Reynand Adam merupakan Adik kelas dari Naura Jovanka. Mereka terlibat cinta, namun Jovanka dijodohkan dengan laki-laki lain dan Rey meneruskan sekolah di sekolah penerbangan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pilot. Akankah cita-cita Rey menjadi seorang pilot terlaksana? dan bagaimana ceritanya Rey sampai menikahi seorang Janda?
Ikuti kisahnya dan jangan lupa LIKE/KOMEN/VOTE cerita Gue, ya? Itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis.
Hatur Nuhun,
Boezank Jr. (Darren_Naveen)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29. Fiting Baju Pengantin
Salsa panik ketika melihat Jo tak sadarkan diri. Salsa bergegas mengambil kalung berliontin hati dan secarik kertas kecil yang berisi pesan dari Reynand, ke dalam tas kecil yang ia bawa.
Tak berselang lama. Meli dan Rendi beranjak ke kamar Jovanka, putri mereka.
“Jo bangun, Nak. Bangun, sayang!” Meli berusaha menyadarkan putrinya.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Sa?” tanya Rendi.
Entah, Om. Tiba-tiba saja Jo pingsan. Salsa gak tau penyebabnya apa,” ucap Salsa yang menyimpan kebohongan.
“Ya udah, papa gendong Jo ke kasur. Biar Mama telpon Alexy,” ucap Meli.
Akhirnya, Rendi mengangkat Jovanka yang tak sadarkan diri. Sedangkan Meli sibuk menghubungi Alexy, seorang dokter yang akan menjadi menantunya.
Sementara Salsa mengikuti Rendi yang menggendong Jovanka ke atas ranjang. Salsa menemani Jovanka.
“Om. Maaf, ya? Salsa merasa bersalah. Tapi suer, Salsa gak ngelakuin apa-apa terhadap Jo,” terang Salsa.
“Iya, Sa. Om tidak menyalahkanmu.” Rendi menepuk pundak Salsa.
“Om, izinkan Salsa menunggu Jo di sini, ya?” pinta Salsa sambil merapatkan kedua tangannya.
“Iya. Kamu kan teman dekatnya Jovanka. Om tinggal dulu, ya? Titip Jovanka,” ucap Rendi dan berlalu ke luar kamar.
Jo masih belum sadarkan diri. Salsa terus memegangi lengan Jovanka.
“Jo, sadar. Jangan bikin aku takut.” Salsa mengusap lengan Jovanka.
Di dalam kamar yang cukup besar itu. Salsa hanya berdua dengan Jovanka yang sedang tak sadarkan diri.
Ibunya sedang menunggu Alexy sedangkan papanya sedang mengambil kotak P3K.
Sambil menunggu Alexy datang. Jo diberikan pertolongan pertama oleh papanya. Dikasih minyak angin, tapi dia belum sadarkan diri. Hingga Alexy datang, Jo belum juga sadar.
Alexy mendekat dan Salsa bangkit dari ranjang, agak menjauh agar Alexy bisa memeriksa sahabatnya itu.
“Sebenarnya anak Tante kenapa, Nak Alex?” tanya Meli setelah Alexy memeriksa Jovanka.
Alexy tersenyum.
“Tidak apa-apa, Tan. Jo hanya kurang tidur. Gak ada yang harus di khawatirkan. Sebentar lagi juga sadar,” ucap Alexy.
“Alhamdulillah. Semoga memang tidak kenapa-napa. Tante khawatir, Nak Alex,” ujar Meli.
“Wajar. Kan Naura anak Tante. Tapi, Alex pastikan, Jo baik-baik saja, Tan. Tapi maaf, Alex gak bisa lama, Tan. Karena mesti kontrol pasien yang dirawat inap di klinik,” terang Alexy.
“Ya udah, gak papa. Makasih ya, Nak Alex. Hati-hati,” pesan Meli.
“Iya, Tan.”
Alex pun berlalu pergi diantarkan oleh Meli menuju tangga dan pintu ruang utama. Karena Jo tidak kenapa-kenapa. Rendi memutuskan untuk masuk ke kantor karena ada pekerjaan yang harus ia kerjakan, walau lagi libur kerja.
Sementara Salsa masih setia menunggu sahabatnya sampai sadar di dalam kamar.
“Rey ....” ucap Jo memanggil Nama Reynand.
Ya Allah, begitu besarkah rasa cinta Jovanka untuk Reynand? Ucap dalam hati Salsa.
“Jo. Ini aku, Salsa. Kamu udah sadar?” Salsa berusaha menyadarkan sahabatnya.
Jo membuka matanya. Terlihat ekspresi bingung di wajah Jovanka.
“Rey? Rey di mana, Sa? Aku tadi bersama Rey!” terang Jo yang seperti sedang bermimpi.
“Tadi kamu pingsan, Jo,” terang Salsa.
