Gita adalah cewek gendut dan tomboy, dia sangat sangat pede dengan penampilannya bahkan dia tidak peduli jika ada orang yang menghinannya.
Suatu hari, Gilang cowok paling populer, ganteng, baik hati, cool datang ke kelas Gita dan mengajak ngedate.
Apakah Gita akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal II
Gilang yang baru selesai mandi mengusap rambutnya dengan handuk kecil, dia melempar handuknya ke kursi lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Dia mengambil ponsel dan melihat foto Gita kiriman dari Raka.
“Susah banget sih dapetin lo, apa iya gue harus menyerah dan melupakan perasaan gue sama lo.” Gumam Gilang yang di barengin dengan dengusan kesal terhadap keadaan yang tak mendukung kisah cintanya.
“Lang..” Panggil Andini dari luar sambil mendorong pitu kamar Gilang.
“Hem.” Jawabnya dengan nada males.
“Pinjam tipe x dong, punya gue habis.”
“Ambil aja tuh di tas.” Gilang menunjuk ke arah tasnya.
“Ok.” Jawab Andini
Andini mengacak-acak isi tas Gilang, namun dia tidak menemukan barang yang di carinya.
“Apa nih?” Andini mendapatkan lipatan kertas yang menyelip di antara buku-buku.
Gilang masih belum respon dengan apa yang di dapatkan oleh Andini.
“Kak Gilang, gue tunggu lo di belakang sekolah dekat gudang setelah pulang sekolah. Gita.” Andini membaca dengan jelas.
“Lang.”
“Apa sih.” Gilang agak ngengas menjawab Andini karena dia sedang nggaj mood.
“Lo dengerin gue baca nggak sih.”
“Nggak.” Jawabnya datar.
“Ini lo udah baca belum surat dari Gita.” Andini mengangkat secarik kertas. Gilang
mendelik lalu loncar dari tempat tidur. Dia mengembil kertas dari tangan Andini. Dia membaca dengan cepat.
“Kakak dapat darimana surat ini?” tanya Gilang kelihatan panik.
“Ada di tas.”
Gilang berdiri lalu menarik jaket lalu memakainya, dia mangambil kunci motornya.
“Kak, gue cabut dulu.” Gilang berlari keluar.
“Kenapa sih tu bocah, kesambet apaan sih main kabur aja.” Andini menggelengkan kepalanya.
Gilang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, dia merasa bersalah karena telat membaca pesan dari Gita. Gilang memperlambat laju motornya setelah memasuki perumahan rumah Gita.
“Tapi gue bisa menemukan Gita dimana ya, gue kan belum tahu rumahnya.” Batinnya.
Karena dia masih bingung, Gilang memilih pergi ke rumah Raka terlebih dahulu.
Gilang menstandarkan motornya, dia langsung berlari masuk ke teras dan mengetuk pintu lumayan kuat.
“Ya, sebentar.” Raka menaruh gitar yang
sedang di mainkan lalu berlari membukakan pintu. “Lo Lang, ada apa malam-malam kesini?”
“Raka tolong anterin gue ke rumah Gita.”Pinta Gilang dengan nada terburu-buru.
“Ada apa sih? Lo kelihatan panik.”
“Gue akan ceritain nanti, tapi tolong anterin gue ke rumahnya Gita.” Ujar Gilang
sudah nggak sabar untuk ketemu Gita.
“Ya, tapi Gita sedang nggak di rumah.”
“Dia kemana?”
“Kencan sama Devan.” Jawab Raka dengan santainya nggak memikirkan perasaan Gilang.
“Dia kencan lagi sama Devan.” Gilang lemas lalu duduk di kursi.
“Kenapa sih lo?”
“Gue tadi siang dapat surat dari Gita yang ngajakin gue ketemuan, tapi gue baru tahu
itu aja kakak gue yang nemuin kertasnya di dalam tas.” Cerita Gilang.
“Tumben banget dia mau ketemu lo, ada masalah apaan?”
“Gue juga nggaj ngerti makanya gue kesini mau minta anterin lo ke rumahnya. Gue mau
tahu kenapa dia ingin ketemu gue.”
“Hhmmm, ok nanti gue tanyain sama dia.”
“Lang, boleh nggak gue minta no ponsel Gita.” Kata Gilang.
“Ok, gue kirim ke wa.” Raka mengirim kontak milik Gita.
“Ok makasih.”
“Lo mau masuk dulu, paling bentar lagi Gita pulang dia biasanya akan kesini cerita
sama gue.” Kata Raka.
“Gue balik ajalah Ka, gue akan hubungi dia nanti pas udah pulang.”
“Ok.”
Baru saja Gilang mau pamitan pulang, Gita pulang diantar Devan. Dada Gilang meradang melihat Gita yang tertawa bareng Devan.
“Sabar.” Raka mengusap pundak Gilang sambil tersenyum.
“Ck.” Gilang berdecak kesal.
“Gue balik dulu lah.” Gilang langsung pergi tanpa mendengar jawaban Raka dulu. Gilang melirik kearah Gita dan Devan yang belum sadar dengan keberadaan Gilang.
“Udah buruan masuk, jangan tidur malam-malam.”
“Iya. Lo pulangnya hati-hati ya. Jangan begadang juga ya.”
“Iya Git, em besok gue jemput ya.”
“Iya.” Jawab Gita cepat. Dia benar-benar bahagia. Gilang yang semakin emosi. Dia
menghidupkan motornya lalu melajukan dengan sangat cepat. Sampai membuat Gita
akhirnya mengalihkan pandangannya dari Devan ke jalan yang di lewati Gilang.
“Eh.. siapa yang lewat barusan. Sepertinya dari rumah gue.” Kata Gita.
“Ta.. masuk!” teriak Raka.
“Iya, Devan gue masuk dulu ya.” Pamit Gita.
“Iya Git.”
Gita melambaikan tangannya lalu masuk lebih dulu, Gita mengerutkan keningnya melihat Raka yang berdiri dengan tatapan tajam sambil melipat ke dua tanganya di dada.
“Kenapa sih lo Ka.”
“Kenapa-kenapa, ini jam berapa anak perempuan jam segini baru pulang. Darimana aja coba?” Raka mengintrogasi Gita.
“Cuman jalan-jalan bentar , lo kenapa sih tanya-tanya kayak begitu. Lagian ini juga
baru jam sembilan lebih dikit. Oiya Ka, tadi ada orang mengemudi motor kecang banget siapa ya? Kayaaknya dari rumah kita.”
“Gilang.” Jawab Raka langsung masuk meninggalkan Gita.
“Gilang, ngapain dia kesini?” gumamnya. “Raka, tunggu kenapa Kak Gilang kesini?”
“Nggak apa-apa.”
“Apa Kak Gilang ke temu sama Kak Qila?”
Raka menoleh, “Nggak, memangnya kenapa?”
“Gue kirain dia kesini ngapelin Kak Qila, mereka berdua ka pacaran sekarang.”
“Kata siapa?”
“Ya kata gue, orang gue lihat Kak Gilang sama Kak Gilang pergi Bareng.”
“Memangnya kalau pergi bareng pasti pacaran.”