NovelToon NovelToon
PAH, AKU TIDAK BERNAFSU LAGI

PAH, AKU TIDAK BERNAFSU LAGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Dokter / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ada Rasaku

Tiga tahun yang penuh perjuangan, Cathrine Haryono, seorang gadis desa yang memiliki ambisi besar untuk menjadi seorang Manager Penjualan Perusahaan Top Global dan memimpin puluhan orang dalam timnya menuju kesuksesan, harus menerima kenyataan pahit yang enggan dia terima, bahkan sampai saat ini.

Ketika kesempatan menuju mimpinya di depan mata, tak sabar menanti kehidupan kampus. Hari itu, seorang pria berusia 29 tahun, melakukan sesuatu yang menghancurkan segalanya.

Indra Abraham Nugraha, seorang dokter spesialis penyakit dalam, memaksa gadis berusia 18 tahun itu, menjalani takdir yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali dalam hidupnya.

Pria yang berstatus suaminya sekarang, membuatnya kehilangan banyak hal penting dalam hidupnya, termasuk dirinya sendiri. Catherine tidak menyerah, dia terus berjuang walaupun berkali-kali tumbang.

Indra, seseorang yang juga mengenyam pendidikan psikolog, justru menjadi penyebab, Cathrine menderita gangguan jiwa, PTSD dengan Skizofrenia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ada Rasaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 | Menghadapi Komplotan Bocil Pengutil

Jantung para bocil berdegup kencang, seakan meronta ingin keluar dari tempatnya, kala Catherine mengamati wajah mereka satu per satu, intens. Tatapan wanita itu makin mengerikan seolah menguliti hidup-hidup. Satu dari mereka bahkan sampai ada yang mengompol, celana basah dan rembesan air kencingnya membasahi sandal jepit swallow berwarna putih tosca dan lantai di posisinya berdiri.

Si ketua komplotan menggigit bibirnya, yang gelap, kering dan pecah-pecah, ada kupasan kulit. Pandangan matanya kemana-mana pada lantai, menunduk dan mencari alibi. Lalu, matanya menyalang licik ketika sepasang matanya, agak menguning itu, melihat seorang lelaki berkulit kuning Langsat dan mirip oppa-oppa Korea, mendekat berbarengan dengan kereta dorong angkut yang memuat berdus-dus biskuit dan wafer berbagai merk.

"Mas Deo ... Itu, bener kok, Mas Deo!" batinnya, semangat.

Lekas, menangkap siluet rombongan beberapa kelompok, yang hendak berbelanja tengah mendorong troli maupun menenteng keranjang belanjaan, hendak melewati line ini, dia menarik sudut kanan bibirnya. Bocah, si ketua komplotan, yang tidak sudi ketahuan apalagi sampai ketangkap security dan berhadapan dengan orang-orang di back office, seperti di masa lalu, lantas memutar cepat otaknya, yang tidak seberapa pintar itu.

Poin plusnya, dia licik dan lihai memanfaatkan situasi kondisi maupun memperalat orang lain ... Sekalipun itu kedua orangtuanya sendiri.

Catherine, mengambil susu Dancow Fortigro rasa Vanila yang di lantai, cepat, tanpa melihatnya. Jemari kanan memelintir daun telinga bocah yang tadi pergelangan tangannya dia cegat. Tangan kiri berada di pinggangnya, saat melontarkan kalimat frontal, nyelekit dan agak kasar, sesekali menunjuk ke setiap muka mereka satu per satu dengan jari telunjuk dan bibir julidnya, yang kebetulan memakai lipstik merah pekat layaknya Ibu Tiri dalam film Disney, seperti Snow white maupun Cinderella.

"Si b*ngsat t*l*l! Elo-elo pada udah disekolahin susah payah ma ortu masing-masing, Bapak banting tulang segala macem dilakuin, walaupun kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, kerja pagi pulang malam bahkan sore, terus ini ... Ini balesan elo pada, si setan, anak anj*ng, bocah kagak ngotak, hah?!" Sang wanita yang di kantor dulu, sampai dijuluki 'Lampir Galak', bergegas mendekati bocah-bocah dengan tubuh mengembang tidak sesuai berat badan atau tubuh aslinya.

Catherine berjongkok, menusuk perut mereka dengan jari telunjuk, dia berada di tengah mereka. "Keluarin! Cepetan keluarin, hasil kutilan kalian, cepet! Ga pake lama, ga pake drama, ga pake alibi tengek-bengek, ta*k kebo!"

