Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Tamu Tak Diundang di Gang Kelinci
Sore itu di Kosan Pak Haji Mamat sedang berlangsung kegiatan rutin warga: Adrian sedang belajar mencuci baju sendiri di ember.
Dengan lengan baju digulung dan celana pendek selutut, Adrian mengucek kemeja kerjanya dengan ekspresi serius seolah sedang melakukan operasi bedah jantung. Dia menakar deterjen cair dengan sendok takar obat agar presisi.
"Kevin," panggil Adrian tanpa menoleh. "Apakah buih segini sudah cukup untuk membunuh bakteri Staphylococcus aureus?"
Kevin, yang sedang makan gorengan di teras sambil main game, menyahut santai, "Wah, kurang tahu, Dok. Kalau saya sih prinsipnya: asal wangi, berarti bersih. Kucek aja yang keras."
Tiba-tiba, keheningan sore yang damai itu pecah.
Suara mesin mobil halus namun bertenaga terdengar memasuki gang sempit itu. Bukan suara knalpot motor berember milik warga lokal.
Sebuah Porsche Macan berwarna merah menyala berhenti tepat di depan pagar kosan, nyaris menyerempet gerobak bakso Pak Mamat.
Ibu Kos berteriak dari lantai bawah. "Mas Adrian! Ada tamu! Cewek cantik banget! Kayak boneka India!"
Adrian membeku. Tangannya yang penuh busa sabun berhenti bergerak. Firasatnya tidak enak.
Rania, yang baru pulang dinas dan sedang menjemur handuk di balkon sebelah, melongok ke bawah. Matanya membelalak.
Pintu mobil terbuka. Sepatu stiletto merah setinggi 12 cm mendarat di atas paving block yang agak berlumut. Clarissa turun, mengenakan dress sutra yang harganya mungkin bisa buat beli seluruh kosan ini. Dia memakai kacamata hitam oversized, memandang sekeliling dengan ekspresi jijik yang tidak ditutupi.
"Clarissa?" desis Rania. Dia buru-buru sembunyi di balik jemuran sprei, tapi telinganya dipasang lebar-lebar.
Adrian buru-buru membilas tangannya, menyambar handuk, dan turun ke bawah. Penampilannya—kaos oblong polos, celana pendek, dan sandal jepit Swallow—sangat kontras dengan Clarissa.
"Clarissa," sapa Adrian dingin saat sampai di gerbang. "Ngapain kamu ke sini? GPS kamu rusak?"
Clarissa membuka kacamata hitamnya. Dia menatap Adrian dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya campuran antara kaget dan kasihan.
"Oh my God, Adrian," suara Clarissa bergetar dramatis. "Liat kamu... Kamu tinggal di kandang ayam ini? Liat baju kamu... itu kaos pasar malam?"
"Ini Uniqlo, Clarissa. Dan ini bukan kandang ayam. Ini tempat tinggal manusia," jawab Adrian datar. "Ada perlu apa?"
Clarissa maju selangkah, berusaha tidak menginjak genangan air bekas cucian motor.
"Aku datang untuk nyelamatin kamu, Ad," kata Clarissa, suaranya melembut membujuk. "Aku udah bicara sama Om Wijaya. Beliau menyesal. Dia marah sesaat aja waktu itu."
Adrian melipat tangan di dada. "Oh ya?"
"Iya. Papa kamu setuju balikin semua fasilitas kamu. Mobil, kartu kredit, jabatan direktur. Bahkan dia mau kasih kamu proyek RS baru di Singapura."
Di balkon atas, Rania menahan napas. Singapura. Direktur. Mobil mewah. Itu dunia Adrian yang asli.
"Syaratnya?" tanya Adrian. Dia tahu ayahnya. Tidak ada makan siang gratis.
Clarissa tersenyum manis. Dia menyentuh lengan Adrian, jari lentiknya membelai otot bisep Adrian.
"Syaratnya simpel, Sayang. Kamu minta maaf. Kamu tinggalin tempat kumuh ini. Dan... kamu tinggalin dokter perempuan rendahan itu."
Clarissa menunjuk ke arah balkon atas dengan dagunya, seolah dia tahu Rania sedang mengintip.
"Kita nikah, Ad," lanjut Clarissa. "Kita pasangan sempurna. Kita power couple. Bayangin, klinik kecantikan terbesar di Asia Tenggara milik kita berdua. Kamu nggak perlu lagi nyentuh pasien buruh pabrik yang bau keringat. Kamu nggak perlu lagi makan nasi goreng pinggir jalan."
Tawaran itu menggiurkan. Sangat logis. Sangat... Adrian (versi lama).
Rania di balkon meremas jemuran sprei. Dia merasa kecil. Dia merasa egois kalau menahan Adrian di sini. Adrian adalah elang, dia tidak pantas dikurung di sangkar pipit.
Rania keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan menuruni tangga besi dengan langkah berat.
"Ad," panggil Rania saat sampai di bawah.
Clarissa menoleh, tersenyum sinis. "Nah, ini dia sumber masalahnya."
