Di saat Arumi mengalami kesulitan karena ibunya sakit keras, Rina - sang ibu tiri menawarinya uang dalam jumlah besar. Dengan syarat, Arumi harus bersedia tidur dengan calon suami kakak kembarnya.
Tujuh tahun berlalu, seorang anak lelaki berusia enam tahun hadir. Aqeel Elvano, bocah dengan kecerdasan yang luar biasa di bidang kesehatan.
Bagaimanakah nasib Arumi? Dan siapakah Aqeel Elvano? Hanya bisa kamu temukan jawabannya ketika membaca kisah dasyat ini. Happy reading....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa kau?
"Kau! Kau calon suamiku?" tanya Lulu tak percaya dengan sosok lelaki yang sedang duduk bersama dengan ayahnya.
Lulu tidak sedang bermimpi bukan? Bukankan orang tuanya bilang jika calon suaminya adalah lelaki yang lebih muda darinya. Namun, saat ia melihat lelaki didepannya sungguh matanya tak berhenti berkedip, jantungnya tak bisa dikontrol lagi. Lelaki itu bisa Lulu tebak jika usianya sekitar 31 tahun.
"Kau menyukai nya?" tanya Mila yang penasaran dengan jawaban dari Lulu.
"Dia tampan, Bu." Gumam Lulu yang masih bisa didengar Mila.
Netra Mila melirik lagi pada sosok menantunya, jika dipandang memang lelaki itu tampan. Cocok dengan Lulu yang cantik.
"Tentu, Ibu tidak mungkin salah memilih." Jawab Mila dengan bangganya.
"Kata ibu, usianya lebih muda dariku kok itu seperti berusia kepala tiga?"
Sontak Mila melirik netra Lulu yang entah kemana arah netranya memandang. Setahu Mila anaknya tidak minus dan tidak rabun jauh juga. Kenapa dia bilang calonnya berusia lebih tua darinya.
"Kau lihat kearah mana. Jelas-jelas dia lebih muda darimu."
"Yang duduk di dekat ayah bukan calon suami ku?"
"Kau berharap terlalu tinggi, Lu. Itu calon suami mu yang sedang berbincang-bincang dengan nenek."
"Apa?" Netra Lulu langsung tertuju pada sosok pemuda yang sedang asik berbincang dengan sang nenek.
"Astaga dia?' batin Lulu seakan meronta-ronta, kenapa harus lelaki mesum itu yang menjadi calon suaminya.
"Apa itu Lulu?" tanya Hendarto yang baru sadar akan kedatangan Lulu dan juga Mila. Seruan suara itu juga membuat netra yang lainnya tertuju pada Lulu.
"Kau!" Fauzan berdiri sembari menunjuk ke arah Lulu.
Lulu tersadar dan merasa kesal saat Fauzan menunjuk dirinya dengan begitu tak sopan. Namun, sekilas dia memiliki ide agar pernikahan itu tak terjadi.
"Hai bro. Ah, kita berjumpa lagi. Oh ya bagaimana wanita itu?" Lulu mendekati Fauzan lalu bertingkah seakrab mungkin. Tangannya juga tak luput merangkul pundak lelaki yang lebih tinggi darinya itu.
Semua keluarga dibuat tercengang dengan tingkah Lulu.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Hendarto dan Mila secara bersamaan. Sedangkan Mahesa berserta yang lainnya masih memandang penuh tanya.
"Tentu saja Bu dan Om. Siapa yang gak kenal lelaki brengsek ini!" Jawab Lulu lugas. Baskoro pun memandang Fauzan dengan tatapan membunuh. Merasa terintimidasi Fauzan semakin mendekati tubuh Lulu yang hanya berjarak beberapa centi itu.
"Apa kau gila?" tanya Fauzan tepat di telinga Lulu.
Masih dengan senyum yang tercetak jelas di bibir Lulu, ia pun menjawab pertanyaan Fauzan. "Kenapa memangnya? Itu sesuai kenyataan dan aku gak gila ya."
"Oh begitu ya."
"Kalian sedang berbisik apa?" tanya nenek Lulu.
"Tidak Nek! Oh ya semuanya, kami memang sudah saling mengenal, bahkan pernah berciuman." Ungkap Fauzan mengambil alih dan kini ia pun memeluk tubuh Lulu.
Lulu tak tinggal diam, dia menginjak kaki Fauzan dengan sepatu hak tingginya. Sembari menatap tajam kearah Fauzan.
Fauzan dengan menahan rasa sakit, dia tetap tersenyum membalas tatapan Lulu.
"Benarkah itu?" tanya Hendarto.
"Ti ..."