Mereka mematung, ragu-ragu dan takut. Beberapa wajahnya pucat pasi, keringat dingin. Ada yang antara hati nurani dan kata otak, tidak sinkron, belum memutuskan apa yang akan dipilih, melaksanakan perintah Ibu ini dan mengaku kesalahan mereka, lalu minta maaf ... Atau, tetap diam seperti ini, menunggu arahan dari Jaka, si ketua komplotan. Beberapa dari mereka pun, mendongak, mencari-cari kamera CCTV, yang dari kemarin tidak kunjung ketemu. Di mana, ya? Mereka tidak kepikiran sampai sana.

Satu detik ... Lima detik ... Tetap tidak ada pergerakan maupun suara dari mulut mereka, setidaknya salah satu.

"Masih diem? Bagus ... Udah kecitut, ketahuan terus ketangkep basah kayak gini pun, kalian masih ngerasa 'apa' yang kalian lakuin ini 'gak salah' dan gapapa. Iya, gitu?"

"Otak kalian semua ini, masih berfungsi kaga, sih? Rata-rata udah pada sunat, mbok? Semestinya, bisa nalar, setan! Mana yang baik! Mana yang buruk!" Kerutan di kening Cathrine, semakin dalam, saking geramnya dan dia pun melanjutkan, "Emang pada kaga ngerasa kasian, ke emak elo-elo, pada, hah? Mulai dari subuh sampai tidur lagi, belum ngurus rumah, masak terus ngurusin kalian, apalagi bantu ngerjain PR. Kalo ngeliat atau denger dari orang, anaknya ngutil di supermarket terus konsumsi barang yang jadi 'haram, gimana kalian, si otak dongo, bakal jelasin???"

Seorang bocah yang badannya paling kecil dan terpendek, di antara mereka bertujuh, dia berulangkali membuka-tutup mulutnya, seakan hendak bersuara. Mengungkapkan isi pikirannya, dengan ekspresi wajah gundah-gulana dan bersalah.

"..."

Namun, ketika memperhatikan tatapan mata sekelilingnya, teman-teman bermainnya, dia lantas mengunci bibirnya rapat-rapat, kemudian meremas pinggiran Koko berwarna hijau seperti bahan korden murahan dan menunduk, tak berani menatap ke mereka bahkan Catherine, lagi. Wanita berusia 35 tahun itu, dia tetap sabar menunggu tanggapan dari mereka, atau wakil gerombolan bocah ini.

Sunyi. Hanya suara hiruk-pikuk, sekilas obrolan pengunjung yang entah di mana, kemudian gesekan roda troli dan lantai, yang agak jauh, tetapi hendak mendekati titik insiden ini. Dia mengembus napas muak, memutar kepala dan bunyi 'krek-krek' pada lehernya, ketika tubuhnya berdiri, menatap ke bawah, kepala bocah itu, ada yang tetap menunduk, pun ada yang beradu mata dengannya.

"Hah! Bocah ta*k!" seru Cathrine, memejamkan mata kesal. "Gue kalo punya anak modelan elo pada, yang berani mengutil di usia 9 tahunan, udah gue jadiin pakan buaya!"

Rasanya, Catherine ingin sekali melayangkan bogem mentah, sekuat hantaman Saitama pada serial anime One Punch Man, seperti yang biasa wanita itu lakukan ketika tengah adu mekanik (jotos) dan berkelahi dengan Glenn, si lelaki narsistik yang selalu berambisi untuk menang dan lebih unggul dari dirinya, yang seorang perempuan. Lelaki itu, selalu menyematkan niat dan rencana jahat tentang bagaimana menjatuhkan, bahkan menghancurkan Catherine berkeping-keping tanpa sisa, setiap waktu.

Namun, dia tidak bisa. Bagaimana pun mereka anak orang, di bawah umur dan ada tameng hukum perlindungan anak. Bisa-bisa, jika dirinya melakukan tindak kekerasan, bakal berbuntut panjang. Kepalan jemari Cathrine, melunak dan tidak lagi mengepal. Membuka mata, sembari mengatur ritme pernapasan.

1
Ada Rasaku
Buat pembaca, yang hepi sewaktu baca ceritanya, bahkan beberapa, ada yg nungguin 'Up' Bab dari otor, terima kasih, ya. Silakan, like untuk meninggalkan jejak, dan komen untuk mengungkap apa yg ada di isi kepala, bebas tapi bertanggungjawab.

See ya, pada bab-bab berikutnya~
Ada Rasaku: ngirim gift, vote atau share kemana-mana, boleh banget, diharepin malah, hehe ...
total 1 replies
Ada Rasaku
Ga usah plagiat/ATM, gunain otakmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!