Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersenyum dalam Tangis
...Boleh dong cium juru ketik ini dengan like seperti Bang Syad ke Della 🤭...
...****...
Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran orang lain yang ada di sekitarku. Pertikaian sengit yang terjadi di depan kedua netra ini yakni antara ayah serta dua orang yang tak dikenal itu cukup menganggu kenyamanan penghuni kamar VIP lainnya. VIP? Mana kutahu!
Sejak 'ku membuka mata ini kamar *N*aratama ini telah dipesan untukku.
Perdebatan konyol yang terjadi itupun akhirnya berhenti kala seorang wanita terhormat yang datang bersama Aini, ibuku.
"Datang lagi pengganggu, satu belum kelar satu lagi muncul!" keluh diri ini pelan tanpa sadar menepuk jidatku.
"Anak kurang diajar itu beraninya melakukan ini pada kita!" Kumalasari yang mengaku sebagai mama kandungku berdecap kesal hingga mengutuk putranya sendiri.
Kala berhasil masuk kamarku, mereka bertiga meyakinkan kedua orang asing yang masih enggan beranjak dari muka pintu kamarku ini bahwa mereka tak mungkin menyakiti diriku.
Tampak dari raut muka ketiganya sangat murka terhadap Syadam. Ah hal konyol seperti ini mengapa harus terjadi padaku? Sungguh menyusahkan saja semua ini.
"Beraninya dia melarang kami masuk! lihat saja, ayah tak 'kan merestui hubungan kalian!" Ayah tampak berapi-api serta menyumpahi dokter lelaki yang baru saja pagi tadi menciumku itu.
Hubungan apaan sih? Ada-ada saja.
"Jangan sembarang deh Yah, kami tak menjalin hubungan apapun." Aku berusaha duduk di tepian tempat tidur kelas satu ini dengan bantuan Aini serta wanita yang menyebut dirinya mama kandungku itu.
Meski hubungan di antara ibu dan anak pada kami berdua masih cukup renggang. Namun, tak menyurutkan niat Nyonya Kumalasari untuk tetap mendekati diriku. Kuyakin ia pasti ingin mendapatkan maaf dariku karena telah menelantarkan putri kandungnya sendiri.
"Kami memang sudah tua Dell, tapi kami tak bodoh hingga kalian bisa mengelabui kami semua." Ibuku yang sejak tadi tak bersuara, kini ia tak tahan untuk diam saja.
"Ibu! ingatlah kami ini saudara, sesuai pernyataan Nyonya Kumalasari kemarin!" Tanpa sadar aku menaikkan sedikit nada suaraku pada ibu karena wanita yang telah membesarkan aku ini begitu tak percaya pada status hubungan di antara aku dan Syadam.
"Benarkah? Apa Della merasa kesal karena kalian bersaudara?" tanya Tante Kumalasari lembut padaku, bukan hanya itu saja ia pun membelai rambut ini dengan penuh perasaan. Siapapun yang tak mengetahui kenyataan yang sebenarnya pasti akan mengira bahwa beliau adalah ibu yang cukup baik pada putrinya.
Benar bukan? Aku dan dia menang terhubung dengan sebuah pertalian saudara. Syadam dan aku menang anak-anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang sama yakni Tante Kumalasari. Tapi mengapa aku cukup merasa kesal pada kenyataannya ini. Sungguh, kami telah lama tak menjalin kasih. Tapi efek dari berita ini cukup membuatku merasa dipermainkan oleh takdir.
"Tentu saja Della kesal, karena kami saudara jadi aku merasa berdosa setelah kami melakukan hal seperti itu!" seruku sedikit tak rela karena pada dasarnya semenjak pria itu menciumku, jantung ini terasa berdegup lebih kencang bila membahas nama itu.
"Memangnya apa yang kalian telah lakukan hingga kamu merasa berdosa anakku? Ayah tak menyangka bila putri ayah akan melanggar perbuatan yang merusak norma."
Aduh ayah ... mengapa Anda berpikir terlalu jauh mengenai hal ini? Bagaimana caraku menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya pada mereka. Sungguh, hari ini aku ingin mendapatkan hidup normal seperti biasa. Masuk rumah sakit bukan membuatku sembuh, malah semakin menambah buruk pikiranku.
Rasa sakit ini menyapaku lagi, dan kali ini terasa begitu menyiksaku. Melemaskan setiap sendi yang kumiliki. Hadirnya seakan ingin menghanyutkan diri ini lagi, lagi hingga terseret ombak kegelisahan. Hingga aku tahu dia terlibat dalam hubungan yang sungguh dekat denganku,Tuhan tolong singkirkan semua rasa di hatiku!
Apa yang terjadi? Mengapa rindu ini selalu hadir, saat aku mencoba melupakan pria itu.
