Bu Dosen cantik.
Kisah ini menceritakan perjalanan cinta dua anak manusia, antara seorang Mahasiswa yang jatuh cinta dengan Dosen nya sendiri.
Mahasiswa itu bernama Gavindra putera wijaya, sedangkan Dosen itu sendiri bernama Ratih puteri gayatri. Bu Ratih pernah mengalami trauma soal asmara, karena tunangannya meninggal sebelum mereka menikah.
Setelah itu, Bu Ratih bertemu dengan Gavindra saat mengajar di kampus dimana Gavindra kuliah.
Gavindra langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan penuh perjuangan Gavin terus mendekati Bu Ratih. Setelah itu, gayung pun bersambut, cinta Gavin diterima.
Tapi perjalanan cinta mereka tidak mulus, karena sebelumnya Bu Ratih sudah dijodohkan dengan laki-laki lain. Sampai akhirnya suatu hari Bu Ratih mengalami kejadian memalukan yang dilakukan oleh laki-laki yang dijodohkan dengannya.
Meskipun Bu Ratih telah mengalami kejadian yang tidak terpuji, Gavindra tetap bersikukuh untuk tetap menikahinya. Akhirnya mereka berdua menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 18 (Wisuda Gavin)
.................................
Beberapa bulan kemudian, tibalah saatnya Gavin mendapatkan gelar S1 nya. Hari ini adalah Wisuda Gavin. Pak Indra dan Bu Hesty sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri acara itu.
Mereka berangkat bersama-sama. Setibanya di kampus, Gavin dan orang tuanya langsung menuju tempat yang sudah disediakan. Semua Mahasiswa dan Mahasiswi berkumpul beserta orang tua masing-masing.
"Vin, Papa harap setelah ini, kamu harus sudah aktif di kantor." ucap Papanya.
"Iya, Pa. Gavin usahakan." jawab Gavin.
"Bagus.! anak Indra wijaya harus bisa menjadi pengusaha yang sukses." sahut Pak Indra.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Gavin masuk sepuluh besar. Nggak sia-sia dia selama ini belajar untuk mewujudkan keinginan Papanya untuk mendapat nilai bagus.
Setelah acara selesai, Gavin memcoba mencari Ratih. Tak lama kemudian dia kembali bersama kekasihnya itu.
"Ratih, sekarang Gavin kan sudah lulus. Jadi dia bukan lagi Mahasiswa kamu, lho?" ucap Bu Hesty sambil tertawa.
"Iya, Tan. Jadi sekarang pacarku bukan Mahasiswaku lagi, hehehe." seru Bu Ratih.
"Oh ya, setelah ini rencana kamu mau kemana, Tih?" tanya Gavin.
"Aku, masih ada kerjaan. Emang kenapa.?" tanya Bu Ratih balik.
"Kita rayain lah kecil-kecilan, kelulusanku ini." ucap Gavin.
"Nanti sepulang dari disini aja, ya? jawab Bu Ratih.
"Oke.!" jawab Gavin.
"Kalau gitu, aku permisi balik ke ruanganku, ya?" jawab Bu Ratih.
"Iya, Tih." ucap Bagas.
"Pak Indra, Tante hesty. Ratih permisi dulu." ucapnya.
"Iya, Nak Ratih." jawab Pak Indra.
Bu Ratih meninggalkan Gavin dan orang tuanya. Sedangkan Gavin sendiri mau langsung pulang, karena sudah capek. Mereka meninggalkan kampus. Pak Indra seneng banget karena Gavin masuk sepuluh besar dan nilainya juga bagus.
Dalam perjalanan pulang Pak Indra tak henti-hentinya memuji anak bungsunya ini. Gavin hanya senyum-senyum saja disaat dipuji Papanya. Bu Hesty tersenyum simpul melihat keakraban antara Anak dan Bapak.
Akhirnya sampai juga dirumah. Gavin dan Papa Mamanya turun dari mobil kemudian masuk.
Bu Hesty mau ngadain acara syukuran kecil-kecilan. Hanya untuk keluarga terdekat aja. Dia memesan makanan dari restoran. Mungkin acaranya nanti malam sekitaran jam tujuhan.
"Vin, Mama sudah pesen makanan dari luar. Nanti jangan lupa undang Keluarga Ratih semua." Ucap Mamanya.
"Iya, Ma. Nanti Gavin telefon Mas Bagas." jawab Gavin.
"Iya, Nak." jawab Bu Hesty.
Tepat pukul tujuh malam. Syukuran untuk merayakan kelulusan Gavin sudah siap. Bagas beserta istrinya Irene, Winda serta Bu Rahma. Bu Ratih sengaja dijemput Gavin langsung dari kampus. Mereka berkumpul dimeja makan. Keluarga Bu Ratih disambut hangat sama keluarga Pak Indra.
"Duuh pengantin baru,! lagi hangat-hangatnya ini." ucap Bu Hesty.
Bagas dan Irene tersenyum malu-malu.
"Iya, Bu. Maaf waktu nikah nggak undang-undang karena mendadak." ucap Bagas.
"Iya, Gas. Kami mengerti kok." jawab Pak Indra.
"Mahendra kok nggak kelihatan, Pak.?" tanya Bagas.
