NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kecupan

Hilir dalam kesunyian, gerak perlahan namun sikap yang tak pernah berubah. Memegang dua kuntum mawar segar dengan merabah sentuhan di ilalang sepanjang ia berjalan.

Sampailah lelaki itu di sebuah kursi yang terbuat dari kayu pohon sekitar. Tempat duduknya bersama gadis cantik itu. Diletakkannya mawar yang telah gugur beberapa kelopaknya diatas tempat duduk tersebut tepat di sampingnya.

Ia menaikkan satu kakinya di atas tempat duduk tersebut dengan merangkul kedua tangannya kedepan memegang kakinya dan menyandarkan tubuhnya sembari menatap langit yang kian mengemas, warna emas dengan warna jingga bersatu walau hanya sebentar. Terlihat sedikit warna biru sudah mulai menggelap, langit kali itu bagaikan kanvas yang terlukis dengan indahnya.

Angin mulai berhembus, wangi dedaunan telah menyatu dengannya. Sedikit ia memejamkan mata sebentar lalu menarik nafas hingga perlahan. Hening dan tenang sambil membayangkan dirinya terus memeluk gadis itu dalam tidurnya.

“Siapa yang berani melukainya?” Tanya Dean pada Rico yang baru saja datang dan berdiri di sebelahnya.

“Saya masih menyelidikinya tuan, hari sudah menggelap. Kita harus kembali terlebih dahulu.” Pinta Rico pada Dean.

Langit itu mendadak gelap tanpa sorotan kelip bulan maupun bintang, terlihat suram dan pandangan Dena cukup gusar namun ia tetap bersikap tenang.

Dalam perjalanan kembali Dean memacu kudanya dengan sangat cepat sambil terus memikirkan Rona, wajah datarnya berubah sedikit senyum mengingat ia menggenggam tangan gadis itu dan berhasil memastikan keadaannya walaupun ada beberapa luka termasuk di dahi.

“Harusnya aku memberikan beberapa salep agar tidak menimbulkan luka di wajah cantiknya.” Gumam Dean sedikit menaikan alisnya dan ujung bibirnya.

Hal itu sekilas terlihat oleh Rico, lelaki itu mendadak merasa aneh melihat majikannya yang berekspresi berbeda dari biasanya.

Sampailah mereka di penginapan pinggir kota, tepatnya di dekat gubuk tua milik Lena, beberapa waktu lalu Dean sempat membeli beberapa tanah di dekatnya agar dapat menemukan sumber air bersih setelah menggali beberapa puluh meter pada tanah tersebut dan berhasil dijadikan sumur.

Tepat sekali saat dibutuhkan pasangan tua itu berhasil mengolah lahan sekitar dan memanfaatkan sumber air bersih tersebut.

“Jadi ini laporannya tuan.” Terlihat Rico memberikan setumpuk kertas diatas meja berukuran sedang dihadapan Dean.

Mata Dean hanya terpaku pada kertas helai demi helai, mencorat coret dan memeriksa yang ada disana.

“Perbaiki ini, ini juga.” Dengan melihat Dean mencorat coret dan memeriksa dengan teliti.

“Baik tuan.” Angguk Rico.

“Ini juga, laporan keuangannya tidak sesuai tolong selidiki bagian ini ke sini. Dan seperti nya pemilik toko tidak bekerja dengan baik, lihat ini.” Dean mencoret bagian penting dan memberikan pada Rico.

“Baik tuan.” Tak terasa kertas yang ada di tangan Rico sudah setebal satu lengannya.

Tak terasa malam itu cepat sekali berlalu, semua pekerjaan Dean terselesaikan walaupun sudah sangat larut, tak pernah lupa ia ingin mengunjungi Rona dan mengganti pakaiannya agar tidak mencolok.

Dean memakai sarung tangan dan mengencangkannya, memakai jubah dan mencoba menutupi kepalanya. Rico yang menatap Dean sambil bersandar di ujung pintu menatap majikannya itu dengan lekat.

“Tuan akan menemui nona lagi?” Tanay Rico, tidak perlu ditanya jawabannya seharusnya sesuai tebakannya.

Dean hanya tersenyum dan melompat dari lantai dua gubuk tersebut.

“Tuaaaan.” Teriak Rico.

