Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Wajah Baru Manajer Pemasaran
Senin pagi, dua hari setelah drama di ruang rapat direksi, matahari Jakarta bersinar terik, menembus kaca mobil yang AC-nya mulai tidak dingin lagi.
Arga menjemput Nadinta di lobi apartemennya tepat pukul 07.30.
Biasanya, Nadinta akan turun dengan kemeja kerja standar, rambut diikat cepol sederhana, dan wajah yang terlihat sedikit lelah atau mengantuk. Namun pagi ini, sosok yang keluar dari pintu kaca lobi apartemen membuat Arga tertegun sejenak di balik kemudi.
Nadinta mengenakan midi dress kerja berwarna emerald green dengan potongan bodycon yang sopan namun tegas, memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan.
Blazer putih gading disampirkan di bahunya dengan gaya chic. Rambutnya diikat low ponytail yang sangat rapi, memperlihatkan anting mutiara kecil di telinganya. Wajahnya dipulas makeup yang flawless dan segar, dengan lipstik warna nude yang membuat senyumnya terlihat lebih misterius.
Dia terlihat seperti wanita yang siap menaklukkan dunia, bukan wanita yang siap disuruh-suruh.
Arga menelan ludah. Dia ingat kata-kata Maya saat makan malam tempo hari.
"Aku tuh mikir, apa mungkin sekarang dia lagi nggodain cowok lain, ya?"
Kecurigaan itu merayap naik, membakar rasa insecure Arga yang sudah babak belur pasca kegagalannya di presentasi kemarin.
"Kamu cantik banget hari ini, Sayang," komentar Arga saat Nadinta masuk ke mobil. Matanya melirik Nadinta dengan tatapan menyelidik, mencari tanda-tanda pengkhianatan.
"Mau ketemu siapa?"
Nadinta menoleh, tersenyum manis. Senyum yang dirancang khusus untuk mematikan logika Arga dan memanipulasi egonya.
"Mau ketemu siapa lagi? Ya buat kamu dong, Mas," jawab Nadinta lembut, menyentuh lengan Arga.
"Buat aku?" Arga mengernyit, tidak percaya.
"Iya. Kita sekarang kan punya jabatan yang strategis di divisi pemasaran. Aku manajer sementara, kamu supervisor senior. Aku pengin aura kita sebagai 'pasangan mahal' itu mencuat-cuat," jelas Nadinta dengan nada polos yang meyakinkan.
"Supaya nanti orang-orang kantor bakal muji-muji kita. Mas nggak suka?"
Ego Arga yang sedang retak seketika mendapatkan tambalan. Penjelasan itu masuk akal dan sangat memanjakan harga dirinya. Nadinta berdandan untuk dia. Nadinta ingin dia terlihat hebat.
Senyum curiga di wajah Arga luntur, digantikan oleh senyum bangga yang sedikit angkuh.
"Suka dong. Banget," kata Arga, memegang tangan Nadinta sebentar sebelum kembali menyetir.
"Kamu emang paling ngerti cara nyenengin aku. Makasih, ya Sayang, aku bakal berusaha lebih baik buat masa depan kita."
"Tentu, Mas. Masa depan kita," ulang Nadinta.
Di dalam hatinya, dia tertawa dingin.
Tidak akan pernah ada masa depan, Arga. Tidak lagi.
Setibanya di Gedung Lumina, perubahan atmosfer terasa begitu mereka melangkah masuk ke Lantai 15.
Nadinta berjalan di depan, langkah kakinya berbunyi tak-tak-tak mantap di lantai marmer. Arga berjalan di sampingnya, berusaha terlihat sebagai pasangan yang setara, namun aura dominan Nadinta membuatnya terlihat seperti ajudan.
"Selamat pagi, Bu Nadinta," sapa Sinta di resepsionis, berdiri dari kursinya dan membungkuk sopan—sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Sinta yang biasanya memanggil "Mbak Nadin" kini mengubah panggilannya dengan hormat.
"Pagi, Sinta," balas Nadinta dengan senyum tipis namun berwibawa.
Di sepanjang lorong menuju area kerja, beberapa staf junior dan senior mengangguk hormat padanya.
"Pagi, Bu."
"Selamat pagi, Bu Nadinta."
Arga merasa aneh. Biasanya dia yang menjadi pusat perhatian, dia yang disapa dengan antusias. Tapi hari ini, dia merasa tidak terlihat.
Saat mereka melewati area tengah, mata Nadinta menangkap pemandangan yang memuaskan di sudut ruangan dekat pantry.
Di sebuah meja terisolir yang biasanya dipakai oleh Nadinta, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja yang kusut.
Rudi Hartono.
Mantan Manajer Pemasaran itu kini duduk di sana, memelototi layar komputer tabung tua. Dia telah resmi diturunkan jabatannya menjadi staf analis data sementara sambil menunggu keputusan final HRD. Ruangan kacanya telah dikosongkan kemarin sore.
Rudi menatap Nadinta dengan tatapan penuh kebencian. Matanya merah, rahangnya mengeras. Dia merasa dikhianati oleh anak buah yang selama ini dia anggap bodoh.
Nadinta membalas tatapan itu dengan anggukan sopan yang menyiratkan kemenangan mutlak, lalu berlalu tanpa kata.
Di seberang ruangan, dari balik partisi kubikel admin, sepasang mata lain juga sedang mengawasi dengan tajam.
Maya.
Wanita itu menatap Nadinta dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menginspeksi, penuh rasa iri dan kalkulasi. Dia melihat dress Nadinta yang elegan, melihat cara staf lain menghormatinya, dan melihat bagaimana Arga tampak kerdil di samping Nadinta.
