Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Seperti biasa, kegiatanku selain mengurusi Bintang, ya. Fokus dengan membuat konten. Makanan yang ku buat untuk konten hari ini bertema makanan kesukaanku, yaitu kue lapis.
Untuk bahan-bahan, cara pembuatan. Semuanya setelah selesai terekam dengan baik di ponsel milikku__tinggal edit-edit saja, syukurlah. Apalagi ternyata hasilnya tak mengecewakan, kue lapisku terlihat begitu indah tampilannya dan enak juga rasanya__aku jadi bangga pada diriku sendiri yang bisa di katakan, cukup mahir masak memasak.
Memang benar ternyata, hobi yang di jadikan pekerjaan itu benar-benar membuat happy tanpa harus tersiksa oleh tekanan dari atasan. Ya, walau tak bisa ku pungkiri juga, ada saat-saat di mana aku merasa jenuh atau kebingungan tentang masakan apa yang harus ku buat untuk konten.
Tapi sejauh ini sih, alhamdulillah lancar-lancar saja. Semakin hari, semakin aku di kenal cukup banyak pengguna toktok, bahkan follower ku kembali bertambah, bukan puluhan lagi yang komen, stich hingga membagikan postinganku__tapi banyak. Agaknya benar saja apa kata orang, di era digitalisasi ini sebetulnya mencari pekerjaan tidak sesulit seperti zaman dulu, asal kitanya mau dan tetap konsisten menekuni apa yang kita bisa.
Dengan video-videoku yang sudah fyp serta popularitasku yang sedang naik begini, tentu saja cuan-cuan mulai berdatangan. Entah itu dari endors atau pun iklan-iklan yang mulai masuk, alhamdulillah rejeki Bintang dan calon adiknya.
“Rame ya, kak?.“Tanya Arka yang mengintip ketika aku sedang mengedit video masak-masakku, dengan semangat serta senyum lebar, aku pun menganggukan kepalaku.
“Alhamdulillah ka, rame, fyp juga.“Ujarku bangga.
“Keren, banyak yang fyp.“
“Rejeki Bintang sama calon adeknya Ka.“
“Mau aku bantu, nggak?.“Tanyanya gsng membuatku menoleh dengan satu alis terangkat.
“Emang kamu bisa?.“Tanyaku meragukan, sebab yang ku tahu Arka ini cukup kudet sih__dia tidak punya akun toktok. Satu-satunya akun media sosialnya adalah fb dan itu pun jarang di buka atau bahkan tidak pernah sama sekali__sebetulnya bukan kudet saja, ku yakin Arka ini melek teknologi juga, cuman memang malas. Katanya buat apa? Hidupnya saja sudah bermasalah apalagi harus merenungi masalah orang lain, dia berkata begitu, sebab melalui media sosial, banyak sekali gosip-gosip yang beredar luas, entah itu politik, sampai hubungan asmara aktris__mungkin Arka mengira kalau media sosial hanya berfungsi sebagai saran penyebaran informasi yang begitu, padahal tidak juga. Banyak kok akun-akun olshop, akun-akun motivasi serta content creator sepertiku yang membagikan video-video tutorial yang pastinya sangat amat bermanfaat sekali.
“Bisalah, edit-edit beginimah gampang.“Tukasnya yang membuatku berdecak sebal.
“Sombong kamu, Ka!.“
“Bukan sombong, tapi fakta. Banyak kok teman-teman hang nyewa jasa edit tanganku ini kak.“
“Oh ya? Terus kenapa kamu gak buat akun media sosial sih, Ka? Kan bisa tuh bakatmu ini di iklankan di sana, kamu pasti banyak yang cari deh, secara editanmu cepet dan bagus begitu.“Ucapku memuji serta menyarankan supaya Arka membuat akun media sosial dan menjual bakatnya itu. Di era digitalisasi ini, banyak kok penjual jasa edit gambar, video juga. Dan ku yakin Arka akan laku keras, secara seperti katanya. Dia sangat jago sekali, bahkan melebihi skill-ku yang tidak ada apa-apanya ini.
“Enggak mau, buat apa? Males, berisik, gak suka.“Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawabannya, benar-benar sangat aneh sekali sepupuku ini.