"Benar itu, Yah. Kejadiannya beberapa minggu yang lalu saat kami bertemu di rumah sakit, setelah itu kami sering bertemu hingga menjalin hubungan yang tak biasa." Jawab Fauzan memotong ucapan Lulu.
"Kau gila?" Teriak Lulu.
"Diam kau Lulu. Bikin malu saja. Ayah putuskan kau harus secepatnya menikah dengan Fauzan." Kecam Mahesa.
"Dan kau Fauzan, kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatan mu!" Imbuh Hendarto.
"Tidak!"
"Siap!"
Lulu dan fauzan menjawab secara bersamaan, namun dengan jawaban berbeda, Lulu menolak sedangkan Fauzan menerima.
Lulu dibuat semakin geram, niat awal hanya ingin menggagalkan acara unfaedah itu dengan menjelekkan nama Fauzan. Namun, berakhir dengan istilah senjata makan tuan.
***
Ketukan pintu beruntun itu menyadarkan Arumi dari tidurnya. Wajar saja jika wanita itu tidur sangat nyenyak, semenjak kejadian di mana hidupnya seperti jungkir balik ia tidak bisa memejamkan mata dengan tenang.
"Siapa?" Teriak Arumi, dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya ia berjalan gontai untuk membuka pintu.
Arumi memutar kenop pintu, lalu pintu terbuka dengan sempurna menampilkan sosok David Baskoro. Dengan segera Arumi ingin menutup pintu kembali tapi, semua sia-sia tangan David sudah memegang pintu itu dan memaksa untuk masuk.
"Kau siapa?" tanya David.
"A ... Aku ... Aku Alena," Arumi dengan tergagap menjawab pertanyaan David.
"Lalu untuk apa kau disini, Alena?" tanya David. Niat awal David datang ke apartemen milik Arumi untuk mengambil perlengkapan baju Aqeel. Namun, ia dibuat terkejut dengan sosok wanita di apartemen itu. Tak ingin menyia-nyiakan kecurigaan selama ini, David berencana untuk mengetahui apakah benar itu Alena atau Arumi.
Jika didepannya itu Arumi berarti yang di rumah sakit adalah Alena.
"Tentu saja aku tinggal disini. Bukankah kau sudah mengusirku? Aku tidak punya tempat berteduh dan kebetulan bertemu dengan sahabat Arumi. Lalu menganggap aku Arumi." Jelas Arumi dengan sedikit kebohongannya.
"Oh jadi kau benar-benar mau pergi dari kehidupan keluarga Baskoro?"
"Lalu apa yang harus aku lakukan, saat suamiku menjatuhkan taklak padaku? Apa aku harus mengemis belas kasihan?" Ketus Arumi, entah apa yang membuat Arumi seperti ia ingin benar-benar melakukan perannya sebagai Alena. Meskipun ditempat itu tidak ada sosok Alena.
"Aku baru menjatuhkan talak satu padamu! Ah tentu saja kau masih istri ku bukan?" David menyeringai licik, memajukan tubuhnya untuk mendekati Arumi.
Arumi yang merasakan ada yang tidak beres dengan David, memundurkan langkahnya. Rasa takut terpancar jelas di mata Arumi.
"Apa ... Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Arumi.
"Tentu saja melakukan hal layaknya suami istri, Alena." David terus maju mengikuti gerakan Arumi yang terus memundurkan langkahnya.
"Ini tidak benar. Kau sudah menjatuhkan talak padaku, bukankah kita tidak boleh melakukan hal itu?"
"Tapi aku merindukan mu, kita sudah berpisah selama satu bulan lebih dan itu hanya talak satu. Kita masih bisa melakukan hal layaknya suami istri." Jelas David, netranya tak lepas memandang wajah ayu milik Arumi, ia semakin gemas saat Arumi memancarkan rasa cemas dan takut saat berhadapan dengannya.
"Stop. David!"
"Sejak kapan kau berani memanggil namaku David? Kau selalu romantis dengan panggilan kata sayang!"
"Sejak kau menjatuhkan talak padaku!" Arumi terus menjawab pertanyaan David. Ia tidak ingin David berbuat macam-macam padanya, apalagi menyentuh untuk yang kedua kali.
"Alena ...." Panggil David, saat tubuh Arumi sudah mentok di dinding. Jemari David bergerilya di wajah Arumi mengelusnya dengan penuh kelembutan.
Arumi sempat terlena dengan sentuhan David, sentuhan tujuan tahun yang lalu yang pernah ia nikmati dan rasanya pun masih sama. Namun, Arumi tersadar itu semua bukanlah miliknya lagi, karena status David masih suami sah dari kakaknya, Alena. Arumi dengan sekuat tenaga mendorong tubuh David.
"Siapa kau, Arumi atau Alena?"