Rico mendekati jendela lantai dua tempat ia berdiri melihat Dean melompat ke bawah. Rico menepuk kepalanya dan melepaskan kacamatanya lalu memijat matanya yang ada diantara hidungnya.

Malam dengan cahaya bulan purnama yang indah, sesekali terdengar lolongan serigala dari jauh. Sepertinya Dean menyadari suara-suara itu adalah untuk mencari pasangan, hari dimana sang jantan mencari sang betina. Sama sepertinya, bedanya musim itu adalah musim kawin bagi para serigala. Persamaannya ya ia hanya ingin menatap wajah gadis tersebut dan menggenggam lembut tangannya semalaman.

Langkah kaki dengan hentakkan perlahan memasuki kamar milik Rona, terlihat wajah polos dan mata terpejam itu tampak tenang, gadis itu mengenakan gaun putih berselimutkan sutra. Wajah itu seolah menikmati waktu tidurnya dan melupakan beban dan permasalahan yang terjadi.

Dean mendekati Ranjang tersebut dan mengelus rambut sampai ke kepala Rona, diambilnya salep dari sakunya laku mengoleskannya pada dahi gadis cantik yang masih terlelap tersebut.

Setelahnya Dean meninggalkan salep tersebut diatas meja sebelah kasur Rona, mata Dean terpaku dengan 3 tangkai mawar yang sudah dihiasi sebuah pot bunga yang berisikan air, membuat bunga itu tetap segar.

Senyum tipis Dean menatap Rona dan mengelus lembut kembali wajah gadis itu, ia terlelap bagaikan putri tidur.

“Cantiknya, padahal pangerannya sudah disini namun putrinya tetap tertidur lelap.” Suara lembut itu ia bisikan di telinga Rona.

Tangannya dihentikan oleh tangan Rona dan gadis itu membuka matanya menatap ke dalam mata Dean.

“Kau datang tanpa sepata kata.” Rona memiringkan kepala dan menatap Dean yang saat itu menutup wajahnya dengan jubah, Rona segera bangkit dari kasurnya dan duduk.

“Bagaimana kau tau ini aku? Apakah aku membangunkanmu?” Tanya Dean bingung.

Rona menarik baju lelaki itu dan memeluknya dengan erat. Kehangatan saling mengisi tubuh mereka, lara yang selama ini terpendam menemukan tempat ia berpulang.

“Aroma tubuhmu sangat khas, dan aku menyukainya. Aku merindukanmu.” Jawab Rona sekaligus mengungkapkan isi hatinya dengan spontan pada malam itu.

Jantung Dean seakan bergejolak dengan cepatnya, degupan kencan yang meronta-ronta dari balik dadanya, tatapan mereka saling bertemu. Mata Dean juga memancarkan kerinduan yang mendalam, disentuhnya wajah gadis itu dengan lembut.

Dean sempat berpikir apakah cuma dia saja yang bisa mencium aroma Khas dari Rona ternyata sebaliknya.

“Aku juga merindukanmu.” Dean menatap Rona, mata mereka saling beradu dan semakin dekat.

Satu kecupan lembut mendarat di bibir merah muda Rona.

“Aku juga menyukaimu.” Dean melepaskan tudung kepalanya agar gadis itu bisa menatapnya dengan jelas.

Tangan Rona memegang pundak leher belakang Dean, dikecup lembut kembali Dean melepaskan kerinduannya, ciuman itu terjadi begitu cepat bahkan dekapan dari tangan Dean begitu dalam memeluk tubuh Rona.

Malam yang indah, pertemuan demi pertemuan terus diusahakan. Beberapa kali sempat merasa kehilangan beberapa hal juga mengalami kekecewaan. Titik temu yang telah beradu menyatu dalam peluk hangat.

“Jangan pergi lagi.” Pinta Rona yang telah menyelesaikan ciuman panas mereka.

Dean terbatuk kaku, lalu menatap Rona.

“Aku tidak akan pergi lama, ada banyak hal yang harus diurus. Bisa tunggu aku sedikit lagi?” Tanya Dean dengan lembut.

Rona hanya mengangguk dan Dean mengecup lembut dahi Rona.

Suara ketukkan pintu kamar terdengar.

“Tok tok tok”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!