"Mahendra lagi di Bali. Proyek yang disana lagi butuh pengawasan." jawab Pak Indra.
"Irene, kamu jangan sungkan-sungkan. Anggap kami keluarga juga." ucap Pak Indra.
"Iya, Pak." jawab Irene.
"Gavin, Kapan kamu mulai masuk kerja.?" tanya Pak Indra.
"Ya, mungkin seminggu lagi aja, Pa. Gavin kan juga perlu persiapan dari mulai baju dan belajar." jawab Gavin.
"Oke, nggak apa-apa. Nanti berarti kamu sering kerja sama Bagas, karena proyek yang lagi dikerjakan. Bantu Gavin, ya Gas?" ucap Pak Indra.
"Iya, Pak." jawab Bagas.
"Oh, ya Gas. Irene apa nggak pingin kerja lagi.?" tanya Pak Indra.
"Sebenernya dia ingin kerja, Pak. cuma saya yang melarangnya. Biar dia salurkan aja hobby masaknya untuk buka usaha catering. Lumayan dirumah biar ada kegiatan." jawab Bagas.
"Bagus itu, Gas. Nanti kalau ada acara meeting atau kegiatan yang lain di kantor, biar pake catering istrimu aja. Sekalian promosi." ucap Pak Indra.
"Iya, Pak. Makasih..." sahut Bagas.
Mereka kemudian melanjutkan makannya. Tampak kebahagiaan di wajah semua yang ada di meja makan itu. Gavin dan Ratih selalu nampak mesra. Sesekali mereka saling melempar pandangan.
Mungkin hari ini Gavin merasa kalau dirinya paling bahagia. Acara syukuran itu kemudian dilanjutkan dengan santai sambil duduk-duduk. Pak indra, Bagas serta Gavin ngumpul di ruang tamu.
Yang perempuan ngobrol-ngobrol di tengah. Bu Rahma dan Bu Hesty keliatan akrab. Sebagai calon besan, mungkin keduanya harus membiasakan untuk bercengkerama. Tak selang lama terdengar suara Pak Narto sopir rumah Gavin.
"Maaf, Pak Indra. Diluar ada orang yang maksa masuk. Tapi, sudah dihadang sama Sequrity." ucap Pak Narto.
"Baiklah, saya kesana."ucap Pak Indra.
"Gavin ikut, Pa." ucap Gavin.
"Saya, juga Pak." sahut Bagas.
Akhirnya mereka semua menuju ke depan. Setelah disana, terlihat ada dua laki-laki berbadaan tinggi sedang berdiri di depan pintu pagar.
"Maaf, anda ada perlu apa?" ucap Pak Indra.
"Pak Indra, saya dapat pesen dari Pak Ferry maulana untuk mengantarkan surat ini." ucap salah satu orang itu.
"Surat apa ini?" tanya Pak Indra.
"Saya juga nggak tahu, Pak. Saya hanya ditugaskan untuk mengantarkan saja.?" jawabnya lagi.
"Oke, bilang sama Boss kamu, saya terima surat ini.!" jawab Pak Indra.
"Baiklah, Pak. Kami permisi dulu." sahutnya.
"Iya, silahkan.!" jawab Pak Indra.
Setelah kedua laki-laki itu pergi. Pak indra memandangi sebuah amplop warna putih yang ada di tangannya. Gavin dan Bagas saling pandang. Mereka juga nggak tahu apa isi surat itu.
"Pa, apa nggak sebaiknya dibuka disini aja.?" ucap Bagas.
"Ayo, kita ke taman. Bagas, kamu juga ikut." seru Pak Indra.
"Baik Pak." jawab Bagas.
Mereka bertiga menuju taman yang letaknya agak jauh dari teras rumah. Disitu ada gazebo dilengkapi lampu yang nggak begitu terang.
Kemudian Pak Indra duduk diikuti Gavin dan Bagas.
Perlahan Pak Indra membuka amplop putih tersebut.
Setelah dibuka ternyata isinya sangat memcengangkan.
PAK INDRA WIJAYA YANG TERHORMAT. SAYA HARAP, LEPASKAN PROYEK YANG DI BALI ITU UNTUK SAYA. KALAU PAK INDRA NGGAK BISA MELAKSANAKANNYA, SAYA AKAN KASIH TAHU SAMA MAHENDRA, SIAPA ORANG TUA KANDUNGNYA, MAHENDRA SEBENARNYA..!!!!!
Degh.!
Pak Indra langsung syok, dia bingung. Kelicikan Pak Ferry nggak hilang-hilang. Dari dulu dia selalu mengusik kehidupan Pak Indra. Kertas itu masih ada ditangan Pak indra. Sedangkan Gavin dan Bagas hanya diam dan saling pandang.
Mereka juga belum tahu isi sebenernya surat itu.
Dengan satu gerakan, Gavin menyambar kertas yang ada di tangan Papanya. Sedangkan Pak Indra hanya terdiam dan matanya menatap kosong. Bagas mencoba menghampiri Pak Indra.
Sementara Gavin terkejut setelah membaca isi surat tersebut. Matanya melotot nggak percaya.
"Pa.! apa maksud dari surat ini.!" tanya Gavin.
Next..................(29).