munafik, sok alim. Pura2 ga mau bertatap mata & bersentuhan tapi mepet Inka mlulu. Ngegombalin Inka mlulu, katanya bkn Mahrom tp ko modusin Inka mlulu. Justru gw lbh respect ke Andra, dia bkn tukang gombal kaya Arzi. Tp syg gw dah baca endingnya kalo Andra jd sadboy😥😥
Rose_Ni
kapan thor rilisnya,hampir 3 thun lebih lo
Rose_Ni
ngerti kok kenapa inka begitu
Rose_Ni
tahun itu aku masih SMP
Rose_Ni
Alhamdulillah Sah
Rose_Ni
oke dehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!