Hidup Sandy bisa dibilang gagal. Kehilangan pekerjaan yang berujung dengan rumah tangga yang hancur. Kini Ia sendiri meratapi nasib. Namun saat Ia terbangun dari mabuknya, Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 2000, tahun milenium. Mampukah Ia memperbaiki masa depannya dan kembali ke masa depan lagi? Ataukah Ia akan mengulangi kesalahan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Bule Cucu memang kaya mendadak setelah mendapat gusuran tanah miliknya yang hendak dibangun jalan toll oleh PT Jasaraga. Tanahnya yang awalnya hanya berupa tanah kampung biasa ternyata memiliki nilai jual tinggi.
Ada beberapa petak tanahnya yang akan dibayari oleh PT Jasaraga dalam pembebasan lahan untuk jalan toll. Bule Cucu baru mendapat 1 Milyar untuk sebagian tanahnya. Masih akan ada lagi pembayaran berikutnya.
Jumlah yang fantastis untuk di tahun 2004. Sandy ingat, dulu Bule Cucu membeli banyak rumah kontrakkan petak untuk menyambung hidupnya kelak.
Bule Cucu sama seperti Ibu Sandy, pendidikan terakhirnya hanya SR alias Sekolah Rakyat. Tidak mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Bangku sekolah SMP saja tak pernah Ia rasakan. Tak ada kemampuan mengolah uang yang Ia miliki.
Mau uang puluhan milyar sekalipun akan habis jika pengelolaannya tidak baik. Itulah yang terjadi pada Bule Cucu di masa depan.
Anak-anak Bule Cucu yang terbiasa dengan uang bergelimpangan dan berfoya-foya mulai menghabisi harta Bule Cucu sedikit demi sedikut. Lama-lama tak tersisa sama sekali, malah Bule Cucu harus tinggal di rumah lama nenek karena anaknya tak ada yang mengurusi.
Miris memang, orang tua saja tak diurusi. Bagaimana dengan orang lain? Melihat Bule Cucu yang sekarang banyak uang, timbul niat dalam diri Sandy untuk mengubah takdir kelam di masa depannya.
"Bule, mau Sandy ceritakan satu kisah enggak?" tanya Sandy memulai percakapan mereka.
"Kisah apa?" tanya Bule Cucu.
"Kemarin Sandy ketemu sama tantenya teman Sandy. Dulu tantenya itu banyak uang. Anak-anaknya terbiasa dimanjakan dengan uang yang Ia miliki. Punya bisnis kontrakan juga."
"Loh kok sama kayak Bule ya? Terus-terus gimana ceritanya?" Bule Cucu mulai tertarik dengan cerita Sandy.
"Anak-anaknya tidak ada yang diajari untuk menghargai uang. Taunya foya-foya aja. Lama kelamaan kekayaan Tantenya teman aku habis Apalagi kalau bukan digerogoti oleh anak-anaknya yang serakah itu. Endingnya adalah Tantenya tak punya rumah dan tinggal di rumah neneknya. Anak-anaknya tak ada yang peduli. Puluhan rumah kontrakannya sudah habis dijual anak-anaknya yang serakah dan saling berebut kekayaan. Hidup anak-anaknya juga sama. Semua susah karena gaya hidupnya yang tinggi."
"Ih serem banget cerita kamu! Bule jadi takut, San. Apa Bule urungin aja ya bisnis kontrakkannya?" ini yang Sandy suka. Bule Cucu tuh orangnya mau menerima masukan yang orang lain berikan. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang menganggap ide dari anak muda hanya omong kosong belaka.
"Bule enggak apa-apa meneruskan usaha kontrakkan. Tapi jangan semua uangnya. Kontrakkan itu harus ada biaya penyusutannya. Uangnya ditabung untuk biaya perbaikan kontrakkan nantinya. Jangan diambil semua." Sandy menerapkan ilmu tentang penyusutan harta yang Ia miliki.
"Wah Bule baru tau tuh. Bener juga sih, nanti saat kontrakkannya rusak uangnya sudah ada. Pinter kamu! Bule jadi tambah ilmu nih. Lalu kira-kira bisnis apalagi ya San?" Sandy tersenyum. Ternyata tak sulit merubah pemikiran Bule.
"Kalau bisnis air isi ulang gimana Bule?" usul Sandy.
"Buat apa toh? Air kita kan melimpah!" protes Bule.
"Lama kelamaan penduduk akan semakin banyak, Bule. Rumah-rumah akan semakin padat dibangun. Saat semua itu terjadi, apa yang sulit? Mendapatkan air bersih!" daerah rumah Sandy sekarang memang masih ada pekarangannyam Namun sebentar lagi banyak rumah yang dibangun.
