Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 29
Pagi ini Byakta bangun agak kesiangan, hari ini juga ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, ia ingin istirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya.
Suasana rumah tampak lenggang, entah kemana semua orang, tapi ia tidak peduli itu, ia hanya ingin ke kamarnya dan menghempaskan tubuh lelahnya di kasur, itu saja. Ia berjalan sambil memegang kepalanya, dengan malas ia menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju kamarnya.
Penampilannya tampak sangat berantakan, kemeja yang ia pakai kemarin masih melekat di tubuhnya dengan kancing yang terbuka bagian atasnya, terlihat acak-acakan.
Ia masuk ke dalam kamar, berjalan menunduk menuju kasur king sizenya. Namun tiba-tiba teriakan seseorang menyadarkannya dan langsung melihat siapa pemilik suara memekakkan telinga itu.
Audrey, jelas Audrey. Karena hanya dia yang bebas keluar masuk kamarnya selain Bibi Lauren atau pun Bastian.
"Pejamkan mata!" teriak Audrey penuh ancaman, gadis itu menuding wajah Byakta dengan jari telunjuknya, sedangkan tangan satunya lagi berusaha memegang handuk yang hampir jatuh.
Byakta yang terkejut dan tidak paham dengan situasi yang ada, langsung memejamkan mata atas perintah Audrey yang penuh ancaman.
Audrey mengambil kesempatan saat Byakta memejamkan mata untuk membenahi handuknya yang hampir jatuh tadi dan dengan cepat ingin kembali ke kamar mandi.
Namun tangannya di cekal oleh Byakta dan di tarik, membuat handuk yang dikenakan Audrey terjatuh sempurna ke lantai. Membuat tubuh indah nan mungil itu terekspos jelas.
"Berani sekali kau! Setelah menggodaku, kau ingin melarikan diri?" Byakta menyeringai, entah kenapa tubuhnya seperti di sulap, yang tadi lesu dan lelah, kini kembali bersemangat setelah melihat penampilan Audrey yang menggoda iman siapa yang melihatnya.
Tubuh mungil dengan anggota tubuh yang serba mungil punya, terlihat sangat menarik di mata Byakta.
Saat pertama Byakta mengambil haknya secara paksa, ia tidak sempat menikmati tubuh indah ini dengan kedua matanya, karena saat itu dirinya sudah dikuasai api gairah yang ia sendiri tidak bisa mengendalikannya.
"S-saya tidak menggoda anda, Tuan. Anda yang tiba-tiba masuk saat saya akan mengambil baju tadi," sangkal Audrey tuduhan Byakta yang mengatakan ia sedang menggoda laki-laki itu.
Gadis itu menarik tangannya yang di genggam Byakta, tadinya ingin kabur tanpa peduli dengan sorot mata tajam laki-laki itu.
Namun sebelum Audrey bisa melarikan diri, Byakta melangkah mendekat, membuat Audrey mundur perlahan, hingga ketika Audrey sudah dekat dengan pinggir tempat tidur, Byakta mendorong kedua bahu Audrey.
Membuat gadis itu jatuh telentang di atas tempat tidur, dengan cepat Byakta menindihnya. Ia selalu tidak bisa menahan diri jika bersama Audrey, entah kenapa sejak pertama kali melakukannya, Byakta selalu terbayang harus tubuh gadis itu.
"Ini hukuman karena kau berani menggodaku,"
Byakta menyatukan bibirnya dengan milik Audrey, ia menggigit sedikit bibir mungil itu agar gadis itu membuka mulutnya.
Audrey yang awalnya menolak, lama-lama hanyut juga dalam permainan Byakta yang penuh kelembutan. Ia mulai menikmati hingga gak terasa keduanya sudah tidak mengenakan apapun lagi.
Byakta terus melakukan aksinya saat tidak mencapai penolakan dari Audrey, justru gadis itu sangat menikmati semua permainan Byakta yang sebenarnya masih amatir.
Hanya saja, karena sama-sama pemula, mereka menikmati setiap apa pun yang mereka bisa.
Audrey melupakan surat perjanjian dan segala isinya, hingga tak segan ia mulai mengeluarkan suara indahnya.
Byakta semakin bersemangat saat suara indah itu merasuki pendengarannya di sela aktivitasnya, suara itu bagai alunan indah yang membuat Byakta terus menari dalam sebuah rasa yang mungkin juga dirasakan Audrey.