Saat ku berusaha untuk tak mengingat dan menahannya lagi.Mengapa rasa ini semakin kuat? Saat ku berusaha mengikisnya
Haruskah aku menyerah dan mengikuti setiap alur ini? Namun, hati ini benar-benar sakit dibuatnya. Mengapa cinta ini hadir lagi
Jika hatiku akhirnya terluka lagi?
Ku tak mampu, telah kucoba ribuan cara agar mampu melupakan dirinya. Dirinya yang selau hadir sedekat nadiku. Ia yang selalu ada di setiap embusan nafas ini.
"Sudahlah, kamu membuat mama terpingkal Dell! serius sekali sih," ucap wanita tua itu seakan mengejek diriku. Memangnya apa yang salah dengan sikapku ini?
Kami akhirnya berhenti membahas dokter psycho itu lagi. Karena semakin dibahas, tak 'kan ada habisnya. Syadam juga tak pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Tak pernah pula ia menjelaskan perihal sebab ia meninggalkan aku dulu. Pria itu tak ingin membagi dalamnya hatinya padaku.
"Kumohon jangan bahas masalah ini lagi! kami berdua memiliki kehidupan masing-masing dan takdir tak pernah mempersatukan kami berdua."
Mencintai dan menyayangi dirinya mengapa sesakit ini? Dia adalah pria yang sulit ku jangkau. Bodohnya hingga kini aku masih menaruh harapan yang pernah ia janjikan dulu. Harapan yang tak kunjung menjadi sebuah kenyataan. Maafkan aku yang hanya sanggup bertahan. Tak ingin 'ku melawan suratan Tuhan ini.
Kini aku sedang berusaha menghapus satu persatu harapan darinya. Jangan tanya bagaimana hasilnya! karena aku juga tak tahu seperti apa ending drama dalam alur kehidupan ini. Jika boleh aku meminta pada Tuhan, kuingin agar semua orang yang mencintaiku bahagia. Itu saja!
"Kenapa? Apa Della masih menaruh harapan pada Syadam?" tanya wanita kaya itu dengan penuh perhatian padaku. Ia genggam kedua tanganku, dan tak memedulikan tangan kiriku ini yang masih terhubung dengan selang infus.
"Della tak pernah berharap apapun pada Syadam, karena hubungan kami memang telah berakhir! lagipula kami berdua kini bersaudara bukan?"
"Hahaha ... lucu sekali Nak, Della dengarkan ayah! kamu memang putri Bu Kumalasari tapi Syadam adalah putra bawaan dari Mending Wan Hanizar!" seru ayah memandang lucu ke arahku.
Tatapan mata ayah begitu mengganggu jalan pikiranku. Mengapa seolah ia mengejek putrinya sendiri? Salah apa aku ini ayah?
"Benar Della, Syadam adalah putra tiri mama!"
Nyonya Kumalasari mulai mencari kisah hidupnya waktu dulu. Ia menyebutkan bahwa Syadam bukan anak kandungnya. Bertahun-tahun yang lalu mereka berempat adalah teman dalam menimba ilmu. Ayah, ibuku, mama serta papa kandungku merupakan teman akrab. Karena restu dari orang tua pihak mama yang tak kunjung turunlah yang membuat kedua orang tuaku memutuskan untuk menikah secara diam-diam dan memutus meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Indah Della Safitri, itulah aku! anak yang dilahirkan tanpa restu dari pihak kakek serta nenekku. Dan ayah serta ibuku yang telah lama tidak memiliki momongan memutuskan untuk mengasuhku karena rasa pedulinya pada mama yang kala itu baru saja ditinggalkan papaku untuk selamanya.
Apalagi Kakek dari pihak mama terus memaksa wanita itu untuk kembali ke rumah besar keluarga mereka dan menjodohkan mama kandungku dengan seorang duda konglomerat beranak dua. Sungguh pelik, aku saja pusing memikirkan kerumitan masalah di antara keluargaku. Bila aku bisa memilih, ingin ku pergi saja dari sini dan tak lagi menunjukkan batang hidungku.
"Bagaimana Dell? Masihkah ada harapan untuk dia? Pria yang dari dulu menunggumu?" tanya ibuku, Aini padaku.
Aku mulai menitikkan air mata, bukan karena aku merasa sedih ataupun kehilangan. Hanya saja, kini aku lupa bagaimana caranya tersenyum ketika berusaha untuk melupakan. Namun, lagi-lagi takdir selalu mempertemukan.
"Tapi maaf, Della telah memiliki calon sendiri!" pungkasku. Inilah caraku melupakan yang sesungguhnya. Beginilah metode yang kupunya untuk menolak takdir ini.
...****...
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