“Oh ya, kalau kamu bantu aku di toktok, bagaimana? Nanti ku bayar deh, mau ya? Itung-itung sampingan ka, soalnya kamu jago banget ngeditnya..hehe.“
“Oke deh.“
“Makasih, kamu baik sekali.“Sahutku riang gembira, kini aku tak takut dan tak pusing lagi soal edit mengedit, sebab sudah ada ahlinya yang akan membantuku.
“Oh ya, gimana Bintang ka? Kamu lihat gak?.“Tanyaku dan membuat Arka menoleh dengan menghela nafasnya panjang serta gelengan kepala dan membuatku mendesah kecewa.
“Apa dia gak di bolehin keluar rumah, ya?.“Gumamku sedih, padahal aku ingin tahu bagaimana keadaan Bintang dari Arka__sebetulnya aku tahu sih, kalau Bintang baik-baik saja di sana, sebab anak itu memang betulan menghubungiku, terbilang sehari dua kali. Pagi dan malam, tapi tetap saja, rasanya belum puas saja, aku ingin mendengar bagaimana pendapat Arka.
Andai aku bisa ke sana dan menjemput Bintang, sebab rasanya rasa rindu ini terlalu membumbung tinggi sekali, aku rindu anakku. Sangat, padahal nanti malam dia sudah di pulangkan ke sini, tapi ya namanya juga seorang ibu, aku yang mengandung, melahirkan dan membesarkan. Kini aku pun harus terpisah dengannya dua malam.
Benar-benar, ya.
“Udah, Bintang baik-baik aja, bukannya Bintang juga udah telpon kan?.“Ucap Arka yang ku jawab dengan anggukan pelan serta wajahku yang terlihat meringis serba salah begini.
“Atau mau telpon lagi?.“Tanyanya yang segera ku jawab dengan gelengan kepala.
“Gak usah ka, Gak enak, di kiranya aku gak percayaan lagi.“
“Yaudah, take video lagi deh. Ketimbang terus sedih karena Bintang.“Ujarnya yang membuatku mengangguk seketika, benar kata Arka. Aku harus mengalihkan pikiranku dengan kesibukanku, jangan sampai bersedih, sebab Bintang pun akan pulang beberapa jam lagi, aku tak mau di sebut sebagai ibu lebay dan tak percayaan, apalagi ide supaya Bintang mau menginap di rumah ini dan papanya, adalah ideku. Jangan sampai siapapun men cap dirinya sebagai manusia yang tidak konsisten dengan ucapannya.
*****
Aku dan Arka pun pada akhirnya mendatangi rumah Afif dan Laras. Sebelum benar-benar masuk ke dalamnya, aku berhenti sejenak untuk mengamati betapa besar dan megahnya rumah mereka__jauh sekali dengan rumahku yang dulu ku tempati bersama Afif. perasaan apa ini? Kenapa harus ku rasakan saat ini? Harusnya, ya biasa saja. Apalagi kan aku sudah bertekad mau cerai darinya dan saat ini sedang mengajukan gugatan padanya__tapi sungguh, rumah ini dan rumah yang ku tempati jauh berbeda sekali.
Tak ku pungkiri, rumahku dan Afif dulu juga besar, tapi lebih besar, lebih mewah rumah ini__hatiku berdenyut sakit dan membuatku tersenyum getir, begini saja, bukankah sudah sangat terlihat jelas, kalau Afif memang sangat tidak adil sekali.
“Kak, ayo ah. Jangan ngelamun gitu.“Tegur Arka yang membuatku lantas tersadar, lalu mengangguk pelan dengan tatapanku yang nanar, mengarah pada setiap sudut rumah yang terlihat begitu bagus sekali.
Sampai di ruang tamu. Ada ART yang bernama Bi Marni menyambut kami dan mengatakan supaya kami duduk dulu dan menunggu, sebab katanya Bintang, Salsa dan semua anggota keluarga rumah ini sedang berada di halaman belakang__aku yang akan kesana pun di larang Bi Marni.
Perasaanku mendadak tidak enak, terlebih melihat raut bi Marni yang sedikit tak bersahabat begitu.
“Jujur aja, ada apa ini? Kenapa kami tak bisa ikut ke sana?, Bintang adalah keponakan saja dan juga anak kakak saya!.“Tegas Arka dan menatap nyalang pada ART paruh baya bernama Bi Marni itu, membuat wanita itu hanya bisa menghela nafasnya panjang dengan tatapan lurus ke depan.