Rania mengabaikan Clarissa. Dia menatap Adrian.
"Ad," kata Rania pelan, suaranya serak. "Terima aja."
Adrian menoleh cepat, keningnya berkerut. "Apa?"
"Terima tawaran dia," Rania memaksakan senyum, meski matanya berkaca-kaca. "Lo nggak cocok di sini, Ad. Liat lo... nyuci baju aja lo bingung takaran sabunnya. Lo biasa hidup enak. Singapura itu tempat lo. Di sini lo cuma bakal menderita."
"Tuh kan, Ad!" sambar Clarissa girang. "Dia aja sadar diri. Ayo, kemasi barang kamu. Driver aku bisa bantu angkut."
Adrian diam. Dia melihat Clarissa yang berkilauan, lalu melihat Rania yang memakai kaos partai kedodoran dan celana training.
Adrian melangkah mendekati Rania.
"Kamu ngusir saya?" tanya Adrian tajam.
"Gue nggak ngusir. Gue realistis," jawab Rania, menunduk menatap sandal jepit Adrian. "Gue nggak mau jadi alasan lo kehilangan masa depan lo."
Adrian mendengus kasar. Tiba-tiba, dia tertawa. Tawa yang lepas.
Dia berbalik menghadap Clarissa.
"Clarissa, terima kasih tawarannya. Kedengarannya luar biasa. Direktur, Singapura, mobil mewah."
Clarissa tersenyum lebar. "Bagus! Ayo kita—"
"Tapi," potong Adrian. Wajahnya berubah serius. "Saya nggak bisa ambil."
Senyum Clarissa lenyap. "Kenapa? Kamu gila?!"
"Mungkin," Adrian mengangkat bahu. "Masalahnya, Clarissa, di dunia mewah kamu itu... udaranya tipis. Palsu. Saya sesak napas di sana."
Adrian berjalan mendekati Rania, lalu tanpa ragu merangkul bahu Rania erat-erat. Rania tersentak kaget, mencium aroma sabun cuci yang segar dari baju Adrian.
"Dan soal 'dokter rendahan' ini," lanjut Adrian, menatap Clarissa tajam. "Dia satu-satunya orang yang berani marahin saya saat saya salah. Dia satu-satunya orang yang nanya apa saya udah makan atau belum, bukan nanya berapa duit yang saya hasilkan hari ini."
"Adrian! Kamu milih dia?! Dia bahkan nggak selevel sama kita!" jerit Clarissa, wibawanya runtuh.
"Koreksi. Saya yang nggak selevel sama dia. Hatinya jauh di atas saya," balas Adrian tenang. "Jadi, silakan pergi, Clarissa. Bawa mobil mewah kamu. Hati-hati polisi tidur di depan gang, bumper kamu bisa lecet."
Clarissa menghentakkan kakinya keras-keras, membuat stiletto-nya menancap di tanah.
"Kamu bakal nyesel, Adrian! Nanti kalau kamu kelaparan dan nangis-nangis minta balik, jangan harap aku bukain pintu!"
Clarissa berbalik, masuk ke mobilnya, membanting pintu, dan memacu mobilnya mundur dengan kasar. Suara decitan ban terdengar menyakitkan.
Suasana kembali hening. Hanya suara Ibu Kos yang berbisik-bisik takjub di balik jendela.
Rania masih dalam rangkulan Adrian. Dia mendongak.
"Lo... lo bego ya?" kata Rania, air matanya menetes satu. "Itu Singapura, Ad. Singapura!"
Adrian melepaskan rangkulannya, lalu menangkup wajah Rania dengan kedua tangannya yang masih sedikit bau deterjen.
"Singapura nggak punya Nasi Goreng Tek-Tek," kata Adrian lembut.
"Ad, gue serius!"
"Saya juga serius, Rania." Adrian menatap manik mata Rania dalam-dalam. "Masa depan saya bukan di gedung pencakar langit. Masa depan saya di mana saya bisa merasa hidup. Dan anehnya... saya merasa paling hidup kalau lagi berantem sama kamu."
Jantung Rania berdetak tak karuan. Jarak wajah mereka sangat dekat. Rania bisa merasakan napas hangat Adrian.
"Jadi," bisik Adrian. "Berhenti nyuruh saya pergi. Karena saya betah di sini. Paham?"
Rania mengangguk kaku, lidahnya kelu.
"Bagus," Adrian tersenyum. "Sekarang, ajarin saya cara bilas cucian. Busa di baju saya nggak mau ilang."
Adrian berbalik badan dan berjalan santai menuju ember cuciannya lagi, meninggalkan Rania yang berdiri mematung dengan pipi semerah tomat.
Di lantai atas, Kevin bertepuk tangan pelan.
"Gila. Drakor live action. Keren banget tetangga gue."
Malam itu, Rania tidak bisa tidur. Bukan karena nyamuk, tapi karena dia sadar: Pangeran itu benar-benar memilihnya. Dan itu membuatnya takut sekaligus bahagia setengah mati.
...****************...
Bersambung .....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
betewe ini cerita bagus napa masih sepi ya?
ceritanya bagus banget