Menikah di usia belia, sama sekali tidak pernah terlintas di benak Karamel. Apalagi jika suaminya berusia sepuluh tahun lebih tua darinya. Karena permintaan terakhir sang ayah, Kara terpaksa setuju untuk menikah dengan Azka, pria yang dianggapnya tua.
Azka memiliki alasan tersembunyi sehingga dia mau menikahi Kara yang sama sekali tidak dikenalnya. Hingga dia pun mengajukan perjanjian dengan gadis yang dianggapnya sebagai bocah itu. Perjanjian itu akhirnya mereka setujui sebelum menikah.
Setelah menikah, sifat kekanak-kanakan Kara semakin terlihat jelas, hingga membuat kesabaran Azka teruji.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Sanggupkah Azka mengubah Kara menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBA — Bab 29
Kara semakin bingung dengan jawaban yang Azka berikan. Di satu sisi dia membenarkan bahwa apa yang Arsha katakan memang benar, dan di sisi lain dia ingin membuktikan bahwa apa yang Arsha katakan itu salah.
“Azka, mama rasa sebaiknya kamu dan Kara tinggal berdua saja. Itu akan lebih baik untuk hubungan kalian, dan juga Arsha.” Mama Dita mencoba menengahi kedua putra dan menantunya.
“Aku setuju, Ma. Aku juga sudah membeli apartemen untuk aku dan Karamel tinggal. Cuma Karamel yang bisa membuktikan kalau aku normal.” Azka menatap Karamel yang membuat gadis itu salah tingkah.
“Benarkan, Kara hanya kamu manfaatkan saja. Kamu itu enggak normal, enggak pantas buat Kara.” Arsha semakin terang-terangan mengatakan kekurangan kakaknya di hadapan Karamel.
Kara tahu, saat Azka menciumnya, dia bisa merasakan bahwa milik suaminya itu bereaksi. Akan tetapi, bisa saja jika Azka memang menyukai dua jenis kelamin sekaligus.
“Kamu tidak usah keluar dari rumah ini. Aku dan Karamel yang akan pergi karena apartemen kami sudah siap,” kata Azka lalu berbalik badan dan meninggalkan kamar ibunya.
Melihat Azka pergi tanpa penjelasan, Kara akhirnya mengikuti suaminya yang berjalan menuju kamar mereka.
“Kak tunggu, Kakak belum jelasin apa-apa sama aku.” Kara mengejar langkah suaminya yang berjalan cepat menuju kamar.
Azka memasuki kamar dan duduk di ranjang. Wajahnya menatap Kara yang juga memasuki kamar lalu menutup pintunya.
“Kalau mau penjelasan, kamu duduk di sini. Aku akan jelaskan semua yang ada di pikiran kamu,” kata Azka sambil menepuk kasur di sebelahnya.
Kara menurut dan memilih duduk di samping Azka. Dia menghela napas lalu menatap suaminya ragu-ragu.
“Kenapa Kakak mau menikah sama aku?” tanya Kara dengan mimik serius.
“Karena ayah kamu dan papaku percaya, aku bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Mereka percaya aku bisa membuat kamu bahagia. Meskipun sekarang aku belum bisa membuktikan kepercayaan mereka,” jawab Azka.
Kalau Kak Azka benar-benar penyuka sesama, dia pasti nggak akan ngapa-ngapain aku, ‘kan?
“Foto itu, Kakak sama dia ....”
“Iya, teman aku memang penyuka sesama, tapi aku tidak. Waktu itu aku mabuk berat dan aku tidak sadar apa yang terjadi. Beruntungnya, sebelum terjadi sesuatu yang lebih gila, Arsha datang marah-marah dan menghajarku. Ya, jadi foto itu memang benar. Itulah aib terburuk yang tanpa sadar sudah aku lakukan.”
Wajah Azka terlihat sangat sedih dan menyesal. Semua kesalahpahaman itu membuatnya harus rela menikah dengan Kara untuk membuktikan pada keluarganya bahwa dia laki-laki normal.
“Kak, apa kamu mau mengubahmu jadi normal lagi?” tanya Kara yang sepertinya masih belum terlalu paham maksud Azka.
“Karamel, aku ini normal. Mau bukti?” Azka tersenyum nakal lalu menggeser duduknya pada Kara.
“Kakak mau apa?”
“Mau kasih lihat ke kamu, seberapa normal aku.” Azka mulai mendekatkan wajahnya pada Kara, tapi dengan cepat Kara menghindar. “Karamel, aku suami kamu yang berhak atas semua yang ada padamu.”
Debaran di jantung Karamel semakin jelas terasa saat Azka kembali mendaratkan ciuman di bibirnya.
Bagaimana ini? Aku takut. Aku masih muda, aku masih mau bersenang-senang.
Azka semakin mendekatkan wajahnya dan kini mulai merebahkan tubuh Kara tanpa melepaskan ciumannya.
Kara mendorong tubuh Azka hingga ciuman itu terlepas dan mereka saling bertatapan mata. “Aku, aku belum siap, Kak.”