“Mohon maaf, tapi saya hanya di suruh oleh Tuan dan nyonya.“
Pada akhirnya aku dan Arka pun memilih bersabar, duduk dengan sangat tidak nyaman sambil sesekali melempar tatapan kami ke arah halaman belakang yang tentu hanya sedikit terlihat dari ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, Afif, Laras yang terlihat dengan perutnya yang sedikit menonjol, Salsa dan anakku Bintang. Wajah-wajah mereka terlihat tak bersahabat sekali, dan sagu fokusku. Wajah anakku gang terlihat tertunduk dengan kakinya yang gemetaran.
Kenapa aku merasakan sesuatu telah terjadi pada anakku? Apa jangan-jangan anakku di perlakukan tidak adil di sini? Tidak mungkin, bagaiman pun afif adalah papa kandungnya. Segera ku tepis pemikiran absurd itu, tidak boleh. Dan jangan sampai. Aku sudah bertekad untuk berdamai dengan semua masa laluku, termasuk dengan Afif. Aku ingin di kenal sebagai mama yang bijak dan sebagai mantan istri yang baik hati, makanya kenapa aku mati-matian berusaha membangun hubungan yang baik bersama Afif dan juga istrinya Laras, walau sepertinya tidak dengan mereka. Apalagi Afif yang terlihat begitu kesal denganku yang entah kenapa. Bodo amat, karena aku tak perlu lagi di sukai olehnya.
“Bintang.“Panggilku dan seketika membuat wajahnya mendongak, kami bertatapan singkat dan bisa ku lihat wajahnya muram dan matanya terlihat berkaca-kaca, anak itu tergopoh-gopoh lari ke hadapanku dan memeluk kakiku erat. Firasat seorang ibu tak pernah salah, itu yang ku rasakan selama ini. Andai Bintang demam pun dan ketika aku sedang berada di luar, maka aku bisa merasakannya, pun ketika Bintang di jahatin oleh seseorang, aku juga bisa merasakannya dan saat ini, aku merasa Bintang di jahati oleh papa kandungnya sendiri.
Aku mengangkat tatapanku pada Afif, lalu melayangkan tatapan tajamku, tak peduli dengan semua orang, termasuk Arka yang kini menepuk pundakku dan seolah-olah mengatakan supaya aku lebih slow, aku hanya bicara singkat dan menitipkan Arka padanya, sebab aku ingin berbicara dengan mantan suamiku untuk bertanya ada apa__harusnya momen ini berakhir dengan senyum bahagia untuk anak dan papa itu, dan bukannya sebuah ketegangan yang terpancar dari wajahku dan Afif.
Kami lebih mirip sebagai seorang musuh yang saling ingin menjatuhkan satu sama lainnya dan bukannya sepasang calon mantan suami istri yang masih tenggelam dengan rindu dan juga cinta yang masih ada.
****
Aku dan Afif berada di halaman belakang dengan latar sebuah kolam renang dan juga taman kecil di sana. Rumah megah dan luas ini di desain begitu bagus, begitu asri dan nyaman. Hmm.. mungkin itulah gambaran isi hati Afif yang sebenarnya, dia lebih mencintai Laras, ketimbang diriku.
Harusnya aku biasa saja dan tak peduli, tapi jauh di lubuk sana, lagi-lagi aku merasakan sakit yang luar biasa.
“Kamu bicara apa sama Bintang?.“Tanyanya yang berhasil memecah keheningan di antara kami, dan membuatku menoleh dengan satu alis terangkat.
“Maksud mas?.“Tanyaku tak mengerti, dia memandangku tajam, rahangnya mengeras dan wajahnya sungguh tak enak di lihat, Afif seperti seseorang yang tengah marah padaku. Tapi karena apa? Karena gugatan yang sudah ku kirimkan ke pengadilan? Kalau iya, maka aku tidak peduli, niatku ke sini bukan untuk membahas itu, melainkan menjemput anakku yang tak kunjung di anatarkan, padahal aku sudah sangat jelas untuk memintanya memulangkan Bintang pukul tujuh malam. Tapi sampai pukul sembilan ku tunggu, Bintang tak kunjung pulang juga. Makanya, aku dan Arka pun memutuskan mendatangi rumah Afif.