“Enggak. Tadi aku melihat foto Rey di dalam liontin berbentuk hati. Liontinnya indah, aku suka. Rey kasih itu buat aku.”
Salsa merasa sedih melihat sahabatnya seperti itu. Seperti orang yang sedang berhalusinasi. Salsa memeluk erat Jovanka.
“Tadi yang kasih liontin ke kamu itu aku, Jo. Mamang, kalung itu dari Rey,” terang Salsa yang sedang memeluk Jovanka.
“Mana? Mana kalung itu, Sa?” Pinta Jovanka.
“Tapi kamu harus janji. Bisa lebih mengontrol emosi kamu supaya tidak kembali pingsan,” pinta Salsa.
“Iya.”
Jo menganggukkan kepala.
Salsa mengambil kalung yang berliontin hati serta secarik kertas berwarna pink. Ia menyerahkan pada Jovanka.
Jo meraih kalung yang berada dalam genggaman Salsa. Ia membuka liontin itu dan terus memandangi foto yang terdapat dalam liontin itu.
Air mata kembali membasahi pipinya. Salsa hanya bisa memandang sahabatnya dengan begitu sedih.
***
Drrttttt ....
Hand phone Rey bergetar.
Rey melihat nama yang tertera pada layar hand phonenya. Ia menggeser dan membaca pesan yang ternyata dari adik kembarnya.
(Bang, jangan ke mana-mana, Nana lagi di jalan. Mau ke kost abang!) isi pesan dari Rhiena.
“What?”
Rey membulatkan mata ketika membaca pesan dari Rhiena.
“Kenapa, Lu?” tanya Vicky yang sedang bermain game di kamar Rey.
“Nana mau ke sini,” ucap Rey.
“Yang bener, Lu? Gak lagi ngerjain gue, kan?” tanya Vicky dengan antusias.
“Kagak. Gue heran, yang mau dateng kan adik gue. Lah, kenapa Lu sepertinya seneng?” tanya Rey meledek Vicky.
“He’eleh! Kek gak ngerti orang yang sedang merindu aja, Lu! Calon kakak ipar.” Vicky menggoda Rey.
“Hadeuh!”
Rey berlalu pergi.
Matahari bersinar cerah pagi ini. Rey duduk di kursi yang ada di teras luar kost-nya sambil menunggu adiknya datang.
Rey mendengarkan musik yang ada di play list hand phonenya menggunakan ear phone. Ia menyanyikan lagu yang ia play saat itu sambil memejamkan mata.
##
**Sudah Puas aku menangis lagi
Kau Hadirkan mendung awan yang kelam
Namun 'Ku kan tetap bisa bertahan.
Secebis Kasih yang telah kau beri
Kan 'Ku simpan dalam memori indah
Tapi Semuanya telah berakhir.
Aku Tersungkur menunduk meraung
Dan Tiada siapa bisa merasakan
Oh Sakitnya hati ini.
Jika Kau tak mampu memberiku senyum
Usah Kau hadirkan dengan kedukaan
Oh Biarlah hidupku dengan caraku**.
##
Rey seperti menghayati tiap bait dari lagu itu. Mungkin itu yang sedang ia rasakan saat ini. Bagaimanapun, Rey itu seorang manusia yang mempunyai rasa kecewa.
“Woy!”
Vicky menepuk pundak Rey dari belakang.
Rey terperanjat, karena ia benar-benar sedang menikmati lagu yang ia nyanyikan dengan penuh penghayatan.
“Vangke!”
Rey membuka ear phone dari telinganya. “Apa, Lu? Ngagetin gue aja!” Rey membulatkan mata.
Vicky tertawa melihat ekspresi dari sahabatnya. Dirinya tidak menyangka bahwa Rey akan berekspresi sekaget itu.
“Sorry, sorry. Lagian Lu menghayati banget lagunya. Gue cuma takut Lu terbawa suasana terus mewek.” Vicky menggoda Rey.
“Sialan, Lu! Gak segitunya juga kalik,” seru Rey.
“Bay the way, emang itu lagu siapa sih? Kok sepertinya dalem banget Gue dengar tiap baitnya.”
“Mau tau?” tanya Rey.
“Pasti nanti Lu mau tanya gini sama Gue, mau tau aja atau mau tau banget? Jawaban Gue, mau tau banget!” ucap Vicky dengan semangat emat lima yang membara.
“Kepo!” jawab Rey singkat.
“Sialan, Lu!” Vicky menepuk pundak Rey.
Kali ini. Rey yang tertawa puas melihat Vicky yang seperti jengkel atas jawabannya.
Sret!
Mobil merah itu memasuki halaman kost dan terparkir tepat di hadapan Rey dan Vicky.
Pintu mobil itu terbuka dari kiri dan kananya.
