“Ku kira dia janda, ternyata suaminya masih ada.”
Hampir dua tahun Danzel menyendiri tak memiliki kekasih setelah wanitanya direbut dengan licik oleh pria lain. Padahal, orang tuanya terus mendesak untuk segera menikah hingga berusaha mengenalkan para wanita cantik kepadanya. Tapi, tak ada satu pun yang memikat hatinya.
Namun, siapa sangka, jika rasa kagum kepada sekretaris barunya membuatnya terpikat pada wanita yang memiliki nasib malang itu. Ia akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama mati rasa.
Danzel berusaha memikat orang yang dia taksir dengan mengambil hati putri dari wanita tersebut. Namanya hidup, tak ada yang sesuai keinginan. Sekretaris yang dia kira janda, ternyata masih memiliki suami.
Haruskah dia menjadi perebut istri orang agar cintanya tak gagal seperti dahulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Tangan Danzel terulur hendak memencet bel agar si tuan rumah yang dia datangi tahu akan kehadiran seorang tamu tak diundang di pagi hari.
Tapi, pergerakannya terhenti di udara karena pintu sudah di buka dari dalam.
Danzel langsung melemparkan senyuman kepada Gwen, sedangkan wanita yang kini berdiri bersama kedua anaknya itu menatap terkejut akan kehadiran Danzel di depan apartemennya.
“Pagi,” sapa Danzel. Ia menurunkan tangannya agar kembali terlihat cool.
“Danzel, kenapa kau ke sini pagi-pagi sekali?” tanya Gwen. Ini adalah kedatangan pria itu untuk yang ketiga kalinya. Yang pertama memang dirinya yang mengajak sebagai ucapan terima kasih sudah mengantarkan Selena kepadanya. Tapi dua kali secara dadakan dan tanpa undangan.
“Aku ingin menjemputmu untuk ke kantor bersama. Kebetulan rumahku searah,” jawab Danzel. Dia berbohong, sesungguhnya dia harus memutar lumayan jauh untuk sampai ke apartemen Gwen. Tapi demi memikat wanita pujaan hatinya, maka apa pun akan dia lakukan. Kecuali terjun ke samudera atlantik.
“Kenapa kau harus repot-repot? Seharusnya tak perlu lakukan itu,” protes Gwen tapi masih dengan nada bicaranya yang lembut dan sopan di telinga Danzel.
Danzel menyengir kuda sepergi ABG yang baru jatuh cinta. “Tak apa, hitung-hitung menghemat ongkos,” timpalnya.
“Aku jadi tak enak denganmu jika menebeng seperti ini,” jelas Gwen agar lain kali Danzel tak menjemputnya lagi. “Lagi pula aku juga harus mengantarkan Selena ke bus stop untuk berangkat sekolah,” imbuhnya menjelaskan situasinya.
“Sekalian aku bisa mengantar Selena sampai ke sekolahnya,” timpal Danzel terus berusaha agar Gwen tak menolaknya.
“Tapi—” Ucapan Gwen terhenti karena Danzel merendahkan tubuh tegap itu untuk berjongkok di hadapan kedua anaknya.
“Selena, hari ini diantar uncle sampai sekolah, mau?” tanya Danzel seraya mengelus rambut sebahu yang diurai.
Jika menawari orang tuanya terus saja disangkal, maka jalan satu-satunya adalah membujuk anaknya.
Selena langsung menganggukkan kepala. Dia memang kurang suka berangkat naik bus, bukan karena transportasi itu tak nyaman. Tapi dia sering mendapatkan olokan dari teman-temannya di dalam bus. Dia sendiri tak memiliki teman akrab. Dan memilih memendam perundungan itu sendirian, agar tak memberikan beban pada orang tuanya. “Mau.”
“Anak pintar,” puji Danzel. Tangannya terulur ke pipi mungil yang sedikit tembam untuk mengambil sisa nasi bocah itu.
“Selena ...,” tegur Gwen lirih agar anaknya tidak terbiasa bergantung pada bantuan orang lain kecuali anggota keluarga, sedangkan Danzel hanyalah orang asing yang baru mereka kenal.
Danzel kembali berdiri di hadapan Gwen. “Tak apa, aku melakukannya dengan inisiatifku sendiri,” terangnya yang tahu pasti wanita itu hendak menasehati Selena agar tak mau diantarkan olehnya.
Tapi tak akan dia biarkan, Danzel akan mencoba seribu macam cara agar bisa semakin dekat dengan keluarga Gwen. Terutama dua bocah kecil yang sepertinya bisa membantu dirinya mendekati Gwen. Karena anak-anak cenderung lebih mudah diambil hatinya jika didekati dengan tulus, dibandingkan orang dewasa.
“Ayo, boy. Kau mau ikut mamamu bekerja?” Danzel langsung menggendong Aldrich sebelum Gwen mengambil bocah itu.
“Yes, uncle.” Aldrich menjawab dengan riang.
Dan Danzel pun melemparkan senyumnya pada Gwen karena dia menang sudah berhasil mengambil hati dua anak wanita itu agar mau ikut dengannya. “Sudah, tak perlu sungkan. Anggap aku orang terdekatmu.”
“Tapi, kita hanya orang asing yang baru kenal.”
“Kalau begitu, mari kita rubah yang tadinya asing menjadi lebih dekat. Lagi pula mulai hari ini kau bekerja denganku. Sudah sewajarnya atasan memperlakukan karyawannya sebaik mungkin.”
Iya, itu khusus untuk Gwen saja. Dengan karyawannya yang lain mana mungkin Danzel mau bersikap tak wajar anatara antasan dan bawahan.
sama kayak yg aku alami
yg lamar aku kakaknya adeknya jd supir nya waktu itu
tapiii yg nikahi aku dan jodoh ku adeknya
hidup selucu ituu😀😀
laki² terbaik