“Halah jangan pura-pura gak tahu, ya!.“
Aku semakin tak mengerti dengan ucapannya. Apa sih?
“Jelaskan, karena aku tak mengerti.“Titahku, Afif menghela nafasnya kasar, giginya terdengar gemelatuk. Dia duduk di kursi di dekat kolam renang lalu mengambil sebatang rokok yang siap is sesap dengan korek di tangan kanannya.
“Maaf mas, tapi bisa kan gak ngerokok dulu.“
“Biasanya kamu gak akan protes!.“Gerutunya, walau begitu aku tersenyum lega tatkala Afif kembali menyimpan sebatang rokok itu ke dalam kemasannya.
Karena aku sedang hamil, dan aku tidak mau sampai terkontaminasi oleh asap rokok gang sangat berbahaya itu.
Berita kehamilanku, sampai detik ini pun belum ku beritahukan padanya. Padahal bibi dan Arka sudah membujukku untuk tetap mengatakannya, karena bagaimana pun Afif berhak tahu yang sebenarnya__namun aku masih belum bisa mengatakannya, terlebih dia belum menyetujui soal gugatan itu, aku takut Afif akan naik banding atau membujuk keluargaku supaya tak bisa bercerai denganku dengan alasan ada calon anak kami.
Tentu kembali dengannya, bukanlah keinginanku. Walau pernah aku membayangkan akan hidup bersamanya sampai tua__tapi impian itu sudah lama pupus, apalagi setelah dengan lantangnya dia mengenalkan Laras sebagai istri keduanya dan anak tirinya yang bernama Salsa menjadi anak kesayangannya. Seperti kataku pada kedua mertuaku, aku tidak siap dan rasanya tidak akan pernah siap untuk di madu, entah itu mau Syurga atau pun pahala. Aku lebih memilih melakukan ibadah lain, daripada harus di poligami.
“Eum aku masih mau berumur panjang untuk anakku.“Jawabku asal, aku masih belum siap mengatakannya soal kehamilanku ini, mungkin nanti. Di waktu yang tepat menurutku.
Dia mendengus”Kamu tahu apa yang terjadi dengan anakmu, itu?.“Ujarnya yang ku balas dengan dengusan.
“Apa kamu lupa, kalau Bintang juga anakmu. Sebelum ada Salsa, Bintang adalah anak kebanggaan kamu, anak yang kamu nanti-nantikan juga.“Sindirku dan membuatnya mendesah panjang.
“Dia mendorong Salsa dari kolam renang. Kalau tidak ada Laras yang melihat, mungkin Salsa sudah hanyut di sana.“Ucapnya yang membuat kedua mataku terbelalak dengan mulut menganga karena kaget, Bintang. Bagaimana bisa? Anakku yang paling lembut, penyayang dan nurut itu.. aku sangat mengenalnya dan Bintang bukan tipikal anak yang buat ulah duluan, dia tidak mungkin seperti itu.
“Dan kamu tahu, apa yang dia katakan?.“
“Di bilang, kalau Salsa bukan anakku dan gara-gara Salsa, kamu dan aku pisah. Singkatnya, Bintang benci dengan Salsa dan ingin Salsa tiada.“Tukasnya yang seketika membuat jantungku terasa mencelos, dadaku terasa sesak dan air mata ini begitu saja keluar dari mataku, aku menangis. Tetapi bukan menangisi nasib Salsa, melainkan karena anakku Bintang, bagaimana mungkin Bintang seperti itu? Dan kenapa? Aku sudah mewanti-wantinya supaya dia menjadi anak yang baik, penurut dan harus patuh sama papanya.
Tapi....
“Kamu kan yang mengajari Bintang kayak gitu, kamu yang sebenarnya gak suka Laras dan Salsa, kamu juga yang merencanakan supaya Bintang bisa melakukan hal itu dan kamu berpikir, karena aku papa kandungnya. Aku akan maafin anakku sendiri..“
PLakkk
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menampar Afif dengan cukup keras, sampai rasanya tangan ini kebas. Aku tak menyesal sungguh, justru aku memuji keberanianku yang tiba-tiba ini.