Loh ... Si Nana ngajak siapa? Tanya hati Reynand.
“Nana? Princess?” ucap Rey ketika melihat dua perempuan yang turun dari mobil.
“Siapa tuh, Princess?” bisik Vicky.
“Kepo terus Lu, dari tadi!” jawab Rey yang membuat hati Vicky bertambah dongkol.
***
Keadaan Jo semakin membaik. Ia sudah sehat seperti biasa. Namun, sore itu merupakan hari buruk untuk Jovanka.
“Jo, Mama udah pesan baju pernikahanmu dengan Alex. Nanti kita fiting baju pengantin, ya?”
“Sama Om Alex?" tanya Jovanka.
“Iya. Sama Mama juga. Jo, mulai sekarang, kamu jangan panggil Om Alex, lah,” pinta Meli.
“Lalu?”
Jo menyipitkan mata.
“Panggil Mas atau Abang, gitu. Kan sebentar lagi kalian akan menikah,” ujar Meli.
“What? Tapi Jo malu, Ma!” Jo beralibi.
“Ya, dibiasain. Entar juga kalau sudah terbiasa. Enggak akan ada rasa malu kok.”
“Jo usahain.”
Lagi-lagi, Jo hanya bisa menuruti kemauan dari orang tuanya. Terlebih, Jo memang takut kepada papanya yang menurutnya termasuk orang yang tegas cenderung galak.
“Ya udah, kamu siap-siap ya, Nak. Mama tunggu di bawah,” ucap Meli dan berlalu pergi.
Jo bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengenakan mini dres berwarna navy yang begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Jo memoles sedikit wajahnya dengan sentuhan make up natural dan menyisir rambut panjangnya yang ia biarkan terurai.
Jo juga menyematkan jepit kecil yang berbentuk kupu-kupu dan memakai kalung pemberian dari Reynand.
Rey, aku akan selalu memakai kalung ini, agar aku merasa selalu bersamamu. Ucap dalam hati Jovanka.
Jo melihat dirinya di cermin sambil terus memegangi liontin berbentuk hati yang ada di kalung itu. Jo juga meraih jepit kupu-kupu kecil itu.
Ya Tuhan, andai aku bisa seperti kupu-kupu. Aku ingin terbang dan meninggalkan hidupku yang terasa berat. Aku ingin bebas, Tuhan! Pekik hati Jovanka.
“Jo! Ayok berangkat!” teriak Meli dari bawah.
“Iya!” jawab Jo dari dalam kamar.
Jo segera menghapus air mata yang masih dapat ia bendung. Ia merapikan sedikit makeup nya dan bergegas menghampiri mamanya yang sudah menunggu dirinya di bawah.
Jo menuruni anak tangga dan mencoba tersenyum di hadapan kedua orang tuanya dan juga Alexy, yang tak lain calon suami yang telah dijodohkan dengannya.
“Beautiful!”
Mata Alexy terpana melihat kecantikan Jovanka yang menurutnya sempurna.
Jo tersenyum. Ia berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya di hadapan semua orang.
“Ayok, berangkat,” ujar Meli memecah keheningan.
“Eh, iya Tante. Alex malah lupa karena terpana melihat kecantikan putri Om dan Tante,” ucap Alexy sembari tersenyum malu.
.
Alexy, Jo dan Meli menaiki mobil dan meluncur menuju butik dengan arahan dari Meli.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit. Akhirnya mobil itu telah sampai di tempat tujuan. Meli, Jo dan Alexy turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam butik.
Ketika mereka memasuki butik, langsung disambut hangat oleh karyawan yang ada di butik tersebut.
“Saya mau pesan baju pengantin untuk anak saya. Kemarin, saya sudah pesan modelnya. Sekarang tinggal ukur badan anak dan calon menantu saya,” terang Meli.
“Oh, iya. Mari ikut saya,” ucap karyawati tersebut.
Jo dan Alexy masuk ke dalam ruangan untuk menyesuaikan ukuran badan mereka. Sedangkan Meli menunggu di luar dan melirik beberapa gaun pengantin yang terlihat manis. Meli memilih kebaya adat sunda untuk acara akad nikah nanti.
“Udah, Ma. Ayok pulang,” ucap Jo yang sebenarnya sudah merasa tidak nyaman.
“Bentar, kamu harus pilih beberapa baju untuk resepsi pernikahan. Mau gaun yang mana?” tanya Meli pada Jovanka.
“Terserah Mama aja, deh,” ucap Jo yang seperti pasrah.
“Nak Alex. Mungkin Nak Alex punya referensi untuk gaun pengantinnya?” tanya Meli lagi.
“Saya ikut aja. Yang menurut Tante nyaman untuk dipakai Jo aja,” ucap Alexy sembari tersenyum.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
mending pacaran sm yg dewasa bg Rey 🤭🤭