Maya menggigit bibirnya. Mendadak perasaan aneh menguasai lubuk hatinya. Perasaan yang mengatakan bahwa seharusnya dia yang ada di sana, seharusnya dia yang mendapatkan itu. Iri.
Nadinta menyadari tatapan Maya. Dia menoleh sekilas, memberikan senyum tipis yang misterius, lalu terus berjalan menuju tujuan utamanya.
Ruangan kaca di sudut. Bekas ruangan Rudi.
Pintu ruangan itu sudah terbuka. Di depannya, terpampang papan nama baru yang mengkilap.
NADINTA PUTRI PERMATASARI
Pjs. MANAGER PEMASARAN
Nadinta masuk ke dalam. Ruangan itu sudah dibersihkan total sesuai permintaannya. Tidak ada lagi bau rokok Rudi. Wangi lemongrass yang segar memenuhi udara. Meja besarnya bersih dan tertata rapi dengan perangkat komputer baru.
Nadinta meletakkan tasnya, lalu berjalan memutari meja kerja. Dia duduk di kursi kulit eksekutif yang tinggi itu.
Tubuhnya tenggelam dalam kenyamanan kursi itu. Dia menyandarkan punggungnya, memutar kursi perlahan menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan Jakarta.
"Akhirnya," bisik Nadinta.
Dia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Dia teringat betapa seringnya dia dipanggil ke ruangan ini dulu hanya untuk dimaki-maki Rudi, dilempar berkas, atau dipaksa mengerjakan tugas Arga. Ruangan ini dulu adalah penjara baginya. Sumber trauma dan ketakutan setiap pagi.
Tapi sekarang? Ruangan ini adalah bentengnya.
Nadinta memutar kursinya kembali menghadap meja. Matanya tertuju pada kalender meja kecil.
Dia mengambil spidol merah dari laci.
Tangannya bergerak ke tanggal hari Rabu kemarin—hari presentasi.
Dia menyilang tanggal itu dengan gerakan tegas dan mantap.
X - PRESENTASI BERDARAH (SUKSES).
Satu misi besar telah selesai. Rudi sudah tumbang. Arga sudah kehilangan kredibilitas. Fondasi balas dendamnya sudah tertanam kuat.
Nadinta menarik napas panjang, menikmati posisinya. Namun, dia tahu dia tidak boleh terlena. Dia ingin melihat kerajaannya.
Nadinta berdiri, merapikan blazernya, lalu mengambil mug kopinya. Dia berniat pergi ke pantry untuk mengambil air, sekalian melakukan inspeksi mendadak ke area staf.
Nadinta berjalan keluar ruangan. Namun, langkahnya terhenti di koridor dekat pantry.
Dia mendengar suara bisik-bisik dari balik tembok pemisah.
"Eh, kau liat nggak Bu Nadinta tadi? Gayanya bos banget ya sekarang," ujar salah satu staf wanita dari divisi sebelah.
"Iya ih. Padahal dulu kan dia pendiem banget. Kok bisa ya Pak Mahendra langsung angkat dia jadi Pjs? Padahal ada yang lebih senior," timpal temannya dengan nada julid.
"Sstt, aku denger gosip sih... katanya dia pake 'cara cewek'. Tahu sendiri kan Pak Mahendra itu single dan jarang deket sama cewek. Mungkin si Nadinta itu pinter ngambil celah itu. If you know what I mean."
"Maksudmu dia ngegoda bos? Ih, murahan banget kalau bener. Pantesan Arga kelihatan stres, mungkin dia tahu tunangannya ada main."
Mereka terkikik.
Nadinta terpaku di balik tembok. Tangannya yang memegang mug mengerat.
Di kehidupan lalu, mendengar fitnah sekeji ini akan membuatnya lari ke toilet dan menangis seharian. Dia akan merasa kotor dan gagal.
Tapi Nadinta yang sekarang?
Dia menarik napas panjang. Sudut bibirnya terangkat sinis.
Manusia-manusia sampah.
Nadinta melangkah keluar dari balik tembok, menampakkan diri sepenuhnya.
Kedua wanita itu terlonjak kaget. Wajah mereka pucat pasi saat melihat Nadinta berdiri di sana dengan tatapan tajam dan dingin.
"Bu... Bu Nadinta..." gagap salah satunya.
Nadinta tidak marah. Dia tidak berteriak. Dia berjalan perlahan menuju dispenser, mengisi air di mug-nya dengan santai. Suasana di pantry menjadi hening mencekam.
Setelah mug-nya penuh, Nadinta berbalik. Dia menatap kedua wanita itu dari atas ke bawah.
"Jika kalian memiliki energi lebih untuk mengarang fiksi erotis tentang atasan kalian," ucap Nadinta pelan, namun setiap katanya menampar, "saya sarankan energi itu dipakai untuk merevisi laporan penjualan kalian yang masih berantakan di meja saya. Saya tunggu jam satu."
Wajah kedua wanita itu merah padam karena malu.
"Dan satu lagi," tambah Nadinta sambil berjalan melewati mereka. "Bukankah di lantai ini, kita semua digaji untuk bekerja, bukan untuk membuat sinetron?"
"Kembali ke meja kerja. Sekarang."
Kedua wanita itu buru-buru lari keluar dari pantry.
"Ma-Maaf, Bu. Permisi!"
Nadinta menatap kedua punggung orang yang sedang berlari panik itu. Ia menyesap airnya, rasanya segar.
Wanita itu kembali ke ruangannya dengan kepala tegak.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/