Condet adalah salah satu kawasan padat penduduk. "Kalau mau bangun kontrakkan di daerah sini aja Bule. Nilai jualnya tinggi."
"Tapi dapetnya dikit! Kalau di daerah pinggiran kan bisa dapet banyak kontrakkan!" protes Bule.
"Benar. Tapi Condet dekat jalan raya, dan akan ramai dengan kulinernya. Setidaknya udah jadi aset kalau harga tanahnya naik. Nanti Bule bisa buka usaha air isi ulang atau jadi agen air mineral kardus dan isi ulang gas. Ajarin anak-anak Bule bisnis sedari dini. Bule kasih ilmu bukan kasih uang!" ceramah Sandy penuh petuah.
"Hebat kamu, San. Bule yakin kamu akan jadi pengusaha yang sukses suatu hari nanti. Terima kasih banyak atas ide kamu. Bule akan ikuti. Kalau kamu butuh modal buat usaha kamu, Bule bersedia bantu!"
"Siap, Bule. Sandy mau usaha pakai modal sendiri dulu, Bule. Belum mampu mengolah uang orang. Sandy berharap, kehidupan Bule nanti di masa depan enggak seperti Tantenya teman Sandy. Nikmati dan kelola uang Bule sebaik mungkin."
"Hebat kan anakku ini?" puji Ibu. Sandy melihat sorot mata Ibu amat bangga padanya.
Mata Sandy memanas. Ibu dulu belum sempat melihatnya menjadi sosok yang membanggakan. Sandy dulu hanya mahasiswa yang suka nongkrong dan tak ada hal yang dibanggakan.
Setidaknya kini Sandy bisa menjadi sosok yang membanggakan untuk Ibunya. Meskipun Ia tak tahu apakah Ia bisa merubah takdir Ibu dan yang lain. Namun melihat Ibu bangga padanya sudah membuatnya bahagia.
****
"Jadi kan gue traktir lo hari ini?" tanya Shanum yang kebetulan berpapasan dengan Sandy saat masuk ke dalam kampus.
"Cantik banget loh Num pagi ini! Pasti tadi dandan deh biar pas jalan sama gue enggak malu-maluin!" goda Sandy.
"Ah... Enggak. Enggak kok. Kata siapa?" wajah Shanum memerah karena malu. Ia memang memakai bedak dan lip balm ke bibirnya. Hanya itu saja, namun hal kecil bisa berefek besar di wajahnya yang cantik meski tanpa make up.
"Lo mau traktir gue apa? Jangan mahal-mahal. Ntar uang jajan mingguan lo habis!" ledek Sandy.
"Sampai uang jajan gue dikasih mingguan aja lo tau? Gila ya!" Shanum tertawa sambil geleng-geleng kepala.
"Anak mahasiswa kan biasanya gitu. Siska anak perantauan dikasihnya bulanan. Lah kamu anak mahasiswa yang pulang pergi kalau enggak dikasih harian ya paling mingguan. Gue tuh jago prediksi sesuatu."
"Contohnya?"
"Tahun ini Presiden Megawati Soekarnoputri akan digantikan dengan Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono atau dikenal dengan Bapak SBY."
"Masa sih?" tanya Shanum tak percaya.
"Liat aja nanti. Kita bakalan ada Pemilihan Umum alias Pemilu. Presidennya yang memilih adalah rakyatnya sendiri."
"Lalu wakilnya siapa?" tanya Shanum mulai percaya.
"Bapak Jusuf Kalla." jawab Sandy yakin.
"Beneran? Ih kayak cenayang lo lama-lama. Kebanyakan bergaul sama Black sih!" sindir Shanum.
"Kalau gue bilang, gue datang dari masa depan gimana?" tanya Sandy.
"Wuaha...ha...ha...ha... Ngaco loh! Oke deh anggap aja lo datang dari masa depan. Terus gue di masa depan jadi apa?" tanya Shanum.
"Jadi istri gue! Tapi lo pergi ninggalin gue dan bawa anak kita juga!" jawab Sandy serius.
Shanum terdiam. Wajahnya memerah. Apa bener di masa depannya Sandy Ia akan menjadi istrinya?
****
Double Up hari ini.... spesial...
Jangan lupa like, vote dan add favorit ya. maacih...
Sandy yg milenium kemana. Terus kalo dia mantap gamau balik lagi ke milenium misalkan, mau di 2021 aja terus yg di milenium gimana? Ngilang dong? Dan nggak akan ada di masa depan tiba